Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 38



"Brian, menurutmu. Apakah sebaiknya aku mengatakan yang sejujurnya tentang Anya kepada Tita?"


"Tidak ada salahnya untuk berterus terang, tuan. Apalagi kita tidak pernah tahu apakah nona mendengar pembicaraan kita saat itu di mobil."


Iya, benar juga. Itulah yang menjadi pertimbangan ku. "Aku akan memberi tahunya sepulang kita dari Inggris."


Tita sengaja mengajak Mickey ke kedai kopi sepulang kerja. Dia ingin bercerita dengan Mickey, ingin membagi keresahannya, kegundahannya. Kenapa tidak berbagi dengan Loudy? Ya, karena Loudy adik dari seseorang yang sudah membuatnya seperti ini.


"Hei, kamu masih bisa bercerita tentang apapun padaku." Mickey sudah merasa, gadis yang pernah mengisi relung hatinya ini sedang tidak baik-baik saja.


"Mickey, menurut kamu ... kalau pasangan kamu tidak mau jujur tentang kekasihnya dahulu ... menurut kamu, apa dia masih ada rasa dengan kekasihnya itu?" wajah Tita tampak murung.


"Maksud kamu? Setahu aku, tuan Petra tidak pernah terdengar dekat dengan wanita manapun sebelum dengan kamu."


"Dia pernah punya kekasih ketika kuliah di Inggris."


Mickey berfikir sesaat, seperti mengingat-ingat kembali. "Kalau waktu dia kuliah di Inggris ... itu berarti sudah bertahun-tahun yang lalu, dong."


Tita mengangguk. "Sebelumnya, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dia dan tuan Brian. Hm, kamu ingat kan, saat dia tiba-tiba ada datang ke Mirae?" Mickey mengangguk. "Aku tidak sengaja mendengar, dia menyebutkan nama 'Anya' ... dan sepertinya dia tidak mau aku tahu soal hubungannya itu."


"Mantannya si Anya, itu?"


"Iya, kemarin aku sudah berusaha memancing agar dia mau memberitahu aku. Tapi sia-sia, masa dia hanya bilang kalau dia pernah punya kekasih saat kuliah di Inggris ... dan, tidak ada kelanjutannya. Jadi, bagaimana menurutmu?"


"Pasti ada alasan, dia tidak mau memberitahu kamu, Ta."


"Iya, aku tahu. Tapi dengan dia tidak mau menjelaskan, aku kan jadi berfikir yang aneh-aneh, Mickey."


"Apa kamu tidak berfikir, mungkin karena itu masa lalu jadi dia enggan untuk bercerita?"


"Apa salahnya kalau dia cerita padaku? Toh, dia pun kemarin membahasnya dengan sekretarisnya itu."


"Hm .. Iya juga sih. Kamu tidak salah... Kalau memang tidak ada yang harus ditutup-tutupi, seharusnya dia cerita aja."


"Nah! kan, kamu mengerti sekarang? Kamu tahu kan bagaimana perasaan aku?"


"Kenapa gak coba tanya Loudy, Ta?"


"Loudy kan adiknya. Adik tersayang. Dan dia sangat memuja kakaknya. Apa kamu fikir dia tidak akan membela sang kakak?"


"Kalau suami kamu itu tidak mau memberitahu, kayaknya kamu harus cari informasi dari orang lain deh, Ta."


"Aku juga berfikir seperti itu, tapi semua temannya itu orang-orang yang setia sepertinya. Mungkin akan sulit mencari informasi dari mereka."


"Gosip tentang suami kamu punya sahabat yang berani pasang badan untuk dia, sepertinya memang bukan hisapan jempol belaka."


"Sepertinya, kamu tahu sekali ya?"


"Ha ha ha ... siapa yang tidak kenal dengan tuan Petra?? Oh, sepertinya hanya kamu saja, Ta." Ha ha ha.


"Ih, rese deh! Jadi aku harus bagaimana sekarang?"


"Brian! Ya, Brian, sekretarisnya. Coba kamu tanya aja. Toh sebelumnya, tuan Petra memang sedang membahas si Anya itu dengan dia, kan?"


Tita menghela nafas. Mencari informasi tentang tuannya dari sang sekretaris itu lebih susah daripada bertanya langsung dengan tuannya. Tita sudah tidak ada ide sekarang, tapi setidaknya beban pikirannya sudah lebih ringan setelah berbicara dengan Mickey. Baiklah, habiskan saja makanan ini dan pulang. Kalau dia pulang terlalu terlambat, bisa-bisa marah lagi sang tuan muda.


