Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 99



"Nath ..." Tita berbisik lirih.


"Jangan ... jangan katakan apapun, jangan buang energin mu, tunggulah sebentar." suara Nathan makin lirih.


Tita memegangi perutnya, peluhnya bercucuran. "I ... ibu," Tita menahan rasa sakitnya, "Ibu ... ku."


"Ibu?" Nathan langsung berbalik, "Ibu ...,"


Sang ibu pun bergegas menghampiri sang putri dengan penuh kecemasan. Putri satu-satunya, putri kesayangannya ... apa yang sebenarnya telah terjadi? "Iya, sayang ... anakku, ibu disini." dibelainya Suerai sang putri dengan penuh kasih sayang. Sang nyonya mami pun ternyata ikut mendekat, dia sungguh khawatir dengan keadaan sang menantu nya.


Tita menarik sang ibu agar lebih mendekat padanya, sambil menahan rasa sakitnya dia membisikkan sesuatu. Sang ibu terkejut bukan main, "Kamu serius?!" Ibu pun merasakan kelegaan tapi ada hal yang mengusik pikirannya. Sang ibu memandangi tuan muda sekaligus menantunya, kemudian beralih ke sahabat sekaligus mertua putrinya.


"Ada apa ibu?" sang tuan muda terlihat begitu menderita. Ada perasaan senang bahwa putrinya begitu dicintai, sekaligus perasaan aneh bagaimana bisa tuan muda tidak tau?


"Tuan muda, maaf. Tita baik-baik saja, ..."


"Apanya yang baik-baik saja, Bu?! Tita-ku kesakitan seperti itu?!"


Selama sang ibu bekerja di rumah itu, baru kali ini dia melihat dan mendengar sang tuan muda membentak orang lain, dan itu dia. Sang nyonya mami pun cukup kaget dengan apa yang dilakukan Nathan.


"Maafkan saya, tuan muda. Maafkan saya jika membuat anda marah." Ibu merasa bersalah.


"Nathan, jaga sikapmu." sang nyonya mami menegur anaknya.


Tita berusaha bangkit dengan kesakitan nya, "Sayang ..." panggilnya.


Nathan bergegas mendekat, "Jangan bangun, nanti tambah sakit."


"Aku, tidak apa ..."


Sang ibu bingung harus mengatakan apa, akhirnya dia membisikkan sesuatu kepada nyonya mami.


"Hah??" sang nyonya mami pun terkejut, tapi ketika sahabatnya menganggukkan kepalanya, dia tau ini sungguh-sungguh. Sang mami memegang pundak Nathan, mengusapnya, "Sudah, sudah ... biar mami yang mengurus istrimu. Bergeser." bisa-bisanya Nathan di usir sang mami. Ha ha ha.


"Brian, tolong panggil pelayan agar membawakan air jahe hangat, kompres hangat dan panggil Loudy kesini, ya." pinta sang nyonya mami.


"Baik, nyonya." Brian menggunakan telpon yang berada di kamar tidur itu untuk meminta kepada pelayan apa yang di pinta sang nyonya. Kemudian bergegas ke luar untuk memanggil nona Loudy.


"Nathan, tenang lah. Istrimu tidak apa-apa, Tita-mu hanya sedang datang bulan." mami menjelaskan.


"Apa??"


"Menstruasi, tuan." tambah sang ibu.


Tita yang mendengar pembicaraan itu jadi memerah wajahnya, padahal aku sudah katakan sejak tadi, tapi laki-laki ini sudah panik duluan dan membuat semuanya menjadi heboh.


"Sayang, menstruasi ... sesakit itu??"


"Tuan, biasanya di dua hari pertama memang Tita mengalami keram pada perutnya."


"Keram 2 hari??"


"Mi, Tita kenapa?" Loudy datang bersama Brian.


"Tolong ambilkan pembalut mu."


Loudy melihat kekacauan di ruangan itu. "Iya, mi."


"Tita, sayang minum air ini dulu." Ibu meminumkan air jahe hangat itu untuk putrinya. Kemudian menempatkan kompres hangat di perut Tita.


"Mau kemana?" tanya Nathan yang sedang bersimpuh di sebelahnya.


"Aku mau ke kamar mandi." jawabnya pelan.


