Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 48



Pagi yang terik, Nathan sedang bersama Brian menikmati secangkir susu hangat. "Tuan, anda sudah menjelaskan rencana kita kepada nona Tita?"


Dia menghela nafas, "Aku tidak tahu bagaimana cara memulainya."


"Maaf, tuan, saya hanya mengingatkan. Jika tidak anda katakan sekarang, hubungan anda yang akan dipertaruhkan nantinya."


Nathan menatap sang sekretaris, "Kenapa begitu?"


"Tuan, perempuan itu jauh lebih peka dan lebih rumit dari yang kita kira." Brian mendekat, dan berbisik. "Apa anda yakin, nona tidak mendengar percakapan kita di mobil kala itu?" Nathan menelan ludah dengan susah payah, dia pun memikirkan itu sebelumnya, tapi ...


"Tuan Brian," Tita menyapanya dengan ramah.


"Jangan panggil saya, tuan nona. Cukup Brian saja."


"Tapi kamu lebih tua dariku, kan?"


"Kamu juga memanggilku, Nathan, saja." protesnya.


"Itu kan kamu, yang meminta aku memanggil seperti itu." apa sih, cuma masalah panggilan saja marah.


"Aku memanggil kamu, sayang, bukan cuma Tita." merajuk


tetap tidak mau kalah.


"Tapi jarang!" wah, sang tuan muda memang mendapatkan lawan yang setimpal kali ini.


"Nona, mungkin tuan muda juga ingin dipanggil, sayang, begitu."


"Ha ha ha, tu ... kak Brian, jangan mengada-ada deh," Tita yang sedang tertawa diam seketika karena melihat wajah sang suami yang makin tidak kondusif, dan tidak ada sanggahan atas ide sekretarisnya. Artinya ... dia mau aku panggil 'sayang' begitu?


Begitulah drama pagi tadi.


Tita sedang menemani sang suami bekerja, dia juga mengecek progres proyek galeri seni yang sudah finishing. Hm, berarti tidak lama lagi aku harus ikut meninjau lokasi. Dia melihat kearah suami sekaligus owner proyek ini. Seharusnya dia juga sudah tahu kan perkembangannya.


"Ehm, Nath." Tita memanggil. Tapi yang dipanggil seolah tidak mendengar, karena tidak bereaksi. Sekali lagi di coba, "Nathan." sang tuan muda tetap asik dengan laptopnya tanpa menoleh sedikitpun. Dih kenapa sih, gak mungkin kan karena dia mau aku panggil 'sayang'? ... "Sayang," panggilnya, pada akhirnya.


"Iya," jawabnya dengan senyum secerah bulan bintang dan matahari.


Ck, ternyata benar ... benar-benar menggelikan. "Galeri seni sudah hampir selesai finishing-nya." lapornya.


Nathan menegakkan tubuhnya, "Lalu?"


"Aku pasti diminta pergi untuk peninjauan," ijin dulu yang utama. Pikir Tita.


"Ingat kan saja Brian, aku akan datang bersamamu."


"Eh, jangan!" spontanitas yang bikin perkara.


"Apa yang jangan?" ada rasa tidak suka mendengar jawaban sang istri.


"Mmm, rasanya canggung kalau kita pergi bersama." alasan.


"Kamu malu kalau orang-orang tahu kita sudah menikah?"


"Tidak seperti itu, sayang." Nah kan, hanya di panggil seperti itu saja, dia happy. "Aku tidak tahan dan tidak siap kalau mendengar omongan-omongan yang menyudutkan aku."


Nathan berjalan menghampiri sang istri, memegang kedua tangannya. "Jika ada yg berkata yang tidak enak di dengar, laporkan padaku. Aku kan sudah berjanji akan selalu melindungi kamu."


Oh, jantungku ... tolong, kenapa dia bisa manis sekali sih. Tita.


"Selamat pagi, tuan."


Tita dan Nathan menoleh ke sumber suara. Oh my God. Apa yang dia lakukan di sini? Dan Tita refleks melepaskan tangannya.


"Ah kamu sudah datang," sapa Nathan.


"Iya, tuan Petra. Tepat jam 9, sesuai keinginan anda." dia memamerkan senyumnya yang memikat.


"Ok. Kamu bisa menghadap Brian sekarang. Aku belum selesai dengan ... istriku." terang Nathan.


"Baik, tuan." wanita itu berbalik. Yess, sepertinya mudah untuk merebut posisi wanita kampung itu. Pikirnya.


