Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 17



Nathan sedang melakukan video call dengan sang mami, ketika pintu ruangannya terbuka. Dan masuklah seseorang, ditemani Brian. Dengan tangannya, sang tuan menginstruksikan agar orang itu duduk di sofa. "Mi, apa gak bisa seminggu aja? dua Minggu kelamaan mi," duh... gak sabar banget sih yang mau nikah, he he.


"Susah cari gaunnya sayang, yang ready modelnya biasa."


"Mi, nanti aku kesana sama Tita, yang jadi pilihannya mami modif aja biar makin cantik dan tidak biasa, aku rasa kalau seperti itu akan lebih cepat."


"Oke nanti kita ketemuan disana ya, sayang."


Dan dia mengakhiri percakapannya. Sang tuan muda berjalan menghampiri kedua orang yang sedang menyesap tehnya. "Apa ada yang ingin kamu laporkan?" Lelaki itu menyerahkan ponselnya, terpampang disana sang gadis sedang makan disebuah kedai makan bersama seorang pria, slide yang kedua menampilkan sang gadis yang meletakkan kepalanya dimeja dan sang lelaki pindah duduk ke sebelahnya, slide ketiga wajah sang gadis tidak nampak karena dia menolehkan kepalanya menghadap lelaki itu, slide keempat mereka terlihat bahagia sambil menyantap makanan, dan di slide kelima sang lelaki meletakkan tangannya ke kepala sang gadis.


Woah... bisa dibayangkan bagaimana perasaan Nathan setelah melihat foto-foto itu? ada rasa terbakar dalam dadanya, jantung memompa lebih cepat, lengan kokoh itu makin kuat memegang ponsel sang informan, rahangnya makin mengeras. Sang sekretaris lah yang memang sangat mengenal sang tuannya, mencoba meluruskan kesalahpahaman dari sebuah foto, "Apa kamu tahu apa yang mereka bicarakan?" tanyanya kepada informan.


Sang informan melirik ke arah Brian, dan mendapat anggukan dari sang sekretaris yang artinya katakan saja apa yang kau dengar itu lebih baik daripada membiarkan lelaki bucin ini salah paham karena foto. "Nona itu menceritakan bahwa dia diajak menikah oleh anda, tuan, dan lelaki itu berkata bahwa anda adalah laki-laki yang tepat untuknya karena anda berani mengajaknya langsung menikah" katanya takut-takut.


Dan seperti yang sudah diprediksi Brian, wajah kaku itu terlihat rileks dan bahkan dia tertawa, "Lalu, apa lagi katanya?" dan sekarang malah bersemangat.


"Maaf, tuan. Jarak saya tidak terlalu dekat dengan nona, jadi saya tidak terlalu mendengar keseluruhan percakapan mereka."


"Ya, ya, ya ... baiklah kau boleh pergi dan lanjutkan pekerjaanmu. Brian, berikan bonus untuknya." Nathan kembali ke mejanya, merapikan pekerjaannya karena dia mau menjemput sang gadis untuk fitting baju. "Brian, kita jemput calon istriku ..." dengan senyum terkembang sang tuan melangkah keluar, diikuti sang sekretaris yang merasa sikap sang tuan makin aneh. Sweptail Rolls Royce itu masuk ke kawasan Mirae Contruction, belum lagi mereka parkir terlihat dilobi sang gadis keluar dari gedung dan masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya. "Brian, mobil siapa itu? Mau kemana mereka?"


Ah .. sial, sepertinya aku kecolongan. Gadis lincah itu pergi sama siapa sih? pikir Brian. "Ikuti mobil itu," perintah sang tuan. "Berapa banyak pria yang dekat dengannya sih!" Nathan kembali ke mode cemburunya, ketika dilihatnya sang gadis dan lelaki itu masuk ke sebuah toko buku. "Maaf, tuan." hanya itu yang bisa dikatakan oleh Brian.


"Ayo kita masuk!"


"Jangan, tuan. Anda akan menjadi pusat perhatian nanti." cegah Brian. "Sebaiknya kita tunggu di apartemen nona?" ide Brian kali ini setengah terpaksa dia katakan, karena takut sahabat sekaligus tuannya ini kembali teringat luka lamanya, tapi dia juga harus menenangkan tuannya. Nathan menatap tajam Brian, "Kamu tahu tempat Tita tinggal?"


Brian menghela nafasnya, "Emerald lantai 7." Sesaat Nathan tersentak dia terdiam, bagaimana bisa ... apakah ini hanya kebetulan? "Sejak kapan kamu tahu dia menyewa disana? Aku berharap ini hanya kebetulan, Brian."


