
Pagi-pagi sekali Nathan sudah turun untuk memerintahkan koki membuat bubur ayam. Hal yang tidak biasa bagi seorang Nathan.
"Nathan?" bahkan sang mami pun dibuat terkejut dengan tingkah sang putra.
"Untuk Tita, mi."
"Bagaimana keadaan Tita?"
"Better, mi."
"Sayang, ada yang mau mami tanyakan." Sang mami menggiring Nathan ke ruang kerja Nathan. "Sebenarnya ini ... ini adalah pemikiran Amel, dia tidak enak jika bertanya langsung jadi akan mami wakilkan."
"Apa mi?" sepertinya Nathan sudah paham apa yang akan sang mami katakan.
"Ini hanya kecurigaan kami sebagai orang tua, jadi jangan sakit hati ya." Nathan mengangguk.
"Apa benar kemarin itu kali pertama Tita mendapatkan ..."
"Iya, mi."
"Kenapa?" mami jelas syok, ke khawatiran tercetak jelas di wajahnya.
"It's a long story', mi. Itu kesalahan ku karena membuat Tita ragu dan bersedih waktu itu. Walaupun aku juga tidak membenarkan apa yang dia lakukan, tapi apapun yang dilakukan Tita ... itu tetap tanggung jawab ku. Tapi sekarang kami baik-baik saja, hormon Tita juga sudah stabil dan normal." Nathan memeluk sang mami yang sudah mulai meneteskan air matanya. "Maaf, bukannya aku tidak mau memberitahu mami, tapi aku yakin pasti akan seperti ini jadinya. Aku tidak mau mami dan ibu khawatir."
"Iya, mami mengerti ... kalian sudah dewasa, sudah tau apa yang terbaik untuk kalian. Mami juga tidak terburu-buru ingin punya cucu."
"Tapi aku dan Tita sudah memutuskan ingin cepat-cepat punya anak." Nathan mengatakan hal itu dengan gamblang.
"Hah ... yang benar??" bersinar wajah sang mami. Senang ... tentu saja dia senang.
"Ah, tadi mami bilang tidak terburu-buru mau punya cucu." sudah lama juga dia tidak menjahili sang mami.
"Mana ada, tadi mami mengatakan itu hanya supaya kamu tidak terbebani."
Ha ha ha ...
"Jadi kapan?"
"Apanya?"
"Kapan kalian akan memberikan mami cucu?"
"Dibuat dulu dong mi. Mana bisa langsung jadi begitu." niat mau menjahili, sekarang Nathan malah jengkel karena diberondong pertanyaan.
"Aduh ... kalau begitu, kalian tinggal di apartemen kamu saja berdua biar tidak ada yang mengganggu." perintah sang mami.
"Tunggu ... mami tau dari mana aku punya apartemen?!"
"Hei ... mami itu orang yang melahirkan kamu. Apa sih yang mami tidak tahu tentang kamu. Sudah sana temui istrimu."
"Mi, tolong jangan katakan apa-apa pada Tita ya, jangan lagi bahas masalah itu, please?"
"Huft ... sebegitu cintanya ya kamu dengan Tita ..." Nathan hanya tersenyum. "Iya, baiklah ... mami tidak akan mengatakan apapun. Nanti mami juga akan mengatakannya ke Amel, oke."
"Thank you, mam." Nathan meninggalkan sang mami menuju kamarnya. "Kenapa kamu ada disini?"
"Ish, kakak aku kan mau melihat keadaan Tita." Ya ... Loudy sedang ada disana, kesempatan emas ketika sang kakak tidak sedang bersama istrinya.
"Sarapan dulu sana, temani mami."
"Oke, oke ..." Tita melambaikan tangannya.
"Loudy bilang apa?" kepo.
"Tidak ada, mana buburnya?" tidak ada jawaban apapun, Nathan hanya diam ... oke, itu artinya sang tuan suami tidak senang. "Loudy mengajak ku ke salon setelah datang bulan ku selesai."
"Kenapa harus menunggu? kamu kan bisa pergi hari ini?"
"Tidak mungkin, sayang. Itu kan salon untuk spa." ups! keceplosan.
"Apa maksudnya?!"
Aaaa ... marah kan, "Spa rambut, bukan badan."
"Benar??" Nathan menatapnya penuh kecurigaan.
"Tidak ... tidak aku tidak jadi pergi," huh ... susah sekali berbohong itu.
"Maafkan aku kalau aku menyebalkan bagimu." Nathan memelas.
Lho, lho ... kok jadi begini? Aku yang sedang datang bulan, kenapa jadi dia yang emosinya berubah-ubah seperti ini sih???
