Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 81



Kenekatan Tita meminum pil itu juga terdorong oleh rasa kesal dan takut. Nathan paham sekali, dia sangat mengerti situasi dan kondisi sang istri kala itu. Perasaan marah dan kecewa karena mengetahui Tita mengkonsumsi pil kontrasepsi memang tidak bisa hilang begitu saja, tapi Tita-nya lebih penting dari segalanya ... dia lebih takut kehilangan Tita-nya. Maka dia memberikan pilihan, dia ingin Tita memutuskan sendiri pilihannya, berdasarkan nasehat Thomas dan Arga dulu ... bahwa laki-laki harus tahu kapan harus mengalah dan kapan harus mempertahankan keinginannya.


"Iya ... aku mau." jawab Tita.


Yess!! sorak Nathan dalam hati. "Kamu yakin?" dengan tetap menjaga raut wajah sedihnya.


"Kamu tidak percaya padaku?" Tita balik bertanya.


"Buktikan padaku ... kamu tahu? ini pertama kalinya aku sangat kecewa denganmu." Tita menundukkan pandangannya. "Jika kamu menyesali perbuatan mu itu, bayarlah dengan tubuhmu."


Kali ini Tita mengangkat kepalanya ... Apa maksudnya? Dia menatap sang tuan suami, tapi tidak berani menanyakan apapun. Dan Nathan ... hanya balas menatap sang istri dengan pandangan yang sulit Tita artikan.


"Kamu mengerti?!"


Tidak. Tapi Tita mengangguk, bukan menggeleng. Dia seperti sudah terhipnotis dengan laki-laki di depannya ini.


"Bagus. Ayo ... kita temui lagi dokternya." Nathan berdiri dan menarik tangan Tita. Sang istri kini hanya menurut saja, tentu Nathan senang dengan sikap Tita yang penurut seperti ini.


Tita berdebar ketika tangannya di genggam seperti ini. Sikap Nathan yang seperti itu sungguh tidak bisa membuat dirinya menolak apapun permintaannya. Sungguh sangat berkarisma dan mematikan, huft ... pantas saja banyak wanita yang tergila-gila. Tapi ... aku akui dia memang luar biasa mempesona.


Ketika mereka keluar, Brian dan Axel terlihat langsung berdiri. Brian bahkan mengamati kondisi ruangan di belakang sang tuan, sementara Axel memperhatikan Tita dan Nathan secara bergantian.


"Apa yang kalian lihat!" tegurnya.


"Tidak." Brian dan Axel kompak menjawab.


Sepertinya si kepala batu ini tidak mengamuk. Axel.


Syukurlah tidak terjadi pertempuran. Brian.


Dokter Ririn memegang hasil pemeriksaan Tita, bersiap membacakannya. Tapi sebelumnya dia sudah memberikan satu salinan pada sang tuan muda dan satu salinan lagi pada dokter Axel.


"Berdasarkan hasil pemeriksaannya, nyonya bisa melakukan terapi dan pengobatan untuk memulihkan kestabilan hormon, kami akan memberikan resep vitamin dan makanan apa saja yang harus nyonya konsumsi. Dan kami juga sudah mulai menjadwalkan pemeriksaan dan konsultasi untuk memantau perkembangan kondisi nyonya dan program kehamilan ini." dokter Ririn melihat keduanya setelah menyelesaikan kalimatnya. Huft, sepertinya pekerjaan ku lancar.


"Nathan, apa ada yang mau kau tanyakan lagi?" tanya Axel.


"Tidak." jawabnya. Kemudian dia berdiri dan menggandeng lagi tangan sang istri mengajaknya keluar.


Dokter Ririn luruh di kursinya. Ya ampun, menegangkan sekali ... seperti aku yang sedang menunggu vonisku. Untung saja hasil pemeriksaan nyonya tadi tidak ada keanehan dan masalah. Haduuuh, mendengar kemarahan tuan Petra di ruangan dokter Axel tadi saja sudah membuatku gemetaran. Pekerjaan ku selamat kali ini.


Mobil melaju dengan tenang, bahkan Brian pun berkendara dengan tenang. Tidak terdengar suara-suara berisik yang membuat merinding tengkuknya dari kursi penumpang di belakang, seperti biasa. Nathan masih menggenggam tangan Tita, tapi pandangannya terlempar keluar, entah apa yang dipikirkannya sejak tadi. Tita sungguh tidak berkutik, sebenarnya dia juga heran ... tumben sekali sang tuan suami diam seperti ini. Apa dia masih marah padaku? Aduh, tanganku berkeringat ... tapi aku bahkan tidak berani menariknya.


