Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 143



Nathan melajukan mobilnya kembali ke kantor, kalau dipikir-pikir kembali ... ini adalah kali pertama dia kabur di jam kerja tanpa Brian. Sudut bibirnya naik keatas, dia tidak bisa melupakan momen gila tadi bersama Tita. Mood-nya bagus sekali, sepertinya bisa bertahan satu bulan, ha ha ha.


"Tuan Petra, ada teman anda menunggu di ruangan." Lisa langsung melapor begitu dia melihat sang tuan keluar dari lift. Tapi Nathan hanya menganggukkan kepalanya dan masuk keruangannya. Kok bisa dia baik-baik saja, padahal aku yakin tadi obat itu bereaksi hebat. Kemana dia pergi tadi? Berbagai macam pikiran menari-nari di kepalanya, seharusnya tadi adalah kesempatan emasku ... kenapa jadi begini.


"Thomas?" sapa Nathan.


"Hei ... darimana saja kamu? Mentang-mentang tidak ada Brian, bebas ya kamu ... membolos." goda Thomas.


"Cih, pergi saja kamu kalau hanya jadi pengganggu." Nathan berjalan melewati Thomas dan langsung duduk di singgasananya.


"Nathan, ngomong-ngomong ... kamu punya sekretaris baru ya?" Thomas menghampiri Nathan dan duduk di hadapannya.


"TIdak." jawabnya singkat.


"Wanita cantik dan seksi yang ada di depa ruanganmu selain Clara?" Thomas makin penasaran, karena ini kali pertama dia bertemu dengan wanita itu.


"Oh ... dia sekretaris Brian." Nathan lebih fokus pada ponselnya, rupanya dia mengirimkan pesan kepada Tita.


"Ya ampun Nathan, itu artinya wanita itu sekretaris kamu, dong."


"Ssst ... jangan berisik aku sedang sibuk."


Set!


Nathan mengambil tiba-tiba ponsel yang ada di tangan Nathan dan membacanya.


"Hah .. sibuk apa? kamu hanya chat dengan Tita."


"Kembalikan!" Nathan merebut kembali ponselnya, "Tita-ku itu lebih penting.daripada ocehanmu."


"Dasar bucin. Lagi pula ... kenapa siih kata-katamu itu norak sekali, ha ha ha." kalian kan sudah menikah ... bukanya anak sekolah yang baru jadian.


Ck ... Nathan makin kesal dibuatnya, Thomas ini berisik sekali. "Daripada kamu mengurusi percintaanku, kenapa kamu tidak melaporkan penyelidikanmu."


"Tapi ... aku boleh kan kenalan dengan sekretaris baru kamu itu?" usaha pantang menyerah.


"Tunggu Brian saja,"


Thomas memang sudah hafal dengan sifat Nathan, dia memang malas mengurusi wanita-wanita. Oleh karena itu, ketika Nathan mengincar Tita ... Thomas dan yang lainnya merasa takjub sekaligus bergembira, ditambah lagi ternyata pilihan Nathan memang yang terbaik.


"Hm, baiklah. Aku sudah menyelesaikan bagianku. Sekarang kita tinggal menunggu kakak iparmu bertindak. Oh iya, sepertinya kemungkinan kita harus berangkat kesana setelah kakak ipar memberikan kode." jelas Thomas.


"Kakak ipar ku, bukan kakak ipar kamu. Jangan bicara sembarangan."


siapa yang sangka perihal sepele itu membuat Nathan kesal. Dan Thomas hanya tertawa mendengar Nathan menggerutu. Ha ha ha. Bahaya sekali dia, rasa cinta dan kepemilikan yang besar kepada Tita benar-benar menunjukkan bahwa itulah kelemahan terbesar seorang Nathan Petra.


Ditengah pembicaraan mereka, wanita yang sejak tadi membuat Thomas penasaran memasuki ruangan setelah dipersilahkan masuk oleh sang tuan.


"Tuan Petra, apakah anda akan makan siang sekarang?" tanyanya.


"iya, siapkan saja dan untukku juga. Tolong ya, nona?" Thomas yang menjawab, tentu saja. Bahkan kini dia sudah mengulurkan tangannya pada Lisa bermaksud untuk mengajak berkenalan.


Lisa membalas uluran tangan itu, "Lisa."sepertinya dia tertarik padaku.


Nathan hanya diam tak menaggapi yang mereka lakukan, dia masih asik mengecek laporan yang dikirimkan oleh Brian. Sepeninggal Lisa, Nathan beranjak dari kursinya dan duduk di sebelah Thomas ...


"Thomas ... menurutmu, seberapa jauh Terry Muller akan melangkah?"