Tapi siapa sangka, Nathan malah berdiri, menempatkan kedua lengannya pada tubuh sang istri dan membopongnya ke kamar mandi.


"Eh, eh ... Nath ..." aduuuuh, siapa yang tidak malu di perlakukan seperti ini sih. Lihat lah, mereka jadi melihat seperti itu. "Aku bisa jalan sendiri." Tita berbisik di telinga Nathan tapi tidak di gubris oleh laki-laki itu, wajah Nathan masih menampilkan perasaan khawatir bahkan masih tersisa jejak-jejak tangisannya.


Tidak lama kemudian Axel datang ditemani seorang pelayan, "Ada apa? Kamu sakit, Than?"


"Bukan dia, tapi Tita." jawab mami sambil tersenyum. "Amel, yuk kita turun."


"Tuan muda, saya permisi dulu." pamit sang ibu.


Nathan memegang tangan sang ibu mertua, " Ibu, maafkan sikap aku tadi." katanya penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, tuan, saya mengerti dan terima kasih sudah begitu menyayangi Tita." dan mereka tersenyum.


Tapi tidak dengan dokter satu ini, ada apa sih? Dan kebingungan itu makin berlanjut ketika seseorang yang di katakan sedang sakit keluar dari kamar mandi dengan baik-baik saja, yaah walau memang wajahnya sedikit pucat.


"Sudah?" Nathan menghampiri Tita, belum lagi Tita berjalan, seperti tadi Nathan dengan gesitnya membopong sang istri kembali ke tempat tidur. Kali ini Tita membiarkan saja percuma kan menolak. He he.


"Kenapa diam saja, periksa istriku."


"Iya, baik." Axel mendekati Tita.


"Saya tidak sakit, dok." kata Tita. "Saya hanya sedang menstruasi." jelasnya dengan sedikit pelan.


"Apa??" Axel langsung melihat ke arah Nathan, seperti mengatakan 'kamu sedang main apa sih?'


"Tadi Tita kesakitan seperti mau mati." sahut Nathan dengan semburat kemarahan di matanya. Dia tau apa yang di fikirkan Axel.


Axel melakukan prosedur pemeriksaan juga ke Tita, hanya agar laki-laki yang sejak tadi wajahnya kesal, khawatir dan cemas itu bisa sedikit lega. "Tidak ada masalah, kok. Semua baik-baik saja, tadi perut istrimu hanya keram dan itu wajar, mengingat juga sebelumnya ..." Axel tidak jadi meneruskan kata-katanya karena di lihatnya Loudy juga ikut mendengarkan ternyata, "Pokoknya yang harus kamu perhatikan adalah makan bergizi untuk istrimu, dan kalau mau berbulan madu aku sarankan setelah istrimu datang bulan karena itu masuk masa suburnya, ha ha." Axel menepuk-nepuk punggung Nathan sambil tertawa penuh arti, dan siapa sangka kata-kata 'menyimpang' sang dokter menerbitkan senyum mengembang dari wajah Nathan.


"Terima kasih, ya" ujar Nathan.


"Saya akan mengantarkan tuan Axel." ucap Brian.


Loudy menghampiri Tita, "Dasar orang baik, cuma karena datang bulan saja bikin gempar seisi rumah." di pukulnya kaki Tita.


"Och! hei ... kakak kamu tuh yang heboh. Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja." protes Tita.


"Ih, aku percaya padamu." Ha ha ha, ke dua gadis itu tertawa bersama.


"Aku khawatir karena tadi Tita kesakitan," Nathan muncul tiba-tiba, mendekat ke tempat tidur.


"Lho, memang sebelumnya kakak tidak pernah tau kalau Tita suka keram kalau sedang datang bulan?"


Nathan dan Tita terdiam, pasalnya ini adalah kali pertama Tita datang bulan semenjak mereka ... "Iya, aku baru pertama melihat Tita sampai kesakitan seperti itu." jawab Nathan. Benarkan, ini kali pertama dia melihatnya.


"Ya sudah, istirahat saja. Aku akan bilang agar makan malam kalian diantar kesini ya?"


"Terima kasih Lou," jawab Tita.


Loudy mencium kedua pipi Tita, walaupun dengan tatapan tidak enak dari sang kakak tapi dia tidak perduli. Karena bagi Loudy, aku yang kenal lebih dulu, kakak adalah orang baru. Ha ha ha.