Soulmate (Nathan Tita)

Soulmate (Nathan Tita)
Bab 121



"Sayang ... menyingkir dulu."


"Apa? kamu mau aku jauh darimu?"


"Bukan .. maksud aku bergeser sedikit, aku tidak bisa bergerak." Kondisi Tita saat ini memang sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya, tinggal pemulihan beberapa luka saja, meskipun begitu bukan berarti dia nyaman jika sang tuan suami menempel terus seperti ini.


"Sayang," Nathan mencium tangan Tita yang terpasang infus. "Aku sudah menunggu lama, kamu tau ... aku merindukan mu, sangat." kini ciuman itu berpindah ke ceruk leher Tita.


"A ... ah, Nathan ... kita di rumah sakit. aku malu jika ada yang melihat."


"Kamu malu jika ada yang melihat kita?" TIta mengangguk. "Baiklah aku akan suruh orang berjaga di depan agar tidak ada yang masuk." duh ... tuan muda kenapa hanya informasi yang menyenangkan bagimu saja sih yang kamu cerna.


"Sayang ..." Tita menatap Nathan dengan memelas, dia bingung apa lagi yang harus di katakan untuk menolak keinginan sang suami, dia takut salah bicara lagi, huft. Dan di tengah pembicaraan yang intim dan rahasia itu tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dan tampaklah tiga orang laki-laki rupawan yang suka tebar pesona masuk dan membuat keributan.


Axel, Brian dan Thomas. "Hai, Tita ... apa kabar manis?" Namun, langkah mereka terhenti begitu melihat posisi dua manusia di depannya yang agak mengganggu naluri lelaki mereka.


"Nathan, apa yang sedang kau lakukan dengan pasienku?" Nathan sudah seperti tengah tertangkap basah, dia menarik tangannya perlahan. Tangan yang beberapa detik lalu ada di atas yang tertutup milik sang istri. Sedangkan Tita, sudah bisa dibayangkan betapa malunya dia.


"Pasien mu itu istriku. Siapa yang berani melarang?!" akibat ingin menutupi rasa malunya, Nathan malah menjawab ketus pertanyaan dokter yang merawat sang istri, hehe.


"Ya ... tidak ada yang berani," Axel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hai, Tita ... bagaimana keadaan mu sekarang?" Thomas menyapa sang pasien, karena memang sudah seharusnya seperti itu, kan?


"Kak Thomas, aku baik ... sudah lebih baik."


"Syukurlah. Oh ya, aku turut berduka ya ... pasti rasanya sulit sekali ya menerima kenyataan pahit itu. Aku saja yang mendengarnya sungguh sangat marah dan sedih ..."


Brian buru-buru membekap mulut Thomas yang sudah berkata dengan lancarnya. "Apa yang kamu lakukan!" bisiknya.


Tapi sayang, Tita sudah mendengar dengan amat sangat jelas kata-kata itu tadi. Bahkan Nathan yang tidak memprediksi bahwa Thomas lah yang akan membocorkan hal itu, hanya bisa tertunduk. "Maksud kak Thomas apa? berduka karena apa?" Tita makin merasa gelisah. Sejak awal dia sudah merasa bahwa ada yang hilang, tapi dia tidak tau apa. Hingga beberapa saat lalu dia mendengar kalimat 'aku turut berduka', rasanya ada hal yang berhubungan.


"Bukan apa-apa, nona." kini Brian yang menjawab.


"Kak Brian, aku tidak sebodoh itu. Aku tau ada hal penting yang di maksud kak Thomas." Tita menuntut jawaban pasti. Karena ke tiga laki-laki di hadapannya diam, dia lalu menoleh ke sang suami. Nathan, terlihat jelas keraguan dimata sang tuan suami. Tita menangkup wajah Nathan dengan kedua tangannya dengan lembut, "Sayang, katakan padaku ... apa yang di maksud tadi, kita sudah berjanji untuk tidak akan pernah ada yang di tutup-tutupi, kan?"


Nathan tidak sanggup berkata-kata, wajahnya langsung berubah sedih membuat Tita semakin bingung. Axel, sang dokter yang menangani Tita dari awal merasa bertanggung jawab untuk memberikan penjelasan kepada pasiennya.


