
Tita sudah berangkat untuk rapat dengan tim-nya, sementara Nathan sedang makan siang yang ke sorean dengan sahabat-sahabatnya.
"Nathan, aku tidak menyangka kamu seganas itu." Thomas menggeleng-gelengkan kepalanya. Pasalnya, ketika tadi mereka ke kamar Nathan dan Tita yang membuka pintu, mata jeli Thomas menangkap tanda-tanda cinta bertebaran di beberapa titik sensitif leher Tita. Bahkan si empunya leher pun tidak menyadari hal itu jika Thomas tidak memberitahukan nya. Betapa malunya Tita tadi, dan betapa kesalnya dia kepada sang tuan suami yang sengaja menciptakan tanda kepemilikan itu.
Ha ha ha ... "Tapi gara-gara mulutmu, Tita-ku jadi menutupi tanda kepemilikan ku."
"Hei, kamu tidak kasihan dengan istrimu yang pasti nanti akan jadi bahan olokan?" sergah Rega.
"Kalian tidak tau saja, di tim-nya itu ada yang mengincar Tita-ku."
"Tidak akan ada yang berani mengambil nona, tuan." seru Brian, karena aku sudah memperingatkan nya.
"Tetap saja, aku tidak suka."
Mereka melanjutkan dengan beberapa obrolan ringan sampai seorang wanita datang dan bersikap sangat akrab dengan Nathan. Dengan seenaknya dia mengelus bahu Nathan yang tegap, "Selamat sore tuan Petra." sapanya dengan sangat lembut dan sedikit menggoda.
Tentu saja Nathan tersentak kaget dengan sentuhan itu. Wanita itu tersenyum karena merasakan bahu Nathan yang menegang. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena Thomas yang memang duduk persis di sebelah Nathan langsung berdiri dan mencekal tangan wanita yang sudah dengan tidak sopan nya menyentuh Nathan.
"Perhatikan tangan cantikmu nona, jangan sembarang menyentuh yang bukan milikmu." Thomas mengatakannya dengan santai tapi dia bersungguh-sungguh.
"Oh, maaf tuan. Saya hanya menyapa tuan Petra." kini Clair menatap dalam Thomas, "Perkenalkan, saya Clair perwakilan wali kota B."
"Oh, seharusnya anda bisa bersikap lebih profesional terhadap pemilik Petra Corporate, nona perwakilan wali kota B." bahkan sebelum wanita itu memperkenalkan dirinya, Thomas sudah menebak bahwa dialah wanita itu. Makanya Thomas dengan tegas mengingatkan siapa laki-laki yang di sentuhnya dengan sembarang tadi.
Clair tau dia tidak akan menang jika meladeni laki-laki ini. Maka dia menahan amarahnya, dan tetap tersenyum. "Baiklah tuan, maafkan saya." Kemudian dia beralih lagi kepada Nathan. "Tuan Petra, selamat menikmati makan anda." tidak ada jawaban dari Nathan, bahkan menoleh pun tidak. "Saya permisi, maaf mengganggu waktu anda semua." Clair meninggalkan para laki-laki tampan itu dengan hati yang dongkol. Gara-gara laki-laki sialan itu, ck! Aku akan mencari kesempatan lain.
"Gila! jadi itu wanitanya?" Thomas meminta penjelasan dari Brian.
"Iya, benar. Dia Clair." jawab Brian.
"Benar dugaan ku. Aku hafal sekali seperti apa wanginya. Itu memang wewangian pemikat. Nathan, kamu harus hati-hati." Thomas memperingatkan. "Kita tidak boleh membiarkan Nathan sendirian jika ada wanita itu."
"Apa harus seperti itu?" Nathan sebenarnya masih agak tidak paham.
"Hei .. bahkan tadi kamu tidak menolak saat dia menyentuh bahuku seperti itu. Apa kamu tidak berfikir bagaimana reaksi Tita jika melihat suaminya tidak menolak sentuhan wanita lain?"
Apa yang dikatakan Thomas benar, aku tidak mau Tita salah paham lagi. "Kenapa tidak minta wali kota menggantinya saja." menurut Nathan ini adalah jalan yang paling simple.
"Lalu, kalau dia tau kamu dengan sengaja menyingkirkan nya, apa kamu yakin dia tidak berbuat nekat?"
" Baiklah, aku percaya kan pada kalian." kata Nathan pada akhirnya.
"Oke, kita jalani rencana. Brian, pastikan Ana menjaga Tita." Brian mengangguk.
"Aku, Axel dan Rega tidak akan meninggalkan Nathan sendiri."
"Baik. Dan tuan, aku sudah mempersiapkan semuanya."
"Bagus, aku ingin menjadikan ini momen yang bersejarah." Nathan melihat sahabat-sahabat nya dengan senyum yang mengembang sempurna, dia memang memiliki niat terselubung dengan menggunakan acara ini. Tapi, siapa juga yang bisa melarang? toh dia yang berkuasa.
