
"Oke, Aku jawab pertanyaan kamu. Dengar baik-baik, aku tidak akan mengulangi jawabanku."
"Iya,"
"Tapi, sekarang aku lapar ...."
"Nathaaan!!"
Ha ha ha ...
Dan pada akhirnya, dengan setengah hati Tita melayani dulu makan suaminya. Sang nyonya mami terheran-heran melihat situasi yang berbalik. Pasalnya, tadi sore dia melihat anaknya turun dari kamarnya dengan menahan kemarahan, langsung mengajak sang sekretaris ke ruang kerjanya. Tapi, coba lihat sekarang ... sang anak dengan wajah sumringah dan senyum yang merekah sedang menikmati pelayanan sang istri yang masih memasang wajah cemberutnya.
"Kak, kok seneng banget sih," Kata Loudy sambil melirik ke arah Tita.
"Memang gak boleh?"
"Tapi kenapa Tita malah cemberut begitu?" sang adik makin kepo.
"Tidak ada apa-apa, ya kan?" Nathan melihat ke arah sang istri, di balas dengan senyuman seadanya.
"Ta, kalau kak Nathan isengin kamu terus. Kamu tidur di kamar aku aja. Kita bisa nonton sampai pagi seperti dulu."
"Hei ... aku suruh Brian menonaktifkan sosial media kamu kalau berani."
"Eh, jangan kak. Aku kan hanya ingin sedikit menghibur kakak ipar," Haduuuh, kak Nathan deh ih, ancamannya gak kreatif ... ck!
Sang mami hanya bisa memperhatikan anak dan menantunya, dia tidak ingin ikut campur selama sang anak atau menantunya tidak meminta bantuannya. Yang bisa dia lakukan hanyalah memastikan suami istri itu mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Sang mami maklum karena mereka menikah dengan sedikit paksaan dari sang putra, biarlah mereka mengenal satu sama lain dengan lebih mendalam.
Selesai makan malam yang penuh drama, disinilah mereka, duduk bersandar di tempat tidur karena ingin melanjutkan interview yang tertunda tadi.
"Aku melanjutkan pendidikan ku di Inggris, kamu tahu kan?" Tita mengangguk. "Di sana, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang gadis." Ada rasa berat dan enggan untuk menceritakan kisah cintanya dulu. Tapi dia sudah terlanjur berjanji pada istrinya yang entah kenapa sangat ingin tahu.
"Lalu?" Tita sudah tidak sabar.
"Lalu .... kami menjalani hubungan, hm .. pacaran, sepasang kekasih, sama seperti yang lainnya."
"Daaan ...?"
"Dan, apa?"
"Lho, masa hanya segitu ceritanya??" Mulai kesal lagi.
"Iya, aku kan jawab sesuai pertanyaan kamu."
"Kamu, curang!" Tita tidak terima, maka melayang juga lah bantal yang sejak tadi di pangkuannya.
"Lho, curang gimana sih? Tadi pertanyaan kamu apa? Coba kamu ingat-ingat."
Tita kembali mengingat.
Woaaah ... kalau ada lomba 'ngeles' tolong daftarkan laki-laki ini ya, gak pake loading lho ngelesnya ... mungkin sudah bakat alamiah. Tita masih berfikir, bagaimana cara supaya laki-laki ini jujur tentang 'Anya'. "Trus, berapa lama kalian berpacaran?"
"Sekitar 2 tahunan, mungkin." Nathan memindahkan guling pembatas mereka.
"Wah, lama juga ya? Lalu ... kenapa bisa putus?"
Nathan menggenggam tangan Tita, fokus ke arah jari manis tempat bersemayamnya cincin pernikahan mereka. Dia tersenyum, setidaknya Tita mau memakai cincin itu terus. "Aku sudah menjawab pertanyaan kamu lho tadi. Di tambah pertanyaan bonus. Sekarang, aku minta kompensasi nya ..."
Sadar akan janjinya, Tita tak bisa berkelit. maka dengan secepat kilat dikecupnya pipi sang suami. "Sudah." katanya.
