Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 60



"Bagaimana urusanmu, Anya? Aku perhatikan tidak ada kemajuan sama sekali." cibir laki-laki itu.


"Nathan bukan laki-laki yang mudah ditaklukkan. Apalagi ketika dia sudah memiliki pasangan. Tapi beruntungnya aku ... karena aku mantan kekasihnya dan wanita yang menikah dengannya itu hanya karena dia di jodohkan." Anya menyombongkan dirinya.


"Hah? Dapat darimana kamu informasi seperti itu??"


"Dari beberapa orang-orang kantor. And you know what? Pernikahan mereka tidak diketahui publik. Karena saat pernikahannya, Nathan hanya mengundang beberapa koleganya saja."


"Hm, pantas saja ... berita pernikahan seorang businessman muda yang sangat berpengaruh bisa tidak ada di majalah dan surat kabar manapun." Hmm, mungkin karena pernikahan yang tidak bahagia dan perasaan yang tertekan maka kamu ada di taman sore itu ya? "Lalu apa rencana kamu selanjutnya? Pacarmu yang bodoh itu apakah aman di persembunyiannya?"


"Tentu saja, kamu tidak usah khawatir soal itu." Anya meyakinkan. Anya memperhatikan laki-laki yang sedang berbicara dengannya memandang ponselnya sambil tersenyum. Kenapa dia? Namun tidak lama kemudian senyum itu makin mengembang, karena satu pesan masuk ke ponselnya. "Ada apa sih?" penasaran juga dia.


"Kamu cukup urus Nathan sampai selesai, secepatnya." dan dia melenggang meninggalkan Anya sendirian.


***


"Ibu ..." Tita sedang ingin bermanja-manja dengan sang ibu yang sedang mengelap sendok-sendok setelah selesai di cuci.


"Kok kamu disini, mana tuan muda?" tanya sang ibu.


"Belum pulang." Tita ikut mengelap sendok-sendok itu membantu sang ibu.


"Aduuuuh, nona Tita. Jangaaaan, nanti bibi di tegur tuan Brian." salah seorang bibi berlari panik melihat istri sang tuan muda tengah mengelap sendok dan dia merebut lap dari tangan Tita.


"Ish, bibi ... aku kan sudah biasa membantu disini." direbut lagi kain lap itu.


"Iya, iya tapi non ..." sang bibi makin khawatir.


"Tidak apa Bi, kalau kak Brian memarahi bibi bilang saja padaku."


Sang bibi melihat ke arah Bi Amel, memohon pertolongan. Sang ibu juga tahu bagaimana tabiat tuan Brian, di luar saja tampak lembut ... tapi sesungguhnya dia adalah orang yang tidak ada toleransi pada kesalahan.


"Tita, sayang ... sudah biar bibi saja" tegur sang ibu lembut.


"Iya deh iya ... aku lepas nih Bi, sudah ... senyum dong, ayo senyuuuum ..." tidak usah kaget ya, Tita sudah terkenal di seantero mansion ini sebagai gadis manis yang ceria dan mampu menghangatkan suasana, hanya sang tuan muda saja dan sang sekretaris yang tidak mengenalnya.


Sang bibi yang sudah tidak tegang mulai kepo, "Non, bagaimana rasanya menikah dengan tuan muda?" tanyanya penasaran diiringi alisnya yang naik turun.


Tita diam tampak berpikir, "Rasanya ... sulit diungkapkan dengan kata-kata, Bi." jawaban yang nyeleneh.


"Maksudnya apa non? Bibi tidak mengerti?"


"Nah!" Tita memukul meja mengejutkan bibi dan sang ibu. "Aku pun tidak mengerti maksud pertanyaan bibi itu apa." Ha ha ha. Dasar Tita.


"Ta, ikut yuk." Loudy masuk karena mendengar suara tawa Tita.


"Kemana?"


"Kita belum beli perbekalan untuk besok, kan?"


"Oh iya. Aku ikut ... Ibu aku pergi ikut Loudy ya?" pamitnya.


"Ijin dulu sama suami kamu, sayang." sang ibu menginginkan.


"Aku driver kalian hari ini." jelasnya.


Tapi Tita mengartikan lain ucapan Mickey, hihihi. "Loudy, kamu saja yang telpon kakakmu."


"Duh, gak mau ah. Seharusnya kamu telpon sendiri pakai ponselmu, jadi kak Nathan merasa lebih dihargai." bujuk sang adik ipar.


Aku takut tahu? Tapi apalah daya, dikeluarkan juga ponsel barunya ... hadiah sang tuan suami, ditunggu beberapa saat hingga ada jawaban dari seberang sana, "Halo, Nathan? ... kak Brian ... Oh, maaf aku menggangu, aku mau pergi belanja dengan Loudy dan Mickey ... Baik, tolong sampaikan ya, terima kasih." Klik.


