
"Ah! Nathan. Maksudku, sayang ... kita pulang saja, yuk." Tita mencoba membujuk Nathan agar bisa keluar dari situasi yang tidak nyaman baginya.
"Kenapa buru-buru?" Nathan makin merapat. "Bukankah kamu suka disini? Istri tersayang ku sangat happy tadi." Nathan mengelus rahang Tita, iiih rasanya merinding. "Apa aku harus membuatkan ruangan khusus untuk kamu menyalurkan hobimu itu??"
Hah?? Apa sih, aku juga tidak sering seperti ini?! "Ti ... tidak perlu sayang, lagipula kan aku juga jarang ..."
"Kamu tahu kan aku tidak suka kamu dilihat banyak orang?!" Tita mengangguk. "Jadi seharusnya kamu tahu bagaimana perasaan ki tadi ketika kamu ditonton banyak orang!!" Nathan menendang kaki meja di depannya, membuat vas bunga yang ada diatasnya menggelinding hingga pecah.
Tita memejamkan matanya, dia takut. Baru kali ini dia melihat sisi lain suaminya. Dan perkataan beberapa orang rekan kerjanya mulai terngiang-ngiang di telinganya. Nathan pemimpin Petra Corporate adalah laki-laki tampan, mapan, bertangan dingin namun kejam. Apakah seperti ini kekejaman yang dibicarakan mereka?
"Kamu tahu? rasanya aku ingin langsung menutup tempat ini."
Glek! Apa?? "Tapi, kamu kan juga sering kesini?" Tita memberanikan diri menjawab.
"Tidak lagi semenjak menikah denganmu."
Hahh??? kok jawabnya seperti itu? Kan jadi melting ... Ah! fokus Tita! "Kenapa?"
Nathan menatap heran gadisnya, "Kenapa apanya?"
"Kenapa kamu tidak lagi datang kesini?" Tita mundur karena Nathan malah memajukan tubuhnya. Apa dia ingin mencium ku?
"Pikir saja dengan otakmu yang pintar itu?!"
Cih, bahkan aku jadi bodoh jika berhadapan dengannya. "Kalau kamu tutup club' ini, kasihan kak Thomas kan?" ah ... salah ngomong.
"Jadi sekarang kamu membela Thomas?! Suamimu itu aku atau Thomas!"
"Kamu .. kamu suamiku." Tita menjawabnya dengan cepat, karena tahu dia salah.
Nathan sungguh tak habis pikir, bagaimana bisa istri kecilnya ini benar-benar menjadi kelinci yang nakal kini. Nathan ingat kata-kata sang mami suatu hari, bahwa Tita itu masih terlalu muda, masih ingin bebas, masih memiliki mimpi yang ingin dicapai. Itulah alasan selama ini dia selalu mengalah, memaklumi. Tapi kali ini, melihat istrinya berduet dengan laki-laki walaupun itu Mike sekalipun, Nathan sungguh cemburu.
"Sayang ... kalau kamu tidak suka aku bernyanyi, aku tidak akan melakukannya lagi ..." Tita mengakui kesalahannya.
Nathan menghela nafas panjang, "Aku bukan tidak suka kamu bernyanyi, sayang." sungguh Nathan menahan emosinya kali ini karena memandang bola mata bening dan bundar itu kini memancarkan kesedihannya. "Bernyanyi lah hanya untukku, tidak di depan orang-orang itu ... hanya untuk aku saja."
"Iya, iya ... aku janji, tidak akan seperti itu lagi." Hm ... apalah daya seorang Tita, walaupun dia juga merasa bersalah tapi pesona yang dimiliki suaminya ini memang berbahaya, tidak hanya wajah tapi juga cara bicara yang membuat lawan mengikuti kemauannya.
"Kamu sudah berjanji, ya. Ingat itu baik-baik." tatapan memelas yang mengintimidasi itu telah berganti menjadi senyum kemenangan.
Aku telah terperdaya. Tita.
Nathan memeluk erat Tita, "Kamu hanya milikku." Nathan membisikkan kata-kata itu, lagi. Tidak kah dia tahu kata-kata itulah yang menggangu Tita?
"Kita pulang ke apartemen saja yuk?"
"Kenapa?"
"Aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu."
Tita merasa geli ketika bibir Nathan menyapu lehernya. "Apartemen mana?"
"Apartemen kamu." Tita menahan kepala Nathan dengan kedua tangannya.
"Pulang saja, yuk."
"Tidak mau. Banyak pengganggu!"
"Tapi, kita tidak bisa kesana."
"Kenapa?"
"Emm ... sebenarnya, karena aku sudah membayar biaya sewa full dan tidak jadi menempatinya ... Sekarang, Mickey yang menempati apartemen itu." Tita menjelaskannya dengan takut-takut.
