
Tita tengah terlibat obrolan yang sepertinya seru dengan teman-teman kerja perempuannya. Ana membaur dengan tamu undangan lain namun tetap dalam jarak aman bagi keamanan sang nona. Sedangkan sang tuan suami yang masih dalam 'perlindungan' sahabat-sahabatnya terlihat mengobrol dengan para pejabat daerah dan petinggi perusahaan yang juga merupakan tamu undangan.
"Zahra, bagaimana sih rasanya menikahi laki-laki super super tajir itu?" Candy iseng bertanya.
"Rasanya?? Rasanya sepertinya biasa saja."
"Wah ... kamu bisa bilang seperti itu karena kamu juga berasal dari keluarga kaya ya?"
"Tidak ... Ayahku meninggal sejak aku masih sekolah, kemudian ibu ku bekerja di rumah teman baiknya sebagai pelayan, sedangkan kakak laki-laki ku bekerja di negara orang." Tita menjelaskan kehidupannya tanpa ada rasa malu, hanya saja reaksi teman-teman kantornya seakan mereka tidak percaya. Bagaikan sedang mendengarkan dongeng Cinderella. Melihat reaksi teman-temannya Tita tertawa ... "Hei ... kenapa wajah kalian seperti itu?"
"Kamu tidak sedang membual, kan?" Arum buka suara.
"Tidak, tentu tidak ... Hm, kalian pasti penasaran kenapa aku bisa bertemu suamiku kan? itukan yang ada di kepala kalian??"
Ha ha ha ... "Maaf kan kami Zahra, habis ceritamu seperti sedang mendongeng." Cindy tidak bisa menutupi lagi rasa penasarannya.
"Jadi ... hm ... nanti, kapan-kapan saja aku ceritakan, oke."
"Aaa ... Zahra, sekarang saja."
"Momennya pas sekali ini ..."
Hah ... mereka tidak rela jika Tita menunda menceritakan kisah cintanya, terlebih karena itu ada sangkut-pautnya dengan tuan Petra. Uh, rasanya seperti di gantung. Sedangkan Tita, merasa senang, dia tertawa renyah sekali melihat ke kepoan teman-temannya.
Dari jauh Nathan memperhatikan Tita yang sedang tertawa dan bersemangat berkumpul dengan teman-temannya. Ah, acara ini entah kapan selesainya ... aku ingin segera membawa istriku pergi dari sini. Ck, tanpa sadar Nathan berdecak kesal.
"Ah, tuan Petra ... maaf jika jamuan kami memuaskan anda." seru wali kota.
"Tidak, jamuannya baik ... saya suka."
"Tuan Petra, mungkin anda ingin mencoba minuman ini?" tawar Clair, "Ini adalah minuman khas kota kami, dan tidak akan anda temui dimanapun." Clair langsung meletakkan segelas minuman di hadapan Nathan, Thomas, Brian dan Rega bahkan tidak sempat mencegahnya.
"Thanks." Nathan menyesap minuman itu sedikit, hm ... not bad, kemudian dia menghabiskan satu gelas.
"Itu dibuat dari sari buah murni, tuan. Silahkan di coba, tuan-tuan." wali kota meminta pelayan untuk membagikan kepada tamu yang memang satu meja dengannya.
"Tuan," Brian terlihat khawatir.
"I'm okay." Nathan mengerti akan ke khawatiran sekretaris setianya.
Obrolan di meja itu berlangsung santai, tapi kemudian Clair pamit karena harus menyapa beberapa tamu lain. Dia bahkan kini dengan berani memandang langsung Nathan dan tersenyum padanya.
"Tita, sepertinya wanita itu terlalu sering memandangi dan tersenyum ke tuan Petra." Mickey memberitahu Tita apa yang dia lihat. Tita melihat ke arah wanita yang di maksud Mickey, ah ... Clair. Wanita itu ... huft, aku harus membuat dia mengerti bahwa Nathan adalah milikku. Tita sudah bertekad, dia akan melakukannya ketika ada kesempatan.
Sementara itu, "Aku lelah sekali, kapan ini akan selesai." Nathan sudah mulai mengeluh.
"Sabar, bukankah kamu ingin memberi kejutan untuk Tita-mu?" bujuk Rega.
"Ah, iya ... kamu benar. Brian, bagaimana?"
"Bagus ... Ah, Aku ke toilet sebentar."
"Nathan ..."
"Aku hanya sebentar." Nathan berlalu sendirian.
Dan tanpa disadarinya, Clair yang sudah menantikan kesempatan ini sejak tadi melebarkan senyumnya. Yess! kesempatan ku akhirnya datang juga. Maka Clair mengikuti Nathan diam-diam, dan dia menunggu.
Toilet VIP memang sepi pengunjung, itu membuat Clair merasa sangat beruntung.
Ketika Nathan keluar dari toilet, dia dikejutkan dengan seorang wanita yang sejak pagi di hindari nya, dan dia sempat berhenti sejenak.
