Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
139



"Zahra, kamu sudah datang?" sapa pak Putra.


"Iya, pak. Ada apa pak?" jawab Tita.


Pak Putra memperlihatkan dua buah dokumen proyek baru, "Aku yakin kamu pasti sangat berminat, tetapi kamu hanya perlu memilih salah satu dari dua proyek ini."


Tita menerimanya dengan cukup antusias, dia mulai membuka salah satu dokumen itu dan ting ... ting .. ting, notifikasi ponselnya berbunyi. Tita bisa menebak siapa yang mengirimkan pesan sebanyak itu padanya.


Rupanya sang bos juga mendengar notifikasi itu, kenapa tidak di lihat? mungkin seperti itu pikirnya.


"Zahra, sepertinya kamu harus mengecek pesanmu terlebih dulu ... kelihatannya itu pesan penting."


Tita tidak lagi berkelit, memang benar suara notifikasi ini mengganggu sekali ... ah padahal aku malas sekali melihatnya, tapi, "Baik, permisi sebentar pak?" pamitnya. Kemudian Tita keluar dan langsung melihat deretan pesan dari Brian ... oh, kak Brian, bukan Nathan ... Aku baru tahu kalau seorang kak Brian bisa mengirim pesan beruntun seperti ini.


Dan ketika Tita membuka pesan di urutan terakhir, dia terkejut ... sebuah potongan video dimana sang tuan suami yang selalu tampak manis dan hangat ketika berbicara dengannya seperti berubah menjadi pribadi yang lain. Dalam rekaman video yang di kirimkan Brian, tampak suasana ruang rapat yang mencekam bahkan Tita yang hanya menontonnya dari layar ponsel ikut merasakan tekanan dalam ruangan itu, semua peserta rapat hanya menunduk dan hanya Nathan yang berdiri, suaranya menggelegar memarahi mereka yang ada disana. Kapan ini terjadi? Tita langsung menghubungi Brian bahkan sebelum durasi video itu berakhir.


"Kak Brian, kenapa Nathan bisa seperti itu?"


"Ah, Nona .... terima kasih sudah menelpon. Saya ganti panggilan video dan tolong jinakkan singa anda nona." tidak membutuhkan waktu lama untuk Brian mengubah mode panggilan mereka. Dan ketika sudah tampak wajah sang nona, maka dengan bergegas dia menyerahkan ponselnya kepada sang tuan yang sedang murka. "Tuan muda, nona Tita menelpon anda." wah ... strategi yang luar biasa dan sangat cekatan telah dilakukan oleh Brian, wajar saja jika dia menjadi tangan kanan seorang Nathan. Lihatlah, satu kalimat yang di lontarkan oleh sang sekretaris itu mampu merubah air muka sang tuan muda dalam sekejap.


Tampak wajah Tita dalam layar kecil itu, Nathan otomatis menjauh dari tempatnya berdiri dan Brian langsung membubarkan rapat, tapi sebelum itu ... untuk mengembalikan semangat mereka yang telah luluh lantah Brian mengatakan, "Terima kasih kerja kerasnya, silahkan lanjutkan yang telah kalian kerjakan."


"Sa ... sayang." Nathan, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika Tita menghubunginya, video call lagi, hehe.


Tita mendengar ketika Brian mengatakan bahwa dialah yang menghubungi Nathan, artinya Nathan pasti berpikir bahwa dia memang ingin menghubungi suaminya, dan dia harus bersandiwara kalau tidak mengetahui apa yang terjadi di ruangan rapat itu kan? Ah, serasa terjebak oleh kak Brian.


"Apa yang sedang kamu lakukan tadi?" pertanyaan basa basi sekali kan?


"Aku sedang rapat tadi, tapi sudah selesai. Ada apa sayang?" masih mempertahankan senyumannya. Tapi melihat Tita hanya diam dan menatapnya, Nathan luluh, "Ah ... sayang, aku minta maaf sekali karena menyakiti hatimu. Aku tidak berpikir kalau itu adalah masalah besar."


Permintaan maaf yang di dengarnya dengan jelas tadi cukup membuat Tita merasakan hangat di hatinya.


"Ok, nanti sore kita ke rumah mami dan mengatakannya lagi bersama, bagaimana?" bujuk Nathan. Tita mengangguk tanda setuju. "Dan tolong jangan diamkan aku seperti tadi, karena aku jadi kacau sayang."


Tita tersenyum mendengar pengakuan Nathan, jadi benar gara-gara aku kamu jadi beringas seperti singa. Wah, Tita jadi merasa bersalah, untung pak Putra memintanya untuk mengecek pesan beruntun yang sudah dikirimkan kak Brian tadi. Dan untung saja, kak Brian dengan cepat tanggap mengirimkan video itu tadi padanya. Ah, suamiku bisa menyeramkan juga rupanya, tapi pengakuannya tadi sungguh menggemaskan.


