Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 69



"Kalau kamu sebegitu merindukan aku ... mengapa mengabaikan pesan dan telponku!!" Tita mengungkapkan kekesalannya.


"Ah, tidak begitu, sayang. Aku tidak bermaksud mengabaikan kamu." Nah, panik sendiri kan.


"Lalu, apa alasanmu?" Tita masih kesal dengan sang tuan suami.


Duh, aku harus bilang apa?? "Aku banyak pekerjaan, sayang. Maaf ya, aku benar-benar tidak tahu kamu menghubungi dan lupa untuk menghubungi kamu." Nathan menggenggam jemari sang istri, wajahnya sudah sangat memelas.


Sebenarnya, Tita masih sangat kesal ... tapi, dia juga tidak tega melihat sang tuan suami seperti itu. "Apa masih sakit?" tanyanya sambil memegang pinggang Nathan.


"Aaa ... iya, sakit sekali." Nathan meringis kesakitan.


"Kak Brian lama sekali ambil obat."


"Sayang, kamu pulang naik apa?"


"Mobil Mickey seperti kemarin." Tita mengusap-usap pinggang sang tuan suami.


"Kamu bersenang-senang disana?" Nathan menarik kunciran rambut sang istri.


"Iya, aku suka sekali suasana disana ... Kalau lain kali, aku ingin mengajak ibu ku pergi ketempat seperti itu ... apa boleh?" Tita membicarakan keinginannya dengan hati-hati.


"Kita ... kita bisa mengajak ibumu pergi, aku tidak mau kamu pergi tanpa aku."


"Ya, baiklah ..." yang penting bisa pergi. Pikir Tita.


Nathan mengangkat dengan mudah tubuh Tita yang mungil dan di tempatkan di pangkuannya. Sang istri hanya mengikuti maunya sang tuan suami saja. Merasa tidak ada penolakan sama sekali, Nathan tentu sangat senang ... diciumnya bibir sang istri dengan penuh kerinduan ... tapi kali ini ada yang berbeda, Tita membalas ciumannya, aaaah .... Nathan yang terkejut menghentikan ciumannya menatap bahagia sang istri dengan wajah meronanya. Tentu saja sikapnya itu membuat Tita bingung, kenapa? begitu ekspresi yang diberikan Tita... Bukan menjawab Nathan malah mendorong tubuhnya hingga Tita berbaring di sofa, di ciumnya Tita tanpa ampun, perasaan rindu karena sehari tidak bertemu, senang karena sang istri mulai membalas ciumannya, membuat Nathan lupa bahwa sebenarnya dia mau menanyakan tentang Terry.


"Sayang ... Nathan ... jangan di leherku..." protes Tita di sela-sela nafasnya yang sudah memburu. Tapi ... apakah sang tuan suami mengindahkan protes sang istri? Tentu tidak. Nathan tetap pada pendiriannya.


Ceklek!!


"Tuan ..." Brian.


"Kakak!" Loudy.


"Aaaaaaaa!!!" Tita.


the situation is so awkward. Bagaimana tidak? Dua manusia itu masuk di saat sepasang kekasih tengah meluapkan kerinduan mereka. When they was on fire. Ha ha ha. Kebayangkan bagaimana rasa malunya, Tita? Ya ... karena hanya Tita yang merasa malu disana, terlihat dari beberapa kali dia mengulum bibirnya, merapikan rambutnya dan memastikan kancing bajunya sudah terkancing semua. Aku seperti sedang terciduk. Sementara sang tuan suami? Kesal! tentu saja, siapa yang tidak kesal ... jika sedang melakukan kegiatan yang menyenangkan, lalu harus terhenti karena dua manusia yang seenaknya masuk ... apalagi tidak pakai mengetuk pintu?! Terlihat sekali rona bahagia yang tadi masih bertengger di wajah tampannya langsung berganti dengan tatapan yang sanggup menelan siapa saja.


Rasanya Loudy ingin menghilang dari situasi ini ... tanpa dikatakan pun dia tahu apa yang salah, tidak seharusnya dia mengikuti kak Brian tadi ... hanya karena rasa khawatir sang kakak sedang kesakitan. Glek! Loudy sungguh tidak berani mengangkat wajahnya. Siapapun tolong, bawa aku pergi ... atau setidaknya jinakkan singa ini. Pikirnya.


"Ada apa, menerobos masuk kesini?!" duh ... Nathan sudah tidak sesantai tadi kan???


Kan, kakak marah kan. Loudy.


"Membawakan obat pesanan nona, tuan." hanya Brian yang bisa santai dalam situasi aneh ini, seperti dia sudah terbiasa melihatnya. Hehe.


