Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 67



Tita memandangi layar ponselnya, sepi sekali, kemana sih manusia satu itu? pesan yang Tita kirim kemarin tidak satu pun ada balasan, bahkan telponnya pun terabaikan. Awas saja ya, kalau suatu hari kamu berani memarahi aku karena tidak membalas pesan atau pun menghubungi kamu, aku tidak akan peduli! Aku akan balas mengabaikan kamu seperti ini. Kesal juga dia menunggu seseorang yang baru di tinggal sehari saja sudah seperti melupakannya.


Andin muncul dari balik pintu, "Tita, sarapan dulu yuk? Setelah sarapan kita mau jalan-jalan di kebun teh dekat sini."


Tita memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. "Yuk," kemudian dia mengekori Andin yang berjalan di depan untuk sarapan bersama teman-temannya. Ya, lebih baik aku bersenang-senang disini daripada sibuk menunggu laki-laki yang lagaknya saja berat melepasnya pergi kemarin, tapi malah mengabaikannya sampai hari ini. Nathan, aku tidak akan mengangkat telponmu ... lihat saja!


Sementara itu, Nathan masih bergelut di tempat tidurnya. Dia masih meringkuk di bawah selimut, rasanya malas sekali dia melakukan apapun hari ini. Kenapa tempat tidur ini terasa lebih dingin dari biasanya, ya? tidak ada guling hidup yang selalu ku peluk setiap hari, ah ... aku merindukan Tita-ku, istri kesayanganku. Mungkin dia sedang bersenang-senang sekarang, sementara aku merana sendiri disini. Nathan berguling-guling kesana kemari di atas tempat tidurnya mengusir kebosanan dan berharap sore segera datang, karena sang istri akan pulang sore ini. Namun, tanpa disadarinya ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah lakunya sedari tadi.


"Nathan, bangun!"


Siapa yang berani menyuruhnya untuk bangun? Apakah Brian? Bukan ... Brian sudah ada acara pagi ini, dia sedang lari pagi bersama dengan pacarnya yang sudah mulai menuntut waktu kebersamaan yang sedikit lebih sering.


Mendengar ada orang yang memanggilnya seperti itu, sontak membuat Nathan bangun karena terkejut. "Mami?!"


"Ayo bangun sudah pagi, kenapa malah berguling-guling seperti itu?"


"Aku malas mi, tidak ada kegiatan hari ini. Dan sejak kapan mami disini?"


"Mami sudah disini sejak kamu membuka matamu. Bukannya langsung bangun dan mandi malah berguling-guling di tempat tidur. Ayo bangun, mami akan menunggu kamu di bawah, apa kamu tega membiarkan mamimu sendirian di meja makan!"


Walaupun saat ini seorang Nathan sudah menjadi bos besar, tapi dia tetaplah seorang anak dari orang tuanya. Karena sudah mendapat ultimatum dari sang mami, maka mau tidak mau dia beranjak juga dari tempat tidurnya. Dan teringat sesuatu, Nathan melompat kembali ke tempat tidurnya, meraih benda kotak pipih yang tidak disentuh-sentuhnya sejak semalam karena di sibukkan oleh Anya. Di usapnya permukaan layar itu hingga muncul beberapa notifikasi disana, 2 pesan dan 5 panggilan. Ya ampun, kenapa aku bisa tidak tahu Tita menghubungiku ... kan, makin gelisah dia. Buru-buru di telpon sang istri dengan berdebar-debar karena khawatir sang istri marah. Deringan pertama ... deringan ke dua ... deringan ke tiga ... tidak diangkat. Di coba lagi panggilan itu, deringan pertama ... deringan ke dua ... deringan ke tiga ... tidak diangkat. Aaaah, dia marah padaku. Baby please, pick up my phone .. i'm so sorry.


"Mickey, kamu makan apa?" Tita nampak tertarik melihat Mickey makan jajanan dengan lahapnya.


