Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 22



"Nathan, mami belum dapat gedung dan catering ...mereka baru ready sekitar 2 Minggu lagi. Terlalu sempit waktunya, kita juga belum mempersiapkan undangan."


Nathan menghela napas, dia terlihat berfikir. Mengingat kunjungan yang harus dia ikuti pun jadi pertimbangan.


"Diundur saja ya, sayang?" lanjut mami, "Bagaimana, Tita?" sang nyonya mami melihat ke calon menantunya. Tita gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa ... karena jika bisa memilih dia masih berat untuk menikah dengan laki-laki di hadapannya.


"Tita, sayang!" panggilan itu tentu membuat mereka yang ada di sofa menoleh ke asal suara. Seorang laki-laki tinggi, tegap dan sedikit kurus berjalan tergesa-gesa memasuki ruang tengah. Semua orang menoleh ke asal suara, dan gadis yang dipanggil namanya itu langsung berdiri dan menghambur ke pelukan sang lelaki. Nathan langsung berdiri, menghampiri dua insan yang sedang memeluk dan melepas rindu itu. Ditariknya lengan sang gadis dengan kasar, sehingga pelukan mereka terlepas. Kini Tita berada dibelakang sang tuan muda. Nathan pasang badan dihadapan lelaki asing yang dengan bebasnya memeluk calon istrinya tanpa sungkan. Dengan jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya, siapapun bisa dilibasnya. "Siapa, anda? Kenapa memeluk calon istriku? Siapa yang mengizinkan kamu masuk dan merusak acara dirumah ku!"


Laki-laki itu terdiam, dia tahu siapa laki-laki dihadapannya ini. Setelah melihatnya dari dekat, dia sadar dengan siapa dia berhadapan. Bahaya, pikirnya. Seharusnya dia lebih sopan tadi. Mana dia tahu laki-laki ini adalah pemilik rumah mewah ini, sebab dari bandara dia langsung menuju ke alamat yang diberikan sang ibu.


"Maaf, tuan muda," Bi Lesti menengahi kesalah pahaman ini. "Ini Kala, anak sulung saya, kakak laki-laki Tita."


Duaaarrrrr! rasanya seperti ada palu yang menghantam kepalanya. Nathan serba salah kini, dilihatnya sang gadis yang sempat dia tarik ke belakang punggungnya... terlihat kesal diwajahnya. "Oh, maaf ... aku tidak tahu Tita punya kakak laki-laki." hanya itu yang bisa dia ucapkan ... gengsinya memang sangat tinggi. "Silahkan duduk." ucapnya pada Kala.


Kala yang mendapat perlakuan berbeda dari sang tuan, jadi merasa canggung. "Iya, tidak apa-apa, tuan." Nathan kembali ke tempat duduknya, disebelah Loudy. Memandangi Tita yang sedang tersenyum sambil menggenggam erat tangan sang kakak. Ah, seberapa banyak laki-laki di sekelilingmu? Apakah akan baik-baik saja jika aku meninggalkan kamu sendiri disini? Ditengah ke galauan nya, satu pesan masuk ke ponselnya. Brian? langsung ditatapnya Ndang sekretaris yang duduk tak jauh darinya, 'Aku akan menempatkan orang untuk menjaga nona, tuan, tenang saja' wah... luar biasa memang Brian ini, padahal sang tuan belum berkata apa-apa.


"Mam, aku ada kunjungan bisnis ke Hamburg selama satu Minggu, aku rasa pernikahan ini memang harus diundur. Tapi aku ingin sekembalinya aku, semua sudah siap."


"Kapan kamu berangkat?"


"Lusa." Dia melihat lagi ke arah sang gadis, kali ini Tita juga melihat kearahnya, jadi pandangan mereka beradu. Kenapa dia tidak bisa senyaman itu denganku?


Rapat keluarga telah selesai, lusa Nathan dan Brian akan berangkat ke Hamburg. Sang tuan muda tengah berada diruang kerjanya, bersama Brian. "Apa yang anda pikirkan, tuan?"


"Apakah menurut mu, Tita bisa mencintai aku?"


"Memang ada wanita yang tidak mencintai anda?"


"Jangan bilang kamu tidak melihat perbedaan saat dia bersamaku dengan laki-laki itu?"


"Laki-laki tadi kakaknya, tuan. Sudah pasti dia akan lebih nyaman dengan kakaknya"


"Tapi, aku ingin dia juga nyaman denganku."


"Sabarlah, tuan. Aku yakin nona akan jatuh cinta pada Anda nantinya."


