
Setelah membersihkan diri, Tita naik ke tempat tidurnya dimana sudah ada sang suami disana. Sepertinya ini, saat yang tepat untuk membicarakan perpisahan. Pikirnya.
"Nath, ada yang mau aku bicarakan."
"Hm," jawabnya sambil tetap memainkan ponselnya.
Kok, cuma hm ... kalau aku yang jawab seperti itu saat ditanya dia marah. "Setelah acara wisuda nanti ... aku mau ikut acara perpisahan dengan teman-teman ku."
"Kamu itu sedang minta ijin atau hanya sekedar memberitahu aku?" jawabnya
Duh, jebakan nih ... hm, aku jawab apa yaaa. Tita berfikir dengan cermat. Karena bagaimanapun dia harus bisa membujuk sang suami untuk mengijinkannya pergi ke acara perpisahan itu. "Aku minta ijin kepada suamiku, agar dia mengizinkan aku pergi ke acara itu."
Jawaban macam apa itu? "Kalau aku tidak ijinkan? Bagaimana?"
"Kenapa? Aku akan selalu melapor padamu, kamu bisa menghubungi aku kapanpun ..." berdasarkan informasi dari kak Brian, aku bisa minta apapun dari Nathan asal aku bisa bernego dengannya.
Nathan memperhatikan perubahan kecil sang istri ... sejak kapan dia bisa bernego denganku? "Kamu mencoba bernegosiasi denganku, hm?"
"Aaa ... tidak sih," Tita bergerak membenarkan letak kepalanya sebagai peralihan kegugupannya.
Nathan menarik Tita mendekat, "kalau kamu mau nego ... coba tawarkan yang lebih sepadan untuk aku."
"Tawaran yang lebih sepadan? seperti apa?" tanyanya bingung.
Nathan tidak menjawab dengan mulutnya, tapi tatapannya mengisyaratkan banyak makna.
"He eh, kenapa melihatku seperti itu?"
Disaat yang sudah kondusif seperti itu, kadang ada saja yang pengganggu.
"Ponselmu bunyi," Tita mengingatkan.
"Huft, halo? Ada apa? Kalau tidak penting aku pindah tugaskan, ya! Hm, baiklah. Besok kita bahas lagi. Iya ... iya, thank you for your information." Klik. Nathan mengembalikan ponselnya kedalam laci.
Sebenarnya, Tita suka ketika laki-laki yang kini berstatus suaminya berbicara dengan bahasa Inggris, aksen yang dia gunakan sangat kental dan terdengar seksi. Duh, pikiran nakal! "Siapa yang telpon?"
"Thomas. Baiklah, sampai dimana kita tadi?"
"Hei, hei, hei, apa yang kamu lakukan?"
"Melanjutkan yang tadi ... memang apa lagi?" katanya dengan semangat.
Tita berusaha menahan tangan sang tuan suami. "Tadi kita sedang mengobrol."
"Oh ya? Seingat ku tadi aku ingin membebaskan piyama Donald bebek mu."
"Aaaaaa..... Nathaaan ...." Dan dengan sekali tekan lampu kamar pun padam, menyisakan sinar temaram dari sang rembulan.
Pagi yang cerah, Tita sedang menemani sang ibu di kamarnya. "Kamu terlihat bahagia, nak."
"Iya Bu, dia tidak seburuk yang ku pikirkan." Tita melipat baju-baju sang Ibu.
"Ibu bahagia kalau kamu bahagia. Tita, kamu canggung tidak dengan pekerjaan ibu?" tanya sang ibu sambil membenarkan anak rambut sang anak.
Tita menghentikan pekerjaannya, "maksud ibu?"
"Sekarang kamu sudah menjadi istri tuan muda sedang ibu hanya pekerja dirumah ini. Kalau kamu atau suamimu merasa terganggu dengan ibu, tolong katakan, ibu akan pergi dari rumah ini dan mencari pekerjaan lain."
"Aku tidak akan membiarkan istriku menjadi anak durhaka, Bu. Dan ibu adalah salah satu sumber kebahagiaan Tita. Aku bisa menikahi Tita juga karena restumu. Itu artinya kehadiran ibu dirumah ini juga sama pentingnya seperti mami, jadi jangan berfikir yang macam-macam, apalagi ingin pergi dari sini. Aku juga tidak masalah jika ibu tidak bekerja dan hanya tinggal disini."
Kedua wanita itu kaget dengan kemunculan tiba-tiba sang tuan muda. Apalagi, sempat-sempatnya dia menjawab pertanyaan Ibu yang ditujukan untuk putrinya. "Tuan muda," Ibu bangkit berdiri begitu melihatnya di ambang pintu.
"Kenapa kamu kemari?" Tanya Tita.
"Sudah, Bu, jangan sungkan seperti itu. Aku kemari mencari kelinci kecilku. Dia lari disaat aku lengah."