"Sotong, enak ... aku baru pertama kali makan ini dan ternyata enak. Kamu mau coba?" Karena Tita mengangguk maka Mickey menyodorkan sotong itu untuk Tita makan. Belum lagi makanan itu sampai ke mulut TIta, tiba-tiba ... hap! Loudy menggagalkan semuanya. Tita dan Mickey hanya menatap nanar sang nona muda itu, childish sekali pikir mereka. Sama seperti sang kakak, kan? Hahaha.


Hari sudah siang ketika Brian memasuki mansion, kediaman Petra. "Selamat siang, tuan."


"Hai Brian. Aku tidak ada kegiatan kan hari ini?" tanya sang tuan dengan tidak semangat.


Lho, kenapa lagi nih? "Anda, baik-baik saja tuan?"


"Oh, Brian ... aku harus bagaimana? Tita mengabaikan panggilan ku." jawabnya dengan hopeless.


"Tidak, itu pasti karena dia marah padaku. Aku tidak membalas pesannya kemarin, bahkan mengabaikan panggilan telponnya."


"Kok, bisa?" sesuatu hal yang aneh jika itu terjadi. Pikir Brian.


"Itu kan karena aku fokus dengan Anya semalam."


Teringat Anya, Brian memberikan laporannya. "Tuan, Thomas sudah dapat mengidentifikasi pemilik mobil yang suka berada di sekitar nona Tita belakangan ini."


"Oh ya? Mana??" Brian menyerahkan sebuah tab, bersikan informasi si pemilik mobil. "Terry Muller, Brian ... dia Terry."


"Benar tuan, tepat seperti yang dikatakan nona Anya semalam. Benar kecurigaan anda, Terry Muller mengincar nona Tita."


Brakk!! Nathan memukul meja di hadapannya. Dia sangat emosi melihat sebuah foto yang terlampir disana, bagaimana bisa istrinya, Tita, tertangkap kamera sendang duduk berdua dengan Terry di sebuah supermarket kemarin. Brian tidak berani menenangkan sang tuan, biarkan saja dia meluapkan kemarahannya dahulu, begitu pikirnya. Brian hanya berdoa semoga sang tuan muda tidak lagi terpuruk karena merasa di khianati.


"Apa yang dia inginkan dari istriku! Bagaimana mereka bisa bertemu disana?!" Nathan setengah berteriak karena marah.


"Nona tidak sengaja bertemu dengan Terry, tuan. Karena sebelumnya nona pergi berdua dengan temannya."


"Tapi kamu lihat sendiri, kan? Mereka hanya duduk berdua disana!"


"Tuan, saya yakin nona Tita tidak mengenal Terry sebelumnya karena saya sudah memeriksa dengan detail semua informasi tentang nona, latar belakang keluarga, teman-teman, bahkan sejak sebelum nona mau menerima anda menjadi suaminya." Nathan melihat kearah Brian dengan setengah putus asa, dan Brian melihat mata sang tuan muda yang memerah, ada rasa kecewa disana sekaligus harapan bahwa semua ketakutan yang ada di kepalanya adalah tidak benar.


"Menurutmu seperti itu?" sang tuan muda melunak kini.


"Iya, saya bisa menjamin itu." Brian meyakinkan sang tuan muda, menjaganya dari rasa kecawa dan perasaan terkhianati. "Yang harus kita lakukan adalah mencegah Terry merebut nona Tita dari anda."


"Lakukan apapun untuk menjaga istriku. Kamu tahu kan aku tidak ingin kehilangan lagi."


"Aku akan menambah pengawal untuk nona, tuan."


"Pastikan agar Tita-ku tetap nyaman. Aku tidak ingin dia malah pergi dariku karena terlalu ku kekang." oh, mungkin sang tuan muda tidak merasa bahwa selama ini sang nona sudah merasa terkekang dengan tingkahnya. Brian hanya tersenyum penuh arti tanpa menanggapi. "Kenapa tersenyum, kamu mengejek aku?" makin tertawa lah sang sekretaris itu. "Tertawalah sesukamu, lebih keras lagi ... aku tahu apa yang ada di kepalamu." sang tuan muda kesal, dan makin kesal saat Brian benar-benar tertawa lebih keras. ha ha ha.