
Setelah menimbang-nimbang, sang tuan muda mencoba menghubungi sang gadis. Nihil. Tidak diangkat. Nathan makin gelisah di ruangannya. Untung jadwal hari ini hanya mengecek laporan-laporan terkait resort yang tengah dibangunnya. Kemudian Nathan menghubungi Loudy, diangkat pada deringan ke tiga.
"Apa, kak?" suaranya setengah berbisik.
"Kamu dimana?"
"Aku di kelas, ada apa?"
"Ah, aku menghubungi Tita tapi dia tidak mengangkat ponselnya."
"sebentar, kak." Loudy ke luar dari kelas. "Sudah ku duga... kalian sedang bertengkar?"
"Hah. Sok tahu."
"Kak, aku kenal bagaimana sahabatku. Dia sudah aneh beberapa hari ini. Tidak biasanya dia murung seperti itu. Jadi ada apa dengan kalian?"
"Dia tidak mengatakan apa-apa?"
"Ayo lah, kak. Ini kali pertama dia dekat dengan laki-laki dalam arti yang sebenarnya, kalau kalian ada masalah dan terpisah oleh jarak dia pasti bingung apa yang harus dia lakukan."
"Hm ..."
"Dia sahabatku dan kamu kakakku, kalau kalian bertengkar kenapa kamu tidak meminta bantuan kepada ku. Jadi kan aku bisa menemaninya, jadi dia bisa cerita padaku. Masalah kalian tidak akan berlarut-larut seperti ini."
"Berlarut-larut? Memang kamu tahu sejak kapan ..."
Loudy memotong ucapan kakaknya, "Sejak hari kedua kamu pergi ke Inggris."
"Hah ... apa yang Tita lakukan? Kok kamu bisa tahu?"
"Tita berkali-kali melirik ponselnya, mengeceknya, dan itu bukan kebiasaannya. Dan kemarin dia memastikan apa kamu menelpon ku dan mami."
"Aduh, aku jadi ingin pulang. Ini hanya salah paham ..." Nathan menjelaskan semuanya pada sang adik, rasa cemburunya yang memicu sikap acuhnya beberapa hari kebelakang. Juga tentang kejadian tadi saat Anya tiba-tiba masuk dan membuat semuanya makin runyam.
"Ha ha ha ... kalian kok lucu sih. Aku harus cerita sama mami nih." Ha ha ha ... Jadi Tita sudah mulai ada hati dengan kak Nathan. Aaaah ... aku gak sabar mau pulang.
"Brian, apa aku tidak bisa pulang lebih cepat? Tita salah paham padaku gara-gara Anya."
"Tuan, tinggal satu hari saja. Besok hari terakhir kunjungan anda dan kita bisa pulang segera setelah pembukaan. Jika anda pulang sekarang, tidak ada yang menggantikan anda besok."
Ya, sang tuan muda tahu besok adalah puncak acara. Dia harus hadir karena banyak relasi bisnisnya dari berbagai lokasi juga hadir untuk pembukaan resort-nya. Dan untuk meyakinkan sang tuan, Brian mengatakan "Saya akan menyiapkan makan malam romantis untuk Anda bersama nona, tuan. Saat itu anda bisa mengatakan kejadian yang sebenarnya agar kesalahan pahaman ini selesai sebelum hari pernikahan anda." sang sekretaris sangat menekankan kalimat pernikahan anda, agar sang tuan terpancing.
"Baiklah. Kamu istirahat lah, aku mau mengirimkannya pesan. Mana ponselku, Brian."
Brian mengambilkan ponsel sang tuan dari atas meja. Ya, lakukan apa yang ingin anda lakukan selama itu membuat anda tenang, tuan.
Sementara itu, Tita sedang menikmati mi instan panas ditemani minuman Chocolat kesukaannya sambil memikirkan nasibnya. Pernikahan tinggal menghitung hari. Tapi hari ini dia di kejutkan dengan si calon suami yang dekan dengan wanita lain di sana. Dia merasakan kesedihan itu, mungkin dia harus menutup rapat hatinya. Hati nya yang baru saja terbuka. Setidaknya, mengetahui di awal jauh lebih baik daripada mengetahuinya setelah dia benar-benar memiliki perasaan yang dalam. Tring ... satu pesan masuk di ponselnya. Tuan arogan. Dibukanya pesan itu, kamu sudah tidur? Hah. Hanya itu? Dasar laki-laki. Di tutup pesan itu tanpa berniat membalas nya.