"Dasar bucin." Rega dan Axel kompak meledek Nathan.
***
Tita sedang berada di sebuah cafe yang berada tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Dia bersama dengan tim-nya melakukan rapat kecil, membicarakan acara yang akan di selenggarakan besok. Sebenarnya, tidak ada yang perlu di bahas ... toh mereka semua adalah tamu undangan, bukan panitia penyelenggara. Tapi, bos mereka menginginkan rapat ini sebagai alasan agar tim-nya dapat berkumpul dan makan bersama. Pak Putra memang sangat bangga atas kerja sama tim-nya.
"Iya, kamu tau tidak ... sebelum berangkat, Loudy merengek-rengek minta ikut." Tita menceritakan hal itu sambil terkikik.
"Yang benar? lalu kenapa dia tidak ikut?" sejujurnya, Mickey senang mendengar penuturan Tita.
"Tidak di bolehkan kakaknya lah."
"Kenapa?"
"Karena dia belum libur kuliah."
"Ck! pasti seru kalau dia ikut." Tita menatap curiga. "Maksudku, kita kan bisa sekalian hang out bareng." hampir saja Tita curiga.
"Kamu mengharapkan Loudy ikut?"
Sial, dia peka sekali sih. Mickey.
"Zahra, apakah kamu memberikan sepatah dua patah kata?" Pak Putra mempersilahkan Tita untuk berbicara.
Hah? apa ya ... gara-gara Mickey aku jadi tidak memperhatikan tadi. Tita canggung, tapi tidak mungkin kalau dia menunjukkan bahwa sejak tadi dia tidak memperhatikan, maka ... "Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua rekan-rekan yang dengan senang hati mengajarkan saya banyak hal sehingga dapat mengasah kemampuan saya. Suksesnya proyek ini tidak lepas dari kerja keras kita semua, semoga kedepannya kita tetap menjadi tim yang solid. Dan mohon maaf jika saya masih banyak kekurangan. Terima kasih." Tita mendapatkan respon tepuk tangan dari rekan-rekannya. Walaupun Tita anak baru dan masih muda, tapi kemampuannya sebenarnya cukup di perhitungkan.
"Baiklah, sekarang ... waktunya kita menyantap makanan ... silahkan menikmati makanan kita, jika masih mau ada yang di pesan, silahkan memesan lagi. Hari ini saya sedang bahagia ... Ayo jangan malu-malu, ha ha ha."
Mereka semua benar-benar menikmati waktunya, kebersamaan sebagai rekan kerja, suasana yang sangat kekeluargaan ... Tita sungguh bersyukur bisa menjadi bagian dari mereka.
"Zahra," Gladis menjawil sikunya. "Apa nanti kamu di jemput?"
"Tidak, aku diantar Mickey nanti. Kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa ... padahal aku mau cuci mata."
"Hah?? cuci mata gimana?" Tita makin tidak mengerti.
"Ah, beruntung sekali sih kamu," Gladis mengalungkan lengannya di bahu Tita, "Bisa sering-sering melihat laki-laki tampan."
"Ih ... hei ... ingat anakmu, jangan jelalatan begitu."
"Eh, aku bukan jelalatan .. aku kan hanya cuci mata saja, dimana salahnya coba?"
"Coba ya ... kamu yang sudah punya anak, tolong beri kesempatan jomblo cantik seperti aku" Candy yang mendengar obrolan tak berfaedah itu ikut juga.
"Yang kalian maksud siapa sih?" pada akhirnya Tita bertanya juga.
"Duh ... tenang deh non, kita gak mengincar tuan Petra kok ... karena bagi tuan Petra itu kita ini seperti partikel debu alias tak terlihat. Kalau aku sih menargetkan temannya tuan Petra saja, yang berkumis tipis dan gagah itu," Candy menggambarkan laki-laki yang membuatnya tertarik.
Tita langsung teringat kepada Thomas, "Wah, jangan deh ... dia buaya, suka tebar pesona, wanitanya banyak. Cari yang lain saja." Tita
tidak setuju.
"Aduh Zahra ... wajar saja kalau wanitanya banyak, dia hot banget ... sekali melihat saja rasanya aku langsung jatuh hati."
Hah ... gawat teman-temannya ini, apa bagusnya sih laki-laki buaya seperti itu. Tampang sih memang tampan, tapi tipe laki-laki seperti itu tidak bisa berlama-lama dengan satu wanita. Dan apa tadi katanya? Punya banyak wanita, dibilang wajar?? Wah, kalau aku jadi wanitanya, sebelum dia meninggalkan aku, pasti sudah aku tinggalkan duluan. Tita melihat aneh rekan kerjanya yang masih saja membahas tentang betapa menawannya seorang Thomas.