Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 115



Ini sudah hari ke empat sejak Nathan pergi, dan karena kesibukannya dia hanya beberapa kali menghubungi Tita. Tak ayal hal itu membuat Tita bad mood, belum lagi sekarang setiap malam rasanya Tita selalu memiliki keinginan yang ada-ada saja, seperti kemarin malam ketika setiap penghuni rumah sudah masuk ke kamarnya masing-masing dia ingin sekali makan nasi goreng yang di jual dekat kampusnya ... mau pesan online tapi penjualnya tidak terdaftar di pesanan online, alhasil dia menghubungi Mickey dan minta tolong padanya.


"Mickey, maafkan aku ya mengganggu kamu malam-malam begini. Aku lapar sekali." begitu Tita menjelaskan, dan Mickey dengan senang hati melakukannya.


"Tidak apa-apa, aku tau kamu tidak akan mungkin tega meminta koki untuk masak malam-malam begini kan." Mickey tertawa dan mengusap kepala Tita.


Dan pagi ini, Tita sudah bertekad untuk tidak mau terlalu memikirkan Nathan ... dia harus fokus dengan pekerjaannya, hari ini ada meeting penting. Mood nya tidak boleh berantakan hari ini, maka di pilihnya pakaian yang dapat mewakilkan keceriaan ... sebuah blazer yang di padukan dengan rok diatas lutut dengan warna pastel, membuatnya terlihat sangat imut dan manis. Perfect!


"Bu, aku berangkat kerja ya." Tita menyalami sang ibu dan mengecup pipinya.


"Iya, hati-hati. Hm, kamu manis sekali hari ini." puji sang ibu.


"Memangnya kemarin-kemarin tidak, ya Bu?" jawabnya sambil memamerkan deretan giginya yang putih.


"Anak ini, seharusnya kalau kamu di puji ..."


"Harus tetap rendah diri." Tita dengan seenaknya memotong ucapan sang ibu dan menyempurnakannya. Sang ibu tertawa dengan tingkah sang putri yang tidak berubah. "Baiklah, Bu aku berangkat ya. Mungkin aku akan pulang terlambat, Bu. Tapi nanti aku akan mengabari ibu."


"Iya, hati-hati di jalan."


Sang nyonya mami tidak terlihat batang hidungnya pagi ini, begitu pun dengan Loudy. Maka Tita pun langsung pergi tanpa pamit kepada mereka.


"Ana, nanti setelah mengantar aku kamu pulang saja."


"Lho kenapa?"


"Aku ada meeting dengan tim ku di tempat klien. Aku akan pergi dengan mobil mereka, jadi sekalian pulang dengan mereka."


"Aku bisa mengantarkan mu kemana pun."


Tita melihat Ana, "Tidak mungkin aku membawamu kesana, ayolah ... aku tidak nyaman seperti ini, kamu tau kan?"


"Tapi Tita?" Ana tau dia tidak boleh meninggalkan Tita sekejap pun. Tapi, dia juga tidak ingin membuat Tita menjadi tidak nyaman.


"Aku akan memberitahu kak Brian oke?" dengan berat hati Ana pada akhirnya hanya bisa mengangguk. Maka Tita mengirimkan pesan singkat kepada Brian bahwa dia akan pulang bersama Mickey. Hanya pemberitahuan, bukan ijin.


"Sudah. Aku sudah memberitahu kak Brian. Bye Ana." Tita melambaikan tangannya dan bergegas masuk ke gedung yang identik dengan warna hitam itu.


Sepeninggal Tita, Ana di hubungi Brian. "Ya, sayang."


"Ada apa sebenarnya?!" suara Brian tidak ada manis-manisnya. Bahkan nyaris mencekam.


"Nona Tita ada meeting pagi ini, dia akan pergi bersama tim nya. Dan aku di minta untuk pulang karena dia akan pulang bersama tim nya itu."


"Apa tidak ada yang lain?"


"Tidak."


"Kamu yakin??"


"Hei! kamu pikir aku sedang berbohong?!"


"Huft ... iya aku percaya padamu. Kamu kembali ke kantor saja. Laporkan padaku jika ada sesuatu dengan nona. Love you babe, and im sorry."


"Love you too, sweetie."


Ya ampun, semoga nona tidak terjadi apa-apa dengan nona Tita. Brian sungguh tidak tenang, karena dia sangat paham nona Tita adalah booster mood sang tuan muda, jadi harus di pastikan sang nona baik-baik saja agar sang tuan muda dapat fokus bekerja. Maka Brian menghubungi seseorang yang bisa dia percayai untuk mengawasi sang nona, "Halo, tuan Mike."


