Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 103



Tita sudah mendapat penjelasan tadi dari Thomas. Sejujurnya, dia sedih ketika Thomas mengatakan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah pengaruh wewangian itu. Hatinya jadi gelisah, Satu-satunya cara adalah tidak membuat Nathan dekat-dekat dengan Clair. Tapi, itu tidak mungkin kan?


"Sayang ... apa kamu tidak percaya padaku?" Nathan mengerti kegelisahan sang istri.


"Nona, saya akan selalu berada di sebelah tuan muda." Brian pun ikut menenangkan Tita.


Tita mengerti, dia juga tidak mungkin menempel terus dengan sang tuan suami selama acara berlangsung. Hm ... kenapa harus ada hal seperti ini sih? Tita melihat ke arah Nathan yang juga merasa bersalah. "Aku baik-baik saja, aku percaya padamu dan kak Brian." pada akhirnya Tita mengatakannya. Dia ingin egois tapi tidak mungkin, kan?


Mobil yang membawa mereka tiba di halaman mansion saat matahari sudah akan meninggalkan tempatnya. "Sayang, aku ingin melihat ibu dulu, ya?" Tita ijin kepada Nathan.


"Baiklah, aku tunggu di kamar ya." Tita mengangguk dan melenggang meninggalkan sang tuan suami.


"Brian, apa tidak ada ide yang terpikir olehmu? Aku tidak akan konsentrasi jika Tita gelisah seperti itu?"


"Aku akan pikirkan baik-baik, tuan. Sebaiknya anda istirahat sekarang, aku akan memberi tahu jika aku sudah menemukan caranya.


"Pulang lah, aku tidak akan kemana-mana setelah ini." Nathan menepuk-nepuk bahu Brian, dan masuk ke dalam mansion nya.


Ini adalah hal yang mudah tapi rumit. Tita belum pernah mengalami atau pun mendengar yang seperti ini. Bohong jika dia tidak merasa khawatir, bohong jika dia tidak gelisah. Padahal hubungan nya dengan Nathan belakangan ini sedang manis-manisnya. Tita menelusuri taman milik sang nyonya mami, kakinya melangkah ringan menuju kamar sang ibu, tapi tidak dengan pikirannya.


Namun, belum juga dia sampai di tempat istirahat sang ibu, "Tita?" ibu memanggilnya.


"Ibu, sudah selesai bekerjanya?" Tita tersenyum manis sekali.


"Apanya yang bekerja? Ibu hanya menemani mertuamu mengobrol."


Oh, bisa mengeluh juga sang ibu, ternyata. "Ibu jangan terlalu lelah,"


"Tapi ibu biasa bekerja, sayang. Rasanya badan ibu sakit-sakit jika hanya duduk-duduk saja seharian." sang ibu menarik Tita duduk di pinggiran taman. "Nah, ada apa dengan mu? kenapa anak ibu terlihat cemas seperti ini?" sang ibu mengelus rambut Tita dengan lembut.


Tita tertunduk, apa yang harus dia katakan, bagaimana mengatakannya pada ibu? Ibu mengerti, diamnya Tita membuat sang ibu yakin bahwa ada yang sedang di pikirkan putrinya. Tapi, ibu memang lah orang yang amat sangat mengerti Tita, tidak ada paksaan jika dia tidak ingin mengatakannya, tapi ibu pasti akan mendengarkan jika dia bercerita.


"Ibu, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan." Tita menyandarkan kepalanya pada bahu tua yang tidak setegap dulu tapi tetap menyajikan kenyamanan. "Ada wanita lain yang menginginkan suamiku dengan melakukan cara yang tidak biasa. Aku takut kehilangan ..."


Agak terkejut sang ibu mencerna perkataan putrinya. Tapi mengingat status sosial sang menantu di tunjang dengan penampilan fisik nya yang sangat menawan, tidak heran jika banyak wanita yang menginginkan bahkan tergila-gila dengan menantunya. Dan sang ibu juga tidak menyangka hal itu mempengaruhi kenyamanan sang putri. Ya ... tentu saja.


"Apa kamu percaya dengan suami mu?"


Tita menatap sang ibu, percaya? tentu saja dia percaya. Tita mengangguk.