Uhuk .. uhuk ..uhuk!! Tita dan Mickey tersedak ketika tiba-tiba manusia yang menjadi bahan pembicaraan mereka menyapa tepat di hadapan mereka. Ya ampun, hanya Tuhan yang tahu kapan manusia ini bisa ada disini. Mickey buru-buru meminum minumannya agar makanan yang tersisa di mulutnya tertelan.


"Halo, tuan Petra. Silahkan duduk," Mickey kikuk, seperti tengah tertangkap basah karena berkencan dengan istri orang.


"Santai saja, aku hanya kebetulan lewat tadi."


Huh, kebetulan lewat darimana? Gumam Brian. Dia teringat tadi, ketika sedang melihat laporan bawahannya yang bertugas mengawasi istri sang tuan, melalui ponselnya, tiba-tiba saja ponsel itu di ambil sang tuan, daaaaan .... tibalah mereka di sisi. Ck, dasar pecemburu.


"Kalian sedang apa?" tanya sang tuan.


"Makan. Aku sudah janji mau traktir Mickey makan, tapi baru kali ini terlaksana" jawab Tita.


"Iya, tuan." Mickey mencoba lebih meyakinkan sang tuan. Namun, perhatian Nathan hanya pada Tita.


"Kamu, tidak minta izin padaku."


"Ah, iya. Aku lupa, maaf"


"Kalau aku tidak melihat kamu disini, apa kamu akan tahu aku nanti?"


"Iya, aku akan memberi tahu kamu."


"Kalau kamu lupa, bagaimana?"


Hah... kenapa sih manusia ini?? Kok jadi ribet gini... "Toh, kamu sudah tahu sekarang kan?"


Waduuh, suasana makin tidak kondusif. Mickey makin tidak nyaman ada di antara mereka, ingin pergi tapi bagaimana caranya? Dia juga khawatir kalau dia pergi, bagaimana dengan Tita? Dan karena terbelenggu oleh fikirkannya sendiri, dia jadi tidak menyadari kalau Tita sudah di bawa pergi sang suami. Dia baru sadar setelah sekretaris Brian memegang bahunya dan bilang, "Bill nya sudah tuan Nathan bayar. Terima kasih sudah menemani nona kami."


"Eh, tunggu. Tapi Tita tidak apa-apa, kan?"


"Memang, kamu pikir apa yang akan terjadi dengan nona kami?" Setelah mengatakan itu dia pergi, meninggalkan Mickey sendirian yang sedang berdoa Semoga Tita baik-baik saja.


Nathan turun dari mobil mendahului Brian, untuk membukakan pintu bagi sang istri. Huh, sepertinya ... bahkan dia tidak rela Tita di bukakan pintunya oleh orang lain... pintu mobil lho, kebayang kan seberapa kesalnya dia karena Tita kedapatan makan bareng Mike???


Mereka masuk ke dalam rumah dengan ekspresi yang membuat siapapun yang melihat pasti menebak mereka sedang bertengkar. Bi Amel juga melihat mereka dari kejauhan, dan hanya bisa memberi kode kepada nyonya sekaligus besannya. Nyonya mami yang mendapat sinyal sinyal pun bergerak, tapi belum lagi dia mengatakan sepatah kata ... sang anak sudah mengultimatum, "Mami, please ... let me handle this. Okay." Kemudian dia menyusul Tita yang sudah mendahuluinya."


Aduh ... ada apa lagi sih. Pikir sang mami, dia gelisah. Menghampiri bi Amel yang memang sedang menunggunya sambil menggenggam serbet karena saking cemasnya.


"Bagaimana?"


"Nathan bahkan tidak membiarkan aku bertanya." keluh nyonya mami. Namun, di saat keduanya sedang dilanda kecemasan, muncul lah sang informan yang sudah bisa di pastikan dia mempunyai informasi yang akurat tentang tuannya.


"Brian, kemari ..." panggil sang mami.


Brian melangkah dengan tenang, walaupun dia bisa menebak apa yang akan di tanyakan, tapi dia tetap stay cool. "Ada apa, nyonya." yaa... kura-kura dalam perahu sajalah. Pikirnya.


"Apa yang sudah terjadi antara Tita dan Nathan, sih? Kenapa mereka perang dingin begitu?"


Nah, benar kan. "Tidak ada apa-apa, nyonya."


"Hei ... Jangan bohong padaku ya ... Sekali melihat aku juga langsung tahu kalau mereka sedang bertengkar. Kali ini apa? Apalagi masalahnya?"