Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 43



"Brian, sedang apa kamu diluar?" Rega yang datang ingin melapor kepada Nathan, terheran-heran melihat tingkah Brian yang sejak tadi hanya mundar-mandir di depan kamar Nathan.


"Oh, aku sedang menunggu." jawabnya.


"Menunggu? Menunggu siapa? Memang kemana Nathan? Huh, tidak seperti biasanya kalian terpisah begini, ha ha ha."


Ck, Brian hanya memutar matanya malas. Dia duduk di sofa depan kamar. Rega makin penasaran, tidak mungkin orang ini tidak punya akses masuk kamar, kan?? "Sebenarnya, ada apa sih? Kenapa kamu tidak masuk saja. Aku juga ingin minum air." Rega beranjak dari tempat duduknya hendak masuk, namun tangannya di pegang Brian.


"Jangan coba-coba mengganggu." Ancamnya.


Mengganggu? Seketika otak Rega berkelana, ha ha ha ... apakah Nathan mulai nakal?? "Hei, memang ada siapa di dalam??"


"Ck, hanya dengan melihat wajahmu aku bisa langsung tahu apa yang ada di kepala kamu."


Ha ha ha ... "Suka-suka aku, ini kan kepala aku. Dan kalaupun Thomas yang ada disini aku yakin dia juga akan berfikiran yang sama."


"Nona Tita yang ada di dalam, dia datang siang tadi. Jadi, kalau masih mau hidup dan bisnis lancar ... jangan berani macam-macam!" peringatan sang sekretaris yang sangat menjunjung tinggi kesenangan, eh, keamanan sang tuan.


"What!! Tita? Tita istri Nathan?? Kok bisa dia di sini?" Rega tidak habis pikir, dia tidak menyangka istri sahabatnya bisa nekat begitu. "Brian, apa jangan-jangan ... mereka sedang, ehm, ehm." dia menarik turunkan alisnya seolah berkata, kamu tahu maksudku kan.


"Kenapa tidak ditanya langsung saja?" jawaban nyeleneh dari Brian.


Dan yang terjadi berikutnya adalah kelakuan Rega yang juga nyeleneh. Ting tong, Ting tong.


"Hei!! Apa yang kamu lakukan!" Brian yang panik, betapa tidak? Dia yang sejak tadi hanya berdiri dan mundar-mandir di depan pintu saja tidak berani mengganggu, lha .. Rega malah menekan bel pintu. Ya ampun!


"Ah, Nathan ... ada orang," Tita mencoba melepaskan diri.


"Biarkan saja, ada Brian kok."


"Bangun dulu, aku sesak. Buka pintunya ..."


"Tidak mau, aku sudah menantikan hari ini sejak lama."


Haduuuh, Tita sudah lelah tapi dia tidak bisa kabur. Berfikir Tita ... "Ah, Aku akan menginap di sini, jadi kita bisa melakukannya lagi nanti. Sekarang kamu buka pintu itu saja yaaa. Kasihan tuan Brian menunggu lama di luar." rayuan receh. hi hi.


"Baiklah, jangan ingkar janji ya ..." Nathan mengangkat tubuh sang istri menuju kamar mandi agar Tita bisa berendam dan merilekskan tubuhnya. Sementara dia sendiri yang memang sudah bersih sejak tadi, keluar untuk melihat siapa yang berani-beraninya mengganggu.


Ketika pintu di buka, Rega langsung menerobos masuk, melihat ke sekeliling ruangan dengan wajah yang sumringah.


"Cari apa kamu!"


"Ha ha ha, Nathan ... aku tidak menyangka kamu bisa berhasil." Di tepuk-tepuk bahu Nathan tanda rasa bangga. "Tapi, kenapa siang-siang sih," Ha ha ha. "Kamu memang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan, ya."


Wajah Nathan langsung merona, sial! bocah ini kalau bicara selalu benar. "Lepas! Ada apa kamu kesini?" Mengganggu acaraku saja.


"Lho, siapa yang menggangu?? Aku datang kesini, memang sudah seharusnya kan? Kamu lupa kalau kita berada disini karena punya misi??" Rega menyunggingkan bibirnya, kemudian melanjutkan kata-katanya yang terputus ..."Bukan untuk bulan madu ..." Ha ha ha ha... puas sekali dia tertawa, ups ... menertawakan maksudnya. Dan bukan main merahnya wajah Nathan. Sial. Kena lagi!


"Hei, hei, hei ... curang sekali sih. Brian, jangan dengarkan tuhanmu, dia hanya bercanda."


