
Tita melihat bangunan yang terlihat di depannya, kenapa kita pulang kesini? begitu pikirnya. Belum sempat dia menanyakan hal itu kepada sang tuan suami, Nathan menarik tangan Tita untuk keluar dari mobil. Dengan masih mempertahankan kegembiraannya Nathan berkata, "Ayo sayang ..."
"Kenapa kita disini?" tanya Tita keheranan.
"Kita tinggal disini."
"Tinggal disini??" ulangnya. Tapi tidak ada jawaban dari sang tuan suami. Kemudian Tita menoleh ke arah Brian yang masih mengunci rapat bibirnya dan hanya menyunggingkan sedikit senyumnya. Apa sih maksudnya? kenapa tiba-tiba dia bilang tinggal disini?
"Sudah sayang, jangan melihat Brian terus seperti itu ... aku bisa cemburu." Nathan rupanya memperhatikan tingkah sang istri. Dia makin merapatkan tubuh sang istri ketika mereka keluar dari lift.
Dih ... bisa-bisanya dia memperhatikan aku tapi tidak menjawab dengan benar pertanyaanku?!!
Brian membuka pintu unit apartement sang tuan, dia mengecek sebentar kemudian, "Sudah siap tuan, selamat beristirahat." tanpa menunggu jawaban sang tuan muda, Brian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Nathan sudah duduk nyaman di sofa yang terdapat diruangan itu, dia masih tersenyum menikmati kebingungan sang istri. Lucu juga Tita-ku dengan ekspresi kesal seperti itu.
"Nathan ... kenapa kita jadi tinggal disini?!"
"Apa masalahnya?" jawab sang tuan suami dengan seenaknya.
Tita sungguh tidak habis pikir dengan laki-laki menyebalkan yang ada di hadapannya kini. Apa dia tidak bisa menjelaskan alasan kepindahan mereka dengan benar dan bukannya malah memancing kekesalan seperti ini. Tita masih terdiam dan tetap memperhatikan sang tuan suami, percayalah ,,, dia benar-benar sedang menahan emosi saat ini.
"Kamu tidak mau tinggal hanya berdua dengan aku?"
Hah .. lagi-lagi laki-laki ini seenaknya saja. Apa dia tidak mengerti perasaanku atau memang tidak peduli? dasar egois. Tita kini memalingkan wajahnya, terlihat jelas dia malas menanggapi sang tuan suami.
"Sayang, katakan. Kamu keberatan tinggal berdua denganku?" Nathan mulai terusik ketenangannya karena sang istri tidak menangggapinya. "Tita ... jawab aku!"
Tita menghela nafasnya dengan kasar, "Aku sungguh tidak mengerti apa yang kamu pikirkan. Aku tidak keberatan kalau kita hanya tinggal berdua, tapi tidak begini caranya. Kenapa kamu tidak pernah mendiskusikannya denganku dulu? Dan aku belum mengatakan apa-apa kepada ibuku."
"Aku sudah bilang mami ..."
"Tapi tidak bilang ibuku kan?!"
"Ah ...ayolah, sayang ... ini bukan masalah besar, jangan merajuk seperti ini." Nathan mendekati sang istri dan ingin memeluknya. Tapi Tita menepis pelukan sang tuan suami dan berlalu meninggalkan Nathan yang kebingungan. Kenapa jadi begini? seharusnya kan kita bermesraan. Argh!
"Dasar laki-laki egois," Tita hanya bisa meluapkan kekesalannya seperti ini. "Masalah kecil katanya?? jadi dia tidak menghargai pendapatku dan keberadaan ibuku?!" Tita kesal bukan tanpa alasan, dia tidak tahu sama sekali dengan rencana sang tuan suami, dan Nathan tidak pernah mengatakan apapun sebelumnya. Memang sang ibu tinggal dengan mami mertuanya, dan kemungkinan sang ibu pun sudah diberitahu rencananya ... tapi tetap saja Tita merasa tidak dihargai.
Tok ...tok ... tok ...
"Sayang, kenapa lama sekali kamu di dalam?" dan sekali lagi Nathan mengetuk pintu yang masih tertutup itu.
Tok .. tok ... tok ...
"Ya, tuan ..."
"Brian ... sepertinya Tita marah padaku."
Aaah ... bisa gelisah juga ternyata tuan muda, pikir Brian. "Saya sudah mengatakan pada tuan sebelumnya, kan?"
"Ck ... jadi harus bagaimana sekarang?"
"Minta maaf, tuan."
"Minta maaf? untuk apa?" Nathan otomatis mengecilkan suaranya ketika dia menangkap visual sang istri yang sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya.
"Karena itulah yang dilakukan orang-orang ketika dia merasa bersalah." yaa .. walaupun saya yakin anda tidak ada rasa bersalah sedikitpun. Gumamnya dalam hati.
