
Sang pria masih berdiri disana bersanding dengan Tita karena mereka sedang di foto. "Aku senang kita bisa bertemu disini, dan aku tidak perlu susah payah untuk tahu namamu, cantik." katanya.
"Terima kasih," Tita menjawab dan tersenyum formal kemudian meninggalkan panggung itu. Kebetulan macam apa ini? Ah, iya ... aku lupa cerita ke Loudy tentang pertemuan di taman.
Selesai semua acara, Nathan berdiri memperhatikan sang istri yang sedang bersama teman-temannya, sementara sang Ibu mertua sudah di dalam mobil. "Brian, kamu lihat tadi ... dipanggung?"
Sial, sudah pasti sang tuan muda melihatnya, kan? "Iya, tuan."
"Kenapa dia bisa ada disini?"
"Tuan Terry donatur tetap dari universitas ini, tuan."
"Apa kamu fikir ini hanya kebetulan?"
"Akan saya pastikan lagi, tuan."
"Kamu tahu, aku gelisah ketika dia menyalami Tita tadi. Kamu siapkan ponsel baru untuk istriku, aku ingin tahu kemanapun dia pergi."
"Baik, tuan." Huft ... untuk urusan nona, tuan muda memang jadi sangat jeli.
Mereka tiba di kediaman Petra ketika hari sudah sore. Sang nyonya mami menyambut menantu kesayangannya dengan suka cita. Dia telah membuatkan banyak makanan untuk perayaan kelulusan sang menantu. Tita benar-benar merasa sangat di sayang, dia bersyukur dipertemukan dengan keluarga yang menyayangi dia.
"Nathan, ayo ke ruang kerjamu." ajak Thomas. Maka Nathan undur diri dan berjalan ke ruang kerjanya. Ternyata disana sudah ada Rega dan Axel.
"Ada apa?" tanya sang tuan muda.
Thomas menyerahkan sebuah flashdisk, "baru aku dapatkan dari anak buahku" katanya.
Nathan memasukkan flashdisk itu kedalam laptop, bersamaan dengan itu Brian masuk membawa buah-buah potong dan meletakkannya di meja. "Siapa itu?"
"Itu kaki tangan yang menghasut pegawaimu untuk membelot."
Terlihat di satu video, laki-laki itu memasuki sebuah kamar hotel ... dan beberapa jam kemudian dia keluar bersama seorang wanita. Dan pada saat itu Nathan menghentikan video yang sedang berjalan. "Anya?!"
"Yess, sudah bisa dipastikan seratus persen mereka berkomplot." jelas Thomas.
"Tunggu, Nathan ... inikan laki-laki selingkuhan pacarmu." Kata Rega.
"Dia bukan pacarku!" protes Nathan.
"Iya ... pacarmu waktu itu." ralat Rega. Dan Nathan menajamkan penglihatannya. Iya benar, laki-laki itu, dia laki-laki malam itu. Tapi Nathan sudah tidak perduli sekarang.
"Lalu sudah kamu tangkap?"
"Anak buahku sudah menembak kakinya tapi rupanya dia adalah anjing yang setia."
"Lalu bagaimana rencana kita?"
"Kunci satu-satunya hanya Anya. Dan hanya kamu yang bisa membuatnya buka mulut." itulah rencana Thomas.
"No! Aku tidak mau mengkhianati istriku!"
"Kamu hanya perlu meyakinkan Anya bahwa kamu menerimanya lagi." terang Thomas.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Brian, yang sangat tahu segusar apa sang tuan muda atas rencana itu.
"Itu cara termudah menyelesaikan masalah ini. Kami usahakan secepatnya."
"Bagaimana dengan istriku? Aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi, apa kalian tahu sulitnya aku meyakinkan Tita, membuatnya jatuh cinta padaku? Bahkan dia sampai kabur karena cemburu?"
"Hei ... istrimu kan tidak kabur. Dia hanya ketiduran di apartemennya." terang Alex. Ha ha ha.
"Iya, iya, sudah. Kita fokus lagi kesini. Anya adalah wanita yang tamak, dan setelah dia tahu kamu adalah pewaris Petra Corporate dia tidak akan segan-segan melemparkan tubuhnya padamu, kita sudah memiliki asumsi tapi tidak memiliki bukti." Jelas Thomas.