"Kalau begitu apa yang kamu khawatirkan? Cukup percayakan pada suamimu, layani dia, berikan yang terbaik untuk suamimu." sang ibu menggenggam jemari Tita, "Dan kamu juga harus menjaga suamimu, pastikan semua kebutuhannya kamu penuhi. Kamu harus berani, kamu harus kuat dan jangan pernah malu untuk mengakui bahwa dia suamimu, karena itu artinya kamu bangga menjadi istrinya. Kamu pasti tau kan bagaimana suamimu melindungi mu?" sang ibu tersenyum, Tita masih terdiam mencerna setiap kata yang di ucapkan sang ibu. Iya, ibu benar ... Nathan tidak pernah ragu menunjukkan ke setiap orang bahwa aku adalah istrinya, miliknya. Walaupun bagiku itu adalah hal yang memalukan, tapi dia tidak perduli yang penting baginya aku aman dari pandangan laki-laki lain.


Seperti mendapatkan energi baru, Tita tersenyum kini. Di langkahkan kakinya memasuki kamarnya. Terlihat olehnya, sang tuan suami tengah duduk membaca buku.


"Kamu sudah makan?" tanya Tita.


Ah, hati Tita terasa hangat ... setelah terbuka pikirannya dia jadi bisa melihat lebih jelas bahwa suaminya sangat manis. Dengan malu-malu Tita pun menjawab, "Aku mandi dulu ya, sayang."


Nathan yang melihat sang istri malu-malu seperti itu bingung sekaligus senang. Kenapa jadi berubah begitu mood istrinya? "Sayang, aku akan meminta makanannya di bawa ke kamar saja, ya."


"I, iya." Tita memandangi dirinya di cermin, seperti Nathan yang tidak pernah ragu menunjukkan bahwa dia miliknya, aku pun akan melakukan hal yang sama. Karena kita saling mencintai jadi sudah sewajarnya kalau kita saling menjaga, bukan? Baiklah, semangat Tita!


Setelah merapikan dirinya, Tita bergabung dengan sang tuan suami. Makanannya sudah tersaji di atas meja. "Dulu ketika masih kuliah, aku selalu ingin melakukan makan malam romantis dengan seorang laki-laki." hehe, ini adalah pertama kalinya Tita menceritakan kehidupannya dahulu, tapi ...


"Laki-laki?!!" ternyata kejujurannya malah membuat Nathan kesal. "Laki-laki siapa maksudmu!"


Menyadari kesalahannya, Tita langsung meralat perkataannya. "Bukan siapa-siapa, itu kan hanya keinginanku ... karena aku belum pernah melakukannya dengan siapa-siapa." sengaja menekankan kata 'belum pernah melakukannya dengan siapa-siapa'.


"Oh begitu ... sekarang kan kita bisa melakukannya sesering yang kamu mau." Nathan tersenyum mengatakannya.


"Iya, aku akan melakukannya denganmu, sesering mungkin, jadi jangan pernah kamu menolak."


"Sayang ... aku tidak menyangka kamu akan seagresif ini."


"Aku membicarakan makan malam yang romantis bukan yang lain!" haduh, dasar suami mesum.


"Aku memang membicarakan makan malam yang romantis. Ck! isi kepalamu itu kenapa selalu mesum." Nathan mengelak.


"Hei ... siapa yang mesum?" Tita tidak terima, selalu ... jika ada kesalahpahaman seperti ini pasti dia akan kalah.


"Sudah lah, kota habiskan saja makanan ini sebelum dingin." senang sekali hati Nathan bisa menggoda istri imutnya, dengan segala tipu dayanya. Ha ha ha. "Sayang, kamu hanya perlu percaya padaku, perhatikan saja aku. Tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting, oke?"


Tita menatap sang tuan suami, ah ... ternyata dia juga mengkhawatirkan aku, kan? "Kamu tidak perlu khawatir ... aku baik-baik saja."


"Kalau begitu kita berangkat sama-sama."


"Eh, tapi aku ..."


"Brian sudah mengurusnya, dan Putra sudah mengijinkan."


"Sayang ..."


"Kamu yang bersamaku atau aku yang bersamamu."


Ah ... sebal! bagaimana mungkin aku bisa melupakan sifatnya yang menyebalkan ini sih.


Nathan tersenyum dalam diam, dia tau Tita pasti lebih memilih berangkat bersama dengan tim nya. Tapi tentu dia tidak akan membiarkan kesempatan kepada si Arga itu untuk bisa dekat dengan istrinya kan. Ha ha ha.