
"Lho, Titaaaaa ..." Loudy berlari, memeluk sang sahabat yang baru menginjakkan kakinya di halaman mansion. "Tita, aku kangen." pelukan erat penuh haru juga membuat Tita meneteskan air mata.
"Aku juga kangen, Lou." Tita membalas pelukan Loudy.
"Ayo, masuk." dengan penuh kegembiraan Loudy menarik tangannya untuk masuk. "Mamiiii, mantu mami pulang."
"Sayaaaang, ya ampun kamu kemana saja?" sang nyonya mami yang melihat sang menantu sangat bahagia seperti menyambut anak pulang wamil saja, he he.
Tita hanya tersenyum, sesungguhnya dia merasa tidak enak dengan keluarga ini yang sudah sangat baik kepada dia dan ibunya. Ah, bahkan aku tidak menghubungi ibuku. Tita jadi tertunduk.
"Sayang, kamu tidur dimana? Maaf kan anak tante, ya ... maafkan Nathan karena sudah menyakiti hatimu." sang nyonya mami berucap dengan tulus.
Makin tidak enak lah perasaan Tita mendapati perlakuan seperti itu dari sang nyonya mami. "Tita yang minta maaf mi, sudah membuat keluarga ini khawatir."
"Tidak, tidak ... kamu tidak salah. Kalau mami jadi kamu, mungkin mami tidak akan sanggup kembali kerumah ini."
lho ... lho ... kok nyonya mami begitu??? sontak saja jawaban itu membuat siapapun yang mendengarnya jadi tertawa. Bukannya membela sang anak yang sedang merana, malah mendukung sang menantu kabur.
"Mi, nanti kalau kak Nathan dengan omongan mami, kakak bisa makin marah." Loudy mengingatkan.
"Ibu mu juga mengkhawatirkan kamu, Ta. Kamu kemana aja sih?"
"Aku di tempat Mickey, mi ... Karena aku tidak tahu harus pergi kemana."
Sang mami melihat ke arah Mike, yang tidak dilihat tersenyum, "Terima kasih ya, Mike ... terima kasih sudah menjaga menantuku," mungkin sifat posesif Nathan menurun dari sang mami, pasalnya sang mami menekankan kata-kata menantuku ketika mengatakannya tadi. Taku menantunya diambil mungkin ya, ha ha ha. Tenang mi, Mickey tidak akan mengambil menantu mu tapi anakmu. ha ha ha.
"Tita," Sang ibu memanggil anaknya dengan suara lemahnya, bohong jika dia tidak mengkhawatirkan putri satu-satunya. Tapi, dia sangat percaya bahwa sang anak mampu menyelesaikan masalahnya. Sejak dulu, begitulah Tita ... selama dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, dia tidak akan membiarkan ibunya ikut pusing memikirkan dirinya. Tita terbiasa menjadi gadis yang tangguh.
"Ibu, Tita kangeeeen." dipeluknya sang ibu erat, satu-satunya orang tua yang tersisa. Pelukan ibu tetap hangat, ibu tidak menyalahkannya, "Kamu sehat, nak?"
"Sehat, Bu. Maafkan Tita ya, Bu."
"Kamu tidak salah, kamu dan tuan muda sedang berproses untuk saling memahami dan saling percaya. Nikmati saja proses itu, selama kamu yakin pada suamimu ... jangan pernah menyerah pada keadaan, sayang." sang ibu membelai rambut sang putri. "Temui lah suamimu,"
"Iya, Tita ... Nathan tidak keluar kamar sejak kemarin. Mami pusing melihatnya."
"Kaya anak kecil ya, mi." celetuk Loudy.
"Huss, jangan begitu."
"Iya, Tita mau melihat keadaan Nathan ya ..." Tita melewati tangga perlahan, mengatur detak jantungnya. Kalau ketemu apa yang harus aku katakan? Perlahan dia membuka pintu kamar tidurnya. Sepi. Tita melangkah masuk ke dalam, samar-samar dia mendengar suara dari dalam walk in closet nya.
"Berikan padaku, aku yang menang."
"Tuan, jangan curang. Aku tidak akan berbaik hati kali ini."
"Oh, kamu mau melawan kata-kata ku?"
"Tuan, jangan menyalahgunakan kekuasaan anda kali ini."
"Brian ..."
Braakkkk!!! Tita mendorong dengan kencang pintu itu, terpampang lah wajah-wajah terkejut dua laki-laki yang sudah penuh dengan coretan lipstick. Hah?!! "Apa yang kalian lakukan?" Tita melihat kedua laki-laki di hadapannya bergantian.
"Sayang ... Tita kamu disini??" terbayang kan, bagaimana bahagianya sang tuan muda.
Berbanding terbalik dengan sang istri. Sejak tadi Tita membayangkan betapa menyedihkannya sang suami, tidak mempunyai semangat dan hanya berbaring ditempat tidur, tidak nafsu makan karena sang istri tidak berada di dekatnya, gelisah dan mengkhawatirkan istrinya yang entah dimana keberadaannya. Tapi sekali lagi, itu hanya bayang-bayang Tita ... karena yang di lihatnya sekarang adalah sang suami dengan sekretarisnya sedang berada di walk in closet nya, masing-masing memegangi kartu di tangannya lengkap dengan banyak coretan lipstick di wajahnya. Apa yang kalian lakukan?!