Ha ha ha ... Nathan, Nathan ... itu Tita baru datang bulan yaaa ... bagaimana kalau Tita hamil??? bisa-bisa nanti malah Nathan yang ngidam. Ha ha ha.
*Flashback*
"Ana ... kapan-kapan kita pergi bersama lagi, ya ..." pinta Tita.
"Baik, nona Tita." Ana tidak ikut pulang bersama mereka karena rupanya rumah Ana tidak begitu jauh dari lokasi mereka. "Aku duluan, ya sayang." pamitnya pada Brian. Ana mencium mesra bibir Brian dan Brian membalasnya. Tita dan Nathan yang melihat adegan itu kaget, bahkan Tita langsung memalingkan wajahnya karena malu. Bahkan, Nathan yang juga sudah mengetahui bagaimana dan seperti apa Brian masih saja tidak terbiasa dengan hal seperti ini, di tempat umum.
"Aku akan menghubungi kamu, hati-hati sayang." Brian melepaskan kekasihnya. Dan kembali ke mobil. "Ayo, kita pulang tuan, nona." Brian membukakan pintu untuk sang nona dan di susul sang tuan muda. Lho ... ada apa dengan mereka? pikir Brian. "Anda, baik-baik saja tuan?" Brian tidak tahan untuk tidak bertanya, karena tidak seperti biasanya sanng tuan muda tampak terlalu tenang. Begitupun dengan sang nona yang ... gelisah?? Hei, ada apa dengan mereka? "Nona, anda baik-baik saja? ada yang mau anda katakan?"
Iya, tidak memang ingin bertanya entahlah kenapa dia jadi sentimentil saat ini, dia berusaha menahan tapi ketika Brian malah mempersilahkan jadi dia akan bertanya, "Kak Brian, apa tidak malu berciuman seperti itu di pinggir jalan?!" huft ... lega juga akhirnya.
Ha ha ha. "Jadi dari tadi yang aku lakukan menganggu pikiran anda, ya nona, tuan?" Ha ha ha.
Duk!! Nathan menendang kursi Brian, "Fokus saja menyetir!"
Ha ha ha. "Tuan, anda bisa melakukannya juga, anggap saja aku tidak ada." Brian tau apa yang ada di kepala sang tuan muda, laki-laki tak tersentuh yang kini tergila-gila dengan wanita di sampingnya.
Eh, apa maksudnya? belum lagi Tita bertanya, dia sudah tersudut karena perlakuan sang suami. Nathan menciuminya tanpa permisi, ha ha ha. "Nath, tung.. tunggu."
"I just wanna to kiss you,"
Ah, aku tidak bisa menolak kalau dia sudah pasang tampang seperti ini. Maka Tita mengalungkan tangannya ke leher sang tuan suami, dan tentunya di sambut dengan senang oleh Nathan. Namun, di tengah-tengah kemesraan yang tengah mereka ciptakan, rasa nyeri karena keram perut menjalar. "Och, aduh ... aaah." Tita meringis tidak dapat menahan sakitnya.
Nathan mengangkat tubuhnya, "Kenapa sayang?" dia melihat Tita kini menekuk tubuhnya dan memegangi perutnya. "Sayang, apa aku menekan terlalu keras?" Nathan panik melihat Tita kesakitan seperti itu.
"Brian cepat, lebih cepat!" Nathan tidak tahu apa yang harus di lakukan, dia mengusap-usap kepala Tita dan punggung belakang sang istri. "Sayang, kamu kenapa? Jangan membuat ku takut," ketika di rasanya kening Tita berpeluh, Nathan makin khawatir dan ketakutan. Perasaan ketika di tinggalkan sang papi menariknya kembali ke kenangan itu.
Sampai di mansion, Brian dengan cepat membukakan pintu untuk tuan mudanya. Nathan sudah tidak terkondisikan perasaannya. Tita dalam dekapannya, Nathan bercucuran keringat, wajah tampannya tercetak ketakutan yang nyata. Dia menggendong Tita bergegas ke kamar. Pilu dan sakit hatinya ketika mendengar sang istri meringis kesakitan
dalam dekapannya.
"Sayang ... aku tidak apa-apa," Tita masih mencoba menenangkan sang tuan suami. Dia melihat ke khawatiran dan ketakutan di wajah sang tuan suami. Namun Nathan tidak menggubris kata-kata sang istri, yang ada di dalam kepalanya hanya, aku harus menyelamatkan mu ... aku tidak akan membiarkan kamu pergi meninggalkan ku, seperti papi.