"Dimana salahku? Ah .. sudahlah, percuma aku menghubungimu dan tidak ada solusi apapun." Klik. Nathan mematikan ponselnya dan melirik sekilas ke arah Tita yang sudah berbaring di tempat tidur. Ragu-ragu dia mendekat, "Sayang, kamu tidak mau makan dulu?"
"Aku sudah kenyang." jawaban singkat Tita membuat Nathan mati kutu. Dan dia beranjak ke kamar madi untuk membersihkan dirinya. Apa aku harus benar-benar meminta maaf?
Kedua insan itu menghabiskan malam pertama mereka di apartemen dengan saling berdiam diri, mereka sarapan bersama tetapi Tita hanya menjawab pertanyaan Nathan seperlunya saja. Tidak ada candaan dan komunikasi yang hangat pagi itu. Bahkan sampai Brian datang menjemput mereka pun, perang dingin itu masih berlangsung, dan sang sekretarais hanya bisa menarik nafas menikmati pemandangan dingin ini. Tuan mudanya memang luar biasa, terlihat sekali kegelisahan dan ketidaknyamanan karena di diami sang istri, tapi apa mau dikata toh Brian sudah memberikan masukan, kan?
Mobil melaju mulus di jalan raya, sesekali Brian melirik kedua insan yang duduk tenang di belakang melalui cermin diatas kepalanya. Sungguh dia ingin tertawa melihat kikuknya sang tuan muda berada di sebelah sang istri sedangkan sang istri benar-benar memasang wajah jutek sejak pagi. Hm ,,, nona Tita benar-benar marah rupanya. Bagi Brian ini hanyalah masalah kecil, dan sangat mudah penyelesaiannya kalau saja sang tuan mau meminta maaf.
"Kak Brian, terima kasih ya." Tita hanya pamit dengan Brian dan benar-benar tidak menyapa sang tuan suami. Ketika pintu mobil itu hampir tertutup Nathan mendorongnya, langkah cepatnya menahan sang istri. Tita kaget karena pergelangan tangannya dicengkram.
"Kenapa kamu hanya pamit dengan Brian!" Nathan kesal bukan kepalang karena ulah sang istri, tapi Tita hanya diam, dia benar-benar malas menanggapi Nathan, rasa kesalnya belum hilang bahkan tidak ada kata maaf yang keluar dari mulut sang suami. "Tita please, jangan seperti anak kecil ... jangan membesar-besarkan hal yang tidak penting."
Jleb! Kata-kata ringan dari mulut Nathan makin menyakiti hati Tita. Ditepisnya tangan Nathan yang menggenggam tangannya, dengan mata yang berkaca-kaca Tita berkata, "Hal sepele bagimu adalah hal yang sangat penting bagiku ..." Tita meninggalkan Nathan yang masih terpaku dengan kalimat yang di ucapkan Tita. Bahkan mungkin Nathan tidak menyadari bahwa Tita sudah meninggalkannya.
Wah ... makin runyam urusannya. Brian.
****
Imbas dari pertengkaran dua sejoli sejak malam tadi dan makin di perparah dengan kejadian pagi ini membuat sang tuan muda menjadi lebih sensitif. Bagaimana tidak? rapat yang baru berjalan tiga puluh menit terasa berat bagi para staf yang hadir di dalam ruang rapat itu. Semua hasil kerja mereka tidak ada yang di approved sang bos, bahkan Nathan tidak segan-segan memarahi koordinator divisi marketing karena ide pemasaran yang mereka buat tidak menarik sama sekali bagi Nathan.
Ah ... kenapa rapat kali ini seperti kita sedang naik roller coaster sih ... gerutu beberapa staf.
"Saya tidak mau ada kesalahan walau seditikpun. Kenapa performa kerja kalian jadi berantakan seperti ini!" Nathan meluapkan kemarahannya di forum. "Kalian menjadi tim dalam proyek ini karena saya percaya kalian mampu ... tapi apa yang saya dapat?!!" satu proposal melayang ketengah meja rapat, tidak ada satupun dari mereka yang berani bersuara ... ah, bahkan tidak satupun yang berani menegakkan kepalanya.
Disudut ruang Brian sibuk dengan ponselnya, dia tahu hanya sang nona yang dapat menjinakkan sang singa yang kini tengah mengamuk. Tapi tidak satupun pesan yang dia kirim mendapat balasan. Brian sama sekali tidak tahu kapan ketegangan ini akan berakhir, dia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk meredam emosi sang tuan muda. Sudah cukup lama sang tuan menjadi pribadi yang lebih 'manusiawi'. Apa yang harus aku lakukan ... bahkan aku sudah mengirim video ketika sang tuan memarahi bawahannya ... nona Tita, semoga anda bisa mengesampingkan emosi anda juga.