
"Zahra ... aku pikir tadi kamu akan ikut menemani bos mu."
"Hahaha ... aku tidak ada kepentingannya kesana, tuan Muller." jawab TIta.
"Tapi pasti aku akan lebih bersemangat kalau bisa melihatmu tadi..." Ah, sial ... aku terlulu terbawa perasaan. Canggung.
Deg! apa maksud Terry berkata seperti itu? Kan ... aku jadi bingung bagaimana harus meresponnya.
"Itu karena energiku yang luar biasa sehingga bisa menular padamu." Ha ha ha...
Ha ha ha. Terry.
"Cerdas sekali, tidak salah memang jika kamu di percaya pegang proyek itu."
"Eh ... tidak ada hubungannya Tuan Muller." jawab Tita tersipu. Hah ... bisa bisanya aku tersipu dengan kata-katanya.
Loudy dan Mike memperhatikan perubahan raut wajah Tita, apa yang mereka bicarakan?
Gawat ... gawat, bahaya ... bahaya. Mike.
Mike menyentuh tangan Tita memberikan kode, "Ta .."
"Oh, Terry maaf aku ada urusan lain ..."
"Baiklah ... padahal aku masih ingin berbincang-bincang denganmu." tersadar akan ucapannya, Terry buru-buru meralat, "Hasil rapat tadi maksudku, bye Zahra." Klik.
"Sudah selesai makannya? Kita bisa kembali sekarang?" seru Tita.
"Tita ... kamu akrab sekali dengan Terry Muller itu ya?" selidik Loudy.
"Tuan Muller itu ada kerjasama dengan kita, Lou." jawab Tita dan di iyakan oleh Mike.
"Tita ... kakak ku itu luar biasa pecemburu kau tau kan?" Loudy masih dengan mode selidiknya.
Tita menghentikan kegiatannya dan menatap sang adik ipar, "Aku tau dan tidak akan pernah lupa, jadi kau jangan khawatir seperti itu." jawabnya sambil menepuk-nepuk pipi Loudy.
***
Terry Muller masih berdiri di tempat favorit-nya, di ruang kerjanya, memegang segelas air. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang indah. Satu nama menghiasi kepalanya, Zahra ... profile gadis manis yang mungil itu menari-nari dalam bayangannya, suara gadis itu bagaikan alunan musik klasik yang membawanya dalam ketenangan, bibir merah segarnya selalu berhasil menggodanya. Dia sungguh tergila-gila dengan gadis itu, ah .. mungkin lebih tepatnya wanita itu. Meskipun dia tau wanita itu sudah ada yang memiliki, tapi ... keadaan bisa saja berubah, bukan? Berawal dari keinginan merebut apapun milik seorang Nathan Petra karena dendam, siapa yang sangka justru dia malah terpikat bahkan tergila-gila dengan sosok Zahra. Bahkan sejujurnya, dia lupa dengan misi balas dendam, dia ingin memiliki Zahra karena memang dia jatuh cinta ... hatinya telah menuntunnya, pikirannya telah mengatakan bahwa wanita seperti Zahra lah yang bisa membuatnya nyaman dan seperti kembali ke rumah. Maka, dengan segala cara dan pendekatan yang sudah di rencanakan dia mendekati Zahra, bahkan dia bekerja sama dengan masa lalu Nathan Petra untuk dapat merebut wanita yang sangat di pujanya.
***
Baru semalam aku tidak kembali ke rumah ini, rasanya sudah rindu sekali. Tita berfikir seperti itu manakala mobil yang dia tumpangi memasuki gerbang mansion keluarga Petra. Di sebelahnya sang tuan suami masih sangat menempel padanya, sesekali menciumi tengkuknya, sehingga menghasilkan rasa geli di sekujur tubuhnya.
"Sayang, geser sedikit." Tita berusaha mendorong sedikit tubuh sang tuan suami walaupun hasilnya nihil karena sang tuan suami tidak bergeser sejengkal pun.
"Kenapa? kamu keberatan?"
"TIdak ... bukan seperti itu, hanya saja aku malu dengan kak Brian."
"Brian tidak keberatan sama sekali, iya kan Brian?"
"Tentu tidak, tuan. Saya bahkan tidak tahu apa yang anda lakukan dibelakang." jawab Brian meyakinkan.
Bohong! aku bahkan bisa melihat kamu tersenyum mengejek dari cermin diatas kepalamu. TIta menggerutu dalam hati.
Tampak di depan pintu itu sang nyonya mami menanti kedatangan anak dan menantunya. Wanita yang masih terlihat modis di usianya yang tak lagi muda itu memperlihatkan dengan jelas betapa dia merindukan dua insan yang masih berada di dalam mobilnya. Di sebelahya, tentu saja sang besan yang juga merindukan putrinya, padahal mereka hanya tidak bertem satu hari.
Nathan mencium tangan dan kedua pipi maminya, "Maaf, mi ... jalanan macet tadi." setelah itu dia melakukan hal yang sama pada mertuanya.
