Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 132



TIta kini berada di kamarnya, bosan sekali dia padahal sudah marathon drama kesukaannya, tapi tetap saja beberapa hari hanya di rumah membuatnya bosan. Mickey dan Loudy sudah mulai mengkhianatinya, mereka lebih memilih berduaan ketimbang mengajaknya. Yaa .. memang sih, namanya juga pasangan baru tentu mereka sedang sayang-sayangnya kan, lagi mesra-mesranya. Nathan juga sedang sibuk sekali walaupun tidak pernah lupa untuk menggodanya, tapi Tita merasakan bahwa waktu Nathan kini banyak tersita untuk pekerjaan.


Tita mengambil ponselnya, membuka obrolan group chat-nya dengan teman-teman kuliahnya. Waaah .... seru sekali obrolan mereka. Rupanya mereka berencana pergi ke club malam ini, apakah aku boleh ikut? Apakah Loudy juga ikut? Ketika Tita sedang bertanya-tanya pada diri sendiri, satu pesan muncul disana 'Aku pergi bersama Mike'. Lihat, benar-benar pengkhianat ... bahkan dia tidak mengajak aku?? Tita tentu saja kesal, dia langsung memutar nomor ponsel Loudy.


"Halo, Lou .. bagaimana bisa kamu pergi ke club tanpa mengajak aku?"


"Bukan aku tidak mau mengajakmu, Ta. Tapi pasti kamu tidak akan mendapat ijin dari kak Nathan."


"Bagaimana kamu tau Nathan tidak mengijinkan aku? Bahkan aku saja belum menanyakannya."


"Aku tau bagaimana kakak aku itu ... baiklah, kamu ijin dulu dengan kak Nathan, kalau kamu di ijinkan kita pergi sama-sama, oke?"


"Kamu temani aku bicara dengan kakakmu."


"Hah???? No! Tita aku masih memerlukan uang sakuku." Loudy benar-benar menolak permintaan Tita satu itu. Dia tua benar apa konsekuensinya jika bersekongkol melakukan sesuatu yang tidak di senangi kakaknya, uang sakunya yang menjadi taruhan.


"Ish, dasar .... sahabat macam apa kamu, lebih mengutamakan uang saku di banding aku."


"Kamu pakai jurus rayuan maut mu saja ... kamu bisa menggoda suamimu itu dengan naked di depannya. Hahaha."


Klik. Kesal Tita jadi dia mematikan sambungan ponselnya. Dia bergidik mendengan ide gila Loudy. Ah, tapi dia ingin sekali pergi, sudah lama dia tidak berkumpul dengan teman-teman kampusnya. Tita masih menimbang-nimbang tentang apa yang akan dia lakukan. Dia harus mencobanya, bagaimana dia bisa tau apakah diijinkan atau tidak jika dia tidak bilang, kan? Baiklah, dia sudah memutuskan.


Tita menuruni anak-anak tangga menuju ruang kerja sang tuan suami, sudah terlihat olehnya pintu kayu bergaya Eropa yang kokoh itu, sekokoh sang pemilik. Belum lagi Tita mengetuk pintu, seseorang sudah membukanya dari dalam.


"Ada apa nona?" tanya Brian.


"Bagaimana kamu tau aku ada disini?"


"Ah, kebetulan saja saya ingin mengambil buah untuk tuan. Silahkan masuk, nona."


"Terima kasih, kak Brian." Sebelum Brian berlalu Tita buru-buru menarik tangannya, "Kak apakah Nathan dalam suasana hati yang baik?" tanyanya.


Brian menatap tangan Tita yang masih memegang tangannya, dan Tita yang sadar akan hal itu segera melepaskan pegangannya. "Suasana hati tuan muda biasa saja tadi, tapi sekarang mungking sedang dalam suasana hati yang buruk." Setelah mengatakan itu Brian berlalu.


TIta masih mencerna kalimat yang diucapkan Brian, tapi dia tetap masuk walaupun belum menemukan alasan dari kalimat tadi. "Nathan," Tita menyapa Nathan yang duduk sambil memandangnya dengan tajam.


"Aku ada disini dan kamu berani pegang-pegangan tangan dengan Brian?!"


Hah??? jadi ini maksud dari kata-kata kak Brian tadi?? Apa dia bilang pegang-pegangan tangan apanya? Haduuh, belum juga aku mengatakan apa-apa soal pergi ke club, kenapa suasananya sudah tidak enak begini? Bisa-bisa tidak ada belas kasihan nih. Tita berdialog dalam hatinya.


"Kemari, kenapa jauh-jauh begitu padahal tadi kamu sempat-sempatnya memegang tangan Brian disana."


"Alasan ya kamu? padahal kamu bisa langsung bertanya padaku, kenapa harus bertanya dengan Brian?!"


