Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 88



Aston Martin berwarna hitam itu berhenti di depan sebuah kedai yang menyajikan cemilan malam yang hangat. Nathan masih belum mengerti mengapa Tita bisa merengek seperti itu hanya untuk cemilan. "Brian, apa sih yang di jual disana?" sambil memperhatikan istrinya sedang mengantri pesanannya.


"Entahlah, tuan. Saya juga tidak tahu. Tadi Nona hanya bilang sempol ayam, mungkin seperti fried chicken dengan rasa lokal." jawab sang sekretaris.


"Maaf menunggu lama," dengan senyum secerah matahari Tita masuk ke dalam mobil, "Cobalah sayang." katanya sambil menyodorkan plastik berisi makanan yang ditusuk dan terrendam dalam saos.


"Dimana ayamnya?" tanya Nathan.


TIta mengambil satu tusuk sempol ayam berbalur saus dan mengarahkan ke Nathan. "Aaaaa ... buka mulutmu."


"Tidak mau, nanti aku sakit perut." tolak Nathan.


"Tidak akan, ini makanan favoritku." paksa Tita.


"Setiap yang kamu makan selalu kamu bilang 'makanan favoritmu' kan. Aku tidak mau makan itu." Nathan tetap menolak.


Tita cemberut dengan penolakan yang dilakukan sang tuan suami. Pas sekali mobil berhenti di lampu merah, Tita menyodorkan sempol ayam ke Brian, "Kak Brian, cobalah, aaaaa ..."


Baru saja Brian menolehkan wajahnya dan membuka mulutnya, Nathan langsung menarik tangan sang istri dan melahap sempol ayam itu hanya dengan satu suapan. Lebih baik dia sakit perut dari pada Tita menyuapi laki-laki lain, kan. Huh, Brian yang gagal mencicipi hanya bisa menelan ludahnya.


Tita tersenyum senang, tentu saja. "Bagaimana, bagaimana? enak kan? Enak tidak?"


"Tidak ada rasa ayamnya." ha ha ha ... sang tuan muda masih saja berfikir itu adalah ayam, ya?


Tita menyodorkan satu tusuk sempol ayam untuk Brian, dan sebelum sang tuan suami protes dia langung menjelaskan, "Biarkan kak Brian mencoba!" huft ... bisa galak juga ya Tita. Dan Nathan hanya mengangguk.


"Terima kasih Nona." Hmm ... enak juga walaupun tidak ada ayamnya.


Dalam sekejap Tita sudah menghabiskan makannannya, "Enak ... biasanya aku makan ini di kampus, jadi kangen kampus ..."


"Di kampus kamu hanya makan itu?" Nathan bertanya sambil menarik tubuh Tita untuk merapat padanya.


Eh, eh, kebiasaan banget sih, gak lihat-lihat situasi ... tapi tidak mungkin kan aku menolak? hari ini aku sudah dua kali eh tiga kali buat dia marah. "Yaa ...tidak juga, kalau sedang ingin saja."


"Aku jadi penasaran masa-masa sekolahmu," Nathan membelai surai Tita, menciuminya dan kebablasan ke lehernya. Ha ha ha ... modus ya tuan suami satu ini.


"Ah .. jangan disini, aduh ... sayaaang." meski mati-matian berusaha menghindar, tapi apalah daya dia pun tidak bisa menolaknya.


Brian mulai menggenggam erat kemudi yang di pegangnya, oh God ... mulai lagi deh, apakah mereka tidak kasihan dengan aku yang mendengar dengan jelas suara-suara mematikan itu?!!


***


Proyek Galeri Seni akhirnya rampung, semua orang bersuka cita terlebih Tita ... ada rasa bangga ketika berhasil mewujudkan keinginan owner dan tidak ada kendala dalam pengerjaannya. Proyek pertamanya yang mengubah kehidupannya, proyek pertama yang membuatnya mendapatkan pekerjaan, proyek pertama yang membawanya bertemu cinta pertamanya.


"Tentu pak."