"Tita, saat kau sampai disini ..." Axel melihat ke arah Nathan, memastikan reaksinya tapi Nathan makin menundukkan kepalanya, ah .. dia benar-benar terpukul. "Tita, kamu sudah tidak sadarkan diri ketika sampai ... ada darah segar yang mengalir di kakimu, aku sungguh tidak menyangka sebelumnya ... tapi ketika di lakukan pemeriksaan menyeluruh, kami memeriksa pula asal darah itu ... dan kecurigaan kami terbukti, kami pastikan kamu sedang dalam kondisi hamil sebelumnya. Benturan yang keras dan kondisi janin yang belum kuat karena masih trimester pertama membuat kamu harus kehilangan calon bayimu."


Shock ... tentu saja, Tita mengerti dengan jelas apa yang dimaksud oleh Axel, tapi kini dia seperti berada di ambang kesadarannya ... antara yakin dan tidak dengan apa yang dia dengar. Aku ... hamil??


"Kak ... jangan bercanda. Aku tidak mungkin hamil." Tita tertawa getir.


Aku ... hamil. Masih tidak percaya dia. "Tapi, aku tidak merasakan seperti sedang hamil?" bukannya kalau wanita hamil itu ada gejala-gejala mual?"


"Tidak selalu seperti itu."


Tita melihat satu persatu laki-laki yang ada di ruangannya, dia melihat kemarahan dan kekecewaan yang mereka rasakan terlebih lagi laki-laki yang berada persis di sebelahnya ini, yang selalu menempel dengannya.


"Nathan," Tita mengangkat wajah Nathan agar bersitatap dengannya, "Aku masih tidak percaya ini terjadi, tapi ... maafkan aku karena begitu ceroboh. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga bayi kita."


Alih-alih marah atau berteriak histeris seperti yang lain, Tita malah mengatakan permohonan maaf kepada sang tuan suami sedang tenang, sehingga hati Nathan menghangat. Bahkan dia tidak menyangka bahwa sang istri bisa bersikap dewasa dan bijak. Apalagi ketika Tita mengatakan 'bayi kita'.


"Kamu, tidak sedih kehilangan bayi yang kau kandung?" hanya untuk menghilangkan rasa penasaran akan reaksi sang istri.


"Sebelumnya aku merasakan memang ada perasaan seperti ada yang hilang, tapi mungkin itu karena aku kehilangan bayiku. Sedih, aku pasti sedih ... tapi aku lebih menyesali kebodohan ku yang tidak menyadari bahwa aku sedang hamil."


Ya ampun, ternyata dia lebih dewasa sikapnya daripada Nathan. Brian. Axel. Thomas.


"Sayang ... jangan bersedih, kita bisa membuatnya lagi nanti." Tita memamerkan deretan giginya, membuat Nathan yang mendengar jadi tersipu. Sementara teman-temannya yang lain hanya melongo, tidak menyangka bahwa Tita yang sejak awal mereka kenal adalah gadis yang manis kini berubah menjadi gadis yang 'berani' .. huh, best couple.


"Kamu yakin baik-baik saja?"


"Iya, aku baik-baik saja. Sepertinya malah kamu yang tidak baik-baik saja?"


"Aku mengkhawatirkan kamu,"


Cih, kalau kamu manis begini ... bagaimana tidak jatuh cinta padamu sih. Alih-alih menjawab, Tita malah langsung mencium bibir Nathan ... membuat Nathan memerah karena malu.


"Ya ampuuun, aku tidak percaya Tita kamu bisa seagresif itu," karena tidak tahan Thomas akhirnya menyuarakan apa yang ada di kepalanya. Dan mereka semua tertawa.


"Sudah, sudah ... Nathan, ayo ... lama-lama kamu bisa menerkam pasien ku."


"Dia istriku!"


"Iya, iya .... tapi sekarang dia pasienku ..." sang dokter juga tidak mau mengalah.


"Sudah sayang, pergilah .... aku mau tidur sebentar." yaaa ... memang Tita adalah pawang Nathan, ha ha ha.


Cup! "Aku akan segera kembali."


Ah, akhirnya ruangan ini sepi. Tita baru merasakan kehampaan, tadi itu ramai sekali. Bohong jika dia tidak bersedih karena dia juga menantikan kehamilannya, tapi dia bisa melihat dengan mata hatinya bahwa Nathan lah yang paling bersedih, dan Tita tidak ingin menambah kesedihan sang tuan suami dengan melihatnya menangis. Dan dia sudah bertekad bahwa jika nanti dia hamil lagi, dia akan menjaga kehamilan nya dengan baik. Kelegaannya adalah karena dia kini sudah mengetahui bahwa dia sudah bisa hamil, dan jujur ... itu sangat, sangat melegakan hati dan pikirannya.