Belum lagi Tita memejamkan matanya, ponselnya berdering. Panggilan video. Nathan. Namun, Tita enggan mengangkatnya. Ponsel itu terus berdering entah sudah ke berapa kali. Pagi harinya, ketika diusap layar ponselnya ada 10 panggilan video dan 16 panggilan suara tidak terjawab. Huh. Pantas saja perusahaannya berkembang pesat, dia adalah orang yang sangat gigih, batinnya.
Waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, setelah selai mandi dan masih mengenakan bathrobe Tita yang sudah kelaparan memutuskan untuk sarapan dahulu sambil menunggu rambutnya kering. Hari ini dia mau santai sedikit karena sang nona akan menjemputnya. Ting... Tong. Cepet banget si nona sudah sampai, belum juga ada sejam.
Ceklek.
"Sayang..."
Hah. Kok dia bisa ada disini? Tita terpaku, kaget. Apa aku berhalusinasi?
"Kamu tidak mempersilahkan calon suamimu masuk?"
"Ah. Iya. Masuk, tuan. Nathan."
"Kamu sedang apa? Sepertinya kamu kaget sekali melihat aku disini?" Ha ha ha ...
"I ...iya. Anda kok bisa ada disini? Bukannya ..."
"Aku tidak bisa menunggu lagi, aku tidak mau ada kesalahpahaman diantara kita." Nathan menatap Tita lekat, oh... dia sangat merindukan gadis ini, untung dia datang cepat jadi bisa bertemu gadisnya disini. Hm ...sepertinya dia baru mandi, tampak segar sekali, dan ... Blush! Sang tuan muda merona, dia ... kenapa masih pakai jubah mandi?
Tita melihat wajah Nathan yang merona itu, "Kenapa? Kamu sakit?"
"Apa kamu biasa seperti itu kalau menerima tamu?"
"Seperti apa?"
"Tita, sebelum aku khilaf ... sebaiknya ganti pakaianmu dulu." Nathan memalingkan wajahnya, bukan karena dia tidak mau menatap Tita. Tapi karena dia menahan desakan dalam dirinya. Ha ha ha.
Aaaargh... Tita langsung berlari ke kamarnya. Oh Tuhan, bodoh sekali aku!!
Ehm, Ya ampun... Aku seperti ABG saja. Nathan mencuci mukanya di wastafel, berharap air dapat meredam gairahnya.
Tita, di kamarnya ... gelisah sendiri, dia sudah berpakaian lengkap. Hanya saja, rasa malu itu masih mendominasi. Apa bisa aku keluar seolah tidak terjadi apa-apa? Dia berdiri di depan cermin, memperhatikan penampilannya. Ya, sudah tertutup. Oke, kamu kuat Tita! Dia berjalan keruang tamu. Di lihatnya dua kepala memandang ke arah tablet yang di pegang seseorang. Siapa?
"Tuan, Brian?" Tita menyapa.
"Selamat pagi, nona. Maaf saya mampir kesini."
"Ah, tidak apa-apa. Mau sarapan sama-sama?" Lega. Karena merasa senang ada orang lain selain sang tuan muda, jadi Tita berinisiatif mengajak Brian untuk sarapan bersama.
"Kenapa hanya Brian yang kamu ajak sarapan? Apa kamu tidak tahu aku langsung ke sini saat tiba di bandara tadi?" wah, cemburu lagi dia. Padahal tadi sang tuan sengaja meminta Brian datang agar dia tidak canggung setelah inseden jubah mandi, dan sekarang dia malah kesal sendiri.
Ya ampun, laki-laki ini gampang banget marah sih. Pikir Tita. "Bukan begitu," Tita memikirkan kata-kata yang akan di ucapkan, ah! "Tuan Brian kan tamu kita, jadi wajar kalau aku menawarinya sarapan bersama kita." Nah, senang kan kamu. Aku tahu fokusmu hanya pada kata-kata 'tamu kita' ha ha ha.
Tentu saja