"Sayang, kamu kan tau aku sudah berhari-hari di rumah saja, aku bosan. Aku hanya ingin tau apakah kamu masih sibuk atau tidak. Aku kan kesepian." Tita menundukkan kepalanya, berakting sedih sambil. Percayalah pada ku kali ini, aku mohon.


Nathan beranjak dari kursinya, dia berjalan mendekat ke arah Tita dan hanya dengan satu gerakan dia mengangkat tubuh mungil sang istri kemudian menduduki TIta di atas meja kerjanya, kemudian dia menempatkan kedua lengan kokohnya untuk menahan berat badannya. Posisi yang seperti ini membuat Tita otomatis memundurkan tubuhnya, jarak mereka sangat dekat. Bahakan Tita bisa merasakan hembusan nafas suaminya.


"Posisi kita yang seperti ini membuatku gila ... aku rasa, aku tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh mu,"


Nathan dan Tita saling menatap, seolah mencoba mencari tau apa yang sedang di pikirkan. Dan Tita kini sudah paham apa yang ada di kepala sang tuan suami. Dia juga merasakan bahwa detak jantungnya lebih cepat dari biasanya dan panas tubuhnya juga meningkat.


"Kalau begitu ... jangan ditahan." percaya atau tidak kali ini Tita yang mengambil inisiatif, dia melingkarkan tangannya pada leher Nathan dan menariknya hanya dalam satu gerakan, membuat bibir keduanya bertemu. Nathan yang agak kaget dengan inisiatif sang istri tentu merasakan kebahagiaan, dia senang dan tentu tidak akan melewatkan kesempatan langka ini. Nathan dan Tita yang sedang on fire itu seakan lupa bahwa mereka tidak sedang berada di kamar tidur mereka, walaupun tempat ini adalah juga daerah kekuasaan Nathan. Mereka seolah ingin mengejar waktu-waktu yang terbuang karena insiden kecelakaan Tita waktu itu, yaa ... meskipun sesekali Nathan tetap melakukannya dengan amat sangat hati-hati dikarekan Tita masih dalam proses pemulihan. Haha.


***


"Loudy, menurutmu apakah TIta di ijinkan oleh Tuan Petra untuk pergi bersama kita nanti malam?" tanya Mike. Saat ini Loudy dan Mike sedang berada di dalam mobil.


"Aku tidak tau, aku tidak berani menemaninya untuk ijin dengan kakak ku." jawab Loudy. Dan hanya di tanggapi dengan anggukan oleh Mike. "Hm ... kadang aku agak menyesal pernah berharap Tita berjodoh dengan kak Nathan."


"Lho, kenapa?"


"Aku merasa kasihan dengan Tita, karena setelah menikah dengan kakak ku ... bisa kamu lihat sendiri kan, dia itu sudah seperti burung dalam sangkar emas." Loudy menghela nafas. Kakaknya adalah seseorang yang over protective, karena itulah yang dia rasakan selama mereka tinggal bersama. Nathan tidak akan pernah membiarkan sang adik dan sang mami pergi tanpa pengawasan. Apalagi kini Tita adalah istrinya, orang yang sangat dia cintai dan sayangi, dan belum lagi karena insiden kecelakaan yang dialami sang istri belum lama ini dimana Nathan sedang berada di tempat yang jauh. Tentunya sang kakak kini akan lebih protect lagi menjaga keamanan sang istri.


"tuan Petra melakukan itu karena Tita amat sangat berarti untuknya. Seharusnya kamu bersyukur dan ikut senang karena sahabat terbaik mu dan satu-satunya mendapatkan pendamping hidup seperti kakakmu yang bertanggungjawab dan bucin." Ha ha ha.


Plak!! satu pukulan lumayan kencang mendarat di Lengan Mike dengan sempurna hingga membuat si empunya berteriak. "Makanya jangan sembarangan kalau bicara!" Loudy geram juga mendengar kata-kata Mike.


"Lho, di bagian apa dari kata-kataku yang menurutmu sembarangan coba??"


"Kamu pikir sahabatku hanya Tita seorang??" Oh, rupanya sang nona muda tidak terima kata-kata itu.


"Setauku memang Tita satu-satunya sahabatmu, kan?? Memang ada yang lain?? Kamu bisa sebutkan namanya? Apakah aku kenal?"


Dicerca pertanyaan seperti itu Loudy terdiam, yaa ... memang hanya Tita satu-satunya sahabatnya. Tapi rasanya, ketika ada orang yang mengatakan kebenaran itu, sebal juga mendengarnya kan.


Melihat sang kekasih yang terdiam Mike jadi ingin tertawa, namun dia menahannya. Dia tidak mau Loudy marah lagi seperti tadi. Tapi gadis ini sungguh lucu. "Baiklah, jadi mau makan apa kita?" Mike mengubah topik pembicaraan.


"Pasta."


"Oke nona manis, kita kali ini berkencan di restoran pasta." Kata Mike dengan sedikit menggoda Loudy, dan tingkahnya itu sukses membuat Loudy tersenyum karena senang.