Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 26



Waduh ... kok jadi aku yang tersudut? Dia marah, ya? Gawat nih! Tita melihat sang tuan muda yang tertunduk, kemudian beralih ke Loudy yang hanya mengangkat kedua bahunya.


"Hm, tuan. Bukan maksud aku begitu ... Aku ..."


"Lihat, kan? Bahkan kamu masih memanggil aku dengan sebutan 'tuan' padahal aku calon suamimu."


Hah, apa lagi sih. "Jadi aku harus panggil anda apa?"


"Nona bisa memanggil dengan panggilan yang lebih akrab." Brian mencoba memberi solusi.


"Nathan? Aku boleh panggil Nathan?"


Tak ayal hal sekecil itu membuat pipi sang tuan muda merona. Ya. Dia senang. Sepertinya memang hanya Tita yang bisa menaklukkan sang raja. Ha ha ha. Loudy yang melihat perubahan di wajah sang kakak pun merasa senang. Aman. Pikirnya, maka untuk lebih memuluskan jalannya agar terhindar dari nasib buruk maka, "Aku rasa kamu panggil 'sayang' juga gak masalah, malah terdengar lebih hangat ... iya, kan kak?"


Kini rona merah sampai ke telinga sang tuan muda, untuk menyembunyikan rasa malunya dia memalingkan wajahnya. Sontak reaksi Nathan tersebut membuat kawan-kawannya tertawa makin keras.


Sayang? Duh, malu banget gak sih? Ngapain sih, Loudy memberikan saran seperti itu? "Ah, maaf ... boleh pelan-pelan dulu? rasanya aku ..."


"Hm, iya, iya ... baiklah kamu bisa melakukannya pelan-pelan. Aku tidak keberatan kau memanggilku Nathan."


Yeayy ... berkat sang sahabat, Loudy terbebas dari amukan sang kakak. Namun, dia harus rela di antar pulang oleh Axel. Kenapa? Tentu karena sang kakak ingin menghabiskan waktu dengan calon istrinya sebelum keberangkatannya esok.


"Kak Axel, aku baru tahu kalau kak Nathan bisa setakluk itu di hadapan Tita. Padahal biasanya gak ada kata 'kesalahan' dalam kamusnya. Aku sudah takut tadi dengan hukuman yang akan diberikan padaku."


"Kakakmu itu kalau urusan orang yang di sayangnya pasti seperti itu. Bucin parah. Semoga teman kamu tidak melakukan hal yang membuat dia sakit hati."


Deg. Loudy melihat Axel, gak mungkin sepertinya. Tita tidak mungkin melakukan hal itu, kan?


"Brian, pulang saja. Aku tidur di sini. Besok pagi jemput aku di sini."


"Baik, tuan. Selamat beristirahat."


Nathan berjalan di sisi Tita masuk ke apartemen. "Kenapa kamu tidak pulang?"


"Aku menginap di sini saja."


"Hah! menginap bagaimana?" Tita waspada.


Tuk. Satu sentilan halus mendarat di keningnya. "Aku kan punya unit sendiri di sini."


Sambil mengusap keningnya Tita berfikir, Oh iya, aku lupa. Ting. Tiba di lantai 7, "Aku boleh minta minum, kan?"


Uh, memang di tempatnya tidak ada minum apa? Nathan masuk sebelum di persilahkan masuk. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya. Ah, kalau dilihat dari dekat pria ini memang sangat tampan.


"Tuan, minum anda." Tita menyodorkan gelas yang di pegang nya.


"Lho, kenapa masih memanggilku tuan?"


Alih-alih minum, Nathan malah meletakkan gelas itu di meja ... dia menggenggam tangan Tita. "Sebenarnya, aku lebih senang kalau di panggil sayang." katanya penuh harap. "Tapi tidak apa, aku akan menunggu."


"Iya, maaf."


"Besok aku pergi cukup lama. Aku tidak bisa melihat wajah mu langsung seperti ini," sebelah tangannya mengelus pipi Tita lembut. "Tolong jangan lakukan hal bisa memancing amarahku seperti tadi ya?"


"Hal seperti apa?" Tita menahan tangan Nathan yang sedang mengelus pipinya. Dia merasa geli. Seluruh bulu kuduknya meremang.


"Aku tidak suka kamu di lihat banyak mata seperti itu, aku tidak suka kamu bernyanyi seperti tadi di hadapan mereka."


