
Setelah beberapa hari di rumah sakit, baru siang ini TIta mendapat kunjungan teman-teman kantornya. Ruangan
itu makin ramai dan semarak karena celotehan-celotehan mereka, terlebih lagi Candy, Arum dan Gladis. Sebenarnya para wanita-wanita itu bukan ribut karena apa yang di alami TIta, tapi mereka rupanya lebih tertarik membahas laki-laki tampan, kaya dan memancarkan pesona luar biasa yang kini sedang duduk di sofa tempatnya
bekerja. Ah, Nathan memang seperti magnet bagi wanita dimanapun dia berada.
"Tita, aku penasaran ... bagaimana kamu bisa tahan melihat tuan Petra setiap hari." pertanyaan absurd yang di lontarkan Candy membuat mereka tertawa. Dan sebenarnya Tita benar-benar terhibur karena kedatangan teman-temannya.
"Maksudnya apa, Can?" ha ha ha.
"GIni lho, coba lihat ... dia dengan pakaian lengkap saja aku keringat dingin, apalagi ...."
Gladis menyenggol Candy dengan keras, "Hei, kalau tuan Petra dengar habis kamu."
"Gak masalah, kita punya Zahra disini .... ya kan, Ra?" ha ha ha. "Aku menjadikanmu tameng."
"Jahat banget sih ..." protes Rega. "Kasihan Zahra kalau kalian jadikan dia tameng."
"Rega, Rega .... tidak udah serius gitu dong, kita kan hanya bercanda." ha ha ha.
"Kamu, kalau hal yang menyangkut Zahra pasti selalu jadi pembela deh."
Rega jadi malu, dia tersenyum kaku.
Nathan mendengar pembicaraan mereka tentang 'tameng', memang awalnya mereka berbisik, tapi mungkin karena makin seru mereka jadi menaikkan volume suaranya. Kesal? tentu saja. Berani-beraninya si Rega itu masih mengharapkan istrinya. Ingin rasanya Nathan mengusir mereka semua, tapi bisa melihat sang istri tertawa lepas seperti itu membuat Nathan bahagia, dan artinya teman-temannya itu juga berarti untuknya. Tapi, kenapa sih si Rega itu harus datang juga? Teringat kata-kata Mickey beberapa hari lalu, bahwa sang istri selalu makan pagi dengan makanan yang di berikan oleh Rega. Apakah akan terlihat aneh kalau aku tiba-tiba bergabung dengan mereka? Aku juga kesal kalau hanya diam saja disini.
Disaat Nathan merasakan kekesalan, ponselnya berbunyi. Ada satu panggilan, Brian.
"Ya ... oke,"
Setelah menerima panggilan dari sekretarisnya, Nathan menghampiri sang istri. Otomatis, teman-teman Tita yang semula berisik sontak terdiam dan saling melirik, TIta jadi merasa lucu melihat tingkat teman-temannya.
"Sayang, aku keluar dengan Brian dulu ya. Mungkin akan sedikit lama, nanti Loudy akan menemanimu disini." Tita mengagguk dan tersenyum, satu kecupan di kening sang istri, membuat para wanita heboh itu menahan nafasnya. Belum selesai mereka dengan kejutan dari tontonan gratis, mereka harus kembali shock karena melihat sang tuan muda yang menyambar bibir sang istri. Woaah ... kalau seperti ini TIta pun terkejut bukan main, Nathan menciumnya dengan hot di depan teman-temannya. Nathan sengaja, ide itu terpikirkan begitu saja karena dia ingin memberi peringatan secara halus kepada Rega. Ya, Rega ... laki-laki yang dia pikir masih menaruh hati pada istrinya. Ha ha ha.
***
"Brian, ada apa?"
"Tuan, maaf ... saya tidak mungkin membicarakan masalah ini di ruang perawatan nona."
"Tidak apa, jadi bagaimana?"
"Mereka sudah mengeksekusinya. Memang benar wanita itu melakukannya karena berpikir nona Tita tidak pantas menjadi pendamping anda."
"Maaf, tuan. Dan mungkin sebentar lagi tuan Denis akan menemui anda untuk bernegosiasi."
"Negosiasi?! Biarkan saja, mari kita lihat ... Dia pikir berapa harga nyawa istri dan anak ku?! berani-beraninya dia ingin bernegosiasi denganku. Aku jadi ingin melihat, seberapa beraninya dia melakukan negosiasi."