"Kita sama-sama tau betapa dia demdam padamu, dia bisa melakukan apa saja untuk menghancurkanmu. Paling tidak dia pasti berusaha mengagalkan proyek-proyekmu."


"Apakah kamu tahu kalau Tita kenal dengannya?"


"Tidak mungkin aku tidak tahu bukan?" Thomas mengerlingkan sebelah matanya dan mendapatkan tatapan jijik dari Nathan. "Tapi felling-ku, Terry benar-benar menyukai istrimu ..."


Nathan menatap Thomas dengan tatapan yang sulit di deskripsikan. Nathan tahu hal itu, tapi dia juga tidak ingin gegabah ... dia tidak ingin Tita menganggapnya hanya mengada-ada ditambah lagi sekarang Muller adalah klien sang istri. Dia ingin sekali memindahkan Tita ke perusahaannya agar bisa dalam pengawasannya, tapi dia takut Tita akan memebencinya jika seperti itu. Karena dia tahu, Tita masih seusia Loudy yang masih menginginkan kebebasan. Ah ... aku jadi merasa tua sekali.


"Apa sih yang sedang kamu pikirkan?"


"Tita."


"Jika aku memindahkan Tita ke perusahaanku, bagaimana menurutmu?"


"Dia akan membencimu." hehe ... aku akan menggodanya sekarang.


Nathan menghela nafas, sesuai dengan dugaannya kan. "Lalu, bagaimana aku bisa memindahkannya ke perusahaanku tanpa dia jadi benci padaku?"


Lho, dia serius? "Buatlah itu jadi keinginan Tita sendiri. Jangan kamu paksakan."


"Bagaimana caranya?" seperti mendapatkan secercah cahaya, Nathan kembali bersemangat.


"Kalau soal ini, kamu bisa konsultasi dengan Rega. Lagipula ... memangnya kamu tidak bosan harus satu kantor dengan istrimu?"


Petanyaan memancing Thomas membuat Nathan kembali mengingat kegiatan beberapa jam yang lalu. Betapa gilanya dia, tapi sangat menyenangkan. Wajahnya yang tiba-tiba memerah tidak luput dari pandangan seorang Thomas.


Duk!


Thomas menendang kaki Nathan sehingga membuyarkan lamunannya.


Aw!! "apa-apaan sih, sakit."


"Jangan mesum."


Deg! Nathan melirik sekilas, kok dia tahu?


"Di wajahmu sudah tertulis jelas apa yang ada di dalam kepalamu." Ha ha ha.


Sial!


***


Nathan sudah tiba di aparetemennya, sepi ... Tita tadi mengiriminya pesan akan pulang terlambat.


"Tuan, mau makan sekarang?" Brian memberikan segelas air putih untuk sang tuan.


"Brian, duduklah." Brian menuruti permintaan sang tuan, mereka duduk bersebelahan. "Tadi di kantor ada yang memberiku obat perangsang."


Terkejut Brian, "Lalu apa yang anda lakukan, tuan. Argh! seharusnnya memang aku tidak pergi tadi."


"Tidak, tidak ... bukan salahmu."


"Aku akan segera menyelidiki dan menghancurkan pelakunya." marah ... Brian sungguh murka mendengarnya.


"Tidak perlu. Reaksi obat itu sangat kuat, beruntung aku bisa menemui Tita tepat waktu."


Brian bingung harus bereaksi seperti apa, canggung juga. "Tapi, tuan ... saya harus tahu siapa yang sudah begitu berani melakukan itu." Brian tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Sekali melihat juga dia sudah yakin sang tuan muda sedang memikirkan sesuatu dengan sangat hati-hati. "Tuan, anda ingin saya memindahkan nona Tita ke perusahaan?"


"Aku tidak mau Tita benci padaku."


"Anda berfikir seperti itu?" Brian sangat tahu apa yang diinginkan sang tuan. "Buatlah nona cemburu tuan, dengan begitu nona pasti akan datang sendiri."


Iya, benar. Nathan tersenyum senang "Tapi ... selama ini selalu aku yang cemburu padanya."


"Tuan lakukanlah hal yang membuat nona cemburu, mudah bukan."


Mereka tertawa bersama, kompak sekali.


"Ajari aku caranya."


"Rega adalah orang yang tepat, tuan."


"Kenapa jawabanmu sama dengan Thomas."


Nathan lebih bersemangat, tentu saja ... hanya karena membayangkan betapa cemburunya Tita sudah membuatnya senang. Selama ini hanya aku yang merasakan cemburu, aku ingin kamu cemburu sekarang, haha.


Ha ha ha ha.