"Apa!"
Aaaa ... benarkan dia marah.
"Bagaimana bisa Mickey mouse itu yang menempatinya?!"
"Lalu, apa dengan Mickey mouse yang menempatinya kamu jadi tidak rugi? Begitu?"
"Ya, sudah jelas ... karena dia mengembalikan uangku."
"Oh! Sayang ... Kalau masalahnya hanya uang aku bisa memberikan untuk kamu."
"Bukan ... bukan itu. Hanya saja, lokasinya kan dekat dengan kantor ... jadi sayang saja kalau tidak dimanfaatkan."
"Aku akan suruh Brian membereskan apartemen itu." Nathan sudah ingin berdiri, tapi Tita menariknya.
"Nathan! Sayang .... jangan."
"Kenapa kamu peduli sekali dengan Mickey mouse itu?"
"Bukan ... bukan begitu," duh ... tidak enak aku dengan Mickey jika Nathan semena-mena begini. Oh iya! kenapa tidak terpikirkan, hehe. "Dari pada kamu membuang-buang waktu, bagaimana kalau kita ke apartemen kamu saja?" Kadang kalau sedang terpojok otak kita akan berfikir lebih cepat, kan. Ha ha ha.
"Kamu sedang merayuku?" padahal hatinya senang. Dan makin senang ketika mendengar jawaban sang istri.
"Memangnya aku tidak boleh merayu suamiku?"
Perayu.
"Waah ... apa yang harus aku lakukan padamu, ya." Nathan mulai bergerilya. "Aku rasa tidak masalah kalau kita pemanasan sebentar disini, sayang."
Eh ... kok gini?! Tita melihat ke arah pintu, dia tidak mau kalau sampai kepergok lagi.
"Santai sayang ... ha ha ... jangan tegang begitu." Tanpa permisi Nathan mencium bibir istrinya, tempatnya terlalu sempit untuk bergerak.
Sementara itu diluar pintu.
"Apa yang sedang terjadi di dalam?" Rega terlihat khawatir.
"Entahlah ... hanya terdengar sesuatu pecah tadi." Brian mengatakan hal itu dengan datar.
"Sampai kapan kita menunggu disini?" Thomas yang paling gelisah, karena club' ini miliknya dan kata-kata Rega tadi cukup membuat nyalinya ciut. "Kita masuk saja!"
"Kamu mau mati?!" Brian menegaskan. Karena dia sangat tahu Nathan, kalau sedang marah seperti itu lebih baik tidak ada yang mendekat.
"Ahh!! sakit." Tita mengeluh.
"Itu tanda cinta dariku." Nathan puas kali ini. "Kalau kamu balas dendam, silahkan lakukan hal yang sama." Nathan merentangkan kedua tangannya, memamerkan dadanya yang bidang.
Cih, kalau aku melakukannya bukan balas dendam, tapi kamu keenakan. Pikir Tita. Lelah ... lelah sekali aku, hiks.
Ketika pintu itu terbuka, mereka langsung menyerbu Nathan, ke khawatiran jelas tercetak di wajah-wajah mereka ... um, Thomas sih lebih tepatnya.
"Kalian menunggu disini??" huh, kalau sudah bersama Tita dia tidak memikirkan yang lainnya.
"Bagaimana?" pertanyaan bodoh dari seorang Thomas yang merupakan ahli strategi. Pun mendapat tatapan aneh dari Nathan. Pertanyaan macam apa itu?? Pasalnya Nathan di dalam bersama istrinya sendiri bukan dengan wanita malam yang bisa di booking seperti kelakuan mereka.
Menyadari kekeliruannya, dia pun meralat pertanyaan, "Maksudku, apa yang kalian lakukan di dalam?"
"What! why are you so curious?!"
"No ... I mean, i hope you both are fine." duh, apa sih ... kenapa belepotan begini.
Tita keluar dan merangkul lengan Nathan, tersenyum melihat sahabat-sahabat suaminya.
"Kalau kamu mengkhawatirkan club' mu ini, tenang saja ... aku tidak akan menutupnya." tegas Nathan karena tau apa yang membuat Thomas seperti ini.
Dan benar kan, dia menghela nafas lega. "Oh, syukurlah ..." dan reflek dia melihat Tita, si penyelamat ... mengelus pipinya, "Thank you so much, my dear." sok manis.
"Hei!!! don't touch ..." Nathan memukul tangan yang menyentuh pipi mulus istrinya. Di iringi tawa Rega dan Brian.
"Iya, iya ... aku hanya bercanda, Than?!" Thomas mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Waah, ternyata benar ... istrinya adalah kelemahan terbesar Nathan. Kata Thomas dalam hati.