
Tita kini sedang berdiri di depan cermin yang memantulkan dirinya. Gaun ini cantik, tapi sepertinya agak mencolok kalau aku pakai ini, lengannya terbuka dan kenapa pendek begini sih roknya? Memang sih, karena tubuhnya yang mungil maka gaun mini yang melekat di tubuhnya sangat cocok, tapi aku tidak nyaman. Di saat Tita masih memperhatikan penampilannya terdengar suara Nathan yang tiba-tiba masuk ke kamar.
"Sayang, are you ready?" Nathan sempat berdiam beberapa detik hingga, "Kenapa bajumu seperti itu?" walaupun dalam kata-katanya melayangkan protes, tadi gestur tubuhnya menyukai apa yang dia lihat. Wajahnya bersemu merah, Nathan memang tidak pernah bisa menutupi hal itu.
"Aneh ya, aku juga tidak nyaman memakainya."
"Kamu cantik," sebegitu terpesona nya yaaa dia dengan istrinya. "Tapi aku tidak mau kamu jadi perhatian semua orang disana nanti."
Haduh ... tuan muda, bilang saja kalau nanti kamu cemburu. Begitu, hehehe.
"Yang akan jadi pusat perhatian nanti pasti kamu, bukan aku." Tita menyindir. "Jadi, aku ganti saja ya bajunya?"
"Apa ini yang di berikan Brian?"
"Iya, tadi kak Brian memberikannya padaku."
"Sudahlah, pakai saja kalau begitu." kalau Brian yang memberikan nya pasti itu bagian dari rencana mereka. "Tapi apa kamu tidak punya sesuatu untuk menutupi lenganmu yang terbuka itu?" ha ha ha, tetap tidak rela sang tuan suami.
Tita tau apa maksud Nathan, maka dengan sengaja dia berkata "Kalau di tutupi yaa percuma aku pakai baju ini." nah kan, kesal dia ... dasar cemburuan.
Di sela obrolan mereka, Brian datang. "Tuan, apa anda sudah siap?"
"Iya ... ayo sayang." akhirnya di gandeng juga sang istri keluar.
"Wah, nona ... anda cantik sekali." baru kali ini Brian memuji Tita.
"Kamu mau mati?!"
"Maaf tuan, saya hanya berkata yang sebenarnya."
"Kenapa memilih baju seperti itu?"
"Maaf, bukan saya yang memilih, tuan. Tapi Rega."
Ck! Nathan berdecitk sebal. "Sudahlah, ayo kita berangkat." lama-lama seperti ini aku jadi makin kesal. Dan tidak di sangka oleh Nathan, Tita menarik tangannya sehingga otomatis Nathan agak membungkuk, dan Cup! satu kecupan manis di pipi sang tuan suami, sukses membuat laki-laki itu membeku, terlebih ketika mendengar sang istri berkata, "Sebenarnya aku lebih senang jika tampil cantik hanya di depanmu. Tapi karena kini sudah terlanjur, tolong tahan emosimu sebentar ya, sayang." setelah mengatakan kalimat mantera itu Tita berlalu meninggalkan Nathan.
Waah, aku tidak pernah tau kalau dia bisa menghipnotis ku seperti itu ... ah, sial! seandainya tidak ada acara penting ini, aku tidak akan membiarkan Tita-ku keluar dari kamar ini.
Tiba di gedung galeri seni, tempat perhelatan acara peresmian sekaligus penyerahan kepada wali kota B. Kesibukan yang terlihat kemarin sudah tidak ada lagi, berganti dengan dekorasi yang luar biasa indah, kue-kue cantik berjejer rapi di beberapa meja. Ada juga meja besar yang menyajikan Buffett, meja makan VIP hingga VVIP. Beberapa lukisan sudah terpampang cantik menghiasi dinding-dinding galeri, ada juga pahatan-pahatan cantik peninggalan sejarah yang tersimpan aman di sana. Galeri ini memang akan di jadikan tempat penyimpanan benda-benda bersejarah kota ini, dan akan di buka untuk umum nantinya, sehingga anak-anak dan generasi muda tidak melupakan sejarah mereka.
Sesuai rencana semula, Nathan selalu di dampingi Thomas, Rega. Sedangkan Tita tanpa dia sadari di awasi oleh Ana.
"Selamat pagi," Nathan menyalami Denis, wali kota.
"Senang bertemu dengan anda lagi, tuan Petra." suara itu, suara wanita itu, Clair. Tersenyum dengan ramah dan hangat, dia hendak menyalami Nathan dengan memanfaatkan keberadaan wali kota disana, tidak mungkin Nathan menolak bukan?
Thomas sudah berdecak kesal, dasar wanita tidak tau malu. Pikirnya.
Nathan menyambut tangan Clair yang menyapa, tanpa kata. Itu hanyalah bentuk kesopanan saja. Pikirnya. Tapi pikiran Nathan salah, justru pada saat itulah wewangian pemikat itu bekerja. "Senang bertemu dengan mu lagi, nona Clair."
Thomas dan Rega terkejut dengan reaksi Nathan. Bahaya, pikir Thomas ... maka tanpa menimbulkan kecurigaan dia dengan naturalnya membawa Nathan pergi dari sana. "Maaf tuan-tuan, saya ingin memperkenalkan tuan Petra dengan kolega saya." Yup, Thomas memang cerdas dalam strategi. Dia tau, tidak boleh menimbulkan kecurigaan wanita itu. Alasannya tadi sangat sederhana namun tepat. Maka, di bawalah Nathan pergi dan menemui Axel yang sudah standby dengan bagiannya.
Nathan di bawa ke toilet VIP, sudah menunggu disana Axel. Rega menunggu di depan pintu. "Axel, mana kopinya?"
Rega menyerahkan setoples kopi bubuk dengan bau yang kuat, "Hirup ini dalam-dalam." sejujurnya, mereka tidak yakin apakah ini akan bekerja, tapi menurut Axel aroma kopi dapat menetralkan bau dari wewangian.
Nathan menghirupnya dalam-dalam beberapa kali. "Oh, God. Aku pusing sekali." Nathan menunduk, kepalanya terasa berat. "Wangi tadi lebih kuat dari sebelumnya, aku rasa."
"Gila! wanita itu benar-benar ingin menaklukkan mu." Thomas berfikir, "Apa kita culik saja dia, masalah selesai." hah ... jalan pintas yaa.
"Lalu apa yang akan kita katakan pada wali kota nantinya?" sergah Rega, karena dia tau wanita itu adalah perwakilan wali kota.
"Aku yang akan menjelaskannya pada Denis." tidak di sangka Nathan akan mengatakan hal itu. "Dia pasti akan percaya pada kata-kata ku." lanjutnya.
"Oke, artinya kamu setuju ya? Aku akan menghubungi anak buahku." Thomas berjalan keluar untuk menghubungi anak buahnya. Dia menepuk punggung Rega yang berjaga di luar. "Plan B." katanya. Maka Rega berlalu menuju dimana Brian berada.
"Nathan, kamu yakin sudah baik-baik saja?" Axel menyimpan kembali toples kopi di sudut ruangan toilet VIP itu.
"Iya, aku baik-baik saja." Nathan masih terlihat pusing.
"Kita akan di sini dulu sampai Thomas menghubungi ku."
"Tidak, sebaiknya kita kembali kesana. Acaranya sudah mau di mulai, tidak mungkin aku tidak ada disana."
"Brian sudah mengaturnya untukmu, jadi tenang lah." tidak berapa lama ponsel Axel berdering, Brian menelpon. "Oke, ayo kita kembali."
Nathan dan Axel keluar dari toilet untuk bergabung dengan undangan lain. Nathan sempat mencari keberadaan sang istri, tapi belum lagi dia menemukan, MC sudah memanggilnya.
"Zahra, tuan Petra memang luar biasa ya. Dia bagikan magnet yang selalu menarik perhatian dimanapun dia berada." seru Candy.
Karena ucapan Candy, Tita jadi memperhatikan ke arah panggung. Iya, yang berdiri dengan gagah disana adalah suaminya. Laki-laki yang tidak pernah bosan menggodanya, laki-laki yang selalu menempel dan selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sejujurnya, dia merasa beruntung bahwa suaminya adalah Nathan, bukan karena hartanya yang berlimpah, tapi karena masa lalu laki-laki itu dengan mantan pacarnya menjadikan Nathan tidak suka di sentuh wanita manapun, tidak ... sebelum dia bertemu Tita-nya. Maka betapa Tita merasa beruntung, mendapatkan laki-laki yang sepenuhnya hanya miliknya. Semoga kamu akan selalu menjadi milikku dan hanya melihatku.