
Setelah hampir 17 jam menempuh perjalanan, Akhirnya Tita sampai, dia mencari keberadaan sang kakak. Ah, sampai lupa ... dia belum menyalahkan ponselnya ....tring tring tring tring, sejumlah notifikasi pesan singkat masuk ke ponselnya. Hmmm, coba lihat siapa saja ... Mickey, Loudy, Mami, Pak Putra, Mr. Kim mau apa dia. Aku telpon kakak saja, "Kak, aku sudah sampai. Oh, iya aku kesana."
Sayang sekali aku sampai malam hari, waah lampu-lampu itu cantik sekali. Tita terpesona dengan keindahan di sekelilingnya, lampu-lampu yang cantik. Lalu dia duduk di bangku tunggu penjemputan. Udaranya sangat dingin, seharusnya dipakainya jaket yang lebih tebal.
"Sayang," Tita menoleh.
"Kakak." mereka berpelukan, kangen juga Tita dengan kakak semata wayangnya ini.
"Suami kamu menginap dimana?"
Dan Tita tergagap kini, dia lupa memikirkan jawaban yang tepat jika kakaknya bertanya tentang Nathan, "Ah, itu ... aku ..."
"Aaah, kamu mau beri kejutan untuk tuan Petra?" sang kakak sumringah, tidak menyangka bahwa sang adik bisa romantis seperti ini.
"Iya, iya ...baku ingin beri dia kejutan." hah, selamat.
"Besok saja kalau begitu. Sekarang sudah terlalu malam, kamu tidur di apartemen ku saja, ya?"
"Waaah, kakak punya apartemen sendiri?" Tita takjub juga dengan kemajuan sang kakak.
"Ha ha ha, aku jadi malu ... kamu terlalu tinggi memuji kakakmu ini. Apartemen itu di berikan tuan Petra, suamimu. Katanya agar aku nyaman dan lingkungannya juga sehat. Dulu sewaktu kuliah, itu tempat tinggal suamimu. Memang dia tidak cerita?"
Sang kakak bercerita sambil menyetir menuju apartemennya, sedang sang adik berusaha menahan air matanya. Dia tidak menyangka bahwa suaminya bahkan memikirkan kakaknya. Tita jadi makin merasa bersalah, makin merindukan suaminya.
"Kakak tahu, aku bisa menemukan Nathan dimana?" tanyanya setelah mereka bersiap untuk tidur.
"Tuan Petra pasti ada di hotelnya. Di sana juga ada kantornya. Kamu tidur saja di kasur, aku akan tidur di ruang TV. Besok pagi-pagi, kamu berangkat bersamaku ke sana, oke sayang."
Tita berjalan ke arah balkon, di buka jendelanya. Pandangannya berhenti di sebuah bangunan besar yang terkesan klasik sekaligus mewah. Dia di sana. Pikir Tita. Dia sudah dekat dengan suaminya, namun dia tetap harus menunggu lagi. Tapi tidak apa-apa, semoga besok kita bisa bertemu ya Nathan Petra.
Sementara itu, di hotel. "Brian, ada apa lagi dengan dia?" Rega menunjuk Nathan dengan dagunya. Brian hanya mengangkat kedua bahunya. Kini Nathan lebih tenang, walau masih terlihat tidak baik-baik saja. Dia sedang memeriksa berkas-berkas yang diberikan oleh Thomas. Kalau sebelumnya dia sangat antusias ingin memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berani main-main dengannya, Tapi kali ini ... hah, beginilah cinta ...
"Nathan, sorry ... supaya kamu bisa cepet balik, jadi lebih baik jangan sia-siakan waktu berharga kamu di sini. Fokus Nathan, please!" Thomas menginterupsi. Thomas sudah gatal ingin mengeksekusi para tikus-tikus berdasi itu, dia sudah mendapatkan informasi yang lengkap walaupun belum mendapatkan sang big boss.