"Cih, kenapa aku dibawa-bawa." Brian tidak memperdulikan lagi dua manusia itu, perutnya lapar. Dia juga tidak menyangka sama sekali sang tuan muda sudah bisa melakukannya, artinya dia sudah tidak lagi terjebak dengan masa lalunya, kan? Ya, semoga saja. Masih terdengar Rega yang memohon-mohon pengampunan Nathan. Hm, lucu juga ... kalau saja perutnya tidak minta di isi, tentu dia akan menikmati tontonan itu secara langsung. Setelah mendapatkan makanan, Brian kembali ke ruang tengah dimana ke dua manusia itu berada ... Tapi belum lagi dia memakan makanannya, tanpa sengaja piring makanan yang dibawanya terjatuh, dia terkejut karena melihat seorang gadis yang bersinar.


Tita keluar dari kamar, dengan hanya mengenakan kemeja Nathan yang kebesaran di tubuhnya, "Nathan, aku pinjam baju kamu, ya?" Mungkin bagi Tita itu hal biasa, karena memang bajunya biasa dan cukup sopan. Dia berfikir kemeja ini tidak menerawang, karena tubuhnya yang mungil jadi kemeja itu panjangnya menjadi pas selututnya.


Tapi, fikiran dia tentu berbanding terbalik dengan ke tiga laki-laki yang ada di ruangan itu. Huft, fikiran setiap gender memang beda ya, ha ha ha. Itulah, mengapa Brian ikut shock hingga menjatuhkan piring makanannya. Sedangkan Rega seperti mendapatkan durian runtuh, pemandangan yang indah dan jarang. Sedangkan sang suami? Panik! "Tita, apa-apaan sih kamu?" Buru-buru di bawanya sang istri masuk lagi ke dalam kamar.


Yah, bakal lama deh. Rega.


Mereka mau lanjut lagi. Brian.


"Kenapa keluar dengan baju ini?"


"Baju aku yang tadi sudah kotor, aku kan kesini tidak bawa baju ganti?"


"Kamu ... Kamu kan bisa bilang padaku. Aku bisa membelikan kamu baju baru."


"Maaf, aku fikir tidak masalah jika aku memakai kemeja kamu." Tita sedih, dia menunduk, menyesal, seharusnya memang dia bertanya dulu sebelum memakai barang milik orang lain. Tapi kan dia suamiku.


"Bukan begitu, sayang. Aku tidak masalah kalau kamu pakai bajuku." Nathan panik, karena membuat Tita bersedih. Perkara baju pula.


"Tapi, kamu marah, kan?"


"Aku, aku bukan marah karena kamu pakai bajuku. Aku hanya tidak suka kamu pakai baju seperti ini dan di lihat teman-teman ku."


"Lho, tapi kemeja ini cukup sopan kalau aku pakai." Tita berdiri, memamerkan kemeja yang kebesaran di tubuhnya. "Lihat kan, panjangnya pun sedengkul aku."


"Sayang, dengar. Bagi kamu mungkin biasa saja. Tapi, teman-teman aku itu laki-laki. Melihatmu seperti ini, fikiran mereka bisa lain."


"Apa sih, aku gak ngerti." Tita emosi, perkara baju jadi panjang urusannya. Terlebih dia sedang lapar, huft... rese ih Nathan!


Nathan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Duh, bagaimana menjelaskan tanpa melibatkan emosi ya? Pikirnya.


"Aku lapar, udah ya..."


"Nanti dulu, kamu gak boleh keluar dengan pakaian seperti ini." Nathan menahan istrinya.


"Nathan, please! kasih aku alasan yang logis, kenapa aku gak boleh keluar?" Lho, kok dia malah liatin aku begitu sih?


"Kamu tahu, kamu itu jadi terlihat menggoda. Aku bahkan, rasanya, tidak bisa menahan lebih lama lagi ..." Nathan sudah seperti harimau yang kelaparan, padahal beberapa menit yang lalu dia sedang berfikir bagaimana menjelaskan tanpa melibatkan emosi. Dasar Nathan.


"Hei, hei, jangan begini. Iya aku disini saja. Tolong bawakan makanan untukku, ya? Sepertinya energiku sudah habis." Tita mencoba mengalihkan perhatian, seperti kelinci yang berusaha melepaskan diri dari jeratan harimau.


Yah, mau bagaimana lagi ... pada saat harimau kelaparan, peluang si kelinci bisa lepas darinya sudah pasti sangat kecil. Hanya berawal dari kemeja ... Tita harus berakhir di kasur, bukan dimeja. Huft.