
"Ah, tuan Petra ... Selamat pagi. Saya pikir anda akan datang siang hari," Pak Putra datang menyambut sang tuan muda. "Mari tuan, di ruangan saya saja."
"Tita," bisik Mike.
"Ya, apa?"
"Pantry." Mickey menginstruksi sang sahabat untuk mengikutinya.
Mike buru-buru memperhatikan suasana di sekitar, memastikan keadaan aman.
"Kenapa sih?" Tita yang bingung memperhatikan kelakuan Mickey.
"Ta, kamu pasti belum ketemu Loudy ya?"
"Iya, belum ... kenapa?" tanyanya penasaran.
"Kemarin, aku pergi nonton sama Loudy."
"Waaaah ... gercep juga kamu. Oke aku dukung."
"Bukan itu ... Tita, dengar dulu aku serius." Tita mendengarkan dengan seksama. "Kemarin aku pergi nonton sama Loudy. Karena film yang akan kita tonton masih lama mainnya, jadi kita memutuskan untuk makan dulu..."
*Flashback, Bing Burger.
"Kamu kenyang hanya makan itu?" tanya Mike.
"Kamu hanya bertanya atau nyindir?"
"Hahaha ... aku hanya tanya, kok sensi." Mike merasa lucu dengan Loudy yang langsung galak hanya karena disinggung soal makanannya. Yaaa ... kadang laki-laki itu memang tidak peka, kebanyakan wanita itu kan hobinya makan.
Dan yang dipesan Loudy untuk dirinya adalah satu beef deluxe burger, satu French Fries large, creamy soup, Chicken chunk dan Pink Lava. Sementara Mike hanya memesan cheeseburger dan cola.
Di saat mereka sedang menikmati makanannya, seorang pria dengan perawakan tinggi menghampiri seorang wanita yang kebetulan duduk tepat di belakang Loudy. Saat laki-laki itu berjalan, Loudy yang memang duduk menghadap ke pintu dapat melihat dengan jelas betapa tampannya laki-laki itu. Dan Mike jadi melihat dengan jelas bahwa Loudy tersipu karena laki-laki itu. Cih, dasar wanita. Pembelaan Loudy saat itu adalah, ketika dia bisa melihat dan menikmati wajah tampan laki-laki yang nilainya di atas rata-rata itu adalah keberkahan.
Namun, Mike dan Loudy langsung menajamkan pendengaran mereka, ketika kedua orang itu menyebut nama Tita. Yaa, memang banyak yang bernama Tita, tapi ketika mereka juga menyinggung nama Nathan dan Hotel di London. Loudy dan Mike yakin, Tita yang mereka maksud adalah Tita-nya mereka.
"Aku sudah bertemu dengannya tadi."
"Bagaimana menurutmu, wanita itu?"
"Gadis yang unik, rasanya aku malah ingin memilikinya, ha ha ha."
"Gila! apa bagusnya wanita seperti Tita itu?"
"Menurutmu? Kamu lebih bagus dari Tita itu?"
"Tentu saja, di lihat dari segi manapun aku jauh lebih baik dari Tita."
"Jangan terlalu percaya diri. Nathan saja bisa dengan mudah jatuh cinta padanya. Dan setelah aku bertemu, walau sebentar ... gadis itu memang memiliki pesonanya sendiri."
"Dan kamu mau memilikinya?"
"Kenapa tidak?"
"Kamu hanya terobsesi dengan apapun yang Nathan miliki. Termasuk hotelnya di London, ya kan?"
"Ha ha ha, ku akui ... awalnya aku hanya ingin merebutnya karena dia milik Nathan. Tapi, setelah bertemu langsung ... aku jadi benar-benar ingin memilikinya. Tita ..."
*Flashback off*
Tita tidak habis fikir dengan cerita Mickey. "Mungkin kamu salah dengar, Mike?"
"Tidak, aku dan Loudy mendengarnya dengan jelas." terang Mickey.
"Tapi, siapa mereka?"
"Itu yang aku tidak tahu, Ta. Kemarin apakah ada yang mengikuti kamu? Karena setelah itu, Loudy langsung menghubungi maminya dan Kakaknya. Ternyata kamu ada di apartemen."
"Loudy menelpon maminya, dan ternyata kamu belum pulang. Kemudian dia menelepon kakaknya, ternyata kamu tidak bersamanya. Dan suamimu itu malah menghubungi aku, padahal kan kamu tidak kembali ke kantor." Mickey maju, mendekati Tita. "Kemana kamu kemarin?"
"Aku kembali ke apartemen, dan ketiduran."
