Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 73



"Apa salahku padamu?" Anya berlaga menjadi orang yang teraniaya, "Kita bahkan tidak saling mengenal, kenapa kamu begitu tega?!" dia menangis, mengasihani dirinya.


"Kita memang tidak saling mengenal secara pribadi ... Tapi aku pasti akan ikut campur jika ada yang mengusik kebahagiaan temanku, apalagi itu teman terbaikku." Thomas mengatakan kalimat itu dengan amat santai, sambil mengasah belati yang dibawanya. Sungguh, suara gesekan belati itu membuat suasana di ruangan itu makin mencekam. Dan sudah bisa dipastikan wanita dalam kurungan itu makin tertekan.


"Ki ... kita bisa bicarakan baik-baik, tuan. Apa kamu tidak salah tangkap? Aku, aku bisa memberikan uang yang sangat banyak padamu."


Ha ha ha, "Uang?? Memang berapa banyak yang bisa kamu tawarkan? sedangkan kamu hanya seorang resepsionis hotel." katanya meremehkan.


Hah? dia tahu darimana aku resepsionis hotel? Berarti dia dari London? Apakah dia benar-benar mengenalku? "Aku bukan hanya resepsionis biasa, aku adalah tangan kanan bos Muller Groups. Aku bisa memberimu uang yang banyak."


Gotcha! Thomas menyeringai, jelas sudah semuanya ... mata-mata Terry adalah Anya, hackers yang ada di sini juga di kendalikan oleh wanita ini. Benar-benar biang kehancuran, dia mendekati Nathan bukan lagi karena cinta tapi hanya karena haus kekuasaan. "Aku tidak butuh uangmu, aku hanya butuh satu informasi."


"Apa? Apa yang ingin kamu tahu?"


"Nama ahli IT yang Muller tempatkan di Petra Corporate?!"


Anya tersentak, tidak ada satupun yang tau tentang rahasia ini kecuali dirinya dan Terry, jadi bagaimana laki-laki ini mengetahuinya? Sekutu siapa dia? Anya memberanikan diri, tidak mungkin dia bilang tidak tahu karena sudah terlanjur mengatakan bahwa dia adalah tangan kanan Muller, tapi jika tidak dia katakan maka bisa jadi nyawa melayang. "Ahli IT yang mana?"


Thomas mendengar jelas ada keraguan dalam kata-katanya, "Huh, jangan mempersulit ... aku tidak mau menguliti kulit halus mu itu!"


Menguliti?? gila ... apa dia psikopat?! Anya mundur memeluk tubuhnya sendiri.


"Aku tau semua tentangmu, jadi ... tidak perlu berlagak polos denganku. Menguliti mu lebih menyenangkan daripada menidurimu ... apa kamu tidak mengenal temanmu yang disana?" Thomas menunjuk ke arah laki-laki yang di kenali Anya dengan belatinya.


Bisa dibayangkan bagaimana makin tertekannya Anya, dia sangat mengenal laki-laki itu ... sangat kenal, karena laki-laki itu dia harus merelakan tambang emasnya. Laki-laki itu pula yang membantunya memuluskan kecurangan-kecurangan Terry Muller, dan dia sangat yakin sudah menyembunyikan keberadaan laki-laki itu di tempat yang sangat aman. Tapi kini, sejak kapan dia tertangkap??


Anya sudah tidak bisa berkelit, berbohong pun percuma ... "Rey ... Namanya Rey, Information technology support di Petra Corporate." katanya.


Huh, Rey ... laki-laki berpenampilan cupu yang bahkan tidak masuk dalam daftar orang-orang yang di curiganya. Thomas berdiri, lalu pergi meninggalkan tahanannya disana. Tidak di pedulikannya teriakan-teriakan Anya yang meminta kebebasannya. Bagi Thomas, informasi itu belum bisa untuk membayar rasa sakit dan kehilangan yang sedang di alami Nathan.


Pagi ini, Tita sudah rapi dan bersiap untuk ke kantor ... padahal semalam nyaris mereka tidak tidur karena Mickey mendengarkan cerita Tita. Ada rasa kesal saat mendengar penuturan Tita, tapi dia tidak habis pikir ... orang yang se-bucin itu, rasanya tidak mungkin menduakan orang yang sangat di cintainya.


"Kamu yakin mau masuk hari ini, Ta?"