"Aku khawatir, ketika aku pergi dia akan direbut laki-laki lain. Apa aku ajak aja dia pergi bersamaku?"


Please ... jangan mengada-ada, tuan. Brian.


"Kakak nona bekerja di Hotel kita yang ada di Inggris, tuan."


"Hah, sejak kapan?"


"Hampir lima tahun, sebagai plant engineer. Sepertinya, dia mengenali anda tadi."


tok ... tok ... tok. Pintu ruang kerja Nathan diketuk. Brian yang membukakan pintu, "Ah, nona silahkan." dia membiarkan si topik pembicaraan masuk menemui si pria galau.


Nathan sedikit terkejut dengan kedatangan Tita, karena biasanya hanya dia yang aktif. Tapi kali ini, dia sungguh senang. "Ada apa?"


"Aku akan pulang dengan kakakku. Boleh, kan?" Yah, walaupun ini tidak seperti apa yang diharapkan, tapi dia menganggap ini sudah jauh lebih baik.


"Kamu tidak masalah aku tinggal seminggu?" jawab gak mau, gak mau...


"Tidak apa-apa,"


Nah, kan... tidak seindah ekspektasi. "Kamu mau ikut dengan ku ke Jerman?"


"Aku rasa sebaiknya, aku disini saja."


"Aku tidak tenang meninggalkan mu disini, apalagi ketika kamu belum membuka hatimu untuk ku," Nathan mengungkapkan apa yang dirasakannya, ke galauan-nya.


"Kenapa kamu mau menikah denganku, padahal kita baru kenal?"


"Aku suka kamu sejak pertama kali aku melihatmu."


"Apa kamu mencintai aku?"


"Tentu saja,"


"Dalam waktu sesingkat itu? Aku tidak yakin, apa alasannya?" ntah disadari atau tidak, kali ini Tita sudah lebih nyaman berbicara dengan Nathan.


"Apa aku harus punya alasan untuk mencintai seseorang?"


Ketika dirasakannya aura diruang itu agak berbeda, Tita langsung berdiri. "Ah, aku mau pulang dulu."


"Tidak bisa kah kamu menginap saja?" Nathan memegang tangannya. Tita gelagapan, dia takut kejadian waktu itu terulang lagi, kini jantungnya bahkan memompa lebih cepat. Bodoh. Ketika mengiyakan usulan Loudy untuk meminta ijin agar sang tuan tidak marah karena cemburu, Tita tidak terpikirkan bahwa dia akan berdua saja dengan sang tuan seperti ini. Berpikir Titaaa, apa yang harus aku katakan agar bisa selamat dalam situasi ini ....


"Aku, sudah tidak bertemu kakak ku 5 tahun. Banyak yang ingin ku ceritakan sebelum dia pergi lagi. Keadaan yang memaksa kami terpisah, jadi aku sangat bahagia dia ada disini sekarang ..."


"Kamu mau, aku pindahkan penugasan kakakmu kesini?"


"Hah? Memang kamu tahu dimana kakakku bekerja?" Nathan berdiri, mensejajarkan tubuhnya dengan Tita. "Kalau kamu mau mencium ku aku akan mempertimbangkannya."


Tita reflek mundur dan menutup mulutnya. Ha ha ha ... sang tuan tertawa melihat reaksi sang gadis, "Pulang lah, aku akan menemuimu lagi besok."


Braaakk!! Tita menutup pintu dibelakangnya tergesa. Wah. Berdua dengan laki-laki itu didalam sana tidak baik untuk jantungku.


Tita tiba di apartemennya, kakaknya tidak jadi ikut pulang ke apartemennya entah kenapa. Katanya ingin ketempat temannya dulu. Selesai membersihkan dirinya, dia beristirahat di kasurnya, ah ... lelah sekali. Tidak lama lagi status ku akan berubah, apa ini yang terbaik? Apa aku bisa mencintainya? Apa kita bisa bertahan selamanya? Apa aku tahan dengan manusia arogan yang suka seenaknya itu! Tapi kalau dipikir-pikir, aku belum mengenalnya sebaik aku mengenal Loudy. Gimana kalau tiba-tiba nanti, ada wanita lain yang ngaku-ngaku kekasihnya? Gak mungkin kan dia gak punya mantan? Oh ... bagaimana kalau tiba-tiba, wanita masa lalunya datang dan bilang 'aku mengandung anaknya'. Aaaargh... apa sih yang ku pikirkan, ck .. mungkin akibat kebanyakan baca novel.