Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 44



Ponsel Brian muncul notifikasi, "Tuan Rega, mari temani saya. Ada hal penting yang harus kita lakukan sekarang."


"Hei, kenapa jadi kaku lagi sih. Sebelumnya kamu tidak pakai 'tuan', kenapa sih tidak bisa biasa saja?" Tapi Brian tidak menggubrisnya, dia hanya berjalan keluar dan Rega mengikuti. "Memang ada tugas apa sih? Kita tidak menunggu Nathan saja disini?"


Mereka berjalan keluar hotel, hanya berjalan kaki beberapa blok hingga sampailah di sebuah butik. "Aku tidak terlalu mengerti pakaian wanita, tolong kamu yang pilihkan." perintah Brian.


Hah, terang lah fikiran Rega kini. Jadi tugas penting itu adalah membeli pakaian untuk Tita? Wah, benar-benar ya tuan muda itu ... gayanya sudah seperti tuan muda saja. Tapi memang benar sih, dia kan tuan muda. "Kenapa tidak bilang dari awal kalau tugas penting itu membeli pakaian untuk Tita?" tegasnya.


"Karena pasti kamu menolak."


"Nah, itu kamu sudah tahu." kesal sendiri, kan. Brian gitu loh, tidak mungkin salah prediksinya. Dengan terpaksa, di kerjakan juga tugas penting dan mulia itu. Jadi, untuk urusan wanita Rega itu sudah seperti muridnya Thomas. Mereka memiliki kemampuan untuk menyenangkan wanita, baik lewat kata-kata maupun perbuatan. Seperti sekarang ini, padahal hanya beberapa menit tadi dia melihat Tita, tapi sudah sangat hafal ukuran dan model pakaian yang cocok untuk Tita dalam segala kondisi dan situasi.


"Good job." puji Brian. Tidak salah memang dia menarik Rega ikut. Karena pesan sang tuan muda hanya 'belikan pakaian untuk istriku' tanpa penjelasan, pakaian apa? ukurannya berapa? warnanya apa? terbuka atau tertutup? perlu pakaian dalam juga atau tidak?


Rega membawa 3 papper bag dari total 6 papper bag hasil belanjaannya. "Brian, haruskah kita makan dulu? Aku lapar."


"Aku akan pesankan apapun yang mau kamu makan nanti."


"Benar ya? Oke." maka dengan semangat 45 mereka berjalan kembali ke hotel.


Ketika sedang menunggu lift, Brian menyadari sesuatu ... perempuan itu, tampaknya familiar. Dia selalu memperhatikan ke arahku, tapi siapa ya? Lalu dengan berpura-pura mengetik pesan, dia mengambil gambar sisi meja resepsionis dimana ada dua orang perempuan sedang bertugas. Dikirimnya foto tersebut ke kaki tangannya untuk di selidiki. Firasatnya hampir tidak pernah meleset selama ini, apalagi terkait dengan tuan mudanya. Dan perempuan itu terasa familiar tapi dia lupa, siapa, dimana mereka bertemu dan mengapa dia selalu memperhatikan kearahnya.


Akhirnya, mereka bisa makan juga ... makan malam tapi, hehe. Rega dan Brian makan di sofa sambil menonton TV. Sedangkan Nathan, tentu menemani sang istri yang tidak berani keluar, karena makin banyak stempel kepemilikan yang di buat Nathan.


"Aku ke depan dulu, ya? Ada yang harus aku bicarakan dengan mereka." ijinnya.


"Iya, aku mau tidur cepat." Setelah mengirim pesan ke kak Kala, Tita lebih memilih untuk tidur karena dia teramat lelah. Nathan mengecup kening sang istri sebelum meninggalkannya sendiri di kamar.


"Aku kira kami tidak akan keluar, Than." goda Rega.


"Istri aku sudah tidur, jangan berisik. Apa yang mau kamu laporkan?"


"Oh iya, sampai lupa aku dengan tugas utama gara-gara Brian memberikan tugas tambahan." sindir Rega dan hanya di jawab dengan senyuman oleh Brian. "Thomas sudah melakukan tugasnya, tapi mereka tutup mulut. Sepertinya, mereka sangat setia."


