
Pesawat yang membawa Nathan berhasil mendarat dengan sempurna di landasan, tapi tidak sesempurna suasana hati sang pemilik yang masih di landa kecemasan dan ke khawatiran.
Brian bergegas membawa sang tuan muda ke mobil yang sudah menanti mereka ... tidak ada sapaan atau bahkan sekedar basa basi yang di lakukan bawahnya kepada tuan mereka, karena apa? karena sang tuan amat sangat tegang wajahnya dan menakutkan.
Mobil melaju dengan cepat ke arah rumah sakit tempat sang belahan jiwa berada kini. Beberapa kali hanya terdengar helaan nafas yang begitu menyayat hati. Nathan terlihat tegang, total sudah tujuh belas jam sejak dia mengetahui kabar kecelakaan yang dialami sang istri ... dan saat ini bahkan dia belum tau bagaimana perkembangan kondisi istri tercintanya. Bukan karena dia tidak ingin menanyakan kondisi Tita dengan Axel, tapi Nathan tidak ingin berpikiran jelek, dia tidak mau terdoktrin dengan pikiran-pikiran yang tercipta karena asumsinya sendiri. Dia hanya ingin melihat sendiri dengan mata kepalanya bagaimana kondisi sang istri.
Akhirnya mobil yang ditumpanginya tiba di pelataran rumah sakit. Tampak kepala rumah sakit dan beberapa suster sudah menantinya di lobi dan siap menyambut.
"Selamat datang tuan muda," ucap kepala rumah sakit memberi hormat.
"Dimana istriku?!" hanya itu yang ada di kepalanya, istrinya, Tita-nya ...
Lorong itu tampak lenggang, dan di kursi tunggu tampak orang-orang yang di kenalnya, mereka sama sedihnya seperti dirinya, dipercepat langkah kakinya, "Ibu, Mami ..."
Kedua orang yang dipanggil namanya menoleh ke asal suara, seketika tangis mereka pecah lagi, dan itu makin membuat Nathan down walaupun dia bersikeras tidak mau mengakuinya.
"Tuan ..." sang ibu mertua memeluknya, Nathan pun merasakan guncangan dari tubuh ringkih itu, aku tidak mau mendengar kabar buruk, pikirnya. Nathan berpindah memeluk sang mami, karena jika di lebih lama memeluk orang yang teramat di cintai sang istri, pasti meledak lah bendungan air matanya.
"Mi, mana Axel?" ya ... Axel, dokter yang menangani sang istri dari awal ... yang dia percayai mengobati Tita-nya.
"Sabar ya sayang, Tita belum sadar ..." pecah lagi tangis sang mami.
Dan ketika pintu yang mereka jaga semalaman terbuka, Nathan langsung menghampiri sahabatnya ... "Axel ..."
"Ah, Nathan ... kamu sudah sampai?" Axel terdengar tenang ketika menyapa Nathan namun sesungguhnya dia sedang memikirkan Kalimat yang tepat untuk menyampaikan berita duka itu. "Mau melihat istrimu dulu?"
Nathan menatap tajam laki-laki di hadapannya, berusaha menyelami mata yang berusaha tenang itu. "Iya."
Nathan masih terpaku beberapa langkah dari tempat tidur Tita, beberapa alat terpasang di tubuh mungil itu. Sempat laki-laki itu berpikir, akankah dia kehilangan lagi seperti hari itu, tapi dia bersyukur Tita-nya masih selamat, masih bernafas ... Nathan bahkan sudah meyakinkan dirinya, sekali pun sang istri dalam keadaan dan kondisi fisik terburuk akibat dari kecelakaan itu, asalkan dia masih bisa memeluknya karena sang istri masih bernafas, maka dia akan menerima dengan senang hati.
Nyatanya, yang maha kuasa masih menyayangi nya ... masih memberikan kesempatan yang lebih baik untuk mereka menua bersama. Dapat di bayangkan betapa bahagia Nathan, tapi tetap saja ketika melihat alat-alat yang terpasang di tubuh Tita, hatinya perih.
"Tidak usah khawatir, istrimu akan segera pulih." Axel menenangkan.
Nathan perlahan mendekat, mencium kening sang istri, "Aku sudah disini ... bukalah mata cantikmu, tidak kah kamu rindu padaku? Sayang ... bangun lah, aku ingin memelukmu." di kecup lagi luka-luka yang ada di kepala dan tangan Tita.
