
Wah, taman ini sangat cantik dan terawat. Pantas saja banyak yang suka datang kesini. Namun, belum lagi Tita turun dari mobil sang suami sudah mengatakan, "Brian, kembali ke hotel."
"Lho, aku kan mau jalan-jalan ..." protes Tita.
"Nanti saja, Brian, jalan." Nathan mengucapkan itu tanpa melihat ke istrinya. Makin tidak karuan lah perasaan Tita. Padahal dia sudah berjanji tadi, kalau aku mengikuti kemauannya dia akan mengajakku jalan-jalan.
Huftt .. tuan muda, mengapa kamu terus membuat luka untuk istrimu. Author.
Sesampainya di lobi hotel, "Tita, naiklah ke kamar. Ada yang harus aku kerjakan dengan." perintah Nathan.
"Mengerjakan apa?" sungguh dia sudah berusaha menahan amarahnya.
"Apa aku harus memberitahu kamu?" hah. jawaban apa itu, ya ampuuun.
"Kalau kamu keberatan aku tahu, ya jangan katakan." Brakkk! Tita membanting pintu mobil tepat di depan wajah Nathan. Tita tidak lagi perduli dengan petuah-petuah yang pernah dikatakan sang ibu, baginya Nathan sudah keterlaluan. Tidakkah laki-laki itu berfikir dia sudah menyakiti perasaannya?
Karena perlakuan Tita, bukan hanya Nathan yang kaget. Brian pun sempat terlonjak karena suara itu keras sekali di telinganya. "Kenapa dia galak begitu hanya karena batal jalan-jalan?"
"Tuan, apa anda yakin hanya karena batal jalan-jalan?" tanya Brian.
"Lupakan, ayo kita ke tempat Thomas." perintahnya. Nathan sama sekali tidak menggubris perlakuan Tita, karena dia hanya menganggap istrinya ngambek karena tidak jadi jalan-jalan. Toh, mereka masih bisa jalan-jalan nanti. Masih banyak waktu.
"Ah, sial ... aku tidak punya kunci pintu." Tita baru menyadari, dia tidak pernah keluar dari kamar ini sejak dia datang. Akhirnya, mau tidak mau di turun lagi ke resepsionis untuk minta kunci cadangan. Huh, kenapa wanita ini lagi. Batinnya. "Halo, saya tidak bisa masuk kamar karena tidak bawa kunci. Apakah anda bisa menolongku?"
Resepsionis itu, Anya, yess kesempatan. "Di kamar berapa, nyonya?" dengan senyum ramahnya. Tita diantar resepsionis itu ke kamarnya, sebenarnya kan tidak perlu. "Anda sudah lama menikah dengan tuan Nathan?" tanyanya.
"Kamu kenal suamiku?" Tita menjawab santai, mungkin ini kesempatan mencaritahu, pikirnya.
"Kami teman kuliah, dulu. Tapi sepertinya dia sudah lupa."
"Oh, ya? Mungkin dia lupa. Teman kuliah dimana? Mungkin nanti aku bisa tanyakan kepada suamiku, siapa tahu dia jadi ingat." pancing Tita.
Ha ha ha ... dengan wajah yang dibuat malu-malu, dia mengatakan, "Maaf, nyonya, bukan maksud untuk mengusik anda, tapi dulu di kampus kami sepasang kekasih," dia tertawa senatural mungkin. "Tapi itu cerita lama, nyonya. Saya hanya tidak menyangka bisa bertemu tuan Nathan disini. Tolong, jangan marah ya, nyonya."
Jleb. Benar, ini Anya yang mereka bicarakan. Tapi Tita menanggapi dengan senyuman. "Tidak, aku tidak marah ... itukan cerita kalian dulu. Ah, terima kasih ya sudah mengantar."
Hah, wanita seperti itu yang dipilih Nathan untuk menjadi istri? Apa bagusnya, hm ... oke, sepertinya akan mudah bagiku menggoda Nathan lagi. Anya berdialog sendiri, misinya adalah memikat Nathan kembali. Semenjak dia tahu bahwa Nathan mantan kekasihnya dulu adalah seorang pewaris Petra Corporate, dia menjadi marah ... dia telah melepaskan tambang berlian begitu saja demi mendapatkan kepuasan dari laki-laki yang kini hanya menjadi benalu baginya.
