Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 23



Ruang rapat utama Mirae Contruction pagi itu tengah kedatangan klien dari negara C, menurut jadwal Mr. Kim mewakili perusahaannya akan membahas proyek pembangunan sebuah mall yang akan mereka bangun di kota ini. Dari Mirae hadirĀ  Arga, Tita, Gladys dan Pak Putra.


"Apa kabar, Mr. Putra?" seraya menjabat tangan sang CEO


"Baik, Mr. Kiim. Bagaimana perjalanan anda?"


"Cukup melelahkan," Mr. Kim melihat ke arah Tita. "Sepertinya new member, ya?"


"Ah, iya. Perkenalkan designer kami yang baru, Zahra." Tita menyalami Mr. Kim, dan dilanjutkan bersalaman dengan yang lain. Terlihat Mr. Kim tertarik dengan Tita pada pandangan pertama. Dan lebih terlihat berkali-kali lipat menarik ketika sang gadis melakukan presentasi.


Arga yang menyadari gadis incarannya ada yang memperhatikan, merasa tidak senang. Sudah pasti kalah saing dia jika dibandingkan dengan Mr. Kim. Tapi dia sudah menyatakan perasaannya kemarin, setidaknya dia lebih unggul satu step, pikirnya.


"Zahra, presentasi yang bagus, design dan pemikiran mu luar biasa." puji Mr. Kim


"Terima kasih, Mr. Kim. Tapi ini bukan hanya hasil kerja saya, melainkan kerja tim." Tita merendah, dan ingin meninggalkan ruangan. Namun, tangan itu menghalaunya.


"Mau menemaniku, makan siang?"


Orang-orang di ruangan itu menoleh ke arah mereka berdua, pasalnya klien yang satu ini sangat berani. Arga mengeraskan rahangnya, dia tidak suka. Namun, Gladys menahan tangannya agar dia tidak bertindak ceroboh. Ya, Gladys tahu, Arga menyukai Tita. Dan yang lebih merasa tidak nyaman adalah bos mereka, Pak Putra, kenapa? Karena dia satu-satunya orang yang tahu bahwa Tuan muda Nathan, pemilik Petra Corporation, juga menaruh hati pada gadis mungil ini. Dan dia harus mensupport sang tuan muda tentunya, karena keberlangsungan perusahaan dan kehidupan karyawannya yang dipertaruhkan.


"Ah, maaf, Mr. Kim, Saya sudah punya janji dengan orang lain." jawab Tita ramah. Sebenarnya tidak sih, hanya saja walaupun belum ada rasa cinta pada sang tuan arogan itu, dia juga tidak ingin berada di posisi yang tidak nyaman nanti, jika sang tuan mengetahui dia makan siang dengan laki-laki lain yang bukan temannya. "Saya, permisi, Mr ..."


Tita bersama teman-temannya meninggalkan ruangan. "Apa dia masih single?" rupanya Mr. kim tidak menyerah.


"Saya rasa sebentar lagi dia akan menikah."


"Bukannya anda bilang, dia baru lulus?"


"Iya. Saya rasa tidak ada masalah jika dia ingin menikah, bukan?"


Ya, memang tidak masalah. Tapi gadis itu sudah menarik perhatianku. Dan aku harus mendapatkannya.


"Ta, Gladys bilang klien tadi mengajak kamu makan siang?" Mike memberondong Tita dengan pertanyaan.


"Iya." Tita meminum tehnya. Mereka sedang berada di pantry.


"Ta, hati-hati kamu. Sepertinya dia bukan laki-laki baik-baik."


"Ih, emang aku ngapain, hah?'


"Iya kamu gak melakukan apa-apa. Tapi tuan Nathan bisa salah paham kalau melihatmu jalan dengan laki-laki itu."


Tita melihat sahabatnya itu dengan heran, "Wow ... kamu ini sekutu aku atau tuan Nathan? Kok bisa-bisanya kamu mengerti dia banget?"


"Ha ha ha ... Sekretarisnya pernah memintaku untuk mundur, karena tuannya ingin menikah dengan kamu."


"Dih dasar lola!" Mike mengacak-acak poni Tita tanpa berniat menjelaskan. Namun, pikiran TIta seperti terang tiba-tiba, dia teringat kata-kata Loudy : kayaknya Mike suka sama kamu deh, Ta. Tita menoleh kearah sahabatnya yang sendang menyeruput kopinya yang panas.