Mendengar kata obat, Tita baru ingat. "Iya kak, Sini kak Brian obatnya." Tita mengambil obat oles itu dari tangan Brian, membuka tutupnya dan bersiap untuk mengoleskan ke pinggang sang suami. Mengalihkan rasa malunya.


Tapi, dasar Nathan yang memang rasa kesalnya sudah di ubun-ubun, melihat dua manusia yang merusak kegiatannya langsung menegur, "Kalian mau menonton aku bermesraan dengan istriku?!"


Blush!! memerah telinga Tita mendengar sang tuan suami tanpa canggung mengatakan itu. Dan seperti sudah di komando, Brian dan Loudy 'terpaksa' undur diri.


"Aku, keluar ya, kak ..."


"Jangan lupa, kunci pintunya, tuan." ledek Brian. Benar-benar ya ... berani sekali dia. Ha ha ha.


Nathan bangkit dan benar-benar mengunci pintu ruang kerjanya. Ha ha ha.


"Sudah, sayang ... ayo kita lanjutkan." Nathan menarik Tita mendekat.


"Nanti saja, obati kerinduan aku dulu." Nathan langsung mengarah ke leher Tita.


Tapi Tita menahannya, "Disini??"


"Iya, kenapa?"


"Bagaimana nanti kita keluar?" Tita tampak bingung.


"Ya ... keluar saja."


Sentai itu Nathan menanggapi protes sang istri, padahal dia tahu apa yang dipikirkan Tita. Disela-sela cumbuan nya dia berbisik, "Ada kamar mandi disini, kamu tidak usah khawatir." Melihat sebentar ekspresi sang istri yang sudah mulai tersenyum, tapi dilanjutkan dengan ... "Sayangnya kita tidak bisa melakukannya disana, karena tempatnya sempit, sayang." senang sekali dia menggoda istrinya, membuat sang istri berubah-ubah warna wajahnya.


Yaaa ... biarkanlah yaa, halal bagi mereka, he he he.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" mami menegur sang putri yang seperti sedang kasmaran. Karena tidak ada reaksi dari Loudy maka, "Loudy!" mami memanggilnya dengan lebih keras


"Apa mi??" merasa terusik.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? lagi jatuh cinta kamu??"


"Mami, mi ... sini deh." Loudy mengajak sang mami untuk duduk, girls talk, maka sang mami pun menuruti sang putri.


"Ada apa sih? mau curhat?"


"Mi, rasanya seperti mimpi deh ... aku senang tapi di satu sisi, aku juga kasihan."


Makin tidak mengerti sang mami, "Aduh Lou, langsung ke intinya saja deh ... maksud kamu apa?"


"Kak Nathan mi ... Mami ingat kan bagaimana kelakuannya kak Nathan dengan gadis-gadis yang mendekat padanya? apalagi kalau mami mau menjodohkan dia?!"


"Kakakmu? iya, tentu saja mami ingat ... bahkan ada yang sampai bikin mami malu sama teman mami."


"Nah, tadi aku tidak sengaja memergoki kakak miiiii," merona pipi Loudy membayangkan.


Sang mami yang sudah memiliki dua orang anak, yang usianya tidak lagi muda paham apa yang dimaksud sang putri. Plak. "Kamu jangan macam-macam, anak kecil. Belum waktunya kamu begitu." seorang ibu yang khawatir sang putri kelewat batas.


"Aduh! Sakit mi ... kenapa aku malah di pukul."


"Wajar mami pukul. Kamu tidak tahu malu memergoki kakakmu kan??"


"Ih, memang mami tahu apa yang aku lihat?? Lagi pula bukan salahku, kak Nathan saja yang tidak tahu tempat mencium-cium Tita di ruang kerja. Aku kan khawatir karena kak Brian bilang kakak terluka, makanya aku masuk." tutur Loudy sambil mengusap-usap lengannya yang kena pukul mami.


"Hah? oh hanya mencium?"


"Hanya??? Mami bilang 'hanya'?? mami, itu perubahan besar seorang Nathan, masa mami tidak senang sih? Aku aja yang melihatnya langsung berbunga-bunga ... Kakak aku sudah normal."


"Wajar saja, kan yang dicium itu istrinya."


"Iya, makanya aku bilang ... aku senang kak Nathan tidak sedingin dulu lagi terhadap wanita, aaah ... jadi tidak sabar punya keponakan." Loudy mulai berkhayal. "Tapi mi, aku juga kasih sama Tita," tiba-tiba merubah raut wajahnya.


"Kasihan kenapa?"


"Hm, pasti capek ya mi ... Tita di gempur habis-habisan oleh kak Nathan setiap waktu."


"Loudiiiiiiiiiii .... siapa yang mengajarkan kamu kata-kata itu??"


Sang nona langsung lari meninggalkan sang mami sebelum dipukul untuk yang kedua kali.