Tita duduk di sofa dan berfikir, dia tidak suka Nathan yang seperti ini. Dia jauh-jauh datang kesini bukan ingin diperlakukan seperti ini. Dia fikir, hubungannya dengan laki-laki yang mengejarnya tanpa kenal lelah akan seindah cerita drama dan novel. Dan parahnya, sejak pergi meninggalkannya tadi laki-laki itu belum menghubunginya. Dia juga tidak menyangka, bahwa mantan kekasih sang suami ada disini. Dan apa tadi katanya? Dia tidak tahu Nathan disini?? Mustahil kan? Ini kan hotel milik Nathan. Atau jangan-jangan, mereka sebenarnya masih memiliki hubungan. Tadi, ketika dia menyapa Nathan ... laki-laki itu tidak menjawab, kan? Ah, bodoh. Perubahan sikap Nathan adalah sejak wanita itu menyapanya! Tita menangis ... menangisi kebodohannya. Padahal aku sudah memberikan semuanya, cintaku, sayangku, waktuku, milikku ... Apa semua laki-laki kaya seperti itu? Apa dia hanya penasaran, dan setelah tidak penasaran lagi ... dia membuang ku? Makin deras air mata yang keluar ... menyesal. Sudah, cukup ... aku tidak boleh menangis lagi. Tita membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian miliknya, dia harus kuat ... ibu dan kakaknya tidak boleh tahu kesedihannya, dia dari dulu tidak pernah mau menjadi beban bagi orang-orang yang sayang padanya.
Tita keluar hotel ketika malam menjelang, dia berfikir ... yang sudah terjadi ya sudahlah, pikirkan saja bagaimana caranya agar tidak ada masalah baru. Dia pergi ke apartemen sang kakak, tapi sebelum itu dia mampir ke apotik membeli vitamin dan pil kontrasepsi, dia tidak tahu apakah pil itu akan tetap bekerja ketika dia sudah melakukan berkali-kali sebelumnya. Dia hanya berusaha ... berusaha untuk tidak sakit hati lagi, untuk bisa tetap bertahan akan segala yang mungkin terjadi kedepannya.
"Aku serius,"
"Kamu tidak memikir perasaan istrimu?"
"Dia pasti mengerti, aku akan menjelaskan padanya nanti."
"Sejak kapan kamu tahu kalau mereka saling berhubungan?"
"Sejak Brian menceritakan bahwa dia menguntitnya,"
"Hei, wanita itu bukan menguntitku." Brian mengklarifikasi.
"Dan tadi siang ketika dia menyapaku, dia memanggil ku 'tuan Petra' bukan Nathan."
"Bukankah itu hal biasa?" tanya Thomas.
"Tidak, sebelumnya Anya tidak pernah tahu jika Nathan adalah tuan Petra." Rega angkat bicara.
"Tapi, maksudku. Dia bekerja di hotel ini, tentu dia tahu kalau pemiliknya adalah tuan Petra, dong? apa yang aneh."
"Yang aneh adalah, Anya mulai bekerja di sini dua tahun lalu ... dan sebelumnya dia adalah sekretaris utama Muller Groups." jelas Brian.
"Muller Groups? Ah ... yang kamu bantai habis proyeknya?" Rega dan Thomas mulai menyadari benang merahnya.
"Tidak ada seorang sekretaris utama yang rela turun jabatan jadi resepsionis padahal Muller Groups masih berdiri." Brian melanjutkan lagi.
"Dan, rekaman CCTV mall waktu itu ... itu adalah Terry Muller." Lanjut Nathan.
"Wah, aku memang sudah merasa aneh ... bagaimana bisa wanita itu ada di pesta pernikahan kamu." Rega angkat bicara.
"Masuk akal," Thomas menarik kesimpulan. "Tapi, bukankah lebih menarik jika Terry bekerjasama dengan Anya untuk menghancurkan mu sedangkan Anya bekerjasama dengan Terry untuk menjadi nyonya Nathan."
Plak!! Nathan memukul Thomas dengan keras. "Jangan sembarang! Aku sudah punya Tita."
"Aku tidak masalah, menggantikan posisimu menjadi suami Tita." Ha ha ha ... goda Rega.
"Hei! Jangan pernah macam-macam dengan Tita ku!" marah dia diolok-olok seperti itu. Tapi tidak sadar sudah menyakiti hati Tita-nya. Huft, tuan muda ... kamu ini kurang referensi cara menyenangkan hati istri.