"Hai, tuan Petra." sapa Clair dengan lembut dan berjalan anggun ke arah Nathan.
"Iya."
"Sudah hampir seharian ini aku menunggu kesempatan untuk bisa berdua denganmu." kini jarak mereka sudah dekat.
Oh, tidak ... wangi ini lagi, Nathan ingin kembali ke toilet dan menghirup wangi kopi yang di tinggalkan Axel disana, namun kakinya seperti menolak ... atau otaknya yang menolak? Dia hanya diam menatap Clair di tempatnya berdiri.
"Aku ingin sekali berkata ... kamu sangat, sangat tampan hari ini." Clair cukup dekat sehingga dia bisa menyentuh dasi yang di kenakan Nathan, mengelus bahunya yang bidang dengan tatapan mata yang penuh minat. "Dan ... apakah kamu tau, aku benar-benar ingin membawamu ke kamarku sekarang dan berada di atas tubuhmu."
Wah ... wanita ini benar-benar gila, dan lebih gilanya lagi, Nathan hanya diam dan tersenyum. Dia tidak mengatakan apapun, tidak juga menjawab satu pun pengakuan Clair, tapi juga tidak menolak perlakuan itu.
"Bagaimana, sayang ... aku harap kamu tidak akan menolak ajakan ku?" kali ini Clair merapatkan tubuhnya, sengaja membuat tubuh bagian atasnya menyentuh dada Nathan. Dan sejujurnya, Clair ingin lebih dari ini ... dia memang ingin menaklukkan laki-laki ini agar bisa hidup nyaman, tapi tanpa dia rencanakan dia terhanyut akan pesona laki-laki di depannya bahkan dia tidak keberatan jika hanya sekedar menjadi teman tidurnya. Semua itu berawal dari hari dimana dia di minta untuk menggantikan rekan kerjanya untuk datang ke Petra Corporate, membahas acara peresmian dan penyerahan galeri seni. Awalnya dia ingin mencoba parfum yang dia beli di sebuah pulau, katanya itu adalah parfum yang dapat membuat pria terpikat padanya, ah ... siapa tau dia bisa mendapatkan pria kaya raya di sana. Tapi siapa sangka justru dia lah yang terpikat dengan big bos Petra Corporate pada pandangan pertama. Dan itulah mengapa dia selalu berusaha mendekati Nathan dengan bermodalkan wewangian ini dan tubuhnya tentu saja, laki-laki mana yang akan menolak jika di goda dengan kemolekan tubuh wanita, iya kan? setidaknya itu lah yang dia pikirkan.
Kali ini Clair memegang tangan Nathan, mengelusnya dari lengan atas, turun perlahan ke lengan bawah. Dengan hanya menyentuhnya saja, walau terhalang jas ini ... dia pun dapat merasakan betapa kuat dan kokohnya lengan ini, ah ... pasti sexy sekali.
"Hei! apa yang kalian lakukan!!" Tida berteriak melihat pemandangan yang menyakiti hatinya. Tapi dia cukup sadar dan tau bahwa suaminya dalam keadaan yang tidak dapat menolak.
Teriakan Tita tentu mengejutkan bagi Clair dan Nathan, mereka tersentak. Clair sempat gugup, tapi memang dasar dia wanita yang tebal muka jadi dia cukup percaya diri dan tetap di posisinya bahkan kini dia merangkul lengan Nathan.
Tita melihat pergerakan itu, dan tentu saja dia marah. Tita maju mendekat, menarik dengan kasar tangan yang bergelayut manja di lengan kokoh suaminya. Pada saat itu kata-kata motivasi untuk menjaga suami sungguh terngiang-ngiang di telinganya. "Jangan sentuh suamiku!"
"Hah ... suami?? hei nona, sebaiknya anda jangan menganggu kami."
Tita menatap Nathan dengan pandangan sedih, di pegang pipi Nathan dengan kedua tangannya, "Sayang ..."
Nathan merespon, "Sayang?"
Mendengar respon Nathan atas panggilannya membuat Tita senang, dia menghadiahi satu ciuman yang dalam untuk sang tuan suami, di hadapan wanita yang berusaha merebut suaminya. Tentu saja Nathan membalas lebih dalam rasa bibir yang sudah menjadi candunya. Setelah dirasa Tita sudah kehabisan oksigen,, Nathan melepaskan ciumannya.
Tita sungguh malu, dia belum pernah berinisiatif seperti itu di depan orang lain, "Aku mencariku kemana-mana." katanya malu-malu.
"Aku hanya ke toilet, sayang. Kamu manja sekali." Nathan mengajak Tita pergi dari sana, bahkan dia tidak memperdulikan sama sekali wanita yang sebelumnya bisa dengan bebas menyentuhnya.
Clair hanya terpaku melihat pertunjukan di depannya, mereka sungguh suami istri? Sial! seharusnya aku langsung bawa pergi saja laki-laki itu tadi.