"Cih, itu sudah sangat jelas. Bahkan beberapa kali dia menerobos masuk ruang kerja tuan muda sekedar untuk menggodanya." lapor Brian, yang juga sudah muak dengan wanita itu.
Semua mata melihat Nathan dengan tatapan menyelidik.
"Aku tidak melakukan apa-apa!"
"Kalau kamu sampai tergoda, aku bersedia menggantikan posisimu menjadi suami Tita." kata Rega. "Ha ha ha ... aku hanya bercanda." langsung diralat, agar tidak meledak si bucin satu ini.
"Oke ... urusan Tita, itu terserah padamu. Tapi, tidak mungkin kan wanita itu bisa percaya ketika sikap istrimu itu biasa-biasa saja?" jelas Thomas. Dia tahu Nathan ragu-ragu, cara terbaik adalah menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Nathan.
"Baiklah, akan aku pertimbangkan." dia tertunduk lesu, namun teringat sesuatu, dia bertanya lagi. "Thom, kamu tahu Terry Muller ada di sini?"
"Tidak. Apa yang dia lakukan? Kamu bertemu dimana?"
"Dia datang ke acara wisuda Tita sebagai tamu kehormatan."
"Waaah .. hebat sekali. Berarti dia donatur tetap, aku tidak menyangka dia punya jiwa sosial juga."
"Kalian tahu? Aku cemburu ketika dia menyalami istriku." Nathan mengadu.
Teman-temannya hanya tertawa. Apa dia tidak sadar kalau dia sangat mudah cemburu terhadap siapa saja? Jangankan salaman, kita melihat dan tersenyum dengan istrinya saja dia sudah marah-marah.
Di kamar ... "Sayang .." Nathan dan Tita berkata bersamaan. Mereka tertawa dengan kelakuan mereka sendiri.
"Kamu mau bilang apa?" Nathan mempersilahkan Tita untuk berbicara terlebih dahulu.
"Hari Sabtu ini, aku berangkat ... Loudy juga ikut dan ada Mickey juga." Tita mengingatkan, dia tidak mau bayarannya sia-sia, hahaha.
"Iya, aku ingat. Kamu tidak sabar sekali ya, pergi dariku." jawaban aneh sang tuan suami.
"Apa sih? Kamu tidak suka aku pergi?"
"Tidak."
"Tapi kamu sudah janji. Laki-laki itu yang dipegang adalah janjinya, kamu tahu?"
"Iya. Tapi aku masih berat, sayang. Bagaimana aku bisa tidur nanti. Apa aku ikut saja? Kamu tidak mengajak suami kamu ikut serta?"
Wajah Tita sudah menunjukkan kekesalannya. Selalu seperti ini jika dia menyinggung kepergiannya, padahal dia hanya menginap satu malam. Melihat gelagat tidak mendapatkan jatahnya maka Nathan mencairkan suasana yang menegangkan karena ulahnya.
"Baiklah ... jangan cemberut begitu. Aku ijinkan kamu pergi, kok." Nathan mencubit kedua pipi sang istri. "Oh, aku punya hadiah untukmu." Nathan mengambil sesuatu dari dalam laci di samping tempat tidurnya, dan menyerahkan kepada sang istri. "Congratulations to my beloved for being the best graduate."
Tita menerimanya, sebuah ponsel keluaran terbaru yang bahkan harganya melebihi gajinya sebulan. "Nathan, ini terlalu mahal." katanya.
"Tidak. Ini sama dengan punyaku, lihat." Nathan memperlihatkan ponselnya juga. Aduuuh so sweet deh, barang couple pertama mereka.
"Terima kasih, ya." Tita senang dengan hadiah yang diterimanya.
"Hanya terima kasih?" tanya sang tuan suami.
Cup. Cup. Tita memberikan ciuman dua puluh kali hingga sang suami kegelian tapi senang. "Aku cium dua puluh kali, karena kisaran ponsel ini dua puluh jutaan." Tita berseloroh, hehe.
Nathan yang mendengar pernyataan sang istri langsung mengakumulasi, kemudian ... "Besok aku akan minta Brian memberikanmu mobil seperti yang aku pakai kalau begitu," dengan wajah berbinar-binar dia mengatakan ide gila itu.
Tita yang sedang berbahagia karena mendapat ponsel baru langsung terkaget dibuatnya. Gila! Mobil yang dia pakai?? Rolls Royce?? bahkan menyebut namanya saja membuat lidahnya terbelit. Oh my God, ada-ada saja suaminya.