Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 117



Saat ini Tita dan Mickey sedang berada di sebuah mall, Tita ingin makan seafood yang ada di sana. Tita sudah mengirimkan pesan kepada Loudy tadi, dia tau nona yang satu itu masih ada di kampusnya. Loudy berjanji akan menyusul ketika kuliahnya sudah selesai. Tita ingin merasakan kebebasan kali ini, dia ingin bermain dan jalan-jalan dengan teman-temannya seperti dulu, ketika dia belum menikah.


Mickey sudah mengirimkan pesan ke Brian tentang kepergian mereka ke mall sore itu, dia pun sudah berjanji untuk tetap menemani Tita. "Tita, kamu baik-baik saja?"


"Maksud kamu, apa? Aku baik-baik saja Mickey, kamu lihat sendiri kan."


"Tapi aku perhatikan kamu agak berbeda,"


"Beda apanya sih, Mickey?"


"Apa kamu tidak menyadari? sekarang setiap pagi kamu selalu makan makanan yang di bawa Arga, bahkan kamu hanya mau makanan yang di bawa Arga."


"Cih, itu sih bukan hal yang aneh. Memang aku suka aja makanan yang di bawa Arga."


"Ta, kalau tuan Petra tau ...."


"Kalau tuan Petra tau, berarti kamu yang membocorkan." Tita memotong perkataan Mickey.


"Tapi, Ta ..."


"Mickey, please ... aku hanya ingin bersantai sore ini. Jangan bahas yang lain."


"Tapi kamu benar-benar baik-baik saja? Tidak sedang bertengkar dengan suami kamu, kan?" oh ... Mickey, ternyata dia khawatir seperti itu.


"Aku baik-baik saja, tuan Petra sedang ada pekerjaan di London. Tadi siang juga dia menelponku. Kami tidak sedang bertengkar dan baik-baik saja. sudah jelas?"


"Syukur lah kalau memang seperti itu, aku tidak mau kamu bersedih, Ta. Kamu tau kan aku sayang padamu."


"Iya, aku tau." dan iseng Tita melanjutkan kalimatnya dengan berbisik, "Calon adik ipar ku, Ha ha ha." ketika Tita mengatakankalimat terakhir itu wajah Mickey bersemu, dia malu.


Deg! Mike ternyata masih punya rasa suka terhadap Tita. Loudy yang sebelumnya mengendap-endap ingin mengejutkan mereka malah terkejut atas apa yang dia dengar. Sayangnya, Loudy hanya mendengar sebagian. Dengan memaksakan senyum dia menyapa juga ke dua temannya itu, "Hai, kalian sudah lama?"


"Eh, Lou ... lumayan, nyaris berjamur nunggu kamu." Tita berseloroh, dan Mickey tertawa dengan candaan Tita.


Loudy menatap nanar Tita dan Mickey, pikirannya seketika kacau. Apa mereka saling menyayangi? Apa mereka terlibat hubungan tersembunyi di belakang kakak ku? Ah, apa yang aku pikir kan. Mereka bukan orang yang seperti itu, kan? Tapi tadi Mike bilang dengan jelas kalau dia sayang Tita, kan?


"Loudy, Lou ..." Tita mengguncang lengan sahabatnya untuk menyadarkan Loudy.


"Eh, iya ... apa?"


"Kamu kenapa? ada yang kamu pikirkan?" lanjut Tita.


"Ah, tidak .. aku melamun ya? haha ... kenapa?"


"Kamu mau pesan apa?" kali ini Mike yang bertanya.


"Oh, aku ...apa ya yang enak?" Loudy memaksakan senyumannya. Sementara Mickey dan Tita saling bertukar pandang, ada apa dengan Loudy hari ini?


"Loudy, apa kamu baik-baik saja?" Tita memegang tangan sahabatnya, Loudy ... apa yang sedang mengganggu pikirannya?


"Aku baik-baik saja. Nah, mari kita makan." meskipun kacau pikirannya, tapi Loudy pun tidak sampai hati membuat sahabatnya terlihat khawatir, itu bukan sifatnya.


Tapi sekarang ... coba lihat, dimana dia sembunyikan wajah khawatir nya tadi?? Dan saat ini malah Loudy dan Mickey yang terheran-heran melihat Tita yang dengan lahapnya menyantap kerang pedas manis di hadapannya.