Sang ibu tertawa melihat tingkah anak dan menantunya. Oh, semoga rumah tangga kalian bahagia selalu. Do'anya dalam hati.
"Ibu aku bekerja hari ini, aku siap-siap dulu."
Mereka masuk ke rumah utama, melewati taman ... "Kenapa kamu nyusul, sih?"
"Aku tidak kabur, aku hanya menemui ibuku."
"Tapi kamu tidak bilang, aku mencari-cari di kamar tidak ada, pelayan bilang kamu ke rumah belakang."
"Iya, tapi kan aku tidak keluar dari rumah."
"Oh, jadi kamu mau keluar dari rumah?!"
"Ih, apa sih ... aku kan tidak bilang begitu, sayang."
"Lagi ..."
"Apa?"
"Bilang lagi seperti tadi." mulai merajuk.
"Yang mana?" hihi jarang-jarang aku dapat kesempatan menggodanya.
"Ah, tadinya aku mau mempertimbangkan permohonan perpisahanmu." skak! dalam sekejap situasi berubah. Sang tuan suami melenggang mendahului sang istri masuk langsung ke ruang makan.
"Hei, hei, tunggu ... sayang, sayang ..." Tita gelagapan kini, ternyata kesenangannya hanya dapat berlangsung beberapa menit saja. Nathan tersenyum penuh kemenangan karena dikejar-kejar sang istri ditambah dengan kata-kata sayangnya. Ha ha.
"Duh, mami ... pasangan ini bikin aku iri deh, berduaan terus..." sindir Loudy.
"Ayo, sarapan dulu." kata mami.
"Selamat pagi, tuan, nyonya, nona."
"Pagi Brian, ayo, ikut sarapan."
"Tita," panggil Loudy.
"Apa?" jawabnya.
"Kok aku merasa ada yang beda dari kamu ya?"
"Beda gimana?" Tita mengambil suapan ketiga makanannya.
"Entahlah, rasanya ada yang beda tapi aku juga tidak tahu apa."
"Apa sih? aku gak ngerti maksud kamu." Tita masih santai menanggapi.
Loudy makin memperhatikan Tita, menimbang-nimbang ... "Oh, kamu jadi lebih terlihat seksi, dada kamu lebih berisi sepertinya, ya?"
Spontan Tita menyemburkan makanannya, uhuk, uhuk, uhuk. Nathan yang duduk di sebelahnya dengan sigap mengambilkan minum untuk sang istri.
"Loudy, kamu apa-apaan sih?" tegur sang mami.
"Ha ha ha, ya ... maaf. Habis aku sudah memikirkan itu sejak kemarin. Dan baru dapat jawabannya tadi setelah aku memperhatikan."
Wah, Loudy memang tidak punya filter ya kalau ngomong ... bikin aku malu! Tita melirik sedikit ke arah sang tuan suami, hei ... ekspresi apa itu??? Apakah dia memenangkan Nobel? kenapa malah terlihat bangga sekali sih.
Pemandangan di meja makan itu jadi sangat menarik dan membuat siapapun yang melihat akan tersenyum ... sang istri yang malu setengah mati karena perkataan sang adik ipar, dan sang tuan suami yang merasa bangga dengan hasil kerjanya seolah-olah dia adalah penyelamat dunia.
Aduh, aku tidak bisa membayangkan, seperti apa malunya aku kalau si lemes itu melihat jejak-jejak yang ditinggalkan sang tuan suami di tubuhnya. Pikir Tita.
Brian sedang menunggu di dekat mobil ketika Tita menghampiri, "Hei, kak Brian."
"Iya, nona."
"Aku sudah mengikuti caramu untuk bernego dengannya agar dapat ijin. Tapi kenapa tidak berhasil?"
"Tidak mungkin, nona. Tuan tidak mungkin menolak nona."
"Buktinya, aku masih belum dapat ijin?"
Sang nona memang pernah bertanya padanya, bagaimana cara supaya sang tuan suami mau memberikan ijin padanya untuk ikut acara perpisahan kampusnya. Dan Brian yang sudah melihat dengan mata kepalanya bagaimana bucin-nya sang tuan, hanya bilang, jangankan hanya ikut perpisahan ... nona minta apapun pasti akan dikabulkan asal nona mau mengatakan apa adanya. Kemudian, karena dia juga berfikir akan keuntungan sang tuan, maka Brian pun menambahkan, namun anda tahukan kalau tuan muda seorang pebisnis, jadi nona saya sarankan bernegosiasilah agar makin mudah proses ijinnya, tawarkan hal-hal yang sekiranya tuan muda menyukainya. Begitulah pembicaraan mereka kala itu, sang sekretaris yang benar-benar memikirkan kebahagiaan sang tuannya.