Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 45



Nathan sedang duduk di meja kerjanya sambil mengecek email-email yang masuk. Diliriknya sang istri yang sedang membaca majalah di depannya... Rasanya dia tidak mau pulang. Dia suka disini, bersama istrinya. Istrinya sepenuhnya.


"Nath, besok aku pulang."


"Hah, loh. Kenapa?"


"Cuti ku habis."


"Tapi aku belum selesai disini."


"Iya, tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri."


"Tidak. Kamu pulang bareng aku."


"Tapi, cuti aku ..."


"Jangan berdebat denganku, atau kali aku keluarkan dari kantor si Putra."


Ih, kok curang! "Tapi kamu masih lama disini, kan? Pekerjaan aku masih banyak yang belum selesai."


Ck, Nathan kesal... kenapa sih susah sekali dia menurut. Nathan mengeluarkan ponselnya, menghubungi Brian. Tidak lama kemudian, yah di telpon sudah ada di hadapannya. "Brian, telpon Putra Mirae, bilang Tita memperpanjang cutinya."


"Hei, jangan." Tita menyela, dia sungguh tidak suka sikap Nathan yang seperti ini. "Kalau kamu berani lakukan itu, aku marah." Wah, belajar mengancam darimana dia?


Kemarahan Tita membuat Nathan bungkam. Merasa ancamannya berhasil, Tita melanjutkan "Aku tidak main-main, Nathan." tolong beri applouse yang meriah untuk Tita, karena ancamannya berhasil, he he.


"Aku, hanya masih ingin bersama kamu. Kenapa kamu marah?" ho ho ... si arogan ini bisa juga memelas rupanya.


"Aku tidak suka cara kamu mengancam ku seperti itu. Aku baru bekerja disana, aku punya tanggung jawab atas pekerjaan ku. Tolong mengerti."


Brian, dia hanya menikmati tontonan perubahan hidup Nathan. Akan direkam baik-baik momen ini. Nathan tertunduk lesu, padahal baru beberapa menit yang lalu dia teramat bahagia. "Ya, terserah kamu saja." pasrah.


Tita juga tidak sanggup jika ada orang memelas seperti ini di depannya. Lupa juga dia dengan petuah sang ibu untuk selalu menuruti kata-kata suami. Akhirnya, dia bangun dari duduknya. Berjalan ke arah sang suami, dia memutar kursi yang sedang di duduki Nathan sehingga posisi mereka berhadapan dengan Tita yang masih berdiri. Di raih tangan sang suami, di genggamnya dengan penuh kehangatan. "Maafkan aku, ya ... Tapi nanti kamu ajak aku jalan-jalan disekitar sini, ya." katanya dengan manis sekali.


Nathan yang bahagia langsung mengangkat tubuh mungil Tita di dudukannya sang istri di mejanya, "Kamu serius?" Tita mengangguk. "Jangan merubah keputusan kamu, ya." Tita mengangguk lagi. Dan diciumi seluruh wajah sang istri dengan gemas.


Hahhh, kenapa cepat sekali berubahnya. Brian melangkah keluar sebelum di usir sang tuan, meninggalkan dua orang manusia yang tengah dimabuk cinta. Tapi dia tahu satu hal, kelemahan terbesar Nathan, sang tuan muda adalah Tita, istrinya.


saat berjalan di lorong, Brian melihat lagi wanita itu. Sedang apa dia disini? Benar tebakannya, wanita ini sangat mencurigakan. Teringat hal itu, dia menghubungi kaki tangannya. Kini Brian sedang berada di kamarnya sendiri, memeriksa laporan-laporan melalui email. Dan matanya menangkap satu laporan yang memang sedang di tunggunya. Di buka file itu, yang berisi biodata. Oh God. Pantas saja dia merasa Familiar. Brian langsung keluar dari kamarnya menuju kamar sang tuan muda tentunya. Oke, tenang Brian. Jangan tergesa-gesa. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan nona Tita.


