
"Jadi, ada apa anda ke sini pagi-pagi?" Tita membuka obrolan di sela makan.
"Aku ingin bilang, apa yang kamu lihat kemarin tidak seperti apa yang ada di otakmu."
"Memang anda tahu apa yang aku pikirkan?"
"Yaah, aku hanya tidak ingin kamu salah paham. Aku benar-benar tidak tahu kalau dia datang. Dia masuk begitu saja."
Tita meluruskan punggungnya. "Jadi maksudnya, seharusnya dia datang ketika anda suruh dia datang, begitu?" Hah. Kenapa aku jadi tambah kesal.
"Ah. Tidak seperti itu. Saat itu, dia masuk begitu saja, katanya karena aku pesan makanan. Tapi, aku tidak tahu kenapa dia bisa tidak sopan seperti itu."
Tita menghela nafasnya, sejujurnya dia juga tidak mengerti kenapa dia jadi terkesan pacar yang pecemburu sekarang. "Anda kenal dengan dia, kan?"
Deg. Bukan hanya sebatas kenal. Tapi Nathan hanya diam. Kenangan-kenangan saat bersama Anya berputar di kepalanya. Seperti sedang menonton filmnya sendiri, dia teringat bagaimana mereka bisa jadian, berbagi cerita setiap hari. Mereka adalah couple goals pada masa itu, saling mengerti, saling menghargai, dan tentunya saling mencintai.
Tita menatap lekat wajah Nathan, dan dia melihat langsung perubahan di wajah tampan itu. Hah. Aku tidak se-bodoh itu, untuk tidak bisa mengartikan bahwa kalian tidak pernah saling kenal dan bahkan tidak pernah ada hubungan, semua tergambar jelas di wajahmu. "Baiklah, aku berangkat kerja dulu, ya." Tita ingin segera mengakhiri obrolan ini, makin sakit dadanya saat memperhatikan Nathan tadi.
Nathan memperhatikan gadis itu, memang dia berbeda dengan Anya. Satu pikiran itu, terlintas dibenaknya. "Brian akan mengantarmu,"
"Tidak perlu, terima kasih. Tuan Brian juga pasti lelah sekarang, ya kan?" Tita keluar begitu saja dari pintu itu, meninggalkan Nathan yang kini kacau dengan pikirannya sendiri. Aku harus kuat, dari awal pun aku tidak menganggap ajakannya menikah adalah karena dia mungkin tidak serius mau menikah denganku. Jadi, aku harus siap jika tiba-tiba tuan muda itu membatalkan acara main rumah-rumahan denganku.
***
Namun, acara pernikahan ini pun tetap berlangsung. Karena kini, dia sedang duduk di depan cermin dengan gaun pernikahan lengkap dengan make up nya. Seharusnya dia bisa bahagia di hari pernikahannya. Setelah hari itu, mereka menjalani kehidupannya masing-masing. Mungkin sang tuan muda ingin menata kembali hatinya. Tapi kenapa dia bersikeras menikah denganku?
Pintu ruangan pengantin terbuka, muncul lah sang kakak yang tampak tampan dengan setelan jas formalnya. "Hai, cantik?" Tita menghamburkan dirinya ke pelukan sang kakak. "Jangan menangis, ini kan hari bahagiamu." Tita hanya menjawab dengan senyuman. "Kamu harus bahagia, ya? Walaupun kamu sudah menikah dan dengan bos-ku pula, tapi jika dia membuatmu bersedih aku akan tetap membelamu."
"Iya, kakak."
"Nona, silahkan acara akan segera dimulai."
"Yuk, mereka sudah menunggu."
Tita bisa melihat dengan jelas wajah-wajah bahagia dari orang-orang yang disayanginya ketika penghulu dan para saksi menyatakan mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri. Sang ibu, nyonya mami, Kakaknya, Loudy, teman-temannya yang bahkan tidak menyangka dia akan menikah secepat ini, tampak bahagia melihat setiap prosesi pernikahan ini. Tita mencium punggung tangan sang tuan yang kini telah resmi menjadi suaminya. Dan Nathan mencium kening Tita, yang kini telah resmi menjadi istrinya.