"Tita, pelan-pelan makannya." tegur Loudy. Dan Tita hanya tersenyum lebar dengan ke dua tangannya yang masih memegang kerang.


Mickey berinisiatif mengelap dagu Tita yang terkena saos, dan hal kecil itu tak luput dari penglihatan Loudy. Oh, ayolah Loudy enyah kan pikiran kelak ini.


"Ta, pelan-pelan saja makannya nanti kamu tersedak." Tita menyeruput kerang itu dengan semangat, "Tidak akan ada yang merebut makananmu, Ta." lanjutnya lagi.


"Sudah, kamu jadi tidak makan apapun kalau terus mengkhawatirkan Tita," Mickey memberikan kepiting untuk Loudy. Tita tersenyum melihatnya, sudah mulai berani yaa Mickey, hehe.


"Wah ... aku kenyang sekali."


"Bagaimana bisa kamu tidak kenyang kalau kamu makan sebanyak itu?" ledek Mickey.


"Aku kan lapar sekali tadi, Mickey. Jadi wajar saja aku makan banyak."


"Sebelum kamu makan besar, kamu sudah menghabiskan dua potong cheesecake kalau kamu lupa." Ha ha ha.


Loudy sampai mengangkat ke dua alisnya, "Itu karena aku menunggumu lama," jawab Tita.


"Lho, kamu yang enak-enak makan, kenapa malah menyalahkan aku. Dasar." Loudy mengacak-acak rambut Tita. Mereka berdua tertawa senang, dan Mickey mengabadikan momen itu, cekrek!


"Eh, ada ice cream." tunjuk Tita, matanya berbinar. "Kalian mau?"


"Tidak ah. Aku bahkan tidak sanggup minum sekarang."


"Kalau begitu kalian tunggu di sini, aku beli dulu."


"Ta, kamu masih sanggup? Nanti saja belinya, perut kamu bisa sakit."


"Mickey, tadi kan aku makan pedas, jadi sekarang waktu yang tepat untuk makanan dingin dan manis."


"Kalau begitu aku saja yang menyeberang membelikannya."


"Tidak perlu, kamu tunggu disini saja ... temani adik ipar aku." he he he.


***


London.


Nathan dan Brian baru saja sampai di kamar hotel tempat Nathan menginap tepat pukul satu dini hari. "Ah, akhirnya selesai juga." sesuai perhitungan, pekerjaan mereka selesai lebih cepat dari jadwal.


"Ha ha ha, aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa jadi sangat kreatif hanya karena ingin pulang cepat dan bisa memeluk Tita-ku." Nathan tersenyum dengan bangga.


"Lho, anda baru menyadarinya tuan?"


"Hei, kamu sedang memuji ku atau meledek ku?"


Ha ha ha. Buk! Brian terkejut dengan bantal sofa yang melayang tapi untungnya dia cukup cekatan menangkapnya. Lihatlah laki-laki berkuasa ini, bagaikan ikan yang keluar dari kolam ketika sudah berjauhan dengan istrinya. Bayangkan saja, dia harus menjadwal ulang dan memadatkan semua pertemuan dan perkerjaan sehingga mereka bisa memangkasnya menjadi tiga hari. Laki-laki bucin yang sekarang berada di hadapannya adalah laki-laki yang sama yang beberapa bulan lalu masih menjadi penguasa yang otoriter, keras kepala dan tidak kenal kata 'wanita'.


"Brian siapkan penerbangan ku pagi-pagi, aku ingin segera memeluk ISTRI-ku." Nathan sengaja menekankan kata istri untuk membalas Brian, dan masuk ke kamarnya.


Sial! aku tau kamu sudah menikah, apa hebatnya??? Argh!! aku juga tak ingin menikah!! sebal juga Brian menerima ejekan Nathan. Dasar bucin!


Karena sudah hampir pagi, Brian pun memutuskan tidur disini saja, di ruang tamu kamar sang tuan muda. Baru saja dia mengambil ponselnya untuk mengabarkan bawahannya untuk menyiapkan pesawat, ponselnya berdering dan dia merasakan jantungnya mendadak berhenti ketika mendengar apa yang disampaikan penelepon. Deg!!