"Nathan, aku ingin menyampaikan sesuatu." Axel terlihat serius.
Nathan mencium bibir sang istri sekali lagi dan keluar mengikuti Axel. "Mi, aku titip Tita ..." sang mami mengangguk-anggukkan kepalanya.
Di ruang dokter Axel kini mereka berada, sang tuan muda terlihat pasrah dengan apa yang akan di sampaikan sahabatnya, karena dia sudah cukup bersyukur sang istri masih bisa terselamatkan hidupnya.
"Nathan, apa kamu tau kondisi terakhir istrimu sebelum ini?"
Ah, benar kan ... dia belum tau, "Kami berhasil menyelamatkan nyawa istrimu, tapi ... maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa bayimu."
Duaaar!!!!
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Nathan sungguh terkejut dengan apa yang dia dengar. Raut wajahnya terlihat sangat menakutkan, antara marah, kecewa dan hancur. "Maksudmu Tita sedang hamil?!!!" bahkan kini dia berdiri, menjulang tegak di hadapan Axel.
Sang dokter jadi kikuk, merasa sangat bersalah tapi ini juga bukan salahnya. "Akibat benturan kencang Tita mengalami pendarahan hebat di tempat kejadian, maaf."
Luruh Nathan di lantai, dia menangis, bayinya ... buah cintanya dengan sang istri harus pergi begitu saja ... bahkan dia tidak tau bahwa anugerah yang dia nantikan sudah ada. Axel berinisiatif merangkul Nathan, dia belum pernah melihat Nathan serapuh ini.
"Apa dia tau?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Nathan. membuat yang di tanya bingung.
"Dia? dia siapa?"
"Tita, apa dia tau kalau sedang hamil?"
Dia?? sejak kapan Nathan memanggil Tita dengan dia?? Ah, tidak benar ini. Pasti akan terjadi salah paham. "Nathan, jangan menyalahkan istrimu ... aku tidak tau apa Tita mengetahui kondisinya yang sedang hamil atau tidak. Bahkan sampai saat ini pun aku tidak tau bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi."
Ah, iya ... apa yang aku pikirkan. Tidak mungkin Tita sengaja menghilangkan anak kami, itu tidak mungkin. Nathan menyesali pikirannya yang bodoh, bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu. Tita pasti hancur hatinya jika tau aku berpikiran buruk seperti itu.
Tepat pada saat itu Brian masuk, "Tuan, saya sudah menanyai Mike dan nona Loudy terkait kecelakaan yang dialami." Nathan dibantu Axel berdiri dan duduk kembali di sofa. "Anda, baik-baik saja?" Brian terlihat khawatir melihat keadaan Nathan.
"Aku baik, lalu bagaimana dengan Thomas?"
"Maaf tuan, aku belum menanyakan perkembangannya lagi." jawab Brian.
"Hubungi Thomas. Ah, tidak ... minta dia kesini saja." Nathan berjalan mendekati pintu, "Aku ingin menemani istriku."
Kini Tita sudah di tempatkan di ruang perawatan khusus, dengan tempat tidur yang besar sesuai permintaan sang tuan suami. Detak jantung, tekanan darah dan saturasi oksigen Tita sudah baik, tinggal menunggu si cantik bangun dari tidurnya.
"Ibu,"
Ibu menoleh dan tersenyum pada menantunya. "Kamu sabar ya," ibu mertua meraih dan menggenggam tangan menantunya.
"Ibu sudah tau tentang bayi .." Nathan tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Namun, sang ibu mertua mengangguk mengiyakan. Kemudian melanjutkan, "Maafkan Tita karena tidak bisa menjaga bayi kalian,"
"Tidak Bu, tadi Axel sudah mengatakan padaku kemungkinan besar Tita bahkan tidak mengetahui kehamilannya."
Sang mami yang juga mendengarkan percakapan anak dan besannya pun merasakan kesedihan yang luar biasa, tapi memang takdir berkata lain. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka semua harus menerima hal itu. Dan yang harus mereka pikirkan sekarang adalah, bagaimana cara menyampaikan berita sedih ini kepada Tita, ketika dia siuman nanti.