Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 8



Sampailah Nathan dan Rega di landasan pesawat udara, mereka berjalan menuju sebuah pesawat bertuliskan Petra Corporate. Rega makin dibuat melongo ketika kru pesawat menyapa Nathan, "Semua sudah siap tuan muda,"


Dan kini mereka tengah duduk di dalam pesawat pribadi milik keluarga Nathan. Rega yang tidak tahan dengan rasa penasaran nya akhirnya bertanya "Than, ini pesawat siapa?"


Nathan melihat sahabatnya itu, "Punya keluarga."


"Hah," Tajir banget. Itulah yang ada dipikiran Rega kali ini. Dan dia menatap sahabatnya itu tidak percaya. Nathan balas menatap Rega, "Papi aku anfal, Ga. Aku harus ada disana sebelum sesuatu yang buruk terjadi."


"Hah ... ya ampun, Than, kenapa baru bilang?" Lebih terkejut lagi Rega mendengar kondisi temannya ini. Baru aja patah hati dan langsung mendapatkan berita tidak baik tentang sang papi. Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu, Mereka sama-sama memejamkan mata, mencoba mengusir penat dan mengistirahatkan tubuh mereka. Setelah menghabiskan waktu selama 17 jam, pesawat landing dengan sempurna. Nathan keluar pesawat bersama Rega, di jemput supir yang akan mengantarkan mereka ke rumah sakit tempat sang papi di rawat. Sebenarnya, di kepala Rega banyak bermunculan pertanyaan, namun yang membuatnya lebih penasaran adalah siapa Nathan sebenarnya? karena tiba-tiba saja bermunculan orang-orang yang memperlakukannya seperti tuan besar? Tapi Rega masih waras untuk tidak mempertanyakan semua yang ada di kepalanya kepada Nathan disaat seperti ini.


Mobil berhenti di lobi rumah sakit, Nathan turun setelah seseorang membukakan pintu untuknya, di ikuti Rega yang memang mengekor sejak tadi. Melewati lorong-lorong rumah sakit, Nathan melihat sang mami di depan ruang SICU, sedang duduk tertunduk sendirian. Nathan langsung berlari, merengkuh sang mami yang tampak terkejut mendapati pelukan tiba-tiba dari sang anak sulung. Dan pecahlah tangisnya. Bahunya yang mulai ringkih karena termakan usia dan tekanan batin sejak suami tercinta terbaring tak berdaya, membuatnya seakan tak bertulang di dalam pelukan sang anak, tangis itu begitu lirih, bahkan yang mendengarnya akan merasakan juga kesedihan yang begitu dalam.


"Mami," sang anak mengusap punggung sang mami untuk ketenangan. "Aku ingin melihat papi," Sang mami mengangkat wajahnya, menatap nanar sang anak dengan mata yang masih basah, "Katakan pada papi, bahwa kamu mengikhlaskan papi ..." Nathan yang memang belum mengetahui secara keseluruhan kondisi sang papi kaget mendengar penuturan sang mami. Namun, dia tidak bertanya karena pasti sang mami lebih tahu kondisi sang papi. Karena tidak sejengkal pun dia beranjak pergi dari ruang perawatan suaminya. Di ciumnya jemari sang mami yang berada dalam genggamannya, dan dia mengangguk.


Setelah dirinya steril dan dengan memakai pakaian khusus dia mendekati bangsal sang papi. Di lihatnya laki-laki yang dia banggakan sejak kecil, laki-laki yang tidak kalah tampan darinya, laki-laki yang dengan tubuh kokohnya memberikan kenyamanan, kebahagiaan dan perlindungan untuknya, kini hanya terbaring tanpa daya dengan selang-selang menempel di tubuhnya sebagai penunjang kehidupan. Ah... melihatnya seperti ini, dia tahu mengapa sang mami memintanya untuk mengikhlaskan sang papi. Sang mami lebih tersiksa melihat laki-laki yang di cintainya, laki-laki belahan jiwanya harus tersiksa lagi di akhir hidupnya.


Nathan mendekat, sedikit membungkuk dan berbisik, "Pi, terima kasih sudah berjuang selama ini tanpa lelah untuk kebahagiaan kami. Aku sudah siap untuk melanjutkan perjuangan papi. Kami ingin papi beristirahat dengan tenang dan tidak tersiksa seperti ini. Walaupun aku menyesal karena harus bertemu papi dalam keadaan yang seperti ini padahal aku baru saja menyelesaikan study-ku, tapi aku ikhlas jika papi ingin pergi dan aku janji tidak akan membiarkan mami dan putri kesayangan papi bersedih dan tidak bahagia."