Tita pun melakukan hal yang sama seperti sang tuan suami. "Ibu ... Tita kangen.." dia langsung menggelayut manja dalam pelukan sang Ibu.
Sang nyonya mami yang memang sudah hafal dengan tingkah manja menantu kesayangannya hanya bisa tertawa dan menikmati pemandangan itu, sementara Nathan sang tuan suami memndang dengan sebal "dia tidak pernah memelukku dengan manja seperti itu"
"Sudah .. sudah, ayo kita masuk dan makan." sang nyonya mami langsung bertindak, ya ... daripada putra sulungnya ini jadi ngambek gak jelas karena kelakuan istrinya. "Brian, ayo kita makan sama-sama ... "
"Biak, nyonya." Brian menaiki tangga dan memukul ringan pundah sang tuan muda. "Rileks, tuan. Yang di peluk nona Tita itu ibunya ... anda tidak mungkin kan bersitegang dengan mertua anda satu-satunya." hah ... Brian mengingatkan kenyataan pada sang tuan muda.
Huft!! "Kenapa kata-katamu itu harus benar?! menyebalkan ..."
Sebelum ke meja makan, Nathan menarik lengan sang istri, "Mami, Ibu ... kami mandi dulu ya sebelum makan malam."
Tita dengan kebingungannya tetap mengikuti sang suami. Dia pikir bisa langsung makan malam, tapi ... iya juga sih, dia juga merasa gerah setelah bekerja seharian.
"Tuan muda cemburu karena nona Tita memeluk Ibu dengan manja tadi." jelas Brian walaupun mereka tidak meminta penjelasan.
Dan penjelasan Brian itu sontak saja membuat sang nyonya mami dan ibu tertawa ... betapa tidak? memang ada yang cemburu pada istrinya hanya karena sang istri memeluk dan bermanja-manja dengan ibunya sendiri?
"Sayang, kita mandi bersama saja biar lebih cepat?" ajak Nathan, dan dia pun sudah menarik sang istri memasuki kamar mandi mereka sebelum sang istri menyetujui ajakannya.
"Mandi bersama kamu bukan jadi lebih cepat, tapi jadi lebih lama." jawab Tita, yaa ... walaupun dia tidak menolaknya.
Mereka berada di dalam bathup dengan banyak busa dengan wangi oil aroma theraphy lavender. Nathan dengan lembut menggosok pundak Tita sambil sesekali menciumnya, "Sayang ... aku juga tidak keberatan kamu bermanja-manja denganku,"
Sejenak Tita berfikir, apa maksud dari perkataan sang tuan suami? Bukankah sekarang dia sedang ...
Melhat sang istri yang tak juga bergeming, Nathan melingkarkan kedua tanganya pada perut Tita, "Sayang .. aku mau kamu bermanja-manja padaku seperti yang tadi kamu lakukan kepada ibu." jelasnya dengan merajuk.
Hah?? Ha ha ha ... sontak saja Tita memutar tubuhnya, dia mnertawakan kelakuan sang tuan suami.
"Jadi dari tadi kamu iri dengan ibuku?" Ha ha ha.
"Aku bukannya iri, tapi ... seingatku kamu tidak pernah menempel seperti itu padaku."
Aaa ... menggemaskan sekali suami aku ini, lihatlah ... sampai cemberut begitu, bahkan dia tidak mau melihatku. Tita kemudian melingkarkan tangannya pada leher Nathan. Tentu saja yang dia lakukan itu membuat Nathan mengangkat kepalanya, Tita bahkan bisa langsung merasakan tubuh sang suami yang langsung membeku. Dan lihatlah wajah tampan itu ... wajahnya merah merona. TIta makin senang menggoda Nathan, dia mengecangkan pelukannya sehingga tubuhnya hampir menempel pada dada bidang Nathan.
"Jadi suami ku ini ingin aku perlakukan seperti ini, hm?" gila ... apa yang aku lakukan!
Respon Nathan tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan, seperti gayung bersambut. Nathan menangkup wajah Tita dengan kedua telapak tangannya. "Sayang, kamu jelas-jelas menggodaku ... tapi aku senang dan tidak mungkin aku menolak kamu yang sudah berusaha kan..."
Dengan secepat kilat bibir mereka bertemu, percayalah ... Nathan dua kali lipat lebih bersemangat dan bergairah dari biasanya. Kenapa? ya tentu saja karena Tita menggodanya. Ha ha ha.
Brian menuruni tangga kembali tanpa mengetuk pintu kamar sang tuan, dia langsung menuju ruang makan dimana anggota keluarga yang lain telah menunggu. "Nyonya, sebaiknya kita makan duluan saja."
"Baiklah, ayo kita makan sekarang." sang nyonya mami yang langsung mengerti arti dari kalimat Brian hanya tersenyum senang.
"Kenapa tidak jadi menunggu Kak Nathan dan Tita?" tanya Loudy.
"Sudahlah kamu makan saja." jawab mami.
"Sepertinya kita akan segera punya cucu." bisik sang besan ditelingan sang nyonya mami. Dan mereka tertawa senang bersama.