Tita tidak bergeming, dia berusaha menenangkan hatinya agar tidak tumpah air matanya. Sepanjang dia mengenal sang tuan muda ini, Nathan sangat jarang mau menyapa apalagi membalas sapaan wanita lain. Nathan hanya dapat akrab berbicara dengan dia, mami dan Loudy. Tapi rupanya wanita ini pengecualian.


"Tita, dia ..." Nathan ingin menjelaskan, tapi sang istri menyela.


"Aduh, perut aku sakit. Aku ke kamar mandi dulu, ya."


"Dimana yang sakit?"


"Tidak seperti itu," Tita berlari ke kamar mandi. Dia duduk di pinggir bathtub, menyalahkan kerannya, merendam tubuhnya dan menangis disana. Hm, padahal aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Padahal aku sudah bilang tidak masalah kalau kamu lebih memilih wanita itu. Aku harus apa?


Tita keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang ada di sana, karena pakaiannya basah, tidak ada bathrobe karena sebelumnya sudah dia pakai.


"Lho, kamu mandi lagi?" tanya sang suami.


"Iya," jawabnya malas.


"Nanti sore kita kembali." katanya, sambil menarik dan istri hingga terduduk di pangkuannya.


"Eh, eh, mau apa?" Tita panik.


"Aku kan sudah bilang kita akan kembali,"


"Iya, aku dengar." berusaha melepaskan.


"Jadi, kita manfaatkan saja waktu-waktu terakhir kita disini ... sayang kan, kamar ini mahal loh," jelasnya sambil menciumi rambut dan tengkuk sang istri yang masih basah.


"Kamu juga gak bayar kan ... Aduh, sayang. Tunggu ... tunggu ... tunggu dulu!" Tita berhasil menarik kepala sang suami dari bagian favoritnya. Dengan nafas yang tersenggal-senggal, dia sudah memantapkan hati ... tidak boleh terlena kali ini!!


"Ada apa, sayang." sedikit merajuk dengan wajahnya yang sudah memerah.


"Kamu belum menjelaskan siapa wanita tadi!" terlihat sekali Tita, cemburu! Dan Nathan melihat itu, tatapan yang sama ketika dia melihat sang istri sedang bersama laki-laki lain.


"Dia Anya, asisten Brian. Dia akan ikut kita pulang, dan bekerja bersama Brian." jelasnya.


Tita mendengarnya, dan shock. Bahkan wanita itu akan dibawanya pulang ... air matanya menggenang, tidak bisa ditahan. Dia menatap sang suami dengan sangat sedih.


"Sayang, kenapa menangis?" Nathan mengusap air mata sang gadis tersayang. Dia ikut sedih melihat Tita menangis.


"Mengapa kamu bawa mantan kekasihmu pulang bersama kita?"


Ah, dia mendengarnya, kata Nathan dalam hati. "Karena ada yang harus aku lakukan."


"Apa?" Tita menuntut jawaban jujur Nathan, dia melupakan keinginannya untuk membiarkan sang suami jika ingin bersama wanita lain, karena dia tidak bisa.


Nathan memegang jemari sang istri, menciumnya dengan hangat, dan dengan tatapan yakin dia menjawab, "Karena wanita itu sudah berkomplot dengan pesaing Bisnisku untuk menghancurkan aku."


Hah??? Lho kok jawabannya seperti ini, diluar ekspektasi ... Tita jelas terlihat tidak dapat mencerna maksudnya.


"Kalau kamu berfikir, aku akan kembali bersama mantan kekasih ku itu dan meninggalkan kamu. Sebaiknya buang jauh-jauh fikiran kamu itu. Aku tidak mungkin sebodoh itu menukarkan gadis yang sudah susah payah aku jadikan istri, dan menunggu sangat lama untuk aku sentuh, dengan wanita pengkhianatan itu. Tidak akan." Nathan mencium bahu Tita yang terbuka.


"Kamu, jujur padaku?" tanya Tita, rupanya dia masih khawatir.


Nathan menggendong sang istri, naik ke kasur mereka dengan Nathan yang bersandar di kepala tempat tidur dan Tita yang tetap di tahan di pangkuannya. "Kami berpisah kira-kira tujuh atau delapan tahun lalu, aku tidak ingat dengan pasti. Karena di malam saat aku ingin melamarnya, aku menangkap basah dia sedang bercinta dengan laki-laki lain di pantry rumahnya."


Glek! Kok dia bisa mengatakan hal itu dengan gamblang, sih ... aku aja malu mendengarnya. Melihat reaksi Tita-nya, tentu saja sang suami gemas ... jadi, yaaaa ditariknya sang istri dan dia menghujaninya dengan ciuman-ciuman.