Apakah kedua pasangan baru ini bahagia dengan pernikahan mereka? Tentu saja. Hanya seperti masih ada yang mengganjal di antara keduanya. Sebab, setelah hari itu sang tuan muda tidak lagi berkeinginan meluruskan permasalahan itu. Dia kembali menjadi Nathan yang egois dan berhati dingin.
*Flashback*
"Tuan, mungkin sepertinya ini masalah kecil. Tapi tetap harus anda selesaikan hingga tuntas."
"Dia tidak percaya padaku."
"Tapi tuan, nona adalah wanita. Tuan harus bisa lebih mengerti...."
"Nah! memang itu alasannya, jadi mengapa sekarang anda malah membuatnya lebih rumit?"
"Sudahlah, biarkan saja... Anak kecil kalau marah juga nanti baik sendiri."
*flashback off*
Tita sedang duduk melamun di salah satu kamar hotel tempat akan diselenggarakan pesta resepsi pernikahannya. masih ada waktu enam jam sebelum acara dimulai, dia sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian rumahnya. Sang suami entah dimana, setelah akad selesai Tita langsung naik ke kamar ini ditemani Loudy. Sebaiknya aku tidur
saja.
Nathan masuk ke kamar pengantinnya, dia ingin mandi dan beristirahat. Tapi pemandangan di depannya, membuatnya mengurungkan niatnya. Dia istriku sekarang. Nathan naik ke kasurnya, berbaring di sebelah istrinya, memeluknya dari belakang, mencari posisi nyaman dan menyusul sang istri ke alam mimpi.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore, Tita terbangun dari tidurnya. Walau tidak melakukan apapun tapi, badannya terasa sangat lelah sekali. Hmm... harum sekali, Tita makin mengeratkan pelukannya. Nathan yang mendapat pelukan erat langsung membuka matanya, senyum di bibirnya merekah. Tidak mau kehilangan kesempatan bagus, dia menahan kaki sang istri dengan sebelah kakinya. Ingin sekali dia melihat wajah istrinya, tapi dia lebih tidak rela melepaskan pelukan itu.
Ting-tong ... Ting-tong ... bel berbunyi, Nathan berdecak sebal. Siapa sih! Dia mengabaikan tamu yang datang. Tidak lama kemudian ponselnya berdering, Mami. Nanti saja deh, dia tidak mau mengganggu kenyamanan sang istri. Hingga akhirnya, Ceklek!
"Nathan!" Sang mami sudah berada di depan kamarnya. Kontan membuatnya terkejut, dan langsung duduk dari tidurnya.
"Mami!"
Tita yang merasakan pergerakan tiba-tiba pun ikut terbangun, dan ... "Aaaargh ... apa yang anda lakukan disini!!!" karena reflek diambilnya bantal, dipukuli sang suami yang masih belum siaga akan serangan dadakan.
Nathan berusaha menenangkan sang istri yang baru 5 jam dinikahinya itu, "Tita ... hei, hentikan. Aduh. Tita, sayang, sakit. Aku kan suami kamu!"
Sang mami yang tidak sadar karena ulahnya hal ini terjadi, seperti sedang menonton hiburan. Dia tertawa melihat tingkah anak dan menantunya. Ha ha ha.
Yah. Tita tersadar kini, menghentikan pukulannya. Menatap sang suami penuh penyesalan. "Ah, maaf... maafkan aku. A... aku kaget tadi." Dipeluknya bantal yang tadi jadi senjatanya dengan erat, dia takut laki-laki itu membalas perbuatannya.
"Hah, sudahlah." Dia mengusap kepala sang istri, kemudian beralih ke sang mami. "Mami kenapa menerobos masuk kesini?"
"Ayo, keluar. Kalian kan harus bersiap untuk resepsi. Salah kamu, kenapa mengabaikan panggilan mami! Kalian belum melakukan apa-apa kan?"
"Hampir, gara-gara mami jadi batal." Nathan yang sudah kesal karena sang mami mengganggu kesenangannya, ngeloyor masuk ke kamar mandi. Tinggallah Tita yang masih mencerna dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Ayo, sayang. Kamu kan harus dandan dulu."
"Tapi aku belum mandi,"
"Mandi di tempat Loudy saja. Nanti kamu makin gak boleh keluar sama suami kamu." Sang nyonya mami mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda Tita.
Eh, eh, tidak seperti itu. Tita.