
Senja masih menyapa ketika gadis manis itu keluar dari mobilnya, dirapikan sedikit rambutnya yang terurai dengan jemari tangannya. Perfect! begitu sautnya manakala dia puas dengan pantulan diri melalui kaca spion. Gadis itu, Loudy melangkah dengan anggunnya menuju sebuah apartemen. Hari ini dia akan candle light dinner bersama dengan sang pacar, ah ... indahnya.
Ting!
Pintu lift terbuka ketika dia tiba di lantai tiga, deg deg deg ... Loudy bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Hari iniĀ gadis itu ingin merayakan hari jadi mereka sebagai pasangan. Ah, makin berdebar jantungnya mengingat sang kekasih memiliki pikiran untuk merayakan hari jadi mereka, tidak disangka ternyata seorang Mike bisa se-romantis itu.
"Sayang ... kau sudah datang?" sapa Mike di depan pintu.
"Iya ... kamu pulang dari jam berapa?" Loudy menata kue-kue kering di piring saji.
"Setengah jam yang lalu, hm ... kamu datang sendiri?"
"Memangnya kamu berharap aku datang dengan siapa?!" ada nada tidak suka ketika menjawab pertanyaan Mike. Rasa cemburu itu keluar begitu saja.
"Ah, tidak sayang ... baguslah kamu datang sendiri," tersadar dengan apa yang di ucapakannya, Mike langsung meralat. "Eh, tidak ... bukan maksudku seperti itu juga ..."
Ha ha ha ... Loudy sangat suka jika ada laki-laki kikuk seperti ini apalagi laki-laki itu adalah kekasihnya, "Jadi kamu lebih suka aku datang sendiri dan akhirnya hanya berduaan disini bersamamu?"
"Ehm ... tidak seperti itu, aku ..."
"Jadi ... kamu lebih suka aku mengajak Tita?" Nah kan ... marah lagi ... dan kenapa harus keceplosan menyebut nama Tita.
"Tidak ... tidak sayang, bukan seperti itu," seperti kebakaran jenggot, Mike makin bingung bagaimana harus menjelaskannya. "Aku senang kamu datang sendiri dan aku juga senang kita berdua saja menghabiskan waktu, jangan marah, please?"
Entah mungkin karena situasi yang memang mendukung, atau karena hormon esterogen yang memang sedang meluap dengan tidak tahu dirinya ... Mike menarik lengan Loudy membuat sang gadis terhuyung kedepan. Tatapan mata mereka makin lekat, nafas mereka makin memburu dan tanpa permisi lagi Mike menarik tengkuk Loudy hingga bibir mereka saling berpagut, Ciuman panas itu tidak berlangsung lama, karena Loudy menjauhkan kepalanya secara paksa. Bukan ... bukan karena dia tidak suka, tapi karena dia sudah kehabisan nafas. Loudy segera menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
melihat keimutan sang kekasih membuat Mike tertawa, "Kenapa? apa ada yang aneh?" Loudy merasa terganggu dengan Mike yang menertawainya.
"Tidak kok, kamu menggemaskan sekali saat berekspresi seperti itu." Ha ha ha.
Pipi Loudy merona, Mike sungguh gombal. "Apa ... apa kamu tidak lapar?" katanya kikuk.
Telapak tangan Mike mendarat di pipi mulus Loudy, dengan tatapannya yang penuh cinta membuat Loudy terhipnotis dan memejamkan matanya. Melihat wajah polos dan kepasrahan sang gadis, Mike mencium bibir ranum itu kembali, tapi kali ini lebih lembut, lebih tenang agar sang gadis tidak lagi kehabisan oksigennya. Malam itu menjadi malam panjang bagi mereka berdua, secara sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun mereka menyatukan jarak diantara mereka. Melupakan aturan-aturan tak terlihat yang sering dilantunkan sang kakak, melupakan sejenak bagaimana mereka bisa mempertanggungjawabkan hasil dari perbuatan mereka itu. Dua sejoli ini membuat ruangan itu makin panas, mereka berlomba mencapai kepuasan duniawi.
Tita menahan nafasnya karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar, jadi ... kalian melakukannya secara sadar? Jadi kalian melupakan kepercayaan keluarga yang mencintai kalian karena kesenangan sesaat?
"Tita," Loudy mengguncang-guncang lengan Tita agar sahabatnya itu sadar. "Ta, katakan sesuatu dong."
"Ah ... maaf, aku masih tidak habis pikir." Tita bukan orang yang kolot, banyak juga teman-temannya yang melakukan kebebasan seperti itu, tapi juga dia tetap tidak habis pikir bahwa sahabat terdekatnya yang polos dan murni ini bisa dengan mudahnya melakukan kebebasan itu.
"Tita, apa kamu mau membantu kami?" Mike memang gantle mau mengakui dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia amat sangat berharap kepada Tita agar bisa berbicara dengan suaminya yang juga kakak sang kekasih.