"Oke, sorry ya ... Aku, fikiran aku terpecah. Mana datanya. Aku akan selesaikan siang ini. Brian bantu aku." Dengan sigap mereka menekuni lembar demi lembar informasi mengenai orang-orang yang sudah bermain curang, berikut bukti aliran-aliran dana yang mengucur ke rekening masing-masing, di cek pula keterkaitan tiap-tiap orang untuk menemukan motifasi mereka. Total ada sembilan orang yang terlibat, dua diantaranya adalah pejabat dengan posisi strategis. Nathan tidak menyangka, kedua orang ini dia naikkan jabatannya karena kinerja mereka yang memuaskan baginya. Jadi, hal apa yang bisa menekan kedua orang ini sehingga mereka lebih memilih berkhianat? Kalau soal materi, dia rasa tidak mungkin karena uang yang mereka terima secara legal juga cukup besar.
"Thomas, pisahkan dua orang ini," Nathan menyodorkan dua lembar informasi pejabatnya. "Aku akan mengintrogasi mereka sendiri nanti malam. Yang lain aku serahkan padamu dan Rega, buat mereka mengembalikan semua yang mereka ambil. Aku tidak peduli apakah mereka mau buka mulut atau tidak."
"Brian," Nathan menyerahkan berkas-berkas yang sudah selesai di tanda tangani. "Bisa pesankan aku makan, rasanya aku lapar."
"Segera, tuan." Brian langsung memesan makan siang untuk sang tuan dan dia tentu saja.
Sementara itu di lobi. "Kak, benar ini tempatnya?"
"Kamu lihat sendiri kan tadi nama hotel ini apa? Ayo masuk." Mereka melenggang masuk ke lobi utama, Tita sudah berdebar-debar. "Sebentar, kita ke resepsionis dulu." kata Kala.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" resepsionis dengan name tag Anya, menyapa mereka. Dan Tita menyadarinya, nama itu ... apakah dia orang yang sama? Apakah ini hanya kebetulan?
"Saya akan mengantarkan anda ke atas," kata sang resepsionis.
"Oh, tidak perlu. Kami bisa sendiri, terima kasih," sang kakak menjawab. "Ayo, Tita."
Wah ... rupanya wanita itu tidak bisa melepaskan Nathan, ya ... Padahal suaminya bekerja, masih saja di datangi jauh-jauh. Anya berdialog sendiri. Dia pernah melihat Tita di pesta pernikahan, dan hari ini dia semakin membulatkan tekadnya untuk merebut Nathan kembali secepat mungkin.
Ting ... Lift yang mengantarkan Tita dan Kak Kala tiba di lantai di mana sang pemilik berada. Pikiran Tita bercabang kini, ya ... tentu karena resepsionis di bawah. Dan karena pikirannya bercabang itu, Tita tidak menyadari bahwa mereka sudah berada di depan pintu kamar bergaya klasik sesuai dengan selera sang tuan.
"Kak, aku takut." Tita menahan lengan sang kakak yang akan menekan bel.
"Takut kenapa? Yang di dalam itu kan suami kamu."
"Tapi, kak ..."
"Persiapkan dirimu, aku akan masuk lebih dulu ... oke." Kala memastikan lagi niat sang adik. Tita mengangguk. Kala menekan bel pintu, terdengar pintu terbuka dari dalam. Sang kakak menoleh lagi ke arah sang adik yang sedang mengatur kembali nafasnya.
"Tuan Kala, silahkan." Brian mempersilakan Kala masuk, walaupun dia tidak merasa memberi perintah untuk orang ini untuk datang.
"Saya ingin bertemu tuan muda,"
Nathan yang baru keluar dari kamar mandi agak terkejut dengan tamunya yang tidak di undang. "Lho, kamu? Ada apa kesini?" tanya Nathan.
Walaupun laki-laki yang baru saja bertanya padanya adalah adik iparnya, suami adiknya. Tapi tetap saja karena laki-laki ini adalah bos besarnya, dan memiliki aura kepemimpinan yang kuat, ada rasa segan ketika Kala bertemu langsung seperti ini. Karena sebenarnya, selama dia bekerja di hotel ini, atau bisa di bilang sebagai kaki tangan Brian yang tidak pernah terekspos siapapun ... dia tidak pernah mendatangi sang tuan muda secara langsung seperti ini, apalagi dalam rangka membantu sang adik. "Ehm, maaf tuan muda. Saya sudah lancang datang ke sini tanpa pemberitahuan." katanya penuh hormat.
"Tidak apa, nah, ada apa?"