Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 93



Nona Clair yang kini berpikir bahwa Tita dan Mike adalah pasangan kekasih karena perhatian yang di berikan Mike kepada Tita, membuat suasana di ruang rapat itu menjadi agak canggung.


Tita memperhatikan dalam diam, kenapa sikap Nathan seperti tidak perduli padanya. Karena biasanya sang tuan suami akan menunjukkan rasa tidak sukanya ketika hal-hal seperti itu terjadi. Apakah kekhawatiran yang beberapa waktu itu menganggu pikirannya benar-benar terjadi? Tita melihat sekali lagi ke arah Nathan, huft ... ada rasa sakit ketika diperlakukan seperti ini ternyata, dan aku baru merasakannya. Tita menundukkan wajahnya, rasa cake blueberry itu menjadi tidak seenak tadi.


"Maaf, nona Clair saya tidak bisa memenuhi ajakan anda." jawab Nathan pada akhirnya.


Tita yang mendengar hal itu jadi tersenyum. Ya ... dia menolaknya.


"Lain kali saya akan mengundang anda makan siang, apa tidak masalah?" lanjut Nathan.


Deg! Hah, apa aku tidak salah mendengar? Tita.


"Ah, tentu saya tuan Petra. Anytime, saya akan menunggu." tentu Clair senang dengan ajakan dan inisiatif Nathan. Tidak sia-sia kan aku berdandan seperti ini? Nathan pun bisa aku taklukkan.


"Tuan Petra, kami akan undur diri. Terima kasih." Pak Putra undur diri.


"Iya, terima kasih sudah datang." Nathan menyalami pak Putra, kemudian Mike, dan terakhir Tita.


Ketika bersalaman, Tita berfikir ... kenapa manusia satu ini tidak mengatakan apapun? memintaku tinggal atau mengajak pulang bersama. Aku sedih memikirkannya. Apakah karena ada wanita bernama Clair itu, jadi sikapnya langsung berubah seperti ini?


"Saya, permisi tuan Petra." Tita sengaja mengatakan kalimat itu.


"Baik, hati-hati di jalan."


Hanya itu? hanya itu jawabannya? pada akhirnya Tita memaksakan senyumannya. Dan berlalu meninggalkan Nathan yang kini tinggal berdua dengan Clair.


"Nona Tita," Brian memanggilnya.


Tita berhenti dan menoleh, "Iya, kenapa?"


"apakah anda langsung pulang ke rumah atau kembali ke kantor?"


"Memangnya kenapa? apa tuan mu memintamu mencari tau? dia bahkan tidak memperdulikan aku tadi." huh ... biar saja kekesalan ini aku lampiaskan pada sekretarisnya.


Brian terdiam, baru kali ini dia dimarahi sang nona. "Ah, hati-hati di jalan, nona." akhirnya hanya itu yang bisa dia katakan. Wah, tuan ... anda tidak akan selamat kali ini.


"Zahra, kamu kembali ke kantor apa langsung pulang?" tanya pak Putra.


"Saya, langsung pulang saja pak. Mickey, turunkan aku di halte depan saja, ya?"


"Oke, lalu nanti kamu naik apa?"


"Ish ... aku bisa naik taksi. Tidak perlu khawatir seperti itu." Maka turunlah Tita di halte, dan ketika mobil yang tadi di tumpanginya mulai menjauh, Tita pun berjalan menelusuri trotoar jalan. Ah, dia tidak mau pulang, apartemen tempat persembunyiannya kini di tempati Mickey. Hm, aku kemana ya? Diangkat lengannya, benda bundar kecil di tangannya menunjukkan pukul 16.00, akhirnya Tita memesan ojek online yang membawa ke sebuah mall. Baiklah, tidak perlu memikirkan hal-hal bodoh ... ini waktunya me time.


"Nathan, terima kasih lho jamuannya," Clair mengatakannya dengan sangat manis. "Ups, maaf ... apa tidak masalah aku memanggilmu Nathan?" sungguh wanita ini sangat ahli menyamarkan niat terselubung, bahkan dia mengatakan itu sambil tertawa ramah.


"Iya, tidak masalah."


"Baiklah, aku pergi sekarang ya. Terima kasih banyak dan sampai jumpa lagi ... oh, aku menunggu undangan makan siang dari kamu." bahkan kini dia bisa berbicara dengan santai.


"Brian, tolong bawakan susu ke ruangan ku. Rasanya aku pusing." pinta Nathan.


Brian masuk, membawakan susu yang di minta sang tuan muda. "Silahkan di minum selagi masih hangat, tuan." Brian memperhatikan Nathan.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanyanya.