"Mickey, kamu suka sama aku?!"


Pffffttt ... kopi di mulut Mike menyembur keluar karena telinganya mendapat serangan tiba-tiba. Kaget dia. Buru-buru di simpan cangkir kopi di atas meja, di bersihkan mulutnya dengan air dingin. Uh, panas.


"Hei, kamu gak apa-apa?"


"Iya, no problem." Mike menyeka bibirnya, kini dia menatap Tita. "Sekian tahun kita dekat, dan kamu baru menyadarinya?" akhirnya keluar juga apa yang ingin dikatakannya tanpa sengaja.


"Lho, kenapa kamu malah menyalahkan aku? Kamu kan gak pernah bilang?"


"Ah, Loudy aja tahu kok. Memang aja kamu nya yang gak peka.


"Lo, kok jadi aku sih yang salah?"


Arum masuk menghentikan perdebatan mereka. "Chia, ditunggu pak Putra di ruangannya."


"Oh, oke." Chia mengekor di belakang Arum, meninggalkan Mike yang masih setia menyeruput kopinya.


Huh, Mike memejamkan matanya. Padahal aku yang lebih dulu mengenalmu, aku yang lebih dulu menemani hari-hari mu, aku yang pertama kali menyukaimu, aku yang pertama kali menjagamu walau diam-diam, salahku karena berpikir kamu akan memilihku, salahku karena berpikir tidak ada yang bisa merebut kamu dariku, salahku yang tidak jujur akan perasanku sejak awal. Kini aku harus merelakan kamu pada lelaki yang dengan berani mengambil keputusan langsung menikah denganmu. Dan jika dibandingkan dengannya memang aku tidak ada apa-apanya. Kamu pantas mendapatkan lelaki yang seperti itu. Asal aku bisa selalu melihatmu bahagia.


Tita mengetuk pintu ruangan bosnya. Setelah dipersilahkan masuk, dia membuka pintu di depannya dan duh, kenapa dia ada disini? "Bapak memanggil saya?"


"Oh, iya, Zahra. Tuan Petra ingin bertemu." katanya sambil melihat ke arah sang tuan muda yang tengah duduk bersama Brian.


Belum lagi Tita bertanya, Brian sudah berdiri dan mengajak pak Putra pergi dari ruangan itu. "Pak Putra, bisa berikan saya laporan perkembangan proyek galeri seni? Saya ingin mengeceknya di ruang rapat!" jelas dan tegas seperti biasa. Ya, pengusiran sang pemilik perusahaan dengan sangat jelas.


Dan kini diruangan itu hanya tinggal mereka berdua. Duh, Tita tidak habis pikir bagaimana manusia ini bisa dengan senang hati memakai ruangan orang lain untuk kepentingan pribadi? "Ada apa, tuan?"


"Mengapa kamu duduk begitu jauh? pindah!" Nathan menepuk sofa tepat di sampingnya.


Tidak mau! "Saya bisa mendengar anda dari sini, tuan." Aku gak mau dekat kamu, bahaya!


Nathan tidak terlihat kesal dengan penolakan Tita kali ini, dia malah tersenyum, senyum yang jarang sekali diperlihatkan kepada orang lain Karena mampu mengalihkan dunia orang yang melihatnya. Begitupun dengan Tita, yang kini sedang terpana dengan manusia super tampan dengan senyum memikat. Begitu dia tersadar, manusia tampan itu sudah menempatkan kepalanya dipangkuan Tita, tentu saja itu membuatnya kaget, "Aaah! tuan apa yang anda lakukan!"


"Ssst, jangan bergerak. Aku lelah, biarkan seperti ini sebentar saja." Nathan memposisikan tubuhnya dengan nyaman di sofa dengan kepala berbantal kaki Tita.


"Tapi, tuan. Aku tidak nyaman." Pelipis Tita berkeringat, jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Ah ... ini tidak sehat untuk jantungku.


"Kamu harus membiasakan dirimu, sebentar lagi kita menikah. Dan besok aku akan pergi jauh untuk waktu yang lama. Aku tidak bisa mengajakmu, jadi biarkan aku seperti ini sebentar saja."