
Siang itu di ruang kerja Nathan, "Tuan, saya sudah mencari informasi mengenai nona Anya, tapi tidak ada tanda-tanda."
"Aku masih belum bisa menceritakan kepada Tita. Rasanya berat, kamu mengerti kan?"
"Thomas sudah mengerahkan anak buahnya, Tuan. Kita tinggal menunggu informasi selanjutnya." terang Brian.
"Lalu, apa jadwal aku selanjutnya?"
"Ada stasiun TV yang ingin mewawancarai anda terkait pembangunan galeri seni di kota B."
"Aku tidak mau, suruh orang lain saja. Brian mana ponselku?"
Brian mengambil ponsel dari sakunya, dan menyerahkan pada sang tuan.
Nathan menghubungi sang istri, tapi hingga dia mencoba tiga kali orang yang dia hubungi tidak juga mengangkat ponselnya. "Kenapa dia mengabaikan telpon ku?!"
"Nona kan sedang bekerja, tuan?"
"Memang ada larangan tidak boleh angkat telpon selagi bekerja??" kesal kan dia.
"Mungkin sedang rapat, tuan, sehingga tidak mungkin nona mengangkat telpon."
"Dia kan bisa mengirim pesan padaku, bukannya mengabaikan aku."
Haduh ... masalah nih. Cuma karena tidak diangkat telponnya dia sudah merasa diabaikan? Nona, anda sedang apa sih? "Aku akan mencoba menel ...."
"Tidak usah, kita kesana sekarang!"
"Lho, tapi tuan ... kita ada meeting dengan divisi pengembangan ...?" Brian mengingatkan.
"Kita bisa meeting dengan virtual, kan? Ayo cepat." Nathan keluar dengan tergesa. Semenjak dia tahu dan melihat sendiri banyak laki-laki yang menyukai Tita, dia makin merasa terancam. Sepertinya dia tidak akan tenang hanya dengan menikah, selama sang istri belum bisa mencintai dan menerimanya.
Diperjalanan. "Brian, aku ingin sekali memindahkan Tita. Tapi dia tidak mau, banyak sekali alasannya. Padahal perusahaan kita kan lebih baik daripada tempat kerjanya sekarang."
"Nona baru bekerja disana, tuan. Dia sedang menikmati masa-masa bekerjanya. Nona Tita orang yang bertanggung jawab, tuan."
"Apa tidak ada cara cepat agar dia hanya melihat aku? bergantung padaku?"
Brian melihat sang tuan melalui cermin kecil di atas kepalanya. "Buat nona terbiasa dan nyaman dengan anda, tuan."
Sementara itu di Mirae Contruction, Tita sedang berada di ruang rapat dengan bos dan juga client-nya Mr. Kim...
"Jadi, nona Zahra saya pikir kita perlu mengadakan kunjungan ke lokasi. Anda harus melihat lokasinya kan agar ada gambaran mau dibuat seperti apa?"
"Untuk urusan ini, sebaiknya anda bicarakan dengan pimpinan saya, Mr..." Di tengah perbincangan itu, pintu di ketuk. Tok tok.
"Maaf mengganggu, Tuan Putra, ada tamu untuk nona Zahra."
"Hei! Kamu tidak melihat kami sedang rapat?!" Mr. Kim tersinggung.
"Tidak apa Mr. Kim, silahkan dilanjutkan dengan atasan saya, permisi." Tita tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kabur dari pertemuan yang tidak berfaedah itu. Jadi dia segera keluar ketika ada kesempatan.
"Zahra," Arum memanggil. "Wah ... parah banget tuh Mr. Kim, gak gentle banget caranya deketin kamu. Tapi kamu gak apa-apa,kan? Untuk pak bos ikut rapat tadi."
"Iya, semena-mena banget sih. Udah tahu ini bukan pegangan kamu, kan. Kenapa juga maksa kamu ikut keruang rapat. Dasar!" Arga ikut tersulut emosinya.
"Aduh ... gak tau juga deh. Tadi aja aku di ajak meninjau lokasi coba, apa hubungannya dengan aku? Ini kan kerjaannya Mikey." Tita mengeluarkan kekesalannya.
"Siapa yang sudah berani memaksa kamu!!"
Deg! Suara berat menggelegar itu, terdengar tenang namun penuh kemarahan. Hah. Sejak kapan dia ada disini??
