Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 137



Tita melangkah dan sesekali menundukkan kepalanya karena beberapa orang yang berpapasan dengannya itu menyapa. Seorang laki-laki berjas hitam dengan tubuh tegap dan tinggi mendampinginya, memasuki sebuah lift yang hanya di isi olehnya. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya, hingga lift yang mereka naiki sampai di lantai dimana sang penguasa berada.


Ketika Tita melangkah menuju ruangan sang tuan suami, seketika kakinya terhenti. Dia melihat Nathan sang tuan suami berdiri tegak berhadapan dengan seorang wanita yang hampir menyamai tinggi sang tuan suami dan tentu ada Brian disana ... tampaknya mereka sedang berbincang-bincang. Tapi bukan itu yang membuat Tita menghentikan langkahnya, Tita berhenti karena tersentak ... wanita yang ada bersama dengan suaminya itu seperti pernah di lihatnya.


"Sayang ..." Nathan langsung menghampiri sang istri begitu melihat Tita di sana. Wajahnya sumringah ... bahagia, "Kok kamu bisa ada di sini?" tanyanya lagi.


"Ah, ee ... iya."


"Tuan, nyonya ... saya permisi." orang yang mengantarkan Tita undur diri dengan sopan di hadapan bos besarnya.


"Iya, terima kasih ya pak karena sudah mengantar saya." balas Tita.


"Sudah tugas saya, nyonya." waaah ... aku baru sadar nyonya manis sekali.


"Ayo, ke ruangan ku." Seakan apa yang ada di sekelilingnya tidak terlihat, Nathan hanya fokus terhadap sang istri. Dia menggandeng Tita melewati Brian dan pegawai lainnya ... dan Tita hanya menuruti sang suami.


"Aku surprise sekali kamu ada di sini, rasanya seperti mimpi."


"Ih ... lebay."


"Serius ..." jawab Nathan sambil memeluk tita dengan erat. "Jadi ... ada apa kamu datang sampai tidak ada pemberitahuan seperti ini?"


"Oh ... jadi kalau aku mau menemui suami ku harus ijin dulu?"


"Tidak ... tentu tidak, kamu bisa datang kapan pun kamu mau." Mimpi apa aku semalam, bisa mendapatkan kejutan istimewa seperti ini ... yang pertama Tita datang mendadak, kemudian dia bilang "suamiku" aaah ... senang sekali.


Receh sekali membuat Nathan bahagia kan. Ha ha... dasar bucin.


"Kamu sesenang itu aku datang kesini?"


"Yess!"


"Kalau begitu aku juga senang sudah datang kesini."


"Sayaaaang ...." karena gemas yang sudah memuncak Nathan jadi tidak bisa menahan diri, dia menciumi Tita sepuasnya. Dan Tita, tidak dapat menolak perlakuan sang tuan suami yang mendadak itu, terlebih karena tenaganya kalah telak.


Di luar ruangan, Lisa tampak meremas kertas di tangannya sesaat setelah menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana Nathan memperlakukan Tita tadi. Dia tidak percaya Nathan bisa se-bucin itu dengan Tita, padahal mereka kan bukan baru kemarin menikah.


Dan, tingkah aneh Lisa ternyata di saksikan oleh asisten Brian yang bernama Clara. Kenapa reaksi dia seperti itu karena melihat tuan muda dengan istrinya? Wah ... jangan² dia calon orang ketiga... ckckck ... tidak bisa dibiarkan, aku harus pantau.


Di kantor itu tidak ada yang tidak tau bagaimana manisnya hubungan sang tuan muda dengan sang istri. Apalagi sosial media mereka pernah di hebohkan dengan viral-nya foto sang tuan muda yang sedang beradegan romantis dengan sang istri di pinggir jalan, belum lagi dengan pengumuman cinta yang dilakukan oleh sang penguasa. Tentu saja para karyawan khususnya kubu perempuan ikut di buat baper dengan perubahan drastis yang dialami bos besar mereka. Jadi, tidak heran jika Clara juga merasa kedamaian hubungan sang tuan muda adalah bagian dari tugasnya. Ha ha. Dan langkah pertama yang dia lakukan adalah menyebarkan foto Lisa dengan ekspresi kesalnya ke grup chat-nya.


Tring!!


"Firasat ku jelek tentang wanita ini, dia memandang pintu ruangan tuan muda dengan wajah seperti itu." lapornya.


Tring!!


"Bu Lisa?? apa mungkin dia ada hati dengan tuan muda?" balas yang lainnya.