Tiba di halaman mansion, mobil terparkir dengan mulus. Brian membukakan pintu untuk sang tuan mudanya, dan Nathan keluar bersama dengan sang istri. Mereka memasuki ruang tamu dan mendapat sapaan dari sang mami.


"Kalian sudah pulang?"


"Iya, mi." kali ini Nathan yang menjawab, dia melepas genggaman tangannya dan mengecup kedua pipi sang mami, "Nathan mengantuk, mi. Nathan tidur dulu, ya."


"Aku menyusul Nathan dulu, ya mi."


"Iya, istirahatlah." jawabnya seraya mengusap bahu sang menantu.


Tita masuk ke dalam kamar dan menemukan sang tuan suami yang sudah merebahkan dirinya di kasur, masih menggunakan pakaian yang tadi dipakainya. Sepertinya dia lelah sekali. Dilihatnya Nathan yang tertidur, benar-benar tidur? Setelah membersihkan dirinya, Tita memakai pakaian rumahnya bukan pakaian tidur yang kekurangan bahan itu ... hm, masih tidur ... Tita menempatkan dirinya disebelah Nathan, memandangi wajah nan rupawan ... Aku melihat sisi lain dari kamu hari ini, sang perayu ulung ... bahkan tanpa melakukan apapun kamu bisa dengan mudah menjeratku, apa kamu menyadari pesona yang kamu miliki itu? Apa kamu sudah memaafkan aku? Kesalahanku? Kamu tidak mengatakan apapun tadi ... kamu bahkan tidak menciumi bahkan setelah itu ... Banyak sekali yang Tita pikirkan hingga kantuk pun menyerangnya, dia terlelap bersama sang tuan suami.


Jam tujuh malam, ketika makan malam sudah siap semua di meja. Terlihat sang nyonya mami bersama Bu Amel di teras belakang.


"Nyonya, bagaimana hasil pemeriksaan tadi?" tanyanya.


"Saya juga belum tahu, Mel. Nathan tadi langsung masuk kamar dan mau tidur katanya. Lihat saja, sampai sekarang belum turun."


"Duh ... aku degdegan, ya ... haha."


"Aku juga penasaran sekali ... gak kebayang yaa akan ada bayi disini." sang nyonya mami dan Bu Amel sedang berandai-andai.


"Tita hamil, mi???" tiba-tiba Loudy ikut obrolan.


"Belum tahu, hari ini mereka kontrol ke dokter. Tadi pagi Nathan menelpon mami. Tapi sekarang mereka sepertinya masih tidur. Tadi terlihat lelah sekali mereka ..."


"Aaaah... ah ... aaa ... aku mau punya ponakan kembar."


Ha ha ha. Mami dan Bu Amel tertawa melihat tingkah Loudy si calon Tante.


"Aku akan bangunkan mereka, mi. Sudah waktunya makan malam, kan?"


Ketika Nathan terbangun, Tita tengah memeluknya ... senyum terbit tak tertahankan tentunya. Perlahan di singkirkan tangan sang istri, Cih ... kenapa pakai baju ini sih. Tidak suka melihat apa yang dipakai sang istri. Nathan membuka kemejanya sendiri ... aku sangat mengantuk tadi sampai tidak mengganti bajuku, di lemparkan kemeja itu begitu saja. Kemudian dia menempatkan tubuhnya tepat di atas sang istri dengan ditopang oleh kedua lengannya.


"Sayang ..." cup ... satu di kening.


"Cinta ..." cup ... satu di pipi kanan.


"Manis ..." cup ... satu di pipi kiri.


"My love ..." cup ... satu di pucuk hidung.


"Wah ... tidak bangun juga, ya?" di gesekkan hidungnya dengan hidung sang istri, hingga terdengar lenguhan dari Tita.


Cup, cup ... dua kali di kecup bibir Tita dan mata tertutup itu pun kini terbuka.


"Egh, kamu sudah bangun?" susah menggeliat karena terhalang tubuh Nathan.


"Aku sudah bangun dari tadi." cup, cup, cup ... Tita tidak sempat merespon ciuman sang tuan suami, karena gerakannya sangat cepat. Sengaja, hanya ingin menjahili sang istri. Ha ha ha ... "Aku akan mencium dengan benar kali ini," dan Tita mengangguk. Woaah ... benar-benar sudah terhipnotis Tita hari ini. Nathan melakukannya dengan sangat lembut dan dengan penuh penghayatan ...


Ceklek! "Kakak ... Aaaaaaaaaaa!!!"