***


"Kalau begitu aku saja yang menyeberang membelikannya."


"Tidak perlu, kamu tunggu disini saja ... temani adik ipar aku." he he he.


Tita menyeberang jalan menghampiri penjual ice cream, dia sudah tidak sabar untuk merasakan kenikmatan rasa dingin dan manis dari ice cream itu, saat itu Tita masih mendengar suara Mickey yang berkata bahwa dia dan Loudy akan menunggu nya di bawah pohon tak jauh dari tempat mereka berdiri … dan Tita pun mendengar suara teriakkan Loudy yang mengatakan 'Awas Tita!!!' … namun Tita sudah tidak dapat lagi memikirkan apa yang membuat Loudy meneriakkan kata-kata itu, karena pada detik berikutnya Tita hanya merasakan tubuhnya yang terguling keras dan kepalanya yang membentur tepi terotoar, sayup-sayup dia mendengar teriakan-teriakan histeris memanggil namanya, dan dia pun merasakan cairan kental dan hangat yang ikut mengalir di pahanya… dan seketika itu pula pandangannya menjadi gelap.


"Titaaaaa!!!!" Loudy dan Mickey berlari menghampiri Tita yang sudah tergolek tidak sadarkan diri. Waktu seakan berhenti di sekeliling mereka.


"Titaaaa … tolooooong!! Tolooooong!!!"


Suasana disana langsung kacau, beberapa satpam yang sedang bertugas ikut berlari ke tempat kejadian, satu orang dari mereka memanggil ambulans. beruntung di mall tersebut memang tersedia ambulans untuk keadaan yang darurat.


"Tita, bangun, Ta …" Mickey tidak berani mengangkat tubuh Tita, bahkan untuk sekedar menggerakkan nya, dia takut akan membuat cidera Tita makin parah.


Ketika ambulans datang, petugas medis langsung membawa Tita, Mickey menarik Loudy agar ikut menemani Tita. Mengapa waktu seakan sangat lambat. Loudy menangis dan mencengkram erat jaket Mickey … Ya Tuhan, selamatkan sahabatku.


"Tita, bangun … aku janji akan selalu menemani mu makan apapun, akan selalu mendengar semua ceritamu … Jangan menyerah Tita, aku dan Loudy disini menunggu mu, kita sayang kamu …" mati-matian Mickey menahan tangisnya. Makin stress dia karena mendengar mesin EKG yang berbunyi. Argh … kenapa ambulans ini lambat sekali.


Ketika mereka tiba di pelataran rumah sakit, para suster sudah siap dengan brankar untuk membawa Tita ke ruang penanganan. Mereka bergerak dengan cepat, bahkan ada satu suster yang berlari dan menarik salah satu dokter yan kebetulan sedang memeriksa jadwalnya.


"Dokter, ada korban tabrak lari, pasien sudah tidak sadarkan diri." Sang suster langsung berlari bersama dokter itu untuk menerima pasien gawat darurat.


"Astaga, Tita?!!" Ya dokter itu adalah Axel, sungguh dia tidak menyangka korban tabrak lari itu adalah istri sahabatnya. "Siapkan ruangan sekarang." Begitu perintahnya. "Loudy, kakakmu tau soal ini?" Loudy menggeleng, dia sudah tidak ada tenaga untuk melakukan apapun. "Aku yang akan mengatakannya nanti."


"Dokter, tolong selamatkan Tita." Mickey pada akhirnya tidak dapat menahan tangisnya, sendinya lemas seperti tidak bertulang.


"Pasti, kita berdoa saja. Aku akan usahakan yang terbaik … karena kalau tidak, bisa tamat riwayat rumah sakit ini oleh kakakmu." Axel tidak sedang bercanda, karena sejak dia melihat siapa pasiennya … jantungnya pun sempat berhenti karena kagetnya.


Lampu ruang penanganan itu menyala, Loudy dan Mickey luruh tergolek di bangku tunggu. Tita, kamu harus kuat.


***


Karena sudah hampir pagi, Brian pun memutuskan tidur disini saja, di ruang tamu kamar sang tuan muda. Baru saja dia mengambil ponselnya untuk mengabarkan bawahannya untuk menyiapkan pesawat karena mereka akan pulang pagi, ponselnya berdering 'Axel' … ada apa tumben sekali dia menghubungiku jam segini.