Brian, tersenyum menyeramkan. Dia tau dengan pasti langkah apa yang akan di lakukan sang tuan muda jika walikota itu mulai bertingkah. "Tuan, kita sudah sampai."
Kini mereka berada di depan sebuah apartemen mewah, tadi Brian menghubungi Nathan dan memberitahukan bahwa Rega meminta mereka datang kesini. Ada apa sebenarnya, Brian pun tidak tau. Sepertinya bukan masalah Clair, karena wanita itu sudah dibereskan oleh Thomas sendiri. Nathan dan Brian memasuki lift menuju lantai sepuluh. TIng!
"Silahkan, tuan." dan mereka berjalan bersama menuju sebuah pintu berwana abu-abu.
"Hai, Nathan, Brian kalian sudah sampai?" sapa Rega, "Masuk." Rega mempersilahkan mereka masuk.
"Selamat sore, Tuan Petra."
Nathan cukup terkejut dengan kehadiran laki-laki itu disini bersama Rega, kalaupun dia datang ke negara ini mengapa tidak menemui keluarganya terlebih dulu dan malah kesini? Karena Nathan masih mengingat dengan jelas betapa sang istri merindukan laki-laki ini.
"Kala, kenapa kamu ada disini?" Ya, dia adalah Kala, kakak dari TIta-nya wanita yang dia cintai. Kala tersenyum dan menyalami sang adik ipar sekaligus bos besarnya.
"Nathan, duduk dulu. Ada yang ingin Kala sampaikan padamu." Rega teramat serius sehingga membuat Nathan merasakan kemungkinan keadaan tidak sedang baik-baik saja.
Kini mereka semua duduk di sofa ruang tamu apartemen Rega, ruangan itu di dominasi dengan warna abu-abu, benar-bear terlihat maskulin. TIdak banyak ornamen dan pajangan untuk menghiasi ruangan, hanya ada satu lukisan yang menampakkan jam Big Ben dan sungai Thames di waktu malam terpasang cantik di dinding ruang tamu.
"Kala datang ke tempatku tadi pagi, sebelumnya dia memang lebih dulu menghubungi ku." Rega menjeda omongannya dan melihat ke arah Kala. "Dia meminta aku secara khusus untuk bertemu di sini."
Nathan masih memperhatikan Rega, begitupun dengan Brian yang tidak punya clue sama sekali kenapa kakak dari nona Tita bisa ada di sini. "Jadi?" oh, rupanya tidak hanya Nathan ... bahkan sang sekretaris pun penasaran.
"Kala, bicara lah." Rega meminta Kala menyampaikan sendiri ke Nathan, alasan kenapa dia ada disini dan jika dia datang kesini, kenapa tidak menjenguk sang adik semata wayangnya ke rumah sakit? Kenapa dia malah menghubungi Rega bukan Brian?
"Tuan Petra, saya bingung bagaimana saya harus menyampaikannya kepada anda, karena anda adalah suami adik saya sekaligus bos saya. Itulah mengapa, saya menghubungi tuan Rega selaku atasan langsung saya." Kala menarik nafasnya sebentar dan menghembuskannya untukmembuat tubuhnya rileks. "Saya saat itu sedang minum-minum bersama rekan-rekan kerja saja di sebuah club. Dan saya melihat seorang laki-laki yang mirip sekali dengan tuan Terry Muller. Karen saya penasaran jadi saya mengikutinya, ternyata dia menemui seorang wanita. Tuan Petra, saya dengan jelas mendengar Tuan Muller memanggil wanita itu Anya ... Anyastasia."
Deg!!
Tidak hanya Nathan, bahkan Brian pun sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar. Anya? bukannya dia sudah ...
"Kamu yakin dia Anya mantan pacar tuan muda??" Brian ingin lebih yakin lagi.
"Awalnya saya juga tidak yakin, tuan. Karena wanita itu sangat .... berbeda,"
"Berbeda bagaimana?" Nathan pun antusias.
"Dari yang saya tau melalui tuan Thomas wanita itu sudah hancur wajahnya, bahkan menalami depresi berat. Tapi wanita yang saya lihat malam itu, luar biasa cantik dan mulus." Ehm, agak malu juga Kala mengatakan kata-kata yang memuji Anya.