Kini Tita sedang berada di ruang rapat di kantornya, bersama dengan tim yang akan pergi ke kantor Terry Muller.


"Zahra, kamu sudah mempersiapkan semuanya?" tanya pak Putra.


"Baiklah, karena jika hanya pakai mobil ku tidak akan muat ..."


"Mobil saya siap pak." Raka menyela.


"Oke, sepuluh menit lagi kita berangkat."


Semua orang keluar dari ruangan itu,bada yang menuju meja kerjanya ada yang ke pantry, seperti Tita dan Mickey.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Tita kepada Mickey.


"Apa maksudmu?" Mickey mendahului Tita membuat teh untuknya. "Kamu mau?"


"Mau." jawabnya. "Mickey, nanti kamu antat aku pulang ya."


"Lho, bukannya kamu di antar jemput?"


"Aku bosan, aku ingin jalan-jalan dulu."


Oh, pantas saja tadi tuan Brian menghubungi ku. "Oke,, kamu mau kemana?"


Mendengar bahwa Mickey setuju akan permintaannya, Tita senang bukan kepalang. Di kepalanya langsung bertebaran banyaknya makanan yang ingin dia nikmati kelezatannya. "Nanti aku beritahu kamu. Sekarang, kita bekerja dulu."


Lho, kenapa anak itu?? cepat sekali berubah moodnya. Tidak ada pilihan, Mickey pun menyusul Tita.


***


"Tuan Petra, terima kasih atas kunjungan dan bantuan dari perusahaanmu. Semoga kerjasama kita dapat memberikan manfaat dan keuntungan yang besar." ha ha ha.


"Pastikan saja para pekerja menerima haknya dengan benar."


Ya ... Nathan memang seperti itu sikapnya jika berhadapan dengan rekan-rekan bisnisnya, sungguh bukan orang yang ramah. Meraka pasti akan terheran-heran jika melihat kelakuan laki-laki ini bila sedang bersama dengan istrinya.


"Brian, apa ada kabar tentang Tita-ku?"


Sial, kenapa anda bertanya di saat yang tidak tepat. "Nona seharusnya sedang rapat bersama timnya tuan." iya benar, itu saja informasinya sudah cukup.


Nathan memajukan tubuhnya condong ke depan, karena saat ini dia sedang berada di dalam mobil. "Rapat dimana?"


Pertanyaan yang biasa memang, tapi bagi Brian seperti ada sebilah pisau yang ada di lehernya. Kenapa feeling anda kuat sekali sih, tuan. "Di tempat kliennya, tuan." Brian mengatakan itu dengan amat sangat hati-hati.


"Berarti di luar kantor?! Pastikan Tita-ku baik-baik saja ..."


"Saya sudah meminta tuan Mike menjaga nona, tuan. Anda tidak perlu khawatir."


"Aku bukan khawatir, tapi ...." Nathan menghela nafas. "Kamu tau, beberapa hari ini aku bermimpi aneh." Nathan menerawang, dia mengingat mimpinya semalam. Mimpi yang terasa nyata dan membuatnya keringat dingin.


"Anda bermimpi apa, tuan?" Brian memarkirkan mobilnya di ruang bawah tanah hotel. Dia melirik ke arah sang tuan muda dari cermin di atas kepalanya. Sang tuan muda tampak melamun. "Tuan, kita sudah sampai."


Tersentak Nathan dengan sentuhan tangan Brian. "Ah, aku butuh tidur sepertinya."


Sesampainya di kamar hotel tempat Nathan menginap, Brian masih mengamati sang tuan muda. "Tuan, anda baik-baik saja?"


"Iya, istirahatlah Brian."


"Katakan saja tuan, apa yang membuat anda tidak tenang. Apa berhubungan dengan mimpi itu?" tebaknya.


Nathan menyandarkan punggungnya di sofa, ya ... dia memang agak terganggu dengan mimpinya itu. "Aku beberapa hari ini bermimpi ada banyak darah di sekitar ku dan itu sangat amis, dan terdengar seseorang yang memanggil ku papa. Aku tidak tau siapa tapi, suaranya jelas sekali. Brian, aku belum pernah bermimpi seperti itu seumur hidupku." Nathan memejamkan matanya, dia lelah. Semoga semua baik-baik saja.