Brian mengeser tombol hijau, "Halo, ada masalah apa?" dan dia merasakan jantungnya mendadak berhenti ketika mendengar apa yang disampaikan penelepon. Deg!! "Apa yang kamu katakan?!!" Ya, Tuhan. Keringat dingin langsung memenuhi pelipisnya. Bagaikan ada sambaran petir di siang hari, berita yang sangat mengejutkan … bagaimana dia menyampaikan berita ini ke sang tuan muda??


Brian melangkah gontai, berdiri di depan pintu kokoh yang baru beberapa menit lalu di masuki sang tuan. Bagaimana reaksi tuan nanti? Maka dengan terlebih dahulu menarik nafas panjang, Brian kemudian mengetuk pintu itu, tok tok tok.


"Ada apa?" Sang tuan sudah mandi rupanya, badannya sudah segar, rambutnya basah. Ah, aku jadi tidak sanggup mengatakannya. "Hei, Brian kenapa?"


"Tuan, kita pulang sekarang." Dia menelan ludah dengan susah payah.


"Kita istirahat dulu saja sebentar." Nathan sudah akan menarik kembali pintunya.


"Nona Tita, kecelakaan tuan … tabrak lari."


Nathan terdiam, dia sulit menerima apa yang di dengarnya. "Apa katamu?"


"Nona Tita, kecelakaan tuan … tabrak lari. Axel baru saja menghubungi ku, dia yang menangani nona di rumah sakit."


Nathan masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel, dompet dan sebuah kotak beludru. "Ayo kita pulang!!"


Mereka langsung menuju bandara, dalam perjalanan, Brian sibuk menghubungi beberapa orang, untuk mengurus barang-barang yang ditinggalkannya dan kru pesawat yang akan membawa mereka pulang.


Nathan masih terdiam, bahkan sampai pesawat yang mereka naiki lepas landas. Sayang, tunggu aku … Rasanya, dia tengah mengulang peristiwa dulu, ketika sang papi masuk rumah sakit untuk yang terakhir kalinya. Nathan sungguh berdoa agar Tuhan masih menyelamatkan istrinya. Rasa lelah dan letihnya hilang seketika, berganti kecemasan dan pikiran yang membawanya ke masa lalu.


Brian menyerahkan segelas susu hangat untuk Nathan, "Brian apakah ada kabar terbaru dari Axel?"


"Belum, tuan." Nathan memejamkan matanya, sesungguhnya dia ingin berlari memeluk Tita-nya … benar-benar ingin ada disisinya. "Aku khawatir sekali, Brian."


"Aku tau, tuan. Tapi Axel sedang menangani nona, dia pasti mengusahakan yang terbaik." Brian memegang bahu Nathan, menyalurkan kekuatan dan ketenangan. "Saya sudah meminta seseorang mengusut kasus ini, dan Thomas juga sudah mengerahkan anak buahnya mengecek semua CCTV yang ada di sekitar sana."


"Aku serahkan pada kalian." 


Brian tidak pernah melihat Nathan yang serapuh ini, tidak ada semangat yang menggebu-gebu seperti biasa. Wajar saja, separuh jiwanya sedang berjuang untuk hidup, bahkan dia belum tau bagaimana keadaannya.


***


"Nona Loudy, bagaimana keadaan Tita?" Sang ibu dan sang mami baru tiba. Loudy yang melihat kedatangan mami dan Ibu langsung memeluk mereka.


"Tita masih di dalam, Kak Axel yang menangani, mi."


"Nyonya, tante … duduk dulu." Mickey membawa mereka untuk duduk. "Kejadian tadi sangat cepat, saya sedang bersama Loudy ketika Tita menyeberang untuk membeli ice cream, seharusnya saya tidak membiarkannya. Tapi …" Mike terguncang, dia sangat menyesal tidak bersikeras menahan Tita tadi.


"Bukan salahmu, Mike. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ibu Tita tau apa yang sedang di pikirkan Mike, memang sang anak yang jadi korban tapi Mike dan Loudy pasti terguncang juga karena kejadian itu terjadi tepat di depan mata mereka.