Dan sampailah mereka di pusat perbelanjaan, tempat biasa mereka hangout, dulu. Tita, Loudy dan Mickey langsung menuju supermarket yang ada disana. Hm, bagaikan anak-anak yang akan melakukan perjalanan wisata, begitulah rasa bahagia yang mereka rasakan kini. Satu persatu makanan dan minuman memenuhi keranjang mereka, senangnya. Terlebih Tita yang memang bisa dibilang jarang melakukan perjalanan seperti itu, apalagi sampai menginap ... itulah mengapa dia sangat menantikan kegiatan ini.


"Eh, Loudy aku ke toilet dulu ya." katanya.


"Kamu tahu tempatnya, gak? Apa aku antar saja?" tawar Loudy.


"Gak usah, aku bisa sendiri." Tita pamit dan berjalan mencari toilet.


Sementara itu, di Petra Corporate.


"Tuan, tadi nona Tita menghubungi." Brian menyerahkan ponsel sang tuan muda. Nathan menerimanya dan langsung mengecek ponselnya. "Nona bilang mau pergi berbelanja dengan nona Loudy dan tuan Mike."


Nathan membuka aplikasi map yang ada dalam ponselnya, beralih ke menu lini masa ... dan muncullah lokasi dimana sang istri berada. "Mereka di pusat perbelanjaan?"


"Benar, tuan."


"Haruskah kita kesana?" tanya sang tuan muda dengan antusias.


"Untuk apa?" jawab sang sekretaris dengan pandangan yang ... Mungkin kalau diartikan seperti, biarkan saja istrimu bersenang-senang menikmati waktunya.


"Dia pasti senang kan kalau aku tiba-tiba datang menjumpainya disana?" Nathan tetap mencari celah.


"Tuan, sudah biarkan saja nona berbelanja. Wanita itu paling pantang jika kita ganggu ketika mereka sedang berbelanja."


"Maksudmu, aku pengganggu?!" merasa tidak terima.


"Iya, anda akan menjadi pengganggu jika tetap memaksakan pergi menemui nona disana." wah berani juga Brian menentang sang tuan. "Tuan, ketika wanita berbelanja perasaan mereka akan menjadi senang. Dan kesenangan itu akan mereka bawa sampai rumah, coba anda fikir ... jika mood nona Tita dalam keadaan yang sangat baik, bukankah anda yang akan mendapatkan keuntungan?" Brian melihat sang tuan tampak sedang menimbang-nimbang perkataannya.


"Hm, iya ... baiklah, aku akan menahan keinginanku." pasrah juga akhirnya.


"Nah, bagus tuan. Sebaiknya anda menyelesaikan laporan-laporan dimeja anda sekarang, jadi kita bisa pulang tepat waktu." lanjutnya.


"Wah, setelah tadi kamu menghasut aku ... sekarang kamu berani memerintah aku, ya?!" Tapi Brian hanya menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya. Ya mau bagaimana lagi, memang itulah yang harus Nathan lakukan. Toh, dia juga tahu ... Brian tidak bisa melakukan pekerjaannya ketika laporan-laporan yang ada dimeja sang tuan muda belum diselesaikan. Teringat sesuatu, Nathan bertanya sambil melanjutkan pekerjaannya. "Brian, kemarin kamu kencan dengan siapa?"


"Seorang wanita, tuan. Baru pendekatan."


"Lho, aku pikir kamu sudah pacaran? Kalau kamu sudah yakin dengan pilihanmu, menikahlah." Nathan mengingatkan.


"Tenang saja, tuan. Saya pasti akan memberitahu anda jika memang sudah saatnya saya menikah."


Nathan melihat kearah Brian yang duduk di hadapannya dengan penuh perhatian. "Aku sudah menikah, aku sudah memastikan istriku memiliki perasaan yang sama denganku. Kamu tidak perlu terlalu khawatir aku akan seperti dulu. Saatnya kamu memikirkan juga masa depanmu, kebahagiaanmu. Jangan memberi harapan palsu pada wanita yang kamu kencani, jika kamu sudah yakin dengannya. Apa kamu tidak tahu? Selalu ada laki-laki lain yang juga menganggap wanita kita itu menarik, jadi jangan sampai kamu menyesal. Pikirkan baik-baik kata-kata ku." jelas Nathan.


Brian terdiam, berfikir. Ya, gadis yang sudah dua kali dia ajak kencan memang sudah memenuhi relung hatinya. Tapi, apakah dia sendiri yakin untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan gadis ini? Brian juga bukan tipe laki-laki seperti Thomas ataupun Rega yang tidak ingin berkomitmen, tapi juga tidak semudah itu untuk memutuskan menikah, kan?