Tit... tit... tit ... tiiiiiit, alat EKG itu menunjukkan garis yang lurus. Nathan terjatuh di lantai, tak kuat menopang tubuhnya sendiri, beberapa perawat masuk mengecek keadaan pasien prioritas mereka. Rega masuk untuk membawa sahabatnya itu keluar, menuju bangku rumah sakit dimana sang mami duduk dalam pelukan sang bungsu. Hanya tangisan lirih yang terdengar saat itu, melepaskan kepergian sang tuan besar, suami yang merupakan belahan jiwa istrinya, laki-laki yang jadi panutan dan kebanggaan anak-anaknya, tuan besar pemilik Petra Corporate yang tidak pernah memandang rendah orang lain apapun profesinya sehingga membuatnya di segani dan di sayangi.


Tujuh hari setelah pemakaman berlangsung, suasana di mansion itu masih terasa sepi, mungkin mereka masih berduka, tapi mereka pun sepakat untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Nathan akan bersiap untuk mengganti posisi sang papi setelah menyelesaikan segala urusan administrasi. Dia meminta Rega untuk tinggal dan bekerja disini. Karena dia tidak mau kehilangan teman yang setia seperti itu. Dan Rega tidak pernah menyangka, sahabatnya yang tidak pernah menunjukkan bahwa dia adalah orang kaya dan bahkan hotel milik keluarganya pun hanya berjarak beberapa ratus meter dari apartemen nya disana, adalah pewaris Petra Corporate.


Hari pertama Tita masuk kantor, dia di sambut sapaan hangat Kayla sang resepsionis. Menuju lift yang akan membawanya ke lantai tempat sang bos besar. "Pak, nona Zahra sudah sampai ... baik," klik. Sang sekretaris mengantarkan Tita masuk ke ruangan bosnya.


"Selamat pagi pak, saya Zahra Ratifa ..."


"Pagi Zahra, maaf kami harus mempercepat waktu masuk kamu," jelas sang bos sopan.


"Tidak masalah pak," Tita balas tersenyum.


"Oke, jam 9 nanti kita akan berangkat ke Petra Corporate. Karena mereka ingin ada tambahan detail dari rancangan kita, tapi secara keseluruhan tuan Petra sangat puas dengan design yang kamu buat."


"Baik pak, saya akan bersiap,"


Setelah pamit, Tita menuju ruangannya. Sedikit berkenalan dengan rekan-rekan kerja baru yang belum hadir semua, karena memang masih sangat pagi. Tita duduk bersebelahan dengan gadis dengan penampilan tomboy, awalnya dia mengira gadis itu adalah laki-laki, namun ketika berkenalan gadis itu memperkenalkan dirinya dengan nama Gladis, namanya bahkan sangat girly, dan yang membuat Tita kaget adalah ternyata Gladis itu sudah menikah dan memiliki satu orang putra usia 6 tahun. Wow, awet muda ternyata, hi hi.


Pukul sembilan Tita dan pak Putra, bos-nya, berangkat menuju Petra Corporate. Mirae Contruction tidak termasuk perusahaan kecil tapi juga tidak terlalu besar. Namun, perusahaan ini memiliki reputasi yang sangat baik. Apalagi jika mereka berhasil bekerja sama dengan Petra Corporate, pasti nilai mereka akan meningkat dan makin di perhitungkan di dunia.


Tita terbelalak ketika berada di depan Petra Corporate, tidak pernah dia bermimpi bisa berada di perusahaan sebesar ini walaupun hanya untuk meeting karena design-nya di sukai sang penguasa. Wah, kepercayaan diri Tita seketika meningkat mengingat fakta keberadaan dia disini. Oke, semangat Tita ... kamu bisa melakukan yang lebih baik dari ini. Tita menyemangati dirinya sendiri sambil mengepalkan tangannya ke udara dan menariknya dengan kuat, dan semua gerak geriknya tidak luput dari perhatian sang bos, karena memang mereka hanya berdua di dalam lift ini.


"Ha, ha ... kamu lucu sekali," sang bos mengatakan itu spontan, dan sudah bisa di tebak betapa merah wajah Tita ketika menyadari apa yang telah dia lakukan tadi. Ha ha ha...