
Tita biasa main baseball, tapi tidak pernah di tempat semewah ini. Biasanya, Tita dan teman-teman kampusnya bermain di tempat penyewaan baseball indoor, yang dibayarkan perjam, dan biasanya mereka patungan kecuali ada yang mentraktir, hehe. Tapi kini, woaaah ... keren sekali, tempatnya bersih, ada layar besar seperti kita benar-benar sedang di tengah lapangan. tersedia lemari pendingin berisi beberapa air mineral dan soft drink, ada sofa yang terlihat empuk dan nyaman untuk pemain menunggu giliran, ada meja kecil di sudut yang berisi bermacam cemilan, Dan yang terpenting dari semua itu adalah ... tidak ada bau yang tidak sedap, b.e.r.s.i.h. Aku baru tau ada tempat seperti ini di kota ini.
Nathan menggenggam jemari tangan Tita dengan erat. Ah, ini pertama kalinya kita kencan ... dan ini adalah inisiatif nya. Nathan tersenyum memikirkan kata-katanya sendiri. Ketika Nathan melihat Tita, dia tidak bisa menahan tawanya. "Kenapa ekspresi kamu seperti itu?" Ha ha ha.
"Ah, ya ... oh, aku baru tau ada tempat baseball seperti ini disini."
"Lho, memang biasanya kamu main dimana?"
"Di tempat biasa, tidak semewah ini." Tita memperhatikan gambar-gambar para atlet baseball dari berbagai penjuru dunia. "Kalaupun tau, tidak mungkin juga sih kita main disini ... pasti mahal ya?"
"Tuan, sudah siap ..." Brian melapor.
"Ladies first," Nathan mempersilahkan Tita terlebih dahulu.
"My pleasure." Tita memamerkan kebolehannya.
"Wah, ternyata nona cukup cekatan ya, tuan?" Brian berkomentar. Nathan hanya mengangguk, dia mengagumi istrinya.
"Sekarang giliran kamu," Tita makin bersemangat, peluh yang memenuhi keningnya bahkan terabaikan.
Dengan handuknya Nathan mengelap keringat Tita, "Aku akan mengalahkan kamu, lihat saja."
"Woooww ... aku takuuuuuut, ha ha ha."
"Nona, anda senang sekali mengejek tuan. Tunggu dan lihatlah, setelah itu anda mungkin tidak lagi bisa tertawa seperti ini."
"Hei ... kamu membelanya?? serius??? saat ini kita bertiga adalah saingan, jadi kak Brian tolong jangan membelanya, oke??"
"Kenapa kalian malah asik mengobrol?!!"
Woah ... hanya dia dan Tuhan yang tau kapan manusia satu ini sudah ada di depan kita, karena tidak terdengar langkah kakinya. " Oh, aku hanya kesal karena dia membelamu terus."
"Iya, benar tuan. Nona kesal karena saya membela anda. Padahal, itu kan hal yang wajar bagi saya."
"Sudahlah tidak perlu diributkan lagi." senang. "Lihat aku, sayang ... aku belum selesai." merajuk.
"Iya, iya ..." jawab Tita sambil mendorong punggung Nathan.
Nathan sudah di posisinya, postur tubuhnya memang sudah bagus jadi ketika dia ambil kuda-kuda makin mencolok pesonanya. Nathan sedang konsentrasi, dua harus terlihat makin keren di depan Tita. Ketika bola sudah bergerak kearahnya, dan dia siap memukul ...
"Tuan Petra!"
Tooottt ... gagal! Nathan membanting pemukulnya. Siapa yang berani mengganggu ku!! Mereka melihat ke arah pintu ...
Clair. Sedang tersenyum ke arah Nathan sambil melambaikan tangan. Dengan tidak malunya dia menghampiri Nathan, "Aku pikir tadi aku salah lihat, tapi ternyata itu benar kamu." dan dengan kurang ajarnya dia mencium pipi Nathan tanpa permisi.
Tentu saja hal itu membuat siapapun yang melihatnya kaget.
"Apa yang kamu lakukan?!" anehnya, Nathan tidak menolak perlakuan itu.
Brian yang sudah bertahun-tahun berada di sisi sang tuan muda, menyadari ada yang tidak biasa dengan tuannya. Tapi kenapa bisa seperti itu?
"Aku panggil kamu Nathan saja ya, ini kan bukan jam kerja?"
Tita melihat semua adegan itu, baru kemarin Nathan menjanjikan akan membuktikan ucapannya, tapi kenapa sekarang seolah dia melupakan semua janjinya?