"Aku kan baru saja ambil cuti lama, tidak enak kalau aku banyak ijin." Tita beralasan.


"Kalau nanti suamimu datang, bagaimana?"


"Jangan kasih tau!"


"Gak mungkin dong, Ta?"


"Kalau kamu sayang aku dan peduli padaku, jangan katakan apapun!" rupanya Tita masih kesal, sebenarnya matanya juga masih sembab.


"Terserah kamu, Ta. Yuk berangkat." ajak Mickey. Mereka berangkat berdua menggunakan motor Mickey.


Rasanya sudah lama sekali mereka tidak boncengan seperti ini... Ah, Tita jadi ingat hari itu ... terakhir kali dia boncengan dengan Mickey. Sudah Tita, lupakan ... jangan larut dalam kesedihan, untuk hari ini. Begitulah dia menyemangati dirinya.


"Tuan, apa anda akan ke kantor hari ini?" tanya Brian.


"Tidak, kamu saja ... aku mau istirahat saja."


"Tuan, hari ini ada jadwal rapat dengan ..."


"Undur saja, aku lelah sekali rasanya."


Jika sang tuan muda sudah mengatakan itu, apa yang biasa dilakukan oleh sang sekretaris ... selain mengikuti kemauan tuannya. "Anda, tidak mau mencari nona Tita?"


Mendengar kata-kata sang sekretaris, Nathan malah menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya. Ha ha ha ... siapa sangka seorang Nathan bisa melakukan hal seperti itu, ngambek?! ha ha ha. Seandainya Brian tahu sang tuan muda akan melakukan hal yang kekanak-kanakan, pasti sudah di rekamnya sejak tadi. Huft.


Brian turun sendiri tanpa tuan mudanya. Tentu hal itu menjadi perhatian dari sang nyonya dan nona muda. "Tuan muda tidak mau berangkat ke kantor, nyonya." dia menjelaskan sebelum ditanya. Sang nyonya hanya mengangguk.


"Mi, aku jalan duluan ya?" ijin Loudy.


"Hati-hati, sayang."


Sudah setengah jam Loudy berdiri di depan lobi, menunggu Tita ... dia harus menemui Tita hari ini. Mana tega dia melihat sang kakak bersedih seperti itu. Ah, itu dia ... Loudy melihat Tita turun dari motor dan melepaskan helmnya. Sama siapa dia? Hah, Mickey?? Ada rasa seperti di cubit hatinya, sakit. Mengapa mereka bisa bersama?


"Lou, kamu ada disini?" sapa Mickey.


Loudy tersadar dari lamunannya dan mencari Tita, lho ... mana dia? seakan terlupa dengan rasa cemburunya. "Mana Tita??" melihat heran kearah Mickey.


"Tita?" pura-pura tidak mengerti.


"Iya, Tita. Aku tadi melihat kalian turun dari motor dan datang bersama." ada nada menyindir di sela-sela katanya.


"Oh, kamu melihat ..." Mickey seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. "Um, Lou ... tunggu sebentar ya, aku ke atas dulu ... nanti aku balik lagi." Loudy mengangguk tanda setuju. Maka menghilang lah Mickey dari pandangan Loudy.


"Tita, kamu mau sarapan apa? Akan ku belikan."


"Tidak usah, Arga sudah memberiku makanan tadi." Tita menunjukkan piring berisi bubur ayam di mejanya.


Mickey menatap curiga, "Sejak kapan dia perhatian sekali padamu?"


"Kamu iri?" Ha ha ha.


"Cih, enak saja ..." Mickey berlalu di iringi tawa sang sahabat. Buru-buru dia menghampiri Loudy yang sudah menunggunya, sengaja dia tidak memberi tahu Tita ... dia harus memastikan permasalahan yang sebenarnya dari kedua sisi, baru dia akan berusaha membantu mendamaikan pasangan ini. Benar-benar sahabat sejati, kan?


Mereka sedang berada di kedai bubur ayam untuk membicarakan permasalahan dua orang yang mereka sayangi, Nathan dan Tita. Tapi, entahlah... karena sampai detik ini belum ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan itu ... masing-masing hanya sibuk mengaduk dan memakan bubur ayam dan sesekali melirik sambil tersenyum.


Hei, hei, hei ... jangan lupa apa misi kalian duduk berdua disini, please?