"Kamu malu teman-teman kerjamu tahu aku suami kamu!" Untuk pertama kalinya Nathan marah di hadapan Tita. Kini mereka ada di dalam mobil milik Nathan tentunya, berdua, karena sang sekretaris bertugas meredam ke kepoan divisi sang nona.
"Tidak ... bukan begitu. Hanya saja ... aku panik kamu marah-marah disana, aku ..."
Milikku? Tita mencerna kata-kata Nathan. Milikku. Tita terdiam kini. Ya, dia tahu tidak akan pernah menang beradu dengan sang penguasa.
"Aku menelepon kamu berkali-kali tapi tidak kamu jawab. Kenapa ponselmu? Kenapa tidak menjawab panggilan ku?"
"Aku sedang di ruang rapat tadi."
"Memang tidak bisa ijin untuk menjawab telpon?"
"Maaf, tapi ponselku tertinggal di laci meja." Tita masih berusaha menahan air matanya. Ada rasa sesak di dadanya. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Apa dia hanya menganggap aku miliknya? bukan orang yang dicintainya? Kenapa rasanya aku berbeda dengan Anya-nya? Sejak tanpa sengaja mendengar percakapan itu, dan tidak ada penjelasan apapun dari laki-laki ini, jadi timbul pikiran-pikiran yang membuatnya gelisah.
Nathan mengulurkan tangannya membelai rambut Tita, "Siapa yang mau memaksamu tadi? Kamu di paksa untuk melakukan apa?"
"Aku tadi hanya di minta ikut rapat proyek yang bukan pegangan aku. Dan sepertinya aku akan di libatkan dalam proyek itu." penjelasan yang masuk akal, pikir Tita.
"Hanya itu?"
"Iya, aku mau masuk ke dalam, ya."
"Tita." Nathan menggenggam tangannya, "Hanya karena kamu tidak menjawab panggilan ku, aku bisa langsung datang kesini. Jadi, jangan buat aku khawatir lagi ... kamu mengerti?"
Tita mengangguk. Dia khawatir padaku? Sebenarnya, bagaiman perasaannya sih?
"Brian, kamu dapat info apa?" Nathan bertanya dalam perjalanan kembali ke kantornya.
"Klien itu Mr. Kim, tuan. Nona di paksa untuk ikut rapat proyek yang bukan bagiannya, dan Nona di minta untuk ikut juga meninjau lokasi dengan dalih untuk menambah wawasan informasi."
"Ck .. alasan apa itu."
"Saya sudah menyampaikan pada Tuan Putra, untuk mengamankan nona, tuan."
"Bagus, good job. Aku merasa Mr. Kim juga menaruh hati pada istriku."
"Saya sudah meminta orang kita untuk mengawasi, tuan."
"Feeling ku tidak enak akan orang ini."
Wah ... tuan memang peka sekali untuk urusan nona. Brian.
Menjelang sore, di salah satu sudut club' Tita sedang bersama Loudy dan Mikey. Dia sudah mengirimkan pesan kepada sang suami, dan sudah mendapatkan ijin.
"Ta, serius untuk ketemu dengan aku aja kamu harus ijin??"
"Gak kok, aku hanya memberitahu saja supaya kakakmu tidak khawatir."
Ha ha ha... Mike tertawa, "Daripada suamimu tiba-tiba datang menjemput ya, ya." Ha ha ha.
Loudy kebingungan, dan Tita hanya tersenyum.
"Hah ... gak nyangka aku, kalau punya kakak bucin akut."
"Eh, tapi Lou. Kakak kamu itu pernah punya mantan gak sih?"
"Hah, kenapa memangnya?" Loudy terlihat waspada.
"Ah, aku mau tau aja. Apa kakak kamu itu memang tipe yang bucin dengan pasangannya?" Tita mencoba mengendalikan suaranya.
"Kenapa gak kamu tanya langsung saja?"
"Ta, kalau suami kamu bucin seperti itu. Artinya, dia tidak mau kehilangan kamu."
"Entahlah, kamu kan tahu aku tidak berpengalaman, hi hi hi."
Mickey tahu dan bisa merasakan, sahabat yang pernah di cintainya ini sedang merasa tidak baik-baik saja. Mungkin karena ada Loudy, jadi dia tidak bisa leluasa bercerita. "Okey, sekarang kita makan apa? Kita kan kesini mau melepaskan penat, ha ha ha..."