"Aku tidak bisa menjamin ya, tapi aku akan coba. Dan kalian ... pikirkan juga cara lain."
"Aku takut, kakak pasti murka sekali." Loudy menyandarkan kepalanya di bahu Tita.
Tita mengelus lembut untaian rambut hitam kecoklatan dengan sayang. "Mickey, kamu akan menikahi Loudy kan?"
"Tentu saja! Kamu tau aku mencintainya." tegas Mike. Dan Loudy pun jadi salah tingkah mendengar kata-kata kekasihnya itu.
Cih! Pamer, "Aku juga tau kamu mencintai Loudy, tapi tidak perlu kamu berteriak untuk mengumumkannya." dan Tita dengan sengaja memutarkan bola matanya.
****
Tita tiba di rumahnya tepat pukul tujuh malam, lelah sekali tubuhnya dan peluhpun membuat tubuhnya menjadi lengket. Tita mengedarkan pandangannya berkeliling, sepi. "Sepertinya Nathan belum pulang, hm ... sebaiknya aku mandi dulu dan setelah itu baru aku pikirkan bagaimana cara bilang ke Nathan."
"Bilang apa?!"
"Aaaaaaaah!!" Tita berteriak dengan keras ketika tangan besar itu menggapai pinggangnya. Apa?!! bagaimana??? Sejak kapan manusia ini ada disini?
"Kenapa sayang? kamu seperti melihat hantu." Nathan rupanya gemas dengan reaksi sang istri, dia tidak menyangka sang istri akan sangat terkejut seperti itu, haha.
"Kamu datang dari mana?"
"Dari mana aku datang?? Menurutmu aku datang dari mana?" Nathan menjatuhkan tubuhnya ke sofa sekaligus menarik sang istri agar terjatuh di badannya.
"Ish ... sayang, aku gerah nih ..." Tita sedikit berontak karena dia merasa tidak nyaman.
"Diamlah ... jangan bergerak terus, aku tidak mau kamu makin lelah nanti." celoteh Nathan menggoda sang istri.
Seketika Tita kaku, namun dengan cepat baangun dari posisinya dengan menekan tubuh sang tuan suami. "Mesum!"
"Sayang mau kemana? Sayang ... tunggu."
"Aku mau mandi." Tita terus berjalan tanpa menoleh Nathan yang berlari kecil mengikutinya sambil cekikikan.
Dan disinilah mereka, melakukan kegiatan mandi bersama karena Nathan meringsek masuk ke kamar mandi mengikuti sang istri dan Tita tidak mungkin menolak kainginan sang tuan suami, terlebih dia juga punya misi tersendiri.
Tita membelakangi Nathan yang masih asik menggosok punggungnya dengan spons .. dengan gerakan lembut dan lama. Sebenarnya, Tita sudah ingin menyudahi kegiatannya ini karena kulit jarinya sudah mulai keriput, namun begitu teringat wajah loudy yang memelas tentu membuat Tita mengeraskan tekadnya. Ya! kali ini harus berhasil.
"Sayang,"
"Hm."
Hahh ... sepertinya awalan yang buruk. Pikir Tita. "Sayang, kamu kan punya mantan ..." sengaja ... sengaja Tita menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi sang tuan suami.
"Kenapa?"
Nah kan, suaranya mulai berat. "Mmm, aku hanya ingin tahu saja .. ketika kamu pacaran dulu apa saja yang kalian lakukan?" Halah ... pertanyaan macam apa itu Titaaa ... Bodoh! Tita merutuki dirinya sendiri. Walaupun tidak melihat langsung mimik wajah sang tuan suami, tapi bisa dipastikan wajah tampan itu kini sedang menatapnya tajam, bahkan bulu kuduknya sudah berdiri sekarang.
Tita merasakan lengan kokoh itu terlepas dari tubuhnya, dan kini Tita sadar belakangnya sudah kosong. Sang tuan suami sudah beranjak dari bathtub ... mata Tita mengikuti setiap gerakan yang dilakukan sang tuan suami. Apakah dia marah? Apakah dia masih tidak suka cerita lamanya diungkit lagi? Belum lagi Tita menemukan jawabannya, tubuhnya sudah terangkat, rupanya sang tuan suami membopongnya tanpa membungkusnya.
"Ah .. sayang."
Tita mendarat sempurna di dekat tempat tidurnya, sekejap kemudian tubuhnya sudah terbungkus handuk, tapi dia masih berdiri ditempatnya tetap memperhatikan Nathan dengan pikirannya sendiri. Jujur, Tita jadi lupa dengan masalah Loudy.
Ctak!
Aw!! Sakit!!!
"Mengapa masih berdiri saja? tidak mau pakai baju?" Nathan menyentil kening Tita. Heran dia, apakan sang istri tidak merasa kedinginan? Nathan mengambil sebuah buku dan membacanya diatas tempat tidur, tapi matanya tetap mengekor gerak gerik sang istri. Apa yang sedang kamu pikirkan Tita, mengapa tiba-tiba ingin mengungkit masa lalu aku?