Tita sudah kembali ke mejanya ketika Mike mendekat, "Ta, are you okay?" terlihat jelas bahwa Mike cukup mengkhawatirkan sahabat sekaligus calon kakak iparnya ini, hehe. Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu terjadi.


"Kenapa? Aku okay kok." jawab Tita. Yah, memang sekarang Tita baik-baik saja.


"Baiklah, eh .. nanti makan siang bareng Loudy yuk?" ajak Mike.


"Ah, kenapa mendadak? Sepertinya aku tidak bisa, aku harus me-review proyek baru kita."


"Itu bisa nanti saja, pak Putra tadi sudah berangkat ke Muller Company." jelasnya.


Disisi lain, sang tuan muda yang telah berdamai dengan istri tercintanya mulai jumawa.


"Brian, kau liat tadi kan? Aku sudah melakukan hal benar kan?"


"Iya tuan." jawab Brian singkat.


"Ha ha ha, kenapa kamu tidak bersemangat seperti itu? Kamu tidak senang aku berdamai dengan istriku?" masih dengan nada mengejek.


"Saya adalah orang yang paling senang dan bahagia jika anda berdamai dengan nona Tita, tuan." masih dengan ekspresi yang sama.


Nathan melihat ke arah Brian, dia tau sekali jika Brian setengah hati, "Brian, kamu harus belajar dariku bagaimana cara menenangkan hati wanita yang sedang merajuk. Aku rasa kamu sedang ada masalah dengan kekasihmu, ck... jadi laki-laki jangan egois, Brian."


What!! Brian shock mendengar kata-kata itu keluar dari seorang Nathan Petra, bahkan tengkuknya sempa bergidik. Brian memperhatikan laki-laki yang beberapa jam lalu menjadikan jadwal rapat mereka menjadi bulan-bulanan kemarahannya dan kini tengah menekuni berkas-berkas di mejanya dengan damai. Apakah dia lupa apa yang dia lakukan sebelum berdamai dengan istrinya? Tapi Brian sekali lagi Brian hanya diam.


"Oh iya, aku sampai lupa," tiba-tiba Nathan ingat akan sesuatu.


"Apa, tuan?"


Nathan terlihat berfikir sesaat, mengetuk-ngetuk pena yang sedang dia gunakan untuk menandatangani beberapa dokumen, "Menurutmu, kenapa Tita tiba-tiba menghubungiku tadi? video call lagi?"


Brian menghela nafasnya, ya ampun tuan muda ... anda memang tiada duanya. Kenapa baru sekarang mempertanyakan hal seperti itu, setelah tadi dengan jumawa menyuruhku jangan jadi laki-laki egois, ish. Enggan menjawab, Brian langsung membereskan dokumen-dokumen yang telah selesai di tandatangani Nathan, "Soal itu nanti bisa anda tanyakan langsung dengan nona, sekarang saya akan membawa dokumen-dokumen ini." tegasnya sambil berlalu meninggalkan sang tuan muda yang masih terpaku di meja kebesarannya.


Cafe


Alunan musik memenuhi ruangan, di sudut dekat jendela besar duduk tiga orang sahabat yang tengah menikmati makan siang mereka.


"Ya ampun, lama banget rasanya gak makan lasagna..." ucap Tita sambil menikmati suapan besar lasagna kesukaannya.


"Halah Ta, kamu tuh kalau soal lasagna, walaupun baru makan kemarin juga tetap saja dibilang udah lama gak makan.." ha ha ha. Celotehan Loudy mengundang gelak tawa mereka. Ya .. siapa yang tidak tahu arti lasagna bagi Tita.


"Ta, tadi ku pikir pak Putra akan mengajakmu ke Muller Company." seru Mike.


"Apa? Muller? kenapa Tita harus ikut?" tanya Loudy.


"Dia yang pegang proyeknya." jelas Mike.


"Aku juga gak tahu." Tita tampak tidak terlalu menanggapi karena masih asik dengan suapannya.


"Wah ... Ta, kenapa sih kamu selalu dikelilingi oppa oppa ganteng?" Loudy benar-benar penasaran, padahal dulu sewaktu mereka masih satu kampus Tita tidak pernah dekat dengan teman laki-laki, bahkan sepertinya juga tidak ada yang mengejar-ngejarnya dengan intens.


Ditengah pembicaraan dan makan mereka ponsel Tita berdering, satu panggilan dari Terry Muller. Tita buru-buru mengabiskan suapan terakhirnya, "Hallo, Terry?"


Sementara itu Loudy dan Mike saling bertukar pandang, wah ... baru saja dibahas, eh .. orangnya langsung menelpon.