Ha ha ha, semua orang senang dengan keberhasilan proyek ini karena tentu menaikkan reputasi Mirae Constuction. Bagaimana tidak? Ini adalah proyek milik Petra, sang big boss, Nathan, merupakan pribadi yang perfeksionis jika dia tidak suka maka 'out' tidak ada tawar menawar. Dia benar-benar hanya memperkerjakan mereka yang benar-benar handal. Untuk itu, jika perusahaan sekelas Mirae berhasil menyelesaikan proyek ini sampai akhir artinya perusahaan ini dapat di perhitungkan keberadaannya.


"OKe, untuk merayakan keberhasilan kita, bagaimana kalau makan malam tim nanti sepulang kerja?" usul pak Putra. Dan tentu saja di sambut dengan antusias oleh karyawannya yang lain.


"Tita," Mickey menarik Tita dari kerumunan.


"Apa?"


"Daripada nanti terjadi hal-hal seperti kemarin, sebaiknya kamu menghubungi tuan Petra dan minta ijin langsung dengan jelas." Mickey mewanti-wanti, dia tidak ingin kejadian hari itu terulang, masih baik dia masih bisa bernafas hari ini.


"Oh, iya iya. Nanti akan aku hubungi." Tita menatap Mickey yang masih berdiri menatapnya, seperti tidak mau melepaskan. "Huft ... oke oke, aku hubungi sekarang ... begitu kan mau kamu?" Tita menghubungi sang tuan suami di depan sahabatnya itu.


Haha ... maaf Tita, aku harus memastikan kamu tidak lagi membuat kesalahan. Aku harus memiliki citra yang baik di depan tuan Petra agar nanti dia menyetujui hubunganku dengan adiknya. Pikir Mickey.


Ha ha ha ... sayang sekali laki-laki ini tidak tahu, bahwa sang tuan muda sudah jengkel dengannya perihal apartemen, kan? Ha ha ha.


"Kak Brian, apa aku bisa bicara dengan Nathan? Hm, baiklah .." Klik. "Lihat, belum bisa di hubungi."


Mickey mengangguk saja, dia sebenarnya masih mempertimbangkan apakah harus memberitahukan Tita rencananya? dia ingin Tita adalah orang pertama yang tahu hal ini. Hm ... memikirkannya saja membuatnya berdebar-debar.


"Zahra, nanti malam kamu ikut pergi?"


"Iya, kenapa?"


"Apa suami kamu juga akan ikut?"


TIta melihat ke arah Candy, apa hubungannya makan malam tim dengan Nathan? "Memangnya dia harus datang?" ada rasa tidak suka ketika Tita mendengar pertanyaan Candy.


"Oh, bukan ... siapa tahu suami kamu itu datang. Aku fans beratnya sejak lama ... dan aku ingin sekali berfoto dengannya?" Candy melanjutkan dengan penuh pengharapan?


Hah?? apa dia tidak salah dengar? "Untuk apa kamu berfoto dengannya?!"


"Hei ... jangan salah paham, Ra. Aku bukan pelakor ... tapi sudah sejak lama aku mengagumi tuan Petra. Kamu tahu kan ... berapa banyak gambarnya yang aku gunting dari majalah?" bela Candy.


Tita mengingat-ingat, memang benar sih ... dia tahu bahwa sang suami ada di majalah-majalah dari Candy. Bahkan Candy pernah menunjukkan sebuah buku yang berisi hanya potongan-potongan gambar Nathan. Dan dari dia pula Tita tahu bahwa Nathan adalah laki-laki yang tidak tersentuh. "Dia tidak mungkin datang sepertinya." Tita menepuk-nepuk punggung Candy, tapi nanti jika dia datang menjemputku aku akan beritahu kamu ya.


Seperti dapat jackpot, Candy langsung berseri dan bersemangat. "Benar?? Aaa... terima kasih Zahra." Candy memeluk TIta dengan semangat. Dia tahu tuan Petra bukan laki-laki yang mudah di dekati, dia juga tidak pernah berekspektasi untuk menjalin cinta dengan laki-laki seperti itu. Bahkan saat dia tahu bahwa Zahra adalah istri dari laki-laki yang di kaguminya, Candy termasuk orang yang berbahagia karena rumor tentang sang pujaan yang tidak suka wanita langsung terpatahkan. Apalagi saat dia dengan mata kepalanya sendiri melihat bagaimana tuan Petra begitu cemburu karena ada laki-laki lain yang menyatakan cinta pada istrinya, aaaaa .... seperti sedang melihat drama secara real saja.