"Kenapa, Brian."


Brian melihat situasi, aman, sang tuan dalam suasana hati yang sangat baik. Dia menyerahkan laporan yang dia terima melalui email tadi. Nathan terdiam, Brian memperhatikan semua perubahan sang tuan muda.


"Nathan, jalan-jalan yuk ..." Tita tiba-tiba sudah rapi mengenakan blouse berwarna kuning cerah tanpa lengan dengan rok pendek yang agak mengembung. Manis sekali.


"Mau kemana?"


"Jalan-jalan."


"Ganti bajumu. Kamu mau pamer sama siapa dengan pakaian seperti itu?"


Mulai deh, "Tapi, baju ini kan kamu yang belikan." protesnya.


Bukan dia yang beli, tapi Brian dan Rega. "Pakai itu hanya di depanku, tidak boleh dipakai keluar." Ketika Tita hendak melayangkan protes, Nathan sudah sudah memotong. "Ganti atau tidak pergi sama sekali."


Maka berbaliklah Tita, mengganti pakaiannya. Dia itu kenapa sih, badanku juga gak bagus-bagus banget. Aku juga tidak secantik itu, apalagi populer. Dia memandang pakaian yang tadi dikenakannya, sayang sekali padahal bagus. Dasar manusia satu itu, aneh, arogan, otoriter.


Untuk pertama kali mereka keluar bersama, Nathan menggenggam tangan Tita. Masih ada getaran-getaran ketika kulit mereka bersentuhan. Ting. Mereka tiba di lobi.


"Kita mau jalan kemana?" tanya Tita dengan antusias.


"Hm, apa yaaa ... aku tidak terlalu mengenal tempat ini. Brian yang akan menunjukkan jalan nanti."


"Kita tidak pergi berdua saja?"


"Aku tidak mau ambil resiko tersesat denganmu," ha ha... Disaat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba ...


"Selamat siang, tuan Petra."


Nathan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang menyapanya. Namun Tita melihat siapa yang 'hanya' menyapa suaminya. Anya, name tag itu tertulis Anya. Dia mencoba dengan santai melihat kearah sang suami. Fix, Nathan mengenalnya ... karena tatapannya, lain. Walaupun dia belum yakin, apakah wanita ini adalah Anya yang dibicarakan suaminya dengan Brian. Tapi Tita yakin, mereka saling mengenal. Rasanya, sakit seperti ada yang mencubit. Dan dia melepaskan tangannya dari genggaman sang suami.


Nathan tidak menjawab sapaan wanita itu, tapi entah kenapa dia bisa tidak menyadari bahwa tangannya sudah tidak lagi menggenggam tangan sang istri. Wanita bernama Anya yang hanya menyapa sudah pergi, tapi kecanggungan antara keduanya belum juga pergi. Entah itu hanya perasaan tita saja, atau memang Nathan yang tidak merasa seperti itu.


Di dalam mobil pun, mereka hanya terdiam ... tidak ada yang memulai pembicaraan. Tita sudah bertekad tidak akan memulai pembicaraan, kesal juga dia dengan sikap Nathan. Sangat terlihat sekali perubahan sikap sang suami setelah kemunculan wanita itu.


Brian yang memang tidak tahu tujuan dua manusia ini pun bingung, "Tuan, kemana kita akan pergi?"


"Terserah saja," jawabnya.


Hah, jawaban macam apa itu?? Makin kesal lah Tita. Dia tidak sadar ada aku disini?? Kalau dia tidak punya tujuan, dia bisa bertanya pendapat ku kan??? Wah, manusia ini keterlaluan!!


Akhirnya, Brian berinisiatif membawa mereka ke Hyde Park, sebuah taman yang ada danau besar dan ada juga restoran di tepi danau itu. Melihat keindahan taman itu membuat Tita senang, terhibur sedikit hatinya melihat banyak orang-orang disana.