"Lho, tapi tadi kamu bilang suara aku bagus?"


"Iya, tapi bernyanyi lah hanya untuk aku. Di depan ku, jangan di depan orang lain."


"Kenapa?" Tita merasa rendah diri sekarang.


"Tidak. Bukan seperti itu, apa sih yang kamu pikirkan?" Hi hi..


"Lalu kenapa? Kenapa aku tidak boleh tampil di depan orang lain? Kamu malu?"


Ha ha ha. "Aku tidak malu. Aku cemburu!" Mata mereka saling beradu, menyelami diri masing-masing. Ada perasaan hangat dan tenang di hati Tita, perasaan yang baru kali ini dia rasakan. Berbeda dengan Nathan, dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat ... Ah. aku tidak sanggup menahannya, dan entah siapa yang memulai semuanya, karena sekarang posisi mereka sudah sangat nyaman, he he. Nathan mencium bibir Tita dengan tangannya menahan tengkuk sang gadis, tidak ada perlawanan dari sang gadis yang sepertinya juga menikmati ciuman ke duanya. Walaupun belum mahir karena Tita belum bisa membalas ciuman itu, tapi secara naluri dia sudah mulai bisa mengatur nafasnya.


Nathan berhasil menyudahi kegiatannya, walau dengan tidak rela. Dia takut kebablasan, huh ... gadis ini memang mampu membuatnya loose control. Tita sudah seperti udang rebus di tempat duduknya, wajahnya tertunduk. Duh! Apa yang aku lakukan?


"Sayang," Nathan mengangkat wajahnya. "Aku akan pergi besok pagi, kita akan bertemu di hari pernikahan kita. Jaga dirimu baik-baik, jangan buat aku khawatir disana. Karena aku pasti tidak bisa menahan diri untuk tidak terbang ke sini kalau ada apa-apa denganmu."


"Iya."


"Aku pulang, ya." Tita hanya mengangguk. Dan satu kecupan manis di keningnya diberikan Nathan sebagai salam perpisahan. Selepas pintu itu tertut rapat, Tita merosot ke lantai, kakinya seakan tak bertulang ... Hah ... apa itu tadi, dan kenapa aku tidak menolak ciumannya. Apa aku sudah tertular mesum? Hei hati ... kenapa kamu serasa bahagia? Apa ini artinya aku juga suka padanya? tapi ... sejak kapan?


Dan semalaman, Tita tidak dapat tidur dengan nyenyak seperti biasa. Ah. Sudah pagi. Ayo! Fokus Tita. Dia menyemangati dirinya sendiri. Bangun dari tempat tidur, dia meraih ponselnya. Sepi. Tidak ada notifikasi apa-apa. Apa dia sudah berangkat? Di buka pesan terakhir dari Nathan, itu kemarin. Kenapa dia tidak mengirimkan pesan apapun? Oh mungkin dia sedang di pesawat.


Dan kesunyian itu berlanjut hingga jam makan siang. Sang gadis gelisah, tentu saja. Laki-laki yang sudah membuatnya tidak bisa tidur nyenyak semalam seperti menghilang di telan bumi. Oke. Mungkin itu agak drama. Tapi biasanya dia tidak pernah alpa mengirimkan pesan untuk aku. Hm, berapa lama sih penerbangan dari sini ke sana? Apa aku yang harus mengirimkan pesan duluan, ya? Setelah menimbang-nimbang akhirnya dia menuliskan pesan untuk sang calon suami, "Hai, kamu sudah sampai?"


Satu menit, dua menit, tiga puluh menit, satu jam, dua jam, ...


"Mickey ... nanti temani aku ke book strore ya?"


"Kamu mau beli sesuatu?"


"Iya, aku ingin cari novel."


"Baiklah."


Hingga jam pulang tiba, tidak ada satupun pesan balasan dari Nathan. Tita yang memang belum punya pengalaman rasanya bingung harus melakukan apa. Untuk itulah dia pergi ke toko buku, mencari referensi. Mengapa tidak mencari tau dari teman-temannya atau adik sang calon suami? Tentu saja karena dia malu. Dia tidak mau jadi bahan ledekan orang. Buku adalah pilihan terbaik mendapatkan informasi, dan tentunya dia tidak akan pilih kasih apalagi meledeknya. Tentu saja!