"Tita ... sayang ... tunggu!!!" Nathan berlari mengejar sang istri. Grab! kena, dipeluknya sang istri yang di rindukannya. "Jangan pergi lagi, ku mohon." makin erat pelukan Nathan.
"Untuk apa kamu memohon seperti itu, sana ... bersenang-senang saja sendiri," Tita mencoba melepaskan pelukan sang tuan suami.
"Nona Tita, maafkan saya. Tadi saya hanya ingin menghibur tuan muda." Brian menjelaskan agar tidak terjadi salah paham lagi.
"Kamu tidak perlu membelanya, kak."
"Saya tidak membela, nona. Hanya saja apa yang saya katakan adalah benar. Sejak kemarin tuan bahkan tidak keluar kamar ini, bahkan hari ini tuan muda tidak pergi ke kantor karena tidak berselera. Saya yang membujuknya untuk main kartu itu dengan sedikit hukuman, maksud saya agar tuan muda tidak larut dalam kesedihannya."
"Benar sayang, semua yang di katakan Brian benar. Aku senang sekali bisa melihatmu lagi, sayang ..."
"Kenapa kamu tidak mencariku?!" Tita membalikkan tubuhnya, hingga kini mereka berhadapan.
Kalau aku jawab, karena ponselnya ditinggal sehingga tidak bisa di lacak ... pasti dia akan tambah marah, "Aku sudah mengerahkan beberapa anak buah untuk mencari tapi tidak ketemu, aku hopeless."
"Kak Brian, boleh aku bicara berdua dengan suamiku?" Tita meminta dengan halus. Ketika dilihatnya Brian melirik sang tuan suami dengan ragu-ragu, maka Tita melanjutkan, "Aku ingin berbicara dengan suamiku saja bukan Nathan pemilik Petra Corporate ..."
"Baik, nona. Permisi, tuan muda." Brian undur diri. Dia melangkah keluar, tapi ketika pintu itu di buka ... "Hei, apa yang kalian lakukan disini??" tegurnya karena melihat Loudy, mami dan Mickey yang berdiri di depan kamar sang tuan muda.
"Brian, apa yang terjadi di dalam?" mami sangat penasaran. "Apa Tita baik-baik saja?"
"Apa kak Nathan memarahinya?" Loudy menyela.
"Seharusnya yang di khawatirkan itu ada keadaan tuan muda," Brian menjawab. "Ayo, nyonya ... jangan disini, aku saja tadi sudah diusir oleh nona Tita." Brian memang hebat dalam mendramatisir keadaan, hm ... cocok dengan Mickey yaa.
Di dalam kamar Tita duduk di sofa sebenarnya dia tidak mau duduk di sebelah sang tuan suami, tapi Nathan bersikeras. Dan mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, Tita masih tidak terlalu berani menolak sang tuan muda.
"Aku sudah mempertimbangkannya, aku ingin memberikan kesempatan untuk kamu menjelaskan semuanya. Tapi kamu juga perlu tahu, kejadian ini sangat menyakiti aku. Aku bahkan berpikir ... mungkin karena status sosial kita yang berbeda jadi kamu mempermainkan aku begitu saja..."
"Aku tidak sejahat itu, Tita?!" Nathan tersinggung.
"Hm, baguslah kalau kamu tidak seperti itu."
"Tita, kapan aku pernah mempermasalahkan status sosial seseorang?!"
"Entahlah, aku juga tidak tahu, Nath. Aku katakan tadi itu hanya pikiranku, mungkin akibat dari kekecewaan yang aku alami."
Nathan menghela nafasnya, iya ... dia juga tidak bisa menyalakan Tita jika bisa punya pemikiran seperti itu.
"Sayang ... Kamu ingat kan aku pernah bilang alasan aku membawa Anya kesini dan bekerja di kantorku?" Tita mengangguk. Nathan menggenggam tangan Tita, dia mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan semuanya, "Semua itu adalah rencana Thomas, untuk menemukan dalang dari sabotase hotel ku di London."
"Kamu di jadikan umpan?"
Nathan mengangguk, "Cara ini lebih efektif, foto yang dikirimkan ke ponselmu memang benar ... tapi ceritanya tidak seperti itu, sayang."
Tita mengingat kembali foto-foto yang di lihatnya, "Jadi, kamu benar-benar bersamanya malam itu?" Nathan mengangguk, pasrah. "Dan itu adalah alasan kamu tidak membalas pesanku dan menjawab panggilanku?" tanya Tita ragu-ragu, hm ... dia hanya ingin memastikan apakah semua ada kaitannya.
Nathan tidak menyangka jika itu yang akan ditanyakan sang istri, dia jadi bingung menjawabnya. Bagaikan buah simalakama.
"Nathan, jawab saja ... aku tidak akan menyalahkan kamu. Terbukalah padaku kalau kamu masih menganggap aku istrimu."
Nathan menarik nafas panjang dan memejamkan matanya, dia meyakinkan dirinya bahwa semua akan segera baik-baik saja ... "Iya, benar."