Nathan yang memang selalu sigap, tetap menahan tangan sang istri. "Tadi kamu janji cium, bukan kecup ..." Dan tanpa menunggu reaksi sang istri, dia memajukan tubuhnya .. membuat Tita bereaksi memundurkan tubuhnya dan berbaring di tempat tidur. Sudut bibir Nathan terangkat, tanda dia puas dengan langkah yang dia lakukan. Sebelum sang istri memperoleh kesadarannya, dia cium bibir sang istri yang dia rindukan. Kesempatan langka, pikirnya. Tita mendorong dada Nathan dengan sekuat tenaga, tapi nihil. Ketika ciuman sang suami berpindah ke lehernya, dengan nafas yang tersenggal, "Nath ... ja- ngan." Tita ingin menolak tapi bahasa tubuhnya tidak seperti itu, ya ... tubuhnya mengkhianatinya. Dia menikmati sentuhan Nathan. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Nathan?
Nathan menghentikan kegiatannya dengan senyum kemenangan, merasa bahagia telah membuat banyak stempel kepemilikan di bahu dan leher Tita. "Aku selalu menepati janjiku," dia merebahkan dirinya di samping sang istri yang nafasnya masih belum teratur. Merasa kasihan dengan sang istri yang kelelahan padahal dia yang bekerja, "Aku ambilkan minum ya,"
Tita sudah terlelap, Nathan menyingkirkan guling yang dipeluk Tita dan mengganti fungsi guling itu dengan dirinya. Berapa lama lagi aku harus menunggu? mencium kamu sedikit saja sudah membuat aku hilang kendali. Maafkan aku yang belum bisa menceritakan masa laluku. Bukan karena aku tidak ingin, tapi karena ... jika aku menceritakan pasti aku akan terkenang dengannya dan mengingat kembali kejadian itu. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak habis pikir mengapa dia tega mengkhianati aku, menghancurkan rasa cintaku untuknya, menghancurkan mimpi dan keinginan ku dengan dia. Akankah nanti kamu bisa menjadi seperti itu? Di singkirkan helaian rambut yang menutupi wajah sang istri. Aku tidak ingin menggenggam kamu terlalu kuat karena aku tidak mau kamu menjadi tersakiti dan malah memilih pergi, namun aku juga tidak mau kalau membebaskan kamu karena aku sangat pecemburu. Aku harus bagaimana?
***
Nathan sedang berada di kursi kebesarannya, ketika pintu ruang kerjanya di buka tanpa ketukan. Thomas masuk bersama dengan Brian dengan sedikit tergesa. "Than," katanya.
"Ada apa?" Nathan masih santai menanggapi temannya.
"Kemarilah, penting! Cepat." Kapan lagi kan, dia bisa mengkomando bos besar. He he.
"Apa ini?" Nathan melihat laporan pengembangan dan keuangan hotel barunya. Terlihat jelas sekali manipulasi yang terjadi di sana. Dia membuka laporan tahun sebelumnya. "Wah ... ada yang mau main-main rupanya."
"Cara apa yang akan kita pakai untuk menyelesaikan mereka, tuan?" Brian bertanya.
"Salah kita karena tidak memperhitungkan, komplotan terselubung. Thomas kamu cari siapa pimpinan komplotannya, aku akan kesana menemui mereka. Seharusnya mereka lebih pintar kalau mau melakukan korupsi di perusahaanku!" Nathan cukup tenang menyikapi kenyataan ratusan juta uangnya mengalir ke kantong-kantong manusia tamak. Ganjaran bagi ketamakan hanya satu, pemecatan, tanpa surat rekomendasi, tanpa pesangon. Dan bisa dipastikan mereka tidak dapat diterima bekerja dimana pun.
"Oh, tuan ... ada hal lain yang ingin Thomas laporkan," Brian menginterupsi.
Thomas menghela nafas dan menatap Brian, seolah mengatakan... Not now, Brian.
"Apa?"
"Mungkin Brian salah, aku tidak ..."
"Thomas. Aku percaya Brian ..."
"Huh ... tapi sebelum itu, tolong jangan mencecar ku, oke. Informasi yang aku dapat belum final. Padahal sudah aku katakan untuk di keep dulu."
"Jadi ...?"
"Aku melihat Anya kemarin. Anya mantan pacarmu. Aku melihatnya di pusat perbelanjaan saat aku sedang bersama Rega." Thomas melihat perubahan di wajah Nathan. "Ya, Rega yang pertama kali melihatnya. Karena penasaran, kami mengikutinya dan ternyata dia bertemu dengan seorang pria. Sorry, aku tidak bisa melihat pria itu karena posisinya yang membelakangi kita. Laporan sementara anak buahku, Anya sudah berada di sini sejak resepsi pernikahan kamu. Dan kemungkinan besar memang dia yang datang malam itu."