Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 111



Sepanjang perjalanan Tita tidak mengajak Nathan bicara, dia diam saja dan itu sungguh membuat Nathan frustasi sendiri. Padahal Brian sudah menjelaskan bahwa wanita itu hanyalah wanita yang di sewa Thomas untuk membuat Nathan merasakan kembali kehangatan wanita, membuatnya jatuh cinta lagi ... ya, walaupun rencana konyol itu tidak berhasil sama sekali.


Dan kini mereka bersiap untuk tidur, Tita dengan gaun tidurnya ... bahkan sang istri tidak merasa sungkan kali ini ketika mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur kesukaan suaminya di depan sang tuan suami.


"Sayang, jangan mendiami ku seperti ini." sunyi.


"Kamu tahu, kesabaran ku juga ada batasnya." masih sunyi. Wah ... kuat ya dia ngambek seperti ini padaku. Mari kita lihat, apa kamu masih bisa mengacuhkan aku?


Nathan menendang kaki Tita dengan kakinya sambil berteriak, "Zahra Ratifa!"


Tita langsung terbangun dan duduk, dia mengelus kakinya yang kena tendang tadi, sakit. Jantung nya pun berdebar kencang karena teriakan sang tuan suami. Bossy. Tapi aku takut, nyali ku hilang seketika ketika dia berteriak.


"Bagus ya ... mulai berani mengacuhkan aku?!"


Kenapa jadi dia yang marah sih. Tita.


"Aku memang sangat mencintai mu dan memujamu," Nathan menggerakkan jarinya menelusuri lengan sang istri. "Tapi, bukan berarti aku tidak bisa marah padamu kalau kamu mengacuhkan aku seperti ini." Nathan mencengkeram bahu Tita dengan sedikit penekanan.


Ahh, sakit. "I, iya .. aku tidak mengacuhkan mu, sa ... sayang." di pegang nya tangan sang tuan suami, berusaha melepaskan cengkeramannya.


"Lalu, apa maksudmu mendiamkan aku seperti itu?!"


"Aku ... hanya kesal."


"Brian bahkan sudah menjelaskan semuanya padamu tadi. Dan aku juga tidak kenal sama sekali dengannya. Jadi ... dimana letak kesalahan ku sampai kau acuhkan seperti itu?"


Bukan jawaban yang di dengar Nathan, karena kini Tita malah terisak. Tita menangis, "Aku sudah mendengar semua yang di katakan kak Brian, aku juga tidak menyalahkan mu karena menjadi laki-laki populer seperti itu."


Apa yang sedang dia pikirkan di dalam kepalanya sih? Nathan.


"Tapi aku juga tidak bisa mencegah pikiran-pikiran yang ada di kepala ku sekarang, kan?"


"Apa yang kamu pikirkan?"


Tita mengangkat wajah murungnya, masih ada air mata disana. Nathan tidak tahan untuk tidak menghapus air mata di wajah cantik itu, tapi di menahannya.


"Aku terganggu dengan pikiranku sendiri. Aku, berfikir ... berapa banyak wanita yang sudah di jadikan pancingan untuk mu, apakah ada di antara mereka yang sampai menemani kamu bermalam, berbagi kehangatan dengan mu ... atau bahkan ..." Nathan masih menunggu semua yang Ingin di katakan Tita. "Atau bahkan, ada di antara wanita-wanita itu yang membuat kamu jatuh cinta ..." isakan itu kini terdengar lebih pilu.


"Ada lagi yang ingin kamu katakan?" Tita menggeleng. "Apa otakmu ini hanya pintar untuk urusan akademik saja?" Nathan menunjuk-nunjuk kepala Tita.


Tita melindungi kepalanya dengan ke dua tangan.


"Apa sahabatmu yang kebetulan adalah adikku tidak pernah mengatakan apapun tentang aku?"


Tita mengangkat kepalanya. Apa maksudnya?


"Hah ... benar sekali, otakmu itu hanya pandai di akademik saja."


"Aku tidak mengerti." Tita mulai protes dengan kata-kata laki-laki di depannya.


"Makanya aku katakan, kamu hanya pintar di akademik saja." Nathan tertawa bahagia, dia suka momen dimana dia bisa mengejek sang istri.


Tita mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya. Tenang, jangan terbawa emosi lagi ...


