
"Tita, aku tinggal kamu disini tidak apa-apa?" Mickey mengkhawatirkan Tita, tapi tadi dia pergi begitu saja dari kantornya.
"Tidak apa-apa, kamu balik saja ke kantor. Aku hari ini kan tugas luar, jangan khawatirkan aku."
"Baiklah, kunci saja pintunya ya. Aku bawa kunci cadangan."
Sepeninggal Mickey, Tita luruh di sofa ... dia menangisi kisah cintanya. Pikirannya kacau, air mata seakan tak mau berhenti, tapi dia lelah. "Kenapa kamu lakukan itu padaku, hiks hiks ... apa artinya semua kata-kata cinta dan sayangmu, kalau pada akhirnya kamu kembali juga pada cinta pertamamu. Apa kamu pikir aku gadis yang gampang dibodohi dan mudah di taklukkan oleh laki-laki tampan sepertimu!" Tita meracau sendiri meluapkan emosinya. Tita berjalan dan berdiri dihadapan cermin, melihat sendiri bagaimana rupanya sekarang "Huh, aku adalah gadis yang kuat! Aku tidak pernah membiarkan diriku terpuruk dan lemah!" dia menyemangati dirinya sendiri, tapi hanya beberapa menit ... karena di menit selanjutnya, "Tapi sekarang aku tidak sekuat itu, aku ..." Tita menangis tiada henti, "Nathan, yang kamu lakukan itu jahat!"
Titaaa ... yang sabar yaaaa, ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
"Mami, miii ..." Loudy terburu-buru memasuki kamar sang kakak. Dia mendapat informasi dari pelayan bahwa sang tuan muda sakit, dan dia mendapati sang mami sedang berada di kamar sang kakak. Terlihat Axel sedang memeriksa Nathan yang terbaring di tempat tidurnya. "Mi, kakak kenapa?" sang mami hanya memandang Loudy dengan matanya yang sembab. Ada apa sih? Pikirnya. Di edarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu, "Mi, Tita belum pulang?" Bukannya menjawab, sang mami malah memeluk Loudy dengan erat dan menangis lagi. Eh, eh ... ada apa sih?!
Loudy berinisiatif mengajak sang mami ke luar kamar kakaknya, membawa mami ke kamarnya. "Mi, pikiran aku udah jelek sekarang, daripada aku mengada-ada sebaiknya mami jelaskan padaku, ada apa?!"
"Tita ... pergi, Lou." hiks hiks, mami menangis lagi.
"Pergi? Pergi kemana?" Loudy makin menuntut jawaban yang jelas, hatinya sudah mulai gundah.
"Tita, pergi meninggalkan kakakmu..." makin kencang tangisan sang mami, dan mukai menggenang air mata Loudy.
"Tidak mi, tidak mungkin Tita meninggalkan kakak ..." Loudy yang merasa sangat mengenal Tita tidak mempercayai apa yang dia dengar.
"Tita melihat kakakmu sedang memangku mantan pacarnya di ruang kerjanya." mami menjelaskan dengan masih sesengukan. Loudy mendengarkan penjelasan maminya. "Tadi, Tita sempat pulang kemudian pergi lagi ... mami kira dia hanya pergi sebentar saja, tapi kemudian kakakmu datang mencari-cari Tita dengan ..." banjir lagi air matanya.
"Mi, mami tenang dulu, ya ... aku ambil minum dulu, ya?" Loudy berusaha untuk lebih tenang, dia tidak boleh ikut larut dalam kesedihan ... dia harus meluruskan permasalahan sang kakak. Dia tidak yakin sang kakak tega mengkhianati istrinya, karena dia tahu seperti apa sang kakak mencintai istrinya. Dan dia juga tidak yakin, Tita pergi meninggalkan suaminya tanpa penjelasan ... dia sangat mengenal sahabatnya, Tita bukan orang yang gegabah.
Sang mami sudah mulai tenang, Loudy sengaja mengajak bi Amel untuk menemani maminya, dan bi Amek harus tahu ada yang sedang terjadi. Awalnya memang kaget, tapi yang jadi pikirannya sekarang adalah dimana anaknya.
"Amek, maafkan aku ... seharusnya aku bisa mencegah Tita keluar dari rumah ini."