Nathan sudah menyelesaikan bagiannya, "Brian, giliran kamu."
Tapi Clair merebut tongkat pemukul dari Nathan, "Aku mau coba, ya." dengan gayanya yang manja.
Ketika akan mengambil minumannya, Nathan terkejut ketika melihat Tita. Pandangan mata mereka bertemu, terlihat sekali Tita kecewa tapi dia tidak menangis juga tidak pergi dari tempatnya. "Ehm, kamu tidak keberatan kan Clair ikut main?" tanyanya.
"Terserah, itu pilihanmu. Kak Brian, aku ke toilet ya."
"Tuan muda, ada apa denganmu?!" Brian tidak dapat menahan rasa kesalnya.
"Nathan, aku tidak bagus bermain ini."
Clair menghampiri Nathan dan ketika dia ingin duduk di sebelah Nathan, Brian langsung bertindak. "Nona, tolong jaga sikap anda." Brian menghalangi Clair yang ingin menempel pada Nathan.
"Saya rasa Nathan sendiri tidak keberatan dengan keberadaan ku?"
"Tuan muda sedang berkencan dengan istrinya dan anda mengganggu." aish ... Brian kejam juga yaaa.
"Istri?? ha ha ha ... istri yang mana? Hei ... Nathan saja tidak menolakku, lagi pula zaman sekarang tidak masalah kalau laki-laki mempunyai beberapa istri." Clair tentu tidak mau melepaskan kesempatan ini.
"Jaga ucapan anda, nona Clair. Karena aku tidak akan membiarkan anda masuk ke kehidupan kami." ucap Tita.
Clair menoleh ke arah datangnya suara, "Kamu?? kamu designer di Mirae??"
"Iya, dan laki-laki yang anda goda itu suamiku." tanpa menunggu lama Tita menarik tangan Nathan keluar dari ruangan itu, disusul Brian. Namun, sebelum pergi Brian mengucapkan sesuatu.
"Jika anda berani menyentuh kulit tuan dan nona Petra, aku tidak akan sungkan-sungkan dengan anda, nona Clair." kata-kata datar, di ucapkan dengan raut wajah yang flat namun penuh ancaman.
Di dalam mobil Nathan terdiam, seperti orang yang linglung. Tadi dia menyadari sesuatu, di satu sisi dia tidak ingin menolak keberadaan dan sentuhan Clair, tapi ketika melihat Tita dia juga sadar bahwa yang berada di depannya itu adalah istrinya. "Sayang, rasanya ada yang tidak benar ... aku bingung, merasa bersalah, tapi juga ..."
Tita menempatkan kedua tangannya di pipi Nathan, menatapnya penuh sayang, "Aku percaya padamu, aku akan melindungi kamu." Cup ... "Kamu tidak salah." Cup. Dua kali ... Tita mencium bibir Nathan dua kali. Tadi, ketika wanita itu berdebat dengan Brian Tita menyadari sesuatu, suaminya tidak seperti biasanya. Nathan hanya berlindung di punggung Brian tanpa mengatakan apapun. Apa yang digunakan wanita itu untuk memperdaya Nathan?
"Kamu, sungguh banyak berinisiatif hari ini??" dengan senyum jahilnya.
Nah, seperti ini baru lah Nathan ku. Tita.
"Saya juga tidak menyangka nona akan seberani itu tadi." ucap Brian. Melihat bahwa sang nona memiliki kecurigaan yang sama, maka Brian menjanjikan bahwa dia akan mencari tau dan tidak akan membiarkan Nathan sendirian terlebih jika ada wanita itu.
"Hm ... acara kencan pertamaku berantakan." Tita mengeluh. Heiiiiii ... bagaimanapun Tita adalah perempuan yang juga senang dengan hal-hal manis dan romantis bukan?
"Kencan pertama?" ha ha ha, iya ... kenapa bisa lupa, bahkan aku adalah laki-laki pertama baginya. "Bagaimana kalau kita makan? itu juga bisa kamu sebut sebagai kencan, kan?"
Tita berfikir, yaa benar juga sih. "Baiklah, mau makan apa?"
"Hm, lasagna??"
"Mau, mau ..." Tita langsung berbinar-binar membayangkan akan makan makanan khas Italia tersebut.
Nathan terhibur, dia senang melihat kebahagiaan di wajah Tita hanya karena akan makan lasagna. Hm ... sederhana sekali gadis ini, pribadinya sangat menyenangkan pantas saja banyak laki-laki yang jatuh hati padanya.