Nathan menarik sang istri mendekat, memeluknya ... "Keluarga ku bahkan menganggap keinginan ku yang ingin langsung menikahi mu adalah suatu keajaiban." Hehe, Nathan mengingat kembali saat dia dengan sepihak meminta restu sang mertua untuk menikahi sang istri pada saat mereka sedang makan, ha ha. "Aku hanya dua kali merasakan jatuh cinta, dan kamu yang terakhir ... tidak ada yang lain, sekarang ataupun nanti."


"Aku tidak bisa bilang bahwa mereka, sahabat-sahabatku, bahkan mami sekali pun tidak berusaha mengenalkan bahkan menjodohkan aku dengan wanita-wanita itu. Tapi, hati ku tidak tergerak, media bahkan menggosipkan aku menyukai sesama jenis. Aku pun tidak pernah berfikir akan kembali merasakan jatuh cinta lagi, sampai di hari ketika pertama kali kita bertemu."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Tapi, aku heran ... kenapa aku tidak pernah bertemu dengan mu sebelumnya disini? Aku bahkan belum pernah melihatmu."


"Tapi aku pernah melihat mu, um ... melihat punggung mu, sih." hehe.


"O ya? dimana?"


"Aku sedang menginap di kamar Loudy, aku melihat punggung mu dari balkon kamar Loudy. Dan saat itu aku benar-benar suka melihatnya, bahkan aku membayangkan menyentuhnya." kenangan yang konyol, pikir Tita. Nathan bahkan tertawa mendengar penuturan sang istri. "Kamu pasti berfikir aku aneh, ya?"


"Tidak, lalu ... apalagi yang kamu pikirkan kala itu?"


"Hm ... aku juga berfikir kalau punggung mu itu seksi." Ha ha ha


Nathan memerah, bahagia dan malu. Ha ha ha. Bisa-bisanya Tita berfikir seperti itu terhadap laki-laki. "Kamu suka menghayal tentang bagian tubuh laki-laki??"


"Enak saja. Tidak begitu, baru kali itu juga aku berfikir seperti itu tentang laki-laki."


"Bagus! jangan berani-berani lagi kamu memikirkan bagian tubuh atau bahkan memikirkan laki-laki lain."


"Iya. Aku janji." eh, Tita merasa tidak nyaman dengan tenggorokannya.


"Kenapa, sayang?"


"Rasanya tidak enak tenggorokan ku."


"Tidak enak bagaimana? Sakit?"


Tita menggeleng, dia merasakan mual sesaat tapi meninggalkan rasa tidak enak di tenggorokan. Nathan memberikan minum untuk Tita, tapi dia enggan meminumnya. "Aku ingin teh, sayang."


"Teh, iya sebentar ya." Nathan bergegas menghubungi pelayan di dapur agar membawakan teh hangat untuk Tita. "Sayang, apa kamu sakit?" Nathan mulai khawatir.


"Tidak apa-apa, mungkin karena aku kurang istirahat." Tita kembali memeluk Nathan, rasanya nyaman jika dalam pelukan sang suami, bahkan rasa mualnya menguap begitu saja.


***


"Wah ... you look so different." Terry sedang menatap kagum wanita yang berdiri di hadapannya kini. Operasi plastik nya berjalan mulus dan sukses, tidak sia-sia dia mengeluarkan uang yang sangat banyak. Anya, kini berdiri di hadapannya dengan lebih percaya diri, dengan wajah dan penampilan yang baru.


"Iya, aku bersyukur semua berjalan sesuai rencana. Dan kini aku siap dengan rencana kita berikutnya." senyum licik menghiasi wajah cantiknya. Aku harus berhasil kali ini, membuat Nathan menjadi milikku lagi ... kalau perlu, aku akan menyingkirkan penghalang diantara kita.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya. Kamu akan bekerja di cabang perusahaan ku." tegas Terry.


"Lho, kenapa tidak di perusahaan Petra?" Anya merasa aneh dengan cara laki-laki ini. "Bukankah akan lebih mudah jika aku masuk ke perusahaan nya?"


"Hei, kamu pikir sekretaris Nathan tidak akan tau siapa kamu? Dia sangat selektif jika terkait perekrutan pegawai, apalagi pegawai yang posisinya dekat dengan bos nya."


"Tapi, Ter ...?!"


"Cukup, aku tidak mau gagal lagi kali ini. Jadi, jangan pernah bertindak ceroboh, kamu mengerti?!"