"Saya baru tahu ketika mendapat salinan kontrak sewa unit itu kemarin, tuan." Nathan menyandarkan tubuhnya. "Saya sudah mencari tahu ke pihak apartemen, awalnya nona datang bersama tuan Mike ... kemungkinan besar tuan Mike lah yang menemani nona mencari tempat tinggal di sekitar Mirae. Dan pada saat penanda tanganan kontrak dan pindah, nona dibantu tuan Mike dan nona Loudy,"


"Oke, kamu ada kunci cadangannya kan?" kini senyum smirk menghiasi wajahnya.


"Tentu tuan," maka melakukan mereka ke apartemen Emerald.


"Ra, kamu suka baca novel?" Arga.


"Iya, sudah dari lama aku suka baca-baca novel, tapi sekarang lebih sering baca novel online, he he,"


"Banyak dong koleksi buku kamu," mereka masih berjalan diantara rak-rak buku.


"Lumayan, lah. Eh, mau cari buku apa lagi? Aku udah selesai."


"Yuk, ke kasir." Arga membayar bukunya termasuk milik Tita, dan sempat terjadi perdebatan karena Tita menolak untuk dibayarin Arga.


"Arga, aku gak suka kalau orang lain membayar belanjaan ku." tegas Tita.


"Ya udah, kapan-kapan kamu traktir aku aja sebagai gantinya, gimana?" karena malas untuk berdebat lagi akhirnya Tita mengalah. Dalam perjalanan pulang ke apartemennya, ponsel Tita berdering. Ah, Ibu.


"Iya, Bu? Aku dijalan pulang ... Hah, aduh aku gak tau Bu, tapi nanti ibu ikut juga? iya, baik .. iyaa Bu." Klik.


"Kenapa, Ra?"


"Ah, itu ibu aku ngajak pergi. Aku langsung pulang ya,"


"Iya, deh." Sampai di depan apartemen Tita pamit pada Arga. Berjalan menuju lantainya. Perasaan aku kok kayak gak enak gitu ya? Gak akan ada apa-apa kan, ya? Ibu ngajak pergi kemana sih? Eh, tapi tadi orang aneh itu gak ngabarin apa-apa kan, ya? Tita jadi membatin sendiri.


Brian tidak ikut menunggu disana, dia lebih memilih menghabiskan waktu di cafe bawah sambil mengecek pekerjaan, dia tidak ingin mengganggu sang tuan. Nathan kini ada di dalam unit apartemen yang dia beli 7 tahun lalu, untuk sang kekasih. Namun, sejak kejadian itu unit ini di biarkan kosong. Jika fikirkannya sedang kacau, dia biasa menyendiri di lantai 8 apartemen ini. Lantai 8 adalah miliknya yang memang dia beli agar bisa berdekatan dengan sang kekasih jika dia berhasil memboyong sang kekasih pada saat itu, tapi takdir berkata lain. Dan baru 3 bulan lalu dia meminta Brian agar unit ini di sewakan saja. Siapa yang sangka, jika penyewanya adalah gadis yang sudah meruntuhkan batu di hatinya. Mungkin ini memang sudah takdirnya. Mungkin benar yang dikatakan Brian, bahwa kita memangapa berjodoh.


Ruangan ini tampak lebih rapi dan hidup, ada rasa sakit ketika dia masuk lagi ke dalam unit di lantai 7 ini. Ada impian dan harapan ketika dia membeli unit ini. Seharusnya, ini adalah hadiah terindah untuk sang kekasih yang telah menerima lamarannya, dia akan memboyong sang kekasih bertemu dengan keluarganya, dan mereka bisa memulai hidup baru disini. Bahkan, dia sengaja membeli unit di lantai 8 agar bisa terus berdekatan dengan sang kekasih. Mimpi yang indah dan sempurna. Namun, apa mau dikata jika takdir berkata lain. Sesempurna apapun rencana kita, jika memang belum berjodoh maka untuk apa dipaksa?


Nathan kembali melihat-lihat ruang tamu yang apik tertata walaupun tidak banyak perabot disana, diatas meja di samping sofa ada beberapa foto Tita dan Mike ... sepertinya mereka sudah kenal lama , Tita dan sang Ibu, juga Tita dan Loudy dan ada foto dua orang sedang berpelukan dan sang gadis membelakangi kamera... Eh, ini siapa?


Ceklek! Nathan tersentak kaget, dan lebih kaget sang gadis yang baru masuk ke apartemennya!