"Bukan salahmu, mungkin Tita memang ingin sendiri dulu." bi Amel menggenggam tangan sahabatnya agar bisa saling menguatkan.
"Yang membuat Tita pergi mungkin karena foto-foto yang dikirim ke ponselnya oleh seseorang."
"Foto? foto-foto apa mi?" Loudy penasaran.
"Jadi Tita bahkan tidak membawa ponselnya, mi?" makin pusing Loudy, yaa kalau seperti itu kejadiannya wajar Tita pergi, wanita mana yang tidak sakit hati jika memergoki sang suami sedang memangku wanita lain yang merupakan mantan pacarnya, dan dikirimi foto-foto kemesraan mereka.
"Sudahlah, kita do'akan saja mereka bisa cepat menyelesaikan masalah mereka. Aku juga tidak bisa bantu apa-apa saat ini karena anakku belum menghubungi ku, kalau Tita menghubungi ku, aku pasti akan memberitahu."
Loudy memasuki kamar tidur sang kakak, ih, dia tertidur? "Kak Axel, bagaimana kakakku?"
"Kamu bisa menghubungi Tita?" tanya Axel.
Loudy menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau kalau sampai kakakku depresi, kak." Loudy memohon.
"Kami juga tidak akan membiarkan itu terjadi, Lou."
"Apakah kakakku benar-benar melakukan hal itu?"
"Apakah kamu percaya kakakmu?" Axel balik bertanya.
"Entahlah, kak. Aku percaya kakakku tapi keadaan ini membuatku sulit, karena siapapun pasti akan berpikiran yang sama denganku jika melihat foto-foto itu. Lagi pula, darimana foto-foto itu?"
"Sedang di lacak, Brian dan Thomas."
Loudy tidak lagi bertanya dia mendekati sang kakak, mengusap kepalanya dan mencium keningnya. "Kak, jangan khawatir ... Tita pasti kembali, aku akan membantu mencarinya." bisiknya. Sang kakak tertidur karena di suntikan obat tidur oleh Axel, Nathan harus tenang dan istirahat ... sangat menyedihkan melihatnya menangis dan menyalahi dirinya sendiri, jadi ... biarlah dia beristirahat sejenak. Sungguh beruntung Nathan di kelilingi orang orang-orang yang sangat menyayangi dia, support system' yang luar biasa.
Anya, di kurung di sebuah ruangan pengap dan lembab, ketika tersadar dia sudah berada disini, entah dimana ini. Dia mencoba menajamkan matanya, oh ... dia langsung merinding, dia mengenali laki-laki itu ... bagaimana laki-laki itu bisa ada disini? dengan banyak sayatan di tubuhnya, seperti cambukan. Dimana ini? Bagaimana aku bisa ada di sini? Bagaimana laki-laki itu bisa ada disini? Anya makin ketakutan, dia tidak tahu siapa orang yang tega melakukan hal sekeji itu, walaupun laki-laki itu benalu baginya, tapi dia adalah orang suruhannya untuk melaksanakan kecurangan yang dilakukan Terry, dan Anya yakin sudah menyembunyikan keberadaan laki-laki itu dengan sangat baik. Ah, ponselku ... Aku harus menghubungi Terry, mana ... dimana ponselku? tidak ada ...
Terdengar langkah kaki menuju tempat tahanannya. Anya merapat ke tembok karena ketakutan, pasalnya dia tidak tahu dimana dia berada dan siapa yang membawanya kesini. Langkah itu semakin mendekat, ruangan yang gelap dan sunyi membuat suara-suara di sekitarnya menjadi lebih terdengar jelas, bahkan derit pintu yang terbuka terdengar seperti sungguh menyayat hati.
"Kamu, sudah bangun?" suara berat seorang pria namun dingin, membuat kuduknya makin merinding. Anya berusaha melihat dalam gelap, siapa?
"Kasihan sekali ya, wanita secantik kamu harus berakhir di tanganku." Thomas duduk persis di depan Anya, mengangkat sebelah kakinya ... memamerkan smirk-nya.
Anya masih mengingat-ingat siapa laki-laki di hadapannya ini. Mengapa dia menahannya disini, apa? siapa? kenapa? "Si ... siapa kamu?"