"Hm, jadi kita tidak ada petunjuk lain? Sambungkan dengan Thomas." perintahnya.


Dan beberapa saat kemudian hubungan itu tersambung, "Thomas, mereka tidak mau buka mulut?"


"Nope. Tapi, aku punya cara lain untuk membuat mereka mengaku." suara Thomas jadi mengerikan. "Yang lebih orang-orang takutkan hingga mereka melupakan kesetiannya." Ha ha ha."


"Oke. Aku percaya padamu." jawab Nathan.


"Biarkan ini menjadi urusanku, Than. Bersenang-senang lah dengan istri cantikmu." Dan mereka berempat tertawa renyah. Percayalah, mereka semua bahagia karena Nathan mulai berubah. Perubahan yang tidak pernah mereka prediksi, karena sudah berbagi cara mereka memancing manusia kutub ini dengan berbagai macam karakter dan type perempuan, tapi apalah daya si kutub ini tidak bergeming. Tapi tidak ketika bertemu Tita, bahkan kalau mau di ingat-ingat lagi ... hanya mendengar suara sang gadis bernyanyi Nathan sudah langsung tertarik, dan makin tergoda untuk menaklukkan gadis itu. Sekarang, mereka sama-sama berharap agar Nathan bisa mengobati dan melupakan masa lalunya.


"Jangan bergerak, aku masih mau tidur, Tita."


Tapi aku mau bangun! batinnya. Di usahakan lagi mengangkat lengan itu. Tapi, bukannya terangkat... Nathan makin mengeratkan pelukannya. "Aku lelah, sayang. Biarkan aku tidur beberapa menit lagi, oke?" Telinga Tita geli-geli karena sang suami berbicara dengan suara khas bangun tidurnya tepat di telinganya. Tapi aku mau mandi. Huft, baiklah ... beberapa menit lagi. Dan terlelap lah ke dua manusia itu.


Di lain tempat, "Bagaimana? Carikan tempat untuk aku sembunyi. Semua anak buahku tertangkap!"


"Kenapa kamu ceroboh sekali?!"


"Aku juga tidak tahu, semoga saja mereka tidak akan bukan mulut! Carikan tempat aku sembunyi sekarang!" Klik.


"Argh! Sial, menyusahkan aku saja. Padahal aku belum dapat peluang mendekati Nathan." Kemudian wanita itu mengirimkan sebuah alamat kepada orang yang tadi menelponnya, tempat persembunyian yang sangat tersembunyi.


***


Di cafe, "Mike, Tita sudah menghubungi kamu?"


"Um, belum." Mike dan Loudy memang janjian siang itu untuk bertemu. Tidak ada Tita mereka merasakan kesepian yang sama.


"Kalau aku tau dia mau menyusul kak Nathan, aku pasti ikut."


"Dan kamu akan merusak rencana Tita."


"Rencana? rencana apa? ih, kok kamu lebih banyak tahu dari pada aku? Gak bener ini, Tita." Loudy geram, sebal.


"Jangan sebal begitu. Dia bukannya tidak mau cerita padamu. Tapi, karena kamu adik tuan Petra. Itu yang membuat dia urung menceritakan ini sama kamu."


"Lho, alasan macam apa itu?"


"Dia tidak enak Lou, karena sudah menyakiti kakak tersayang sahabatnya. Mengerti, kan?"


"Tapi, aku kangeeeen. Aku lebih kangen Tita sekarang daripada kakak aku ... Coba video call." pintanya.


Mike menghubungi Tita dengan video call. "Tersambung," katanya. Loudy buru-buru pindah duduk bersebelahan dengan Mike.


"Titaaaaaaaaaaa."


"Ssstt... jangan teriak. Kamu fikir kita dimana?!" protes Mike. Loudy hanya memajukan bibirnya, tidak perduli.


Di sebrang sana, "Hei, loh... kalian kencan??" Tita, lemes.


"Enak aja, tidak ya ..." bela Loudy. Sementara Mike hanya senyum-senyum saja. Hm, melihat Loudy dari jarak sedekat ini, cantik.