"Aku pusing sekali."


"Baiklah aku akan berbaring sebentar."


"Oh, tuan ... nona Tita sudah pergi bersama tuan Putra dan tuan Mickey, tapi saya tidak tau apakah nona langsung pulang atau kembali ke kantornya karena tadi sepertinya nona sedang kesal dan tidak menjawab pertanyaan saya." Brian menginformasikan hal ini kepada Nathan.


Nathan yang sudah akan masuk ke ruang istirahatnya langsung mengurungkan niatnya dan berbalik menghadap Brian? "Apa? kok aku tidak tau?" ini dia, Nathan sudah merasa ada yang terlupakan olehnya tapi dia tidak ingat dan karena kepalanya pusing jadi dia mengabaikan rasa itu.


"Maksud tuan tidak tau apa?" Brian pun jadi heran.


"Istriku, istriku sudah pergi?" lho ... bagaimana aku bisa lupa? padahal tadi aku berencana memintanya untuk menemani aku sampai jam pulang kerja.


Brian menjadi khawatir, pasalnya dari ekspresi yang di tampilkan Nathan tidak sedang main-main. Tapi, dia juga melihat sendiri ketika Tita pamit langsung kepada Nathan dan tuannya itu mengijinkan bahkan mengatakan hati-hati?? Ada apa ini?


"Mana ponselku?" Nathan bergegas ingin menghubungi Tita-nya. "Ponselnya di matikan." dia melihat ke arah Brian.


"Tidak heran tuan, karena tadi nona terlihat kesal bahkan saya ikut dimarahi." oh hah, hiperbola sekali kata-katanya, membuat sang tuan muda makin gelisah.


"Kenapa dia marah?"


"Kenapa lagi? tentu karena anda mengabaikannya." tidak membantu meredakan kegelisahan sama sekali.


"Aku ... mengabaikannya? Tidak mungkin."


"Saya juga melihatnya seperti tidak percaya, tuan. Tapi memang itu yang anda lakukan tadi." Brian terdiam, "Ah, coba hubungi Mike saja."


Dan tanpa menunggu lama, Nathan menghubungi Mike. "Halo, Mike saya Nathan, apa kamu bersama Tita? langsung pulang? Baiklah, oh tidak, tadinya saya mau menjemputnya tapi ponselnya mati ... oke thanks." klik. "Dia bilang Tita langsung pulang."


"Jadi, anda mau pulang sekarang atau nanti?"


"Menurutmu? aku gelisah seperti ini, tentu saja aku mau langsung melihat istriku." Maka Nathan keluar dari ruangannya, look's like something happened. Bagaimana bisa aku tidak menyadari istriku sudah pergi?


Nathan memandangi mobil-mobil yang saling berkejaran dia masih tidak habis pikir dengan apa yang sudah dia lakukan, hal yang tidak mungkin dia lakukan, mengabaikan Tita-nya? tapi tidak mungkin juga dia sangkal karena Brian pun melihat kejadian itu. Dan tadi Brian bilang, Tita marah ... pasti dia marah karena aku abaikan, oh sayang ... maafkan aku.


mobil yang membawa Nathan memasuki halaman luas itu, berhenti tepat di di samping taman seperti biasanya. Ketika Nathan keluar dari dalam mobil, setelah Brian membukakan pintunya ...


"Kakak, tumben sekali sudah pulang ... padahal matahari masih terlihat." sindir Loudy.


"Memangnya kenapa?"


"Pasti mau enak-enak ya dengan sa.ha.bat. aku?!" hehe Loudy menekankan tiap kata-katanya.


" Hei, belajar darimana kamu kata-kata seperti itu? apa pacarmu yang mengajarkan, hm?!"


"Dih, jangan menyalahkan orang lain, kak. Lagipula aku sedang tidak punya pacar."


"Lalu dari mana kamu mendengar kata-kata itu?!" sang kakak tidak terima adik satu-satunya jadi mesum begini.


"Aku mendengarnya dari kakak tempo hari." ha ha ha ... puas sekali dia. Nathan mengerutkan keningnya, tanda bahaya ... Loudy sudah berpikir untuk kabur, tapi tangannya di tahan sang kakak. Duh, jangan memarahi aku, please.


"Kamu lihat Tita?"


Eh, Tita? oh asik ... aku tidak dimarahi. "Tita belum pulang, kak."


Hah? kok bisa?? Kalau tadi dia langsung pulang seharusnya kan dia sudah sampai??