Tring!!


"Belum jelas motifnya, tapi kita harus segera mencari tau."


Tring!!


"Siap 86!!"


Selesai percakapan chat mereka, dan Clara melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak boleh terang-terangan mencurigai Bu Lisa, karena bagaimanapun jabatannya lebih tinggi darinya.


Nathan masih memeluk Tita di dadanya. Momen ini adalah yang pertama kali untuknya, terlihat jelas bahwa dia sangat bahagia.


"Ada angin apa kamu datang kesini?" tergelitik dengan rasa penasarannya, Nathan bertanya juga.


Tita merubah posisi duduknya, memandang tajam sang tuan suami dengan pandangan curiga, "Apa aku tidak boleh datang kesini?"


"Boleh, tentu saja boleh ... bahkan aku senang sekali kamu datang." ya ... Nathan memang senang sekali karena Tita datang. Dan laki-laki ini sungguh tidak peka atas apa yang ada di pikiran sang istri.


"Kamu tidak merasa terganggu kalau aku datang?" Tita belum juga puas dengan jawaban sang tuan suami.


"Aku malah senang kamu ganggu." jawab Nathan dengan sedikit menggoda.


Tita memutar bola matanya, malas mendengar jawaban sang tuan suami. Dia masih merasa ada yang mengganjal, tapi apa ... wanita itu? ya ... wanita tadi, "Ehm ... kalau wanita yang tadi sedang bersamamu?" tanyanya dengan cukup hati-hati.


Nathan menarik pinggang sang istri agar menempel kembali ditubuhnya. "Siapa? wanita yang mana?"


"Yang tadi sedang berbicara denganmu sebelum aku datang!" ih ... kesal juga dia, kenapa sih laki-laki ini irit kalau menjawab.


"Oh, itu Lisa ... sekretaris ku."


"Lho ... sekretaris kamu bukannya kak Brian?"


"Dia anak buah Brian. Sayang, jangan membahas orang lain saat bersamaku ... aku tidak suka."


Nathan memang benar-benar luar biasa dalam mendominasi, hahaha ... semua harus ikut aturannya terlebih sang istri. Lihatlah, bahkan dia tidak suka sang istri bertanya hal-hal diluar kepentingan mereka berdua, ckckck.


"Nathan, aku mau kembali ke kantor." Tita berusaha melepaskan diri dari rengkuhan sang tuan suami.


"Tidak, kita pulang bersama ... aku mau mengajakmu ke suatu tempat." tiba-tiba Nathan teringat akan rencana yang sudah dibuatnya.


"Tapi tadi ...."


"Aku akan minta Brian menghubungi bosmu."


"Nath, jangan begitu ... aku tidak enak dengan pak Putra."


"Kalau begitu resign saja dan pindah ke kantorku."


Tita cemberut mendengar kata-kata dari Nathan. Apa-apaan dia, ini kan pekerjaan ku ... kenapa seenaknya saja dia yang memutuskan. Ingin rasanya melawan tapi tidak mungkin.


"Sudah, jangan merajuk seperti itu. Aku tidak mungkin membuatmu di pecat, walaupun aku lebih senang kamu ada bekerja disini." Ha ha ha.


Lihatlah laki-laki ini, sekejap mengatakan kalimat yang membuatku terenyuh tapi sekejap kemudian berubah menjadi kalimat yang menjengkelkan. Tita.


Tok.. tok.. tok.


Brian muncul dari balik pintu bersama dengan Lisa. "Tuan, anda mau berangkat sekarang?" tanyanya.


"Iya, istriku sudah tidak sabar." masih saja tidak selesai menggoda istrinya.


Lisa yang melihat senyum mengembang Nathan yang dulu hanya untuknya pun merasa jengkel. Tapi dia sadar, dia harus menahan amarahnya. "Tuan, sore nanti akan ada rapat dengan ..." maksud hati ingin terlihat profesional namun malah mendapat tatapan tajam dari Brian yang membuatnya seketika menunduk.


"Ayo sayang." Nathan menggenggam tangan Tita dan keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan kata-kata Lisa.


Dan Tita melihat semuanya ... dia melihat dengya jelas wajah jengkel Lisa sebelum mengingatkan Nathan tentang rapat sore hari. Dia suka suamiku, wanita itu jelas-jelas menyukai suamiku. Insting seorang wanita mulai bekerja, menyalakan alarm bahaya yang bisa menganggu rumah tangganya.