"Benar tidak ada yang mengikuti mu kemarin?"
"Tidak ada, serius!" Tita meyakinkan. "Aku di apartemen sampai pagi dan ketika aku bangun Nathan sudah ada di sana."
Mickey mundur lagi, "Pokoknya kamu harus hati-hati, Ta."
"Ah, jangan nakutin gitu deh Mike."
"Ehm, sepertinya aku menganggu, ya?" Arga tiba-tiba sudah ada di depan pintu.
"Hei, Arga ... Mengganggu apa sih, kita hanya ngobrol." jelas Tita. Tapi Arga melihat Mike seperti dia adalah saingannya. Tapi Mike tidak perduli dan hanya tersenyum saja.
"Mau kopi, Ga?" tawar Mike. Sekali melihat juga dia bisa menilai, bahwa rekan kerjanya yang satu ini menaruh hati pada Tita. Poor you ...
Dan mereka mengobrol ringan di pantry, sambil menghabiskan minuman mereka. "Oh, jadi kalian satu jurusan? Di kampus yang sama?"
"Ya, bahkan kita satu angkatan." terang Tita.
"Ha ha ha ... Aku bahkan sebelumnya berfikir kalian pacaran." nah, sudah cerah wajahnya kini, setelah tahu kebenarannya. Tapi tetap Mickey stay cool, mungkin karena dalam hatinya dia berkata ... tersenyumlah kamu sekarang, nikmati kebahagiaan sesaat mu, karena nanti ketika kamu tahu status dan siapa suami dari gadis yang kamu puja ini aku tidak heran kalau kamu sampai menangis darah, ha ha ha ...
"Zahra, di cari pak bos." Arum memanggilnya.
"Oh, ok ... Aku duluan ya, guys." Pasti kerjaan Nathan, deh. Ck. Tita menuju ruang CEO-nya, Pak Putra, dan ada Brian yang berdiri di depan pintu. Hah, tumben dia di luar ... ada apa?
Dan ketika melihat sang nona, Brian hanya menggelengkan kepalanya tanda keprihatinannya. Mau tidak mau karena penasaran, Tita pun bertanya. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa nona, tolong lain kali ... berhati-hatilah."
"Eh, Apa sih maksudnya?"
"Silahkan masuk, nona. Tuan sudah menunggu."
Aaaah, perasaanku jadi tidak enak. Ada apa sih? Seingat ku, aku tidak berbuat kesalahan. Tapi akhirnya masuk juga dia ke dalam. Di lihatnya sang tuan suami duduk santai, lho dimana bos ku?
"Cari siapa, sayang?" tanya sang tuan suami, yang sangat sangat menunjukkan kejengkelannya.
"Aku di panggil bos ku tadi. Apa kamu melihat bos ku?" Aku takut kalau dia seperti ini.
"Kemari, aku yang memanggilmu. Maaf sudah mengatasnamakan bos mu, ya?"
Mendengar kata-kata sang tuan suami, Tita makin tidak mau mendekat rasanya.
"Karena tidak mungkin kan aku bilang kalau suamimu yang memanggil kamu kesini?!" Nathan melanjutkan kata-katanya.
Tita langsung memilah dengan kepalanya, mengingat-ingat kembali apa saja yang sudah dia lakukan sejak sampai di kantor. Dan setelah dia duduk dengan suaminya ... masa sih karena aku di pantry dengan teman-teman ku? Sepertinya iya .... maka, "Kenapa sayang?" aish, sudah jago akting dia.
"Enak ya, hidup kamu dikelilingi laki-laki tampan terus."
Benar kan. Tita.
"Ah, laki-laki tampan mana? Bagiku suamiku adalah yang paling tampan." iya, rayu saja suami kamu, biar cepat urusannya. "Kenapa sih? Kamu mengusir bos ku agar kita bisa berduaan?" Tita menggoda, dan salah! aku menggali kuburan ku sendiri, hiks hiks.
"Oh, rupanya nyonya Nathan masih merasa kurang, ya. I will give you more, baby ... anytime, anywhere, as your request."
Panik. Kan aku cari mati kalau begini. Maka dengan berani Tita memegang kepala Nathan dengan kedua tangannya (menahannya) dan mencium sang tuan suami dengan cepat, karena posisinya sudah tidak menguntungkan baginya. "Sayang, jangan disini. Nanti kamu pulang cepat yaaa, aku menunggumu di rumah." oke Tita lakukan dengan natural.
"Baiklah, nyonya. Aku akan ingatkan Brian bahwa aku akan pulang cepat."
Yess!!! berhasil.