
"Bukannya Nyonya tadi sudah bertanya dengan tuan langsung?"
"Aku sudah tanya, tapi dia tidak menjawab."
"Maaf, nyonya, kalau tuan muda saja tidak menjawab. Bagaimana saya bisa dengan lancang mengatakan alasannya?"
Oooh ... jawaban yang sangat menyebalkan, walaupun itu adalah kenyataan. Tapi, masa tidak bisa memberikan sedikit bocoran, sih?
Sementara itu di kamar Nathan. Tita sudah membersihkan dirinya dengan kecepatan super dan mengenakan piyama kesayangan, kali ini hanya bercorak bunga-bunga kecil. Ya, setidaknya tidak kekanak-kanakan dan membuat sakit mata sang tuan muda. Tita duduk di sofa dengan sang suami di sebelahnya. Hmm, sadar gak sih gadis ini kalau harum tubuhnya membuat sang tuan ingin memeluk dan menciumnya sepanjang waktu. Oke ... tahan Nathan, buat dia jatuh cinta dulu.
"Tita, aku sudah pernah mengatakannya, bukan?"
Tita memilah-milah file memori di kepalanya. Mengatakan apa, ya? ah! "Tidak dekat dengan laki-laki lain?"
"Iya?"
"Tapi Mickey bukan laki-laki lain, dia sahabatku?!" mereka tidak terima.
"Bagiku persahabatan laki-laki dan perempuan tidak ada yang pure sahabat. Kenapa? Karena pasti salah satu dari mereka ada yang mempunyai perasaan yang lebih."
"Kami tidak seperti itu, Nath." Eh ... iya sih. Kata Tita dalam hati.
"Buls**t! Pertama kali melihatnya, aku langsung tahu dia ada perasaan khusus sama kamu." Nathan bukan main kesalnya, dan makin kesal manakala mendengar Jawa polos Tita. Inilah yang dia tidak suka, Tita terlalu polos, tidak pintar menilai maksud terselubung dari seseorang. Tapi, karena itu juga kan dia bisa menikahinya.
"Tapi kita hanya berteman, toh aku sudah menikah. Mickey pun tahu itu." Bela Tita.
"Bahkan ada laki-laki yang tidak perduli wanita itu sudah menikah atau belum, asalkan dia bisa memilikinya."
Tita melihat ke arah sang suami yang wajahnya sudah tidak sekesal tadi. "Kamu gak percaya aku?" tanyanya.
Sabar Nathan ... begini ini resiko memiliki istri yang nol pengalaman. Selain harus berjuang mendapatkan perhatian dan rasa cintanya, dia juga harus mengenalkan pada dunia yang sebenarnya. "Aku tidak bisa menahan rasa cemburuku." Tidak selama kamu belum mencintai aku.
"Ya ... terserah kamu saja." Tita pasrah, dan malas juga berdebat karena pasti dia tidak akan pernah menang.
Kepasrahan Tita dianggap sebagai ketidak pedulian oleh Nathan. Kenapa seperti itu? Ya, karena dia terbiasa menjadi center icon tentunya. Nathan membuang nafasnya dengan kasar, "Tidurlah lebih dulu, aku banyak pekerjaan." Braakk!!
Tita terlonjak karena bantingan pintu karena ulah sang suami. Ya ampun ... seram sekali dia kalau marah.
"Pak, suruh Brian ke ruang kerjaku sekarang. Dan tolong bawakan aku minuman dingin." Sang pelayan mengangguk dan menjalankan perintah sang tuan. Tidak lama kemudian, Brian datang ke ruang kerja itu dengan membawa segelas air dingin dan buah-buahan.
"Ada apa, tuan?" Pasti belum selesai bertengkar deh.
"Apa yang ada di kepalamu? Kamu pikir aku masih bertengkar dengan istriku?"
Ha ha ha ... "Iya, tuan."
"Sok tahu! Bagaimana perkembangan di sana? Sudah ditemukan dalangnya?"
"Kita berangkat besok. Aku penasaran, siapa yang berani bermain-main dengan Petra."
"Baik, saya akan menginformasikan kepada tuan Thomas dan tuan Rega. Dan tidak ada salahnya untuk memanfaatkan situasi ini, tuan."
"Apa maksudmu?"
"Tidak perlu bilang ke nona Tita tentang kepergian anda."
"Kamu gila, ya?! hubungan kita sedang tidak baik, kamu tahu itu!"
Akhirnya mengaku. Brian.
"Maksudnya begini, tuan. Dengan anda pergi tanpa bilang ke nona, nanti kan nona akan berfikir kalau anda marah. Nah, dengan sifat nona yang perasa ... dia akan berfikir kalau anda sangat marah. Dan seperti apa reaksi nona nanti, anda dapat melihat apakah nona punya rasa sayang kepada anda atau tidak."
"Bagaimana caranya aku bisa tahu perasaannya?" mulai tertarik.
"Kalau nona sudah ada rasa kepada anda, pasti rasa tidak enak itu akan menumbuhkan rasa rindu, tuan. Pikiran nona akan dipenuhi dengan bayang-bayang anda. Dan kalau sudah seperti itu, kedatangan anda pasti akan jadi hal yang ditunggu-tunggu nona, tuan."
Nathan semakin tertarik dengan ide gila sang sekretaris. Aaaah ... jadi tidak sabar untuk pergi. "Baiklah, aku ikuti saran kamu, Brian."
"Kalau ini berhasil, saya akan mengatur rencana bulan madu anda, tuan." Waah ... Brian benar-benar hafal segala hal tentang bagaimana cara membuat sang tuan bahagia. Dan mendengar acara bulan madu, tentu membuat sang tuan muda merona. Dasar bucin. Ha ha ha.
Tita sudah tertidur pulas ketika Nathan masuk ke kamarnya. Setelah berganti piyama, dia merebahkan dirinya disebelah sang istri. "Aku akan pergi besok untuk menyelesaikan masalah di hotel baruku, kamu jangan nakal selama aku tidak ada ya. Aku akan senang kalau kamu merindukan aku nanti, karena aku sudah merindukan kamu sekarang." Cup cup cup ... dia mencuri ciuman di beberapa spot kesukaannya dengan hati-hati, agar sang istri tidak terbangun.
Tita terbangun saat matahari belum menampakkan dirinya. Dia mengerjakan matanya, gelap sekali ... oh, rupanya gordennya masih tertutup. Biasanya, kalau dia bangun gordennya sudah terbuka dan Nathan sudah duduk di sofa sambil meminum teh nya... Eh, mana dia? Terang sudah pikirannya kini, keganjilan itu terjawab ... Nathan tidak ada di sini. Di lihatnya kamar mandi, kosong. Kemana dia? sejak mereka menikah, Nathan tidak pernah sekalipun meninggalkan Tita sendiri di pagi seperti ini, biasanya setelah rapi mereka akan turun ke bawah bersama-sama. Apa dia masih marah, jadi tidak tidur di sini semalam? Dan ketika selesai mandi, iseng Tita mengecek lemari pakaian Nathan ... huh, aku bahkan tidak tahu apakah baju-baju ini berkurang atau tidak. setelah siap dengan pakaian kerjanya, Tita bergegas mengambil ponselnya. Tidak ada pesan apapun atau bahkan telpon.
Akhirnya Tita memutuskan untuk ke bawah, di meja makan sudah ada Loudy dan sang mami. "Sayang, sini sarapan dulu."
"Iya, mi." Duh, apa aku tanya mami aja ya?
"Mi, jadi kak Nathan berapa lama di Inggris?" Loudy membuyarkan lamunan Tita.
Hah. Inggris??
"Mami tidak tahu, tadi kakakmu hanya bilang sampai selesai."
"Mami ... Nathan ke Inggris? Kapan?" Tita tidak mau berasumsi sendiri, jadi lebih baik di tanyakan saja supaya jelas.
"Lho, bahkan Tita tidak tahu. Benar-benar deh kakak. Kebiasaan tuh mi."
Mami mengalihkan pandangannya ke arah sang menantu, "Nathan tidak bicara apapun soal kepergian dia?"
"Tidak, mi." Tita menundukkan kepalanya. Sang mami merasa prihatin akan hubungan anak dan menantunya ini, tapi tidak punya hak untuk ikut campur.
"Mungkin ada yang memang harus diurus disana, Ta. Nanti kamu coba telpon suami kamu, ya." Tita